
Rumah kecil itu dijaga empat orang prajurit sejak Clarence datang. Mereka berjaga agak jauh dari rumah, sehingga tidak membuat seisi rumah merasa tak nyaman. Itu harus dilakukan karena bagaimanapun harus ada penjagaan bagi calon raja.
Clarence sebenarnya tidak suka dengan prosedur seketat itu, tetapi apa boleh buat, dia harus mengikuti ketetapan yang berlaku. Waktu pergi ke telaga dia memaksa prajurit tetap tinggal di rumah dan tidak mengikutinya.
"Jadi setelah ini, ke mana saja aku pergi, akan ada prajurit mengikuti seperti ini?" tanya Merylin.
"Secara umum ya.. tapi jika di lingkungan istana tidak, saat di luar ya." jawab Clarence.
"Ayah dan ibu juga?" tanya Merylin lagi. Albert dan Margareth memandang Clarence.
"Ayah dan ibu juga menjadi bagian keluarga kerajaan, jadi akan berlaku sama." jelas Clarence. "Ayah dan ibu nanti tinggal dengan kami di istana."
"Pangeran, aku tidak bisa. Ladangku, ternakku... tidak mungkin aku tinggal begitu saja." kata Albert.
"Tentu tidak, Ayah. Aku akan minta orang mengurusnya. Kapan saja ayah dan ibu ingin ke sini, pasti bisa." ujar Clarence.
"Hmm... kita harus bersiap masuk dunia baru, Margie." Albert menepuk pundak istrinya.
"Ya... kita ikuti saja... Tuhan sudah atur demikian." Margareth memandang suaminya.
"Ayah ibu dan Merylin, kita harus berangkat sore ini juga. Kita tidak banyak waktu untuk acara besok." kata Clarence. "Sebentar lagi, kereta yang menjemput kita akan datang. Malam ini kita akan bercengkerama dengan ibunda ratu."
"Ratu?" Albert dan Margareth serentak mereka menjawab.
"Iya, benar. Kita adakan perjamuan keluarga malam ini. Dan besok aku dan Merylin menikah." jawab Clarence.
Orang tua Merylin merasa seperti masuk negri dongeng saja. Mereka buru-buru membereskan apa-apa di rumah. Lalu menitipkan rumah kepada keluarga Thompson yang tinggal paling dekat dengan mereka.
Merylin membawa gaun yang Clarence berikan. Dia akan memakainya besok saat dia menikah dengan pangeran impiannya itu.
Para tetangga sangat terkejut dengan apa yang terjadi hari ini. Mereka tahu jika Clark yang pernah tinggal di rumah tetangga mereka itu adalah pangeran. Tapi tidak menyangka pangeran itu akan membawa Merylin menjadi permaisurinya.
Semua tetangga akhirnya datang memberi selamat untuk Merylin. Mereka menemani sampai keluarga Everance berangkat ke kota Snowpines.
🌟🌟🌟
Tiba di Snowpines hari hampir gelap. Clarence mengajak keluarga Merylin ke lantai atas di balai kota. Telah disiapkan kamar untuk Merylin, ayah dan ibu. Juga disediakan pakaian yang akan mereka kenakan saat perjamuan keluarga malam itu.
Keluarga kerajaan mengundang pembesar kota dan tentu Pastor Charles Brown dan Arvella. Merylin terkejut melihat Pastor ada di sana.
"Pastor... Ibu..." Merylin memeluk Charles dan Arvella bergantian.
"Putriku... mimpimu jadi nyata.." Arvella memeluk Merylin dengan tatapan bahagia.
"Utusan pangeran menemuiku beberapa hari lalu, agar hari ini aku datang ke balai kota. Aku baru tahu pangeran merencanakan semua dengan matang. Lihat, mereka bergerak menyiapkan hari pernikahan kamu besok, Merl." kata Charles. Wajahnya juga nampak sangat gembira. Dia tahu bagaimana Merylin bergumul dengan mimpi dan doanya untuk pangeran itu. Semua terjawab sudah hari ini.
"Dia bahkan baru datang siang tadi menemuiku. Duniaku seperti diputar balik rasanya." ucap Merylin. "Aku seperti masih bermimpi. Hampir tidak bisa percaya."
"Teguhkan hatimu. Ada berkat besar, pasti diiringi tantangan besar. Tapi aku tahu, Putriku, kamu pasti kuat." Sekarang Charles yang memeluk Merylin.
"Iya, Pastor. Aku paham." Merylin mengangguk.
Merylin didandani sederhana oleh tukang rias yang disiapkan pengatur acara. Dia mengenakan gaun warna peach kalem. Anggun meski sederhana. Menampakkan dirinya yang sesungguhnya. Clarence tidak ingin Merylin jadi orang lain. Merylin sangat senang karenanya.
Mereka mengambil tempat duduk di kursi yang disediakan. Merylin di sisi ayah dan ibunya, berdekatan dengan meja Pastor Charles dan Arvella. Dua kursi di depan Merylin kosong, itu untuk Clarence dan Felicia. Di sebrang meja walikota dan istrinya dan beberapa pejabat lain. Tidak banyak tamu yang hadir, tetapi terasa jamuan berkelas yang disajikan.
"Lihat, Merl.." Ibu menepuk lengan Merylin.
Dari lantai atas, Clarence berjalan berdampingan dengan ratu. Merylin sudah pernah melihatnya, di sini, di ruang ini. Ya... wajah anggun dan cantik itu, dengan senyum ramah.
Semua yang hadir berdiri menyambut Clarence dan Felicia turun ke lantai satu, tempat perjamuan diadakan. Begitu kaki menapak tangga terakhir Clarence melangkah menuju ke meja Merylin. Felicia di sisinya, menggandeng tangannya.
