
Pemakaman Henry tetap dilaksanakan sebagai seorang pangeran Goldy Star. Pendeta Bennette memimpin upacara. Clarence dan Felicia hadir dengan pakaian berkabung.
Semua pembesar kerajaan dan prajurit juga hadir dengan pakaian berkabung. Bagaimanapun juga bagi Felicia dan Clarence, Henry adalah anggota utama keluarga kerajaan. Kesalahan yang dia lakukan sangat pantas membuat dia disebut pengkhianat negara. Tetapi Felicia menghormati orang tua Henry yang sangat dekat dengannya dan Patrick. Mereka orang-orang yang setia kepada negeri ini.
Upacara-upacara berjalan khidmat. Sesekali Felicia masih menitikkan air mata melepas kepergian Henry dengan tragedi yang mengenaskan. Sepanjang upacara Felicia terus di sisi Clarence. Sekarang hanya putra tunggalnya ini yang tersisa dari keluarga kerajaan. Dia dan Patrick sama-sama anak tunggal. Harapan satu-satunya Goldy Star hanya ada pada Clarence.
Tuntas upacara pelepasan, maka jenazah diantarkan ke pemakaman keluarga kerajaan. Henry dimakamkan tak jauh dari makam orang tua kandungnya dan Raja Patrick.
Kembali tangis Felicia pecah, saat peti mati masuk dalam liang lahat. "Begitu manis dan lucu waktu pertama aku menggendong kamu, Henry. Tragedi yang dialami orang tuamu ingin kuhapus dengan semua cinta untukmu. Dari aku, Patrick, dan juga Clarence. Tak pernah ku bedakan kamu dan putra kandungku. Kamu pun tumbuh jadi anak yang baik, meski kamu sedikit kaku dan dingin."
Felicia sesenggukan, merasa tubuhnya mulai lemas. "Kenapa kamu tidak bisa mengerti cinta tulus kami? Apakah tahta lebih utama dari perhatian dan cinta sepanjang hidupmu? Kalau bukan karena aturan bahwa putra kandung raja yang akan meneruskan tampuk kepemimpinan, mungkin memang dari awal kau yang akan menggantikan Patrick. Tapi sejatinya kami akan menempatkanmu sebagai penasihat raja, pendamping Clarence saat dia memerintah kelak. Henry... kenapa hatimu begitu kecil?"
Makam yang masih merah itu terus dipandanginya dengan hati yang begitu pedih. Clarence juga merasakan sakit yang sangat di dadanya. Kembali bayangan masa kecilnya muncul.
*
"Clay... mau main layangan? Aku dapat dua dari Donovan. Ayo kita main!" wajah riang Henry dihiasi senyum. Lalu dia berlari mendahului Clarence ke halaman istana. Rambut pirangnya yang lurus melompat-lompat di sekitar kepalanya, membuat dia makin kelihatan bersemangat.
"Tunggu aku... aku mau ikut!!" Clarence mengejar di belakangnya. Senang sekali bermain berdua meski usia mereka terpaut agak jauh.
"Boleh aku menunggang kudamu?" Clarence mendekati Henry yang asyik mengelus kuda hitamnya. Dia memang sangat suka kuda hitam. Buat Henry kelihatan kuat dan gagah.
"Yakin? Dia bisa menendangmu dan terlempar keluar istana." ujar Henry.
"Ah, kamu pasti bohong." Clarence menatap Henry yang terkekeh.
"Haa... haa... aku bercanda, Clay." Henry tertawa lebar. "Boleh, tapi jangan terlalu jauh."
"Iya..." Clarence mengangguk.
"Tapi kenapa kau mau kuda hitam juga? Coba lihat kuda putih itu.." Henry menunjuk dengan telunjuknya kuda putih di depan mereka yang sedang dilatih oleh joki istana. Clarence memperhatikan kuda itu.
"Tidak kalah gagah dengan kuda hitam. Jadi kita punya kuda sendiri, kamu putih aku hitam, tak akan tertukar." kata Henry.
Clarence berpikir, dia melihat kuda putih juga sangat bagus. Dia tersenyum dan menoleh pada Henry. "Ya... aku mau kuda putih. Aku akan bilang ayah kalau sudah besar, aku mau punya kuda sendiri dan aku mau kuda putih."
Henry mengacak rambut Clarence. Lalu dia mengajak adiknya berkeliling istana di atas kuda hitamnya.
