LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 7 B



“Ree percaya perjalanan waktu?” tanya oma sambil menyeruput tehnya.


Sore itu Ree dan omanya sedang bersantai diberanda samping rumah, menikmati sore. Bau tanah dan rumput samar-samar tercium karena baru saja selesai diguyur hujan.


“Perjalanan waktu?” Ree bertanya balik sambil memandang langit, “Tidak oma. Ree tidak percaya. Banyak teori tentang itu tapi tidak ada sutu pun yang dapat membuktikan.”


Ree melirik omanya lewat sudut matanya, “Lemurian lagi oma?”


“Hahaha” omanya terkekeh.


“Ree sudah tahu oma. Kalau oma sudah mulai bicara yang aneh-aneh, tekhnologi yang tidak masuk akal, Ree tahu pasti Lemurian lagi.”


“Ree tidak kesal?”


“Dulu iya. Sekarang sih tidak oma. Sudah biasa.” Ree mengedikkan bahunya.


“Jadi oma bisa lanjut?”


Ree mengedikkan bahunya lagi, “He'em. Terserah omaku tersayang lah”


“Kenapa Ree tidak percaya perjalanan waktu? Kalau teorinya sudah ada, bisa saja kan kedepannya akan terwujud.”


“Begini yah oma, sebetulnya ada satu teori yang terkenal, namanya teori relativitas Einstein. Inti teori itu, kalau ingin melakukan perjalanan waktu, kita memerlukan sebuah mesin yang bisa melaju secepat kecepatan cahaya.”


“Dan Ree tidak percaya kalau mesin itu ada?”


“Tidak lah oma.” Ree terdiam sejenak,


“Sebetulnya Ree bakal percaya, hanya kalau....” Ree menahan kalimatnya.


“kalau?” omanya balik bertanya.


“Kalau... Om Einstein tiba-tiba nongol didepan Ree terus bilang, hai Ree om baru datang nih dari 100 tahun yang lalu. Hahahaha” Ree tertawa puas berhasil mengerjai omanya.


Oma tersenyum simpul, “Ada Ree. Lemurian contohnya.”


Ree menggeser kursinya menghadap omanya, “sebetulnya ada berapa sih isi tekhnologi Lemurian oma?”


“Banyak Ree.”


“Bisa dipakai semua?”


“Tentu bisa. Tapi tiap orang hanya bisa memakainya satu kali.”


“Oh iya. Hanya satu kali. Permohonan apapun, tapi hanya satu kali.” Ree mengulang ucapan yang sering didengarnya dari oma.


“Tapi Ree... Ada sesuatu yang oma belum kasih tahu.”


“Apa oma?”


“Segala sesuatu didunia ini, tidak ada yang sempurna. Itu sudah hukum alam.” Oma berhenti sejenak memandang kupu-kupu yang hinggap dibunga asternya,


“begitupun tekhnologi Ree. Dia bisa saja mumpuni, dapat melakukan segala hal, membuat dan menciptakan apapun, tetapi selalu ada konsekuensinya, timbal baliknya. Seperti kita minum obat, kita bisa sembuh, tapi disetiap obat pasti ada efek sampingnya.”


“Maksud oma?”


“Sederhananya, kalau kita menggunakan teknologi Lemurian, akan selalu ada bayarannya.” Jawab omanya sambil menyeruput sisa tehnya yang terakhir.


****


“Halo. Iya saya sendiri. Baik. Saya mengerti. Saya akan segera kesana.” Ethan menekan tombol digawainya dan memasukkanya ke saku celana.


Ia berjalan mondar mandir tampak khawatir. Sejurus kemudian mengambil kembali gawainya, dan menelepon seseorang.


“Ree dengarkan aku baik-baik.” Ethan berhenti sejenak mengelus kepalaku, “Tadi sipir penjara menelepon meminta agar aku datang kesana. Katanya om Doni lagi sakit. Aku belum tahu sakit apa. Jadi kamu akan kutinggalkan sebentar. Aku harus kesana mengecek keadannya.” Ethan berhenti sejenak,


“dan barusan aku menelepon Bobi, kamu berteman kan dengan istrinya?”


