
“Frederika Jonathan memilih .....” Suara MC itu tertahan.
Kuremas tanganku, nafasku sedikit sesak, jantungku berdetak cepat.
Kulihat mas Anton tersenyum lebar. Siska menggigit bibir bawahnya. Keduanya sama-sama menunjukkan mimik muka yang penuh harap.
“Memilih...
REENATA REFANDA.” Ucap MC itu menggelegar.
Aku terpana.
Tidak percaya dengan pendengaranku barusan. Frederika memilihku? Benarkah?
Mataku mengitari ruangan mencari jawaban.
Nampak para peserta rapat sedang bertepuk tangan melihat kearahku.
Aku mengerjap beberapa kali.
Benar. Frederika memilihku.
Tidak bisa dipercaya.
“TIDAK MUNGKIN!” mas Anton menggebrak kuat meja.
Semua orang didalam ruangan sontak terdiam.
Bola mata Siska membesar, ikut terkejut dengan pembacaan surat suara Frederika barusan.
“Pasti ada yang salah! Pak Han, tolong jelaskan!” cecar Anton melihat kearah pak Han meminta penjelasan.
Siska lalu mendorong kursi roda mas Anton mendekati pak Han.
“Keputusan tidak di saya, pak Anton. Saya pikir anda sudah tahu itu.” Jawab pak Han kalem kembali menatap mas Anton.
“Tapi anda sudah berjanji!” suara mas Anton meninggi.
Dia tidak peduli dengan pandangan aneh para undangan rapat. Dia benar-benar mempermalukan dirinya.
“Siapa bilang saya berjanji? Jangan salah sangka pak Anton.”
“Tapi bapak mengatakan kalau proposal saya menarik dan Frederika senang dengan itu.”
“Itu benar.”
“Lalu kenapa dia memilih Reenata! Sangat tidak masuk akal!”
“IBU – Reenata.” Ucap Pak Ren membetulkan kalimat mas Anton.
Mas Anton mendengus kesal. “Dia bahkan membatalkan janjinya!” Telunjuk mas Anton lurus mengarah padaku.
“Apa yang Frederika harap darinya?"
“Ya pak Han. Tolong jelaskan pada kami. Pasti ada alasan kenapa Frederika melakukan ini.” Siska ikut menimpali.
Aku bersedekap. “Cukup pak Anton. Bukan saya ingin mencampuri. Tapi bicarakanlah masalah kalian secara pribadi. Ada banyak mata disini.”
Mas Anton mendelikku, tidak terima. Kesal sekali dia.
Pak Han menghela nafas panjang. “Benar yang ibu Reenata katakan. Temuilah saya dikantor pak Anton. Akan saya jawab apapun pertanyaan anda.” Ucap pak Han sembari berdiri.
“Maaf ibu Ree. Silahkan lanjutkan ke acara selanjutnya. Sepertinya kehadiran saya cukup sampai disini. Kalau tidak, bisa terjadi keributan yang lebih panjang.” Pak Han melirik mas Anton dan Siska.
Ia lalu mengulurkan tangannya kearahku. Aku menyambutnya, kami bersalaman.
“Selamat atas terpilihnya ibu Reenata. Tunjukkan lah kalau Frederika memang tidak salah pilih.” Ucap pak Han tersenyum.
“Pasti pak!” Jawabku tegas membalas senyumnya.
Pak Han melangkah keluar ruangan rapat bersama sekretarisnya.
Tidak berselang lama, mas Anton dan Siska pun ikut beranjak keluar. Mungkin mereka berdua masih mengharapkan penjelasan lebih dari pak Han.
Entahlah, aku tidak peduli lagi. Yang jelas pijakanku sekarang sudah lebih kokoh. Tentu dengan begitu rencanaku selanjutnya untuk menjatuhkan mas Anton dan Siska akan lebih mudah dilaksanakan.
Aku tetap duduk dikursiku bersama pak Han disampingku, mengikuti sisa acara rapat sampai selesai.
Senyuman mengembang diwajahku. Baru kali ini aku benar-benar bernapas lega. Jalanku membebaskan papa dari jeratan kasusnya tinggal selangkah lagi.
Selesai sudah peperangan kami. Entah apa pertimbangan Frederika memilihku. Aku tidak tahu. Tapi yang jelas aku telah membuktikan bahwa yang busuk tetaplah busuk, meski dipoles seindah apapun, suatu saat akan nampak belatungnya. Hal yang sama berlaku pada mas Anton dan Siska, sesempurna apapun rencana kotor mereka, suatu saat akan hancur lebur juga.
Perusahaan kini sudah sepenuhnya ada digenggamanku. Tentu ini berita baik pertama setelah perjuanganku selama ini. Aku sudah tidak sabar ingin memberitahukan ini pada Ethan.
Ah ya, Ethan!
Sedang apa dia sekarang?
.
.
****
.
.
Pak Han tampak duduk santai bersandar dikursi kerjanya. Didepannya sudah ada Anton yang tengah duduk dikursi roda dan Siska yang menemaninya.
“Jadi apa yang ingin anda tanyakan pada saya, pak Anton?” pak Han memulai pembicaraan diantara mereka.
“Seperti yang saya tanyakan tadi di ruang rapat. Kenapa Frederika memilih Reenata?”
“Sejujurnya saya tidak tahu apa alasannya.”
“Tidak mungkin. Bapak kan asistennya.”
“Karena itulah pak Anton. Saya ini hanya asisten. Tugas saya hanya meneruskan informasi, semua keputusan tetap ditangan Frederika.”
