Life Goes On

Life Goes On
17 - Aku Masih Hidup!



Jendral Matthew memanggil dua prajurit untuk membawa ratu pergi dari tempat itu. Ratu Felicia sangat terkejut. Henry berani melakukan ini padanya?


"Tempat pembangkang yang paling tepat ada di dalam penjara." kata Matthew.


"Lakukan yang kau pandang baik, Jendral." Henry menjawab sambil memandang ibunya yang terperanjat dengan wajah penuh marah dan sedih.


Dua prajurit degan berat hati melakukan perintah jendral dan membawa Ratu Felicia pergi, memasukkan dia dalam penjara. Di bagian belakang istana memang ada ruang bawah tanah untuk menghukum pada pelayan yang melakukan kesalahan. Dan di sanalah ratu ditempatkan.


Suasana semakin tegang. Rakyat yang tadi berbisik-bisik dan menimbulkan suara riuh tak ada yang bermain bicara.


"Siapapun yang berani mencoba melawan, bersiaplah menyusul wanita tua itu!" Henry memandang ke seluruh penjuru tempat itu.


Dia menoleh pada Pendeta Bennette. "Pendeta, lanjutkan."


Pendeta Bennette sejak tadi berdiri tak berani bergerak. Dia sangat terkejut dengan kejadian ini. Dalam hati dia ingin membela sang ratu, tetapi di sisi lain dia punya tanggung jawab menjalankan perintah. Jantungnya bergemuruh. Di dalam pikirannya muncul Patrick yang tersenyum padanya. Sahabatnya, yang telah pergi itu.


"Pendeta! Kurasa aku tak perlu mengulang lagi perintahku." kata Henry geram.


"Clark, lakukan sesuatu." bisik Jesse di tengah kerumunan orang banyak itu.


"Tunggu... belum saatnya." balas Clarence, berbisik. Pelan, dia beringsut semakin mendekat ke arah panggung besar tempat Henry akan dinobatkan. Jesse mengikutinya.


"Mohon ampun, Tuanku. Saya tidak dapat melanjutkan upacara ini. Ratu Felicia adalah junjungan saya yang mewakili paduka raja. Sang Ratu tidak berkenan, saya menaati perintah saja." Pendeta Bennette mencoba menguatkan hati dan memberi hormat pada Henry.


"Kau juga berani melawanku!?" Henry menunjuk lurus ke arah Pendeta Bennette dengan amarah makin memuncak.


"Ampun, Tuanku. Ini keputusan saya." dengan teguh Pendeta Bennette menolak.


"Pengawal, bawa pengkhianat ini dari sini!" Henry makin tak terkendali.


Dua prajurit membawa Pendeta Bennette ke penjara tempat ratu berada.


"Sekarang tampuk pimpinan tertinggi ada padamu, Jendral Matthew. Lanjutkan acara ini." Henry menoleh pada Jendral Matthew.


"Siap, Yang Mulia." jawab Matthew tegas.


Henry kembali ke posisinya. Matthew mengambil mahkota yang dipegang salah satu prajurit. Dia mendekati Henry dan bersiap memakaikan mahkota di atas kepala Henry.


Saat itulah Clarence bergerak. Dia mengambil batu kecil dari kantong yang dia ikat pada pinggangnya. Dia lemparkan tepat ke tangan Jendral Matthew. Lalu bergerak cepat menyelinap di tengah kerumunan orang.


Karena terkejut, mahkota terjatuh dari tangan Matthew. Matthew memijit tangannya yang panas dan sakit karena lempatan itu.


Henry lagi-lagi marah. Dia memandang ke seluruh rakyat di depannya.


"Siapa lagi yang berani menentang aku?!!" semakin keras di berteriak.


Rakyat mulai ketakutan. Tidak ada seorangpun yang bergerak. Henry balik menoleh pada Matthew.


Matthew yang sudah mengambil mahkota yang jatuh lagi bersiap mengenakan mahkota itu di kepala Henry, sekali lagi lemparan bahkan lebih kuat mengenai tangannya. Mahkota terlempar jatuh lebih jauh.


"Aihh!!!" kali ini Matthew sampai mengerang.


"Jahanam!!! Pasukan cari pengkhianat itu, bawa kemari, aku sendiri yang akan membunuhnya!!!" teriak Henry yang kini marah meledak-ledak.


Pasukan bergerak di antara kerumunan rakyat. Semua menjadi ketakutan, ricuh mulai terjadi. Suasana menjadi sangat tegang dan menakutkan. Secepat kilat Clarence lari mencabut pedang seorang prajurit dan melompat naik ke panggung besar berseberangan dengan Henry.


"Aku yang melakukannya!" keras Clarence berkata. Dia melepas jubah luarnya. Kini nampak wajahnya, meski ada jambang tipis di sekitar rahang dan dagunya.


Henry menoleh cepat. Semua mata tertuju pada pria yang berani menantang calon raja itu. Para prajurit bergerak mendekat ke panggung.


"Aku, Clarence, putra mahkota kerajaan Goldy Star!" tegas Clarence.


Pasukan berhenti bergerak dan memandang Clarence dengan rasa terkejut luar biasa. Suara bisik-bisik terdengar riuh dari orang-orang. Benarkah itu pangeran Clarence? Bukankah dia sudah mati? Siapa orang itu yang mengaku menjadi Clarence?