Aku mengangguk.


“Aku minta tolong supaya istrinya datang kesini untuk menemanimu selama aku tidak ada. Kalau tidak macet, harusnya 15 menit lagi Bobi dan isterinya akan sampai disini.”


Aku kembali mengangguk.


“Aku janji tidak akan lama Ree, hanya memastikan keadaan om Doni, lalu aku pulang. Nanti akan kupanggil juga perawat menemanimu disini sampai Bobi dan Isterinya datang. Aku pergi dulu Ree.”


Aku tersenyum. Senyum yang kupaksakan. Entah kenapa kepergian Ethan kali ini begitu memberatkan hatiku. Aku seperti tidak ikhlas.


Tapi papa lagi sakit disana. Entah bagaimana keadaannya sekarang. Apa sakit jantungnya kambuh lagi?


Kulihat Ethan sudah bersiap untuk pergi. Ia sudah melangkah mencapai pintu untuk sesaat kemudian berbalik kembali,


“Kamu yakin tidak apa-apa kutinggal?” Ethan memastikan.


Aku mengangguk.


Alih-alih pergi, Ethan malah masuk kembali menuju meja, membuka lacinya dan mengambil sesuatu didalamnya. Aku menatapnya bingung. Ia lalu menaruh benda yang diambilnya tadi di telapak tangan kananku.


“Aku tahu kamu khawatir Ree, aku bisa melihatnya dari matamu. Jadi ini gelang permata delima yang kuberikan dan juga liontin milikmu. Kamu bisa menggenggamnya selama aku pergi, biar kamu sedikit tenang. Hitunglah sampai 500 seperti yang biasa kamu lakukan waktu kecil saat kamu menungguku. Aku janji akan kembali sebelum hitungan ke 500. Secepatnya.”


Ethan lalu berbalik dengan langkah lebar menghilang dibalik pintu.


Kali ini ia benar-benar pergi.


*****


Mobil Ethan melaju menembus kegelapan malam diiringi hujan yang cukup deras. Petir dan kilat muncul bergantian dan beberapa kali terdengar menyambar. Wiper mobil yang terus bergerak menghalau air hujan, tidak membantu banyak. Hujan terlalu deras, jarak pandang Ethan sangat pendek. Ethan berusaha fokus dengan jalanan namun tidak bisa. Pikirannya melayang-layang terpecah antara Ree dan om Doni. Ethan harus bergegas. Ada om Doni dan Ree yang menunggu kedatangannya. Dia tidak bisa membuang-buang waktu lebih banyak.


Kondisi jalanan yang licin tidak membuatnya menurunkan kecepatan mobil. Ia tetap melaju dan tidak menyadari semakin dalam kakinya menginjak pedal gas.


Sementara jauh dibelakang sana, Ethan tidak sadar ada mobil hitam yang mengikutinya sejak keluar dari parkiran rumah sakit tadi. Mobil hitam itu melaju menyeimbangi alur kecepatan mobil Ethan. Terkadang mobil itu mendekat tetapi tetap menjaga jarak, tampak sedang menunggu kesempatan.


Tiba-tiba saja mobil hitam itu menyalip Ethan dari belakang, mengikis tipis dan membuat goresan panjang dibadan mobilnya.


Ethan kaget. Laju kecepatan mobil dan jalanan yang licin membuat pedal rem yang diinjaknya bukannya menghentikan mobil, tapi justru membuat mobil itu kehilangan kendali. Ethan mencoba menguasai setir mobilnya. Berusaha menahanya agar tetap lurus. Nihil!


Ethan membuka matanya. Tetesan hujan masuk melalui kaca mobilnya yang retak membasahi wajahnya. Ia tidak bisa bergerak. Badannya terjepit badan mobil yang gepeng. Beberapa pecahan kaca tertancap masuk di badan dan tangannya. Ia meringis kesakitan berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Nafasnya sesak, dadanya remuk, tulang kakinya patah. Ethan sadar dia tidak bisa lagi berbuat banyak. Ia hanya bisa pasrah menunggu pertolongan. Air matanya mengalir bercampur tetes hujan yang jatuh diwajahnya. Tenaganya habis.