*
Clarence mengusap ujung matanya yang basah. Siapa yang mengira, kakak sebaik dia akhirnya berbalik mencelakai adiknya, karena bujuk rayu jendral yang berhati jahat.
"Ibu... kita ke makam ayah." ajak Clarence.
"Aku akan ke makam orang tua Henry dulu, Nak." kata Felicia.
Berdua mereka menuju makam orang gua Henry yang berdampingan. Felicia menaruh bunga di kedua nisan makam itu.
"Lusia, Alfred, maafkan aku... aku tak bisa mendidik anakmu dengan baik... aku tak mampu menjaganya... dia meninggalkan aku dengan kematian tragis.. aku sangat sedih... maafkan aku..." Felicia meratap di sisi nisan itu.
"Sayang, aku datang.... maafkan aku, aku tidak sanggup mengantarkan dirimu masuk ke liang peristirahatan kamu yang terakhir." bisik Felicia.
Dia meraih tangan Clarence. "Putra kita masih hidup. Dia di sini bersamaku. Dia siap meneruskan cita-cita negri ini. Lihat... dia makin gagah seperti dirimu.."
Clarence memberi hormat lalu kembali berdiri. "Ayah.. maafkan aku.. aku terlambat pulang. Seandainya aku lebih cepat kembali, mungkin kita masih bisa bersama." bisik Clarence. Air matanya menetes.
"Kau raja yang hebat, tapi... kau harus pergi seperti ini.. Tenanglah di sana, aku akan bekerja keras untuk membuat Goldy Star tetap damai dan sejahtera. Percaya padaku..." lanjut Clarence.
*
"Clarence!" suara gagah ayahnya terdengar lantang memanggil namanya.
"Ya, Ayah!" Clarence menjawab cepat. Dia baru saja mendapat kuda putih sebagai hadiah ulang tahunnya yang ketigabelas.
"Kau suka?" Patrick tersenyum dengan wajah sumringah.
"Sangat suka. Gagah, kuat, dan larinya sangat cepat." Clarence melompat turun dari kuda putih itu.
"Beri nama kudamu, Nak. Yang bagus, menunjukkan kehebatan kudamu." Patrick menepuk leher kuda itu lembut.
"Hm.... nama yang bagus..." Clarence berpikir. "Knight Star."
"Knight Star?" Patrick menatap Clarence.
Clarence mengangguk mantap.
"Ya, itu bagus. Kuda Pangeran Clarence dari Goldy Star, namanya Knight Star. Wah, gagah.." Kembali senyum lebar tergambar di wajah Patrick.
"Trimakasih, Ayah. Aku akan mengejar Henry dan berkuda lagi dengannya." Clarence naik lagi ke punggung kuda putih itu, memacunya cepat ke tempat Henry berada.
*
"Seperti belum lama peristiwa itu. Sekarang semua sudah berbeda. Aku harus memimpin negri ini tanpa bimbinganmu, Ayah." rasa teriris di hati Clarence.
"Tuhan, aku tahu ayah sudah bahagia dengan-Mu. Bagianku sekarang memulai semuanya. Kuatkan aku." doa Clarence.
Masih dengan hati gundah, Clarence dan ratu kembali ke istana. Rombongan yang menyertai juga ikut kembali. Di jalan mereka berpisah menuju tempat kediaman masing-masing.
Clarence masuk ke kamarnya. Kamar itu telah kembali dibersihkan dan disiapkan untuk dia pakai lagi. Selesai mandi dan berendam cukup lama Clarence membaringkan diri di tempat tidurnya. Lama dia tidak merasakan kasur yang empuk seperti ini. Kamar ini mempunyai sejarah panjang dalam hidupnya. Banyak kenangan yang dia simpan di sini.
Dia menelentangkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar. Wajah Merylin muncul. Dia merindukan gadis mungil itu. Semua kenangan mereka saat bersama silih berganti nampak di pikiran Clarence.
Pertemuan di balai kota, ketika di hutan, berlanjut di rumah kecil di atas bukit itu. Pergi ke gereja, berjalan dan berkuda di padang, belajar bersama di sekolah, pertengkaran, hingga saat dia ingat kembali tentang dirinya.
"Merl... aku sangat rindu padamu. Tunggu aku.." membayangkan wajah cantik itu, di tengah malam yang merajut sunyi, Clarence terlelap.