"Ibu, ini Merylin." Clarence mengulurkan tangan pada Merylin.
Merylin memberi hormat menunduk dan melebarkan gaunnya. Diikuti ayah dan ibunya. Felicia maju mendekati Merylin. Jantung Merylin berdetak dengan cepat lagi. Dia takut salah bersikap di depan ratu. Margareth menatap ratu hampir tak berkedip. Dia sangat mengagumi wanita ini. Sekarang dia berdiri di hadapan wanita nomor satu di negerinya.
Felicia memperhatikan Merylin dari ujung kepala sampai kakinya. Wajahnya tetap tersenyum. Matanya menatap penuh keteduhan.
"Trimakasih sudah menolong putraku. Trimakasih terus berdoa dan mendukungnya." katanya. Suaranya lembut tapi tegas. "Kau cantik, manis, dan lembut. Anakku memang tahu wanita yang baik untuknya."
"Yang Mulia..." Merylin memberi hormat lagi.
"Senang bisa bertemu denganmu hari ini." katanya. "Duduklah.."
Mereka kembali duduk. Felicia memandang Albert dan Margareth yang terlihat gugup.
"Kalian membesarkan seorang anak yang istimewa. Trimakasih sudah merelakan putri kalian mendampingi Clarence." kata Felicia.
"Kehormatan bagi kami, Yang Mulia. Karena pangeran berkenan memilih putri kami. Kami hanya rakyat kecil. Kami sungguh tak menduga bahwa pangeran bisa bertemu putri kami." ucap Albert. Dia sebisa mungkin berusaha tidak terlihat grogi.
"Kalian juga yang merawat Clarence hingga pulih saat dia terluka. Trimakasih banyak, kalian menerima Clarence dengan sangat baik." lanjut Felicia.
"Sudah tugas kami, Yang Mulia." sahut Albert.
Clarence mengangkat tangannya memberi tanda mereka bisa mulai acara malam itu. Seorang pemimpin acara menyampaikan tujuan mereka berkumpul di ruangan itu, menyambut hari sukacita, pangeran akan mempersunting gadis dari Desa Greenpines, pinggiran kota Snowpines menjadi pendamping hidupnya. Ketika namanya disebut Clarence dan Merylin berdiri. Tepuk tangan meriah menyambut keduanya. Semua sangat gembira bahwa Pangeran Clarence justru jatuh hati dan memilih gadis dari desa kecil, bukan seorang putri pejabat kerajaan.
"Cantik sekali gadis itu. Benar sederhana, tapi dia terlihat baik hati dan ramah. Juga cerdas." bisik seseorang.
"Bagaimana mereka bisa bertemu ya? Jangan-jangan saat perburuan tahun lalu?" bisik yang lain.
Banyak pertanyaan muncul dan beberapa spekulasi dijadikan jawaban. Pembawa acara menenangkan gemerisik para tamu, mengajak mereka berdoa sebelum memulai makan malam. Pendeta Charles diminta memimpin doa. Kemudian mereka menikmati perjamuan makan bersama.
Hingga hampir dua jam kemudian acara selesai. Satu per satu tamu meninggalkan balai kota. Ayah dan ibu, Charles dan Arvella sudah masuk ke kamarnya. Sedangkan Felicia masih menahan Merylin, berbincang dengan Clarence juga. Felicia nampak senang sekali dapat kesempatan bicara banyak dengan Merylin. Dia harus mengenal. gadis ini. Karena dia tahu ada situasi yang harus dia jawab saat tiba di istana nanti.
"Baiklah.. senang sekali, Merylin, bisa berbicara banyak denganmu. Tapi saatnya istirahat sekarang. Kau juga harus segera pergi tidur. Besok kamu akan jadi bintang. Jangan terlihat lelah karena kurang tidur." Felicia berdiri.
"Baik, Yang Mulia." lagi Merylin memberi hormat. Felicia melangkah menuju ruang atas.
"Aku antar ke kamar kamu." kata Clarence.
"Baik..." Merylin mengikuti langkah Clarence naik ke lantai atas.
Wajah Clarence nampak begitu gembira dan penuh semangat. Sebentar sebentar, dia tersenyum dan memandang Merylin. Merylin jadi kikuk dan salah tingkah.
"Kenapa melihat aku terus?" kata Merylin.
"Aku suka. Aku rindu sekali." Lagi senyum itu menunjukkan ketampanan wajah pemiliknya.
Mereka sampai di depan kamar.
"Clarence..." katanya lirih, masih sedikit kaku.
"Sini.." Clarence menarik Merylin dalam pelukannya. Dia dekap erat, dia kecup keningnya. Merylin tak bisa menolak. Dia juga merindukan pangerannya.
"Istirahatlah, Merl. Besok ada hari besar yang akan kita jalani. Disusul hari besar lainnya. Tersenyum yang banyak. Tunjukkan cantikmu di sisiku." bisik Clarence.
Merylin hanya mengangguk. "Aku..." dia menatap mata Clarence.
"Ya..." Lembut Clarence berkata, membalas tatapan gadis cantik dan imut di depannya.
"Aku mencintaimu."
Clarence langsung mencium puncak kepala Merylin. Ingin dia rengkuh yang lain, tapi dia tahu, Merylin belum siap. Hatinya bergejolak karenanya.
"Aku juga sangat mencintaimu." bisik Clarence.
Dia lepaskan Merylin. Gadis itu masuk ke kamar dan menutup pintu. Lalu melompat dengan gembira ke kasur yang besar dan dan empuk. Dia merentangkan tangan dan kakinya, menatap langit-langit yang indah.
"Jika ini mimpi aku tak mau bangun. Jika ini nyata, jangan pernah berubah.." katanya lirih. "Trimakasih, Tuhan.... trimakasih..."