Life Goes On

Life Goes On
11 - Ingat Semuanya...



Angin bertiup cukup kencang, menggugurkan daun-daunan di pepohonan. Meski matahari bersinar, tapi cuaca tidak begitu cerah. Musim panas akan berganti dengan musim gugur.


Rumah mungil di bukit kecil itu tetap saja cantik. Berdiri kokoh dan kuat, melawan segala musim. Membuat penghuni di dalamnya merasa aman dan nyaman berteduh di dalamnya. Suasana nyaman dilengkapi kasih yang mengalir di antara mereka.


Merylin dan Clarence baru selesai berdoa. Ayah dan ibu keluar rumah berangkat ke ladang. Sejak berita Raja Patrick sakit mereka setiap pagi berdoa bersama untuk kesembuhan raja.


"Kamu masih puasa?" Clarence melihat Merylin. Dia meminum air dari gelas yang dipegangnya.


"Ya. Tinggal seminggu lagi. Aku harus tuntaskan satu bulan." Merylin berdiri dan menaruh buku yang dipegangnya di meja.


"Sudahlah, Merl. Tuhan tahu yang terbaik buat negri ini." kata Clarence.


"Kamu akan menyesal berkata begitu kalau benar kamu adalah pangeran negri ini. Raja Patrick itu ayahmu." tandas Merylin.


"Kamu masih saja menganggap aku Clarence. Pangeran itu sudah mati, Merl. Entah apa yang ada di pikiran kamu." ujar Clarence.


Merylin memandang Clarence. Sampai sekarang dia masih tak mengerti, selalu ada sisi hatinya yang yakin Clark adalah Clarence. Apalagi waktu di gereja siang itu, ada beberapa hal yang Clarence mulai ingat. Semua seperti mengacu pada istana. Tapi, Clarence tewas dimakan binatang buas. Lalu?


"Kenapa menatapku?" Clarence mendekati Merylin. Dia mendekatkan mukanya ke depan wajah Merylin.


Deg... jantung Merylin menderu. Dia bangun dari duduk dan pergi keluar rumah. Dia tak bisa ditatap begitu terlalu dekat.


Clarence tersenyum. Dia mengikuti Merylin yang berjalan menuju ke kandang ternak. Waktunya dia memberi makan unggas dan kudanya. Berdua mereka melakukan pekerjaan itu. Selesai memberi makan ternak, mereka menimba air untuk mengisi air di bak di kamar mandi dan tampungan air di dapur.


"Merl, setelah ini kita ke ladang?" tanya Clarence.


"Aku masak dulu buat makan siang. Nanti kita antar ke ladang sama-sama." jawab Merylin.


"Baik. Aku bantu memasak." ujar Clarence.


Mereka berjalan kembali ke rumah. Di depan pintu ketika masuk, Clarence tersandung dan menabrak kayu pinggir pintu.


"Auuhh..." serunya kesakitan. Clarence memegangi kepalanya. Dia sempoyongan dan duduk di kursi yang paling dekat dengannya.


"Clark? Clark, kau tidak apa-apa?" dengan cemas Merylin berlutut di depan Clarence memegangi tangan Clarence yang menutupi kepalanya.


Clarence melepas tangannya dari kepalanya. Dia menatap Merylin. Matanya lurus menghujam mata Merylin. Merylin merasa aneh dengan tatapan Clarence. Lagi jantung Merylin beradu tak menentu.


"Clark?" Merylin berucap cemas. "Ada apa? Apakah sakit?"


"Kamu gadis yang di balai kota malam itu? Kamu menjatuhkan vas bunga.. dan aku marah padamu.." tatapan Clarence berubah menjadi sedih.


"Clarence?" Merylin tertegun. Dia tak bergerak menatap Clarence.


"Aku ingat semuanya, Merl. Aku ingat semuanya sekarang." Dia memandang Merylin. Merylin tak bisa menggambarkan arti tatapan mata Clarence.


"Ya Tuhan..." ucap Merylin lirih. Tangannya gemetar. Jantung Merylin makin berdetak begitu cepat.


Clarence menarik Merylin ke dadanya, dia menangis. Bahunya berguncang dan suaranya terisak. Merylin hanya diam tak tahu harus berbuat apa.


"Henry.... Henry mau membunuhku.. Dia bilang dia membenciku.. Kenapa? Kami selalu rukun sejak kecil... kenapa?" kata Clarence di antara isak tangisnya.


Dia melihat lengannya. Ada bekas luka pedang di sana. "Dia melukaiku.. kami bertarung hari itu. Aku berusaha menghindar... aku tak mau melawannya. Tapi... kenapa dia membenciku?"


Clarence berdiri, dia berlari keluar ke padang rumput yang belum begitu kering karena embun. Merylin tertatih mengejarnya.


Clarence berdiri di tengah padang dan berteriak sekuat tenaganya.


"Tuhan!! Kenapa semua ini terjadi?! Kenapa Henry ingin aku mati?? Apa arti semua ini?!! Tuhan!!!" lagi Clarence berteriak sekuat-kuatnya.


Kembali tangisnya pecah. Dia berlutut sambil menyatukan kedua tangannya. Bahunya berguncang lagi karena tangisnya yang makin jadi.


Pelan Merylin mendekati Clarence. Hati Merylin pun penuh tanya. Apa yang terjadi? Apa yang terjadi dengan kedua pangeran negri ini?


Clarence mulai tenang. Tangisnya berhenti. Dia duduk di rerumputan. Dia pandangi Merylin, mendesah, menarik nafas dalam. Dan mulai bercerita.