Ethan membisikkan nama Ree sebelum akhirnya pandangannya kabur dan berubah menjadi gelap. Ia menutup matanya.


Mobil hitam yang menyalip tadi berbalik arah. Berhenti tepat disamping mobil Ethan yang tampak rusak parah. Seseorang turun dari dalamnya, mengecek dan memastikan apakah tugasnya telah selesai atau tidak. Orang itu berjalan ke bagian kemudi mobil yang rusak, memperhatikan sejenak, tersenyum lalu mengambil gawai dikantong celananya dan mengetik pesan.


[[ Target aman. Tugas selesai ]]


Ia menekan tombol kirim dan memasukkan kembali gawainya ke saku. Ia bersiul masuk kembali ke mobilnya, menjauh meninggalkan mobil Ethan yang hancur dan mulai berasap.


****


Aku menatap langit-langit kamarku, lalu melihat ke jendela yang basah karena air hujan. Bosan sekali rasanya sendiri di kamar ini tanpa ada teman. Tadi memang ada perawat yang menjaga, tetapi hanya sebentar karena tiba-tiba ada panggilan dari ruang ICU yang membutuhkan tenaga lebih. Aku pasrah dan mengangguk saat perawat itu meminta izin untuk pergi. Aku tidak punya pilihan lain kan, tidak mungkin aku menahannya.


Hitungan ke 500 pun sudah usai 30 menit yang lalu. Kemana sebetulnya Ethan.


Apa kondisi papa parah? Atau terjadi sesuatu? Aahh... aku tidak boleh membiarkan pikiran buruk masuk dalam kepalaku.


Bobi dan isterinya pun belum datang. Aku menebak mungkin mereka sedikit lambat karena hujan di luar begitu deras.


Aneh... Biasanya aku senang jika hujan turun. Suara hujan selalu bisa menenangkanku. Tapi tidak untuk kali ini. Entah kenapa degub jantungku sedikit cepat. Ada kecemasan yang meliputiku, seperti ada sesuatu yang salah.


Terdengar suara daun pintu yang diputar. Mungkin Bobi dan Isterinya sudah datang. Baguslah. Setidaknya aku tidak sepi lagi.


Aku memalingkan wajahku ke arah pintu, melihat siapa yang datang.


Pintu kamar terbuka pelan dan seseorang muncul dari baliknya. Ia mengenakan jaket coklat dengan topi berbahan jeans. Aku memicingkan mataku berusaha memastikan siapa orang dibalik topi itu. Lampu yang redup sedikit mengaburkan pandanganku. Tetapi dari perawakannya, tinggi badannya, aku tahu dia seorang pria, dan... sepertinya aku kenal itu siapa.


Pria itu berjalan mendekat dan membuka topinya. “Halo Ree.”


Aku membelalakan mataku.


Mas Anton? Degub jantungku berpacu cepat. Apa yang mau ia lakukan?


Aku mencoba berteriak minta tolong. Suaraku tidak keluar. Aku lupa suaraku sedang bermasalah sekarang.


Aku menarik nafasku dalam, berusaha tenang. Mencoba membaca situasi, setidaknya dapat menebak apa lagi maunya pria jahat ini.


Mas Anton membuka tasnya, mengeluarkan beberapa lembar kertas, menyusunnya rapi dan berjalan ke arahku. Aku bisa menebak itu pasti dokumen pengalihan saham. Belum puas juga ternyata dia dengan semua yang telah dilakukannya hingga saat ini.


“Sorry Ree, aku membutuhkan sidik jarimu secepatnya. Kau tahu kan, harusnya aku tidak perlu repot-repot seperti ini. Salah papamu kenapa dia harus mengalihkan sahamnya ke atas namamu.” Ucap mas Anton sambil mengambil tangan kiriku, menekan ibu jariku di fingerprint pad, lalu membubuhkannya dikertas tepat diatas tulisan namaku. Ia mengulangi hal yang sama sampai kertas-kertas itu habis.


“Beres.” Senyumnya puas. “Sorry Ree aku tidak bisa lama-lama.” Mas Anton lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah botol kecil dan jarum suntik. Dengan sangat hati-hati Mas Anton membuka botol tersebut dan memindahkan cairan dalam botol itu ke dalam tabung suntik.