"Kau?!!!" Henry menatap tak percaya. "Tapi, kau sudah mati?!"


"Jelas aku melihatmu jatuh di jurang dan kau tak bergerak lagi... siapa kamu?" kejar Henry.


"Hari itu kau menyerangku dan berkata ingin membunuhku. Aku sangat terkejut. Aku berusaha menghindar karena aku tak ingin bertarung denganmu. Tapi hari ini kita buktikan siapa yang berhak meneruskan tugas memimpin negri ini. Ataukah negri ini harus jatuh ke tangan jahatmu dan jendral Matthew." tandas Clarence sambil melirik ke Matthew yang berdiri tak jauh dari Henry.


"Turun, lawan aku!" Clarence melompat turun dari panggung. Henry mencabut pedangnya dan menyusul Clarence. Mereka pun mulai bertarung.


Rakyat yang memandang dengan tegang dari tadi semakin tak bergeming melihat dua pangeran itu beradu kekuatan untuk menentukan nasib bangsa ini. Tentu saja mereka membela putra mahkota yang ternyata dipecundangi Henry selama ini.


Terdengar suara dari tengah rakyat. "Pangeran Clarence!"


Suara lain mulai terdengar. Makin banyak yang menyerukan nama Clarence memberi dia semangat untuk berjuang. Mendengar suara seruan untuk Clarence membuat ciut hati Henry. Dia jadi cemas dan gugup. Sehingga akhirnya dia mulai terdesak, satu kesempatan membuat Clarence dapat menekan tangan Henry membuat pedangnya terlempar dan Henry terjatuh.


Clarence berdiri tegak di hadapan Henry yang masih tergeletak. Dia hunus pedang itu ke dekat dada Henry. Henry memandang Clarence dengan wajah mulai ketir.


"Clarence, jangan... jangan bunuh aku..." kata Henry.


Clarence menatap Henry yang ketakutan. Henry, kakak angkatnya. Tapi yang tidak pernah dia pikir lagi bahwa Henry bukan anak ayah ibunya. Bagi Clarence dia kakaknya, yang disayanginya. Henry pernah mencoba membunuhnya. Sekarang dia ada kesempatan membalas perlakuan Henry.


Mata Clarence menatap tajam, wajahnya sangat tegang. Pedang masih mengarah tepat ke dada Henry.


Henry bergerak mundur, berusaha bangun. "Kumohon, jangan bunuh aku..."


Tiba-tiba Jendral Matthew melemparkan pedangnya ke arah Clarence. Jesse yang telah berdiri di barusan paling depan melihat gerakan Matthew. Secepat kilat dia melompat!!


"Pangeran Clarence, di belakangmu!!" sambil berteriak dia melompat, mendorong Clarence agar terhindar dari pedang. Keduanya terguling-guling. Dan pedang Matthew justru menancap tepat di dada Henry yang sudah setengah berdiri. Dia terjerembab.


"Aahkk..." terdengar teriaknya, lalu diam. Henry tewas seketika.


Clarence dan Jesse segera bangkit lagi. Clarence kembali naik ke panggung.


"Sebagai putra mahkota aku mengambil alih pimpinan tertinggi negara ini!" seru Clarence.


Rakyat bersorak senang. Riuh sekali suasana di tempat itu.


"Jendral Logan, tangkap Matthew dan Marelina. Mereka pengkhianat negara yang menyebabkan kematian Raja Patrick." perintah Clarence.


Jendral Logan segera memerintah prajurit menangkap Matthew dan Marelina.


"Ampun, Tuanku.." Matthew berlutut di depan Clarence. Marelina juga menyusul ikut berlutut.


"Ampun.. saya hanya mengikuti rencana Pangeran Henry. Mohon, ampun.." Matthew menyembah hingga mukanya ke tanah.


"Aku juga hanya ikut apa kata ayah, Pangeran. Aku tak tahu apa-apa soal ini." sahut Marelina.


"Diam kalian!" sentak Clarence. "Kalian meracuni ayahku hingga meninggal. Kalian memasukkan ibu dalam penjara seperti seorang penjahat. Bagaimana bisa aku mengampuni kalian?!"


Terlihat pergerakan di antara deretan pejabat negara. Clarence melihat itu.


"Jika itu dokter yang dibayar Matthew untuk membunuh ayah dengan racunnya, tangkap dia!" Clarence menunjuk seseorang yang berusaha menjauh dari barisan itu. Dua prajurit segera bergerak menangkapnya.


"Bawa mereka dan masukkan dalam penjara, hingga tiba saat pengadilan untuk mereka." kata Clarence.


Para prajurit mematuhi perintah Clarence. Sekarang Clarence menoleh pada deretan prajurit.


"Dominique!" panggil Clarence.


"Siap, Yang Mulia!" Dominique bergegas maju.


"Bawa ibu dan Pendeta Bennette kemari." kata Clarence.


"Siap, Yang Mulia." dengan membawa dua prajurit lainnya Dominique berangkat menjemput Ratu Felicia dan Pendeta Bennette.


Clarence mendekati Henry yang terkapar di halaman. Bersimbah darah, tak bergerak, tak bernyawa.