"Kami berburu berdua. Awalnya memang dalam rombongan yang diatur penyelenggara acara. Dalam perjalanan, kami memisahkan diri dan tinggal berdua. Kami tiba di tempat yang sepi, tak ada orang lain di sekitar kami." Clarence mengingat kejadian hari naas itu.


"Henry mengarahkan perjalanan makin menjauh dari jalan yang harus kami tempuh. Lalu dia mengatakan dia membenciku. Dia menantang aku untuk bertarung dengannya. Dia ingin aku mati. Dia bilang dia lebih pantas menggantikan ayah kelak."


Clarence menggelengkan kepalanya. "Aku bilang dia pasti cuma main-main. Dia tak sungguh-sungguh dengan pikiran gilanya itu. Tapi dia malah menyerangku. Dia serius dengan kata-katanya. Dia serius ingin bertarung denganku. Awalnya aku tak mau meladeni. Akhirnya aku kewalahan menangkis serangannya dan kami pun benar-benar bertarung."


"Dia melukai tanganku dan aku melukai wajahnya. Kemudian saat menghindari serangannya, aku terjatuh. Waktu itulah dia mendorongku, aku jatuh berguling-guling ke jurang. Masih sempat kudengar dia berteriak, matilah kamu diterkam binatang buas."


Merylin memandang Clarence. Jelas dia sangat bersedih.


"Setelah jatuh aku tak sadarkan diri. Entah berapa lama aku pingsan di sana. Saat bangun, aku bingung. Aku berjalan tak tentu arah, hingga menemukan jalan setapak. Aku mengikutinya dan kamu melihatku di sana." Clarence menyelesaikan cerita dengan hati begitu pilu.


"Yang Mulia, buatku ini keajaiban Tuhan. Tuanku tidak patah tulang dan meninggal terjatuh dari jurang. Tuhan melindungi Tuanku. Dia pasti punya maksud besar untuk negri ini." kata Merylin.


Clarence memandang Merylin. Gadis cantik ini, pikirannya begitu sederhana dan tulus. Dia yang selalu yakin kalau pangeran yang dia impikan itu tidak mati.


"Yang Mulia, Tuanku harus pulang. Raja Patrick membutuhkan Tuanku di sisinya sekarang." kata Merylin lagi.


Clarence tak memalingkan pandangannya, masih lurus menatap Merylin. "Tidak. Clarence sudah mati. Aku adalah Clark. Henry ingin menggantikan ayahanda, biarkan saja. Kurasa dia juga berhak atas tahta raja. Dia bagaimanapun adalah anak ayah dan ibu. Jadi raja atau tidak, bukan hal yang penting lagi. Clarence sudah mati."


Clarence berdiri dan berjalan meninggalkan Merylin, melangkah kembali ke arah rumah. Hari semakin siang.


"Yang Mulia, Raja Patrick sakit keras. Ini bukan sesuatu yang bisa dianggap tidak penting. Raja memerlukan putranya." desak Merylin sambil berlari kecil menjajari langkah Clarence yang panjang.


"Sudahlah, Merl. Tidak bisakah aku hidup tenang di sini? Tuhan tahu yang terbaik. Aku pasrah tentang ayahku." Clarence menghentikan langkah dan melihat Merylin.


Merylin terdiam. Dia tak mau memaksa Clarence lagi. Mereka melanjutkan langkah menuju rumah.


"Merl, jangan katakan pada siapapun tentang aku. Jangan bilang ayah dan ibumu juga jika aku sudah ingat siapa diriku. Aku tetap Clark. Aku percaya kau bisa pegang rahasia." kata Clarence sementara mereka berjalan.


"Yang Mulia..."


"Dan.. aku minta maaf.. aku marah padamu saat di balai kota. Sebenarnya aku sedang kesal pada Marelina, putri Jendral Matthew. Dia terlalu genit dan selalu saja berusaha mendekati aku. Aku tidak suka dengannya. Itulah alasan aku tak mau ikut perjamuan malam itu." lanjut Clarence.


"Bukankah Tuanku sedang sakit? Aku dengar ratu bicara dengan Pangeran Henry dan karena itu aku nekad pergi ke lantai atas. Ingin tahu keadaan Tuanku. Karena di mimpiku yang terakhir aku melihat Tuanku bersedih." ujar Merylin.


"Sungguh?" Clarence kembali menatap lekat mata Merylin. Merylin mengangguk.


"Aku hanya sedikit pusing. Bisa saja aku datang malam itu. Maaf aku membuatmu takut. Kamu pasti sedih dan marah padaku." ucap Clarence.


"Ya.. malam itu aku sangat sedih. Aku bertemu dengan pria yang ada dalam mimpiku. Tapi aku justru ditolaknya dengan kasar."


Clarence menghentikan langkah lagi, meraih kedua tangan Merylin. "Apakah yang dalam mimpi dan aku yang di depanmu ini sama?"


Merylin menguatkan hati mengangkat kepala memandang Clarence. Degupan tak karuan itu datang lagi. Merylin mengangguk.


"Benarkah?" Clarence makin mendekatkan Merylin padanya. Dia memeluk pinggang Merylin.


Merylin mengangguk lagi.


"Dan kamu menyukaiku bahkan sebelum bertemu denganku?" dekat sekali wajah Clarence.


Merylin hanya bisa mengangguk.


"Sekarang aku yang jatuh hati padamu." Clarence mencium puncak kepala Merylin. Mendekap gadis itu.


Merylin memberanikan diri membalas pelukan Clarence. Pangeran dalam mimpinya, sekarang berada di depannya. Memeluknya, mengatakan jatuh cinta padanya.


"Ya Tuhan.... mimpiku jadi nyata..." bisik hati Merylin penuh syukur.