“Oiya, dan ini hadiah dari Siska buatmu. Dia selalu berharap agar kau tidak merasa tersiksa lagi Ree.” Lanjut Anton sambil menyuntikkan cairan itu melalui selang infusku.


Aku menatapnya getir.


Seperti ini kah akhir ceritaku.


Aku merasakan nyeri dibagian dadaku. Bagaimana pun juga, aku pernah mencintainya setulus hati. Meskipun selama ini dia hanya berpura-pura, tapi aku pernah bahagia dengan kepura-puraan itu. Dia adalah suamiku. Ayah dari bayiku yang telah tiada. Aku pernah sangat mencintainya.


Air mataku mengalir. Ada luka besar tercipta disudut hatiku.


Mas Anton mengelus kepalaku, “aku mengobatimu Ree. Semoga tidak ada lagi sakit yang kau rasakan. Istirahatlah Ree. Berbahagialah dalam tidurmu.” Mas Anton mengecup keningku dan beranjak pergi meninggalkanku dengan air mata yang belum kering.


Aku pasrah, menunggu dengan sisa nafasku. Pikiranku melayang-layang. Sepertinya tidak begitu buruk. Toh aku bisa menemui mamaku yang hanya kukenal lewat foto-fotonya. Kali ini aku bisa mengobrol bahkan bercanda dengannya bukan? Hal yang tidak pernah kulakukan seumur hidupku.


Oma... Aku akan segera menemuimu. Kembali bercanda dan menceritakan hal-hal tidak masuk akal.


Lemurian... Sepertinya seumur hidupku hanya itu yang kubahas bersamamu oma. Terkadang aku kesal sekali mendengarnya, tapi kali ini aku begitu rindu saat-saat itu, saat-saat bersamamu oma.


Oma tahu, diujung nafasku ini terselip harapan kecil kalau semua yang oma katakan itu benar adanya.


Aku merasa sesak. Seperti ada yang menjalar dibadanku dan itu sangat menyakitkan. Bulir-bulir keringat mulai menetes dari pelipisku. Nafasku tersengal, paru-paruku terasa kosong. Pandanganku mulai gelap.


Seketika aku dilanda ketakutan. Ketakutan yang teramat sangat.


Aku tersadar. Mataku terbuka. Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak ingin seperti ini! Tolong aku. Bukan seperti ini yang kuinginkan. Tolong!


Aku menarik nafasku kuat-kuat. Menghirup udara sebanyak yang kubisa. Aku berusaha mengisi kembali paru-paruku yang terasa kosong. Tidak bisa seperti ini! Aku tidak menginginkan ini! Tolong aku! Dengan segenap jiwaku... siapapun... Tolonglah. Tolonglah aku!


Aku meratap, memohon, mengiba.


Tiba-tiba aku merasakan getaran ditelapak tangan kananku. Liontin yang ditaruh Ethan ditanganku bergetar. Getaran yang hebat.


[[ Takdir apa yang ingin kau ubah ]]


Sebuah suara mengambang ditelingaku.


Siapa itu? Siapa? Dengan nafas tersengal aku berusaha mencari asal suara.


[[ Hanya satu kali, kuatkanlah niatmu, sekuat kau ingin melawan takdir ]]


Suara itu kembali terdengar.


Oma? Bukan.. ini bukan suara oma.


Dadaku semakin sakit, nafasku semakin terhimpit.


[[ Hanya satu kali. Apa yang ingin kau ubah ]]


Diujung nafasku, dengan mataku yang hampir tertutup kembali, dengan sisa tenaga yang ada, kubuat sebuah permohonan, pelan aku mengucapkannya.


... jadi... tolonglah aku...


Seketika sebuah sinar putih muncul menusuk mataku. Sangat silau. Bahkan ketika mataku tertutup, sinar itu tetap terasa menyakitkan.


Badanku serasa melayang, lalu ditarik, dihempas, diputar dan dilempar. Sakit. Sangat sakit.


Apa yang sebenarnya terjadi?


***