“Tapi minimal bapak tahu alasannya.”
Pak Han menghela nafas, “anda tidak kenal dengan Frederika. Dia bukan tipe orang yang akan memberitahukan apa yang ada dalam kepalanya. Dia tertutup. Beberapa keputusannya tidak bisa diprediksi. Dan itu berlaku pula untuk kali ini.”
“Kalau begitu apa yang sudah Reenata janjikan pada Frederika.”
“Janji? Tentu tidak ada.” Pak Han menjawab tegas.
“Dan saya rasa pak Anton juga tahu ibu Reenata bahkan membatalkan pertemuannya dengan saya.”
“Karena itu lah pak Han, saya ingin tahu apa pertimbangan Frederika memilihnya?”
Pak Han menghela nafas gusar, mulai jengkel, “sudah saya katakan pak Anton, saya benar-benar tidak tahu apa alasannya, apa pertimbangannya, kenapa dia sampai memilih Reenata.”
“Atau jangan-jangan pak Han tidak meneruskan proposal saya pada Frederika?” tanya Anton penuh selidik. Ia mulai berani memojokkan pak Han. Tidak ada pilihan lain. Ia benar-benar frustasi sekarang.
Pak Han menegakkan badannya, melipat tangan diatas meja, memandang Anton tajam menghujam, seketika mimik mukanya berubah menjadi serius.
“Jadi anda menuduh saya berbuat curang? Memanipulasi informasi?”
“Bu...bukan begitu pak Han.” nyali Anton tiba-tiba menciut melihat tatapan tajam pak Han.
“Maksud saya...”
“Cukup pak Anton. Saya tidak pernah mendapat penghinaan seperti itu!” suara pak Han meninggi.
“Bukan maksud saya...”
“Berbesar hati lah menerima kekalahan, pak Anton. Frederika sudah memberikan keputusannya dan itu tidak bisa diganggu gugat. Atau apa perlu saya tanyakan pada anda dimana pak Doni sekarang?”
Anton membelalakkan matanya mendengar ucapan pak Han. Siska mundur beberapa langkah. Darimana pak Han tahu? Apa tanpa sepengetahuannya pak Han memantau gerak geriknya selama ini?
“Anda...” ucapan Anton tertahan.
“Tidak ada satu pun hal yang luput dari penglihatan Frederika, pak Anton. Saya harap anda segera belajar dari masalah ini. Dan tolong keluar dari ruangan saya sekarang juga.”
“Tapi pak...” Anton masih bergeming.
“Maafkan kami pak Han, kami akan keluar sekarang.” Ucap Siska memotong kalimat Anton. Ia segera memutar kursi roda Anton menuju pintu keluar.
“Apa yang kau lakukan Siska! Aku belum selesai bicara!” cerca Anton sembari menghilang di balik pintu.
Pak Han menyandarkan punggungnya dikursi, melepas kacamatanya, menghela nafas panjang.
“Dasar anak-anak muda tidak punya sopan santun.”
.
.
****
.
.
Lagi, aku di rumah sakit. Entah ini sudah yang keberapa kalinya. Sepertinya beberapa bulan belakangan tempat ini terlalu sering kukunjungi. Dulu aku berada disini karena diriku sendiri. Setelah itu karena papa. Lalu sekarang, karena Ethan.
Yap. Juki memberitahukan padaku kalau Ethan sedang dirawat di rumah sakit bersama dengan papa.
Setelah rapat selesai, aku langsung menghubungi gawai Ethan, namun saat telepon diangkat, bukannya suara Ethan yang terdengar, malah Juki yang menjawab.
Tentu saja aku panik pada awalnya.
Tapi Juki kemudian pelan-pelan menceritakan semua runtutan kronologis penyelamatan papa tanpa kurang satupun.
Aku hanya bisa terdiam disepanjang penuturan Juki. Sedikit shock mendengar apa yang telah mereka lalui.
Luar biasa. Benar-benar bukan usaha yang mudah.
Aku bahkan masih tidak percaya dengan seluruh cerita Juki. Mereka berdua seperti tidak masuk akal.
Menghabisi puluhan gerombolan penjahat hanya berdua tanpa membawa senjata apapun.
Dan menjadi semakin tidak masuk akal karena setelah perkelahian beberapa jam itu, Juki hanya mengalami lecet ringan dan memar dibeberapa tubuh, sementara Ethan... Jangan tanya.
Benar memang dia sedang berbaring di ranjang rumah sakit dengan satu tangan terhubung di selang infus. Tapi lihatlah apa yang dia lakukan!
Dia tengah cengengesan menatapku. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Hah! Benar-benar tidak normal.
Padahal kalau dilihat-lihat luka dibadannya lumayan berat. Banyak luka robek dikulitnya, khususnya di bagian pelipis dan tangannya. Memar dibadannya pun tidak sedikit. Dia bahkan sempat pingsan saat tiba pertama kali di rumah sakit.
Apalagi saat aku tiba dirumah sakit, dia masih belum sadar dan sementara dalam proses pemeriksaan dokter.
Ditambah lagi saat Juki bilang Ethan terluka parah seperti itu karena mendapat pukulan balok di bahu dan punggungnya.
Terang saja aku langsung panik sampai menangis.
Tapi pas sadar, bukannya merasa bersalah sudah membuat orang khawatir, dia malah menertawai air mataku.
“Mukamu lucu Ree.” Ucap Ethan menyeka setitik air disudut matanya.
Bukan air mata kesakitan, tapi air mata saking hebatnya dia tertawa.
“Tidak lucu Ethan!” aku mendeliknya.
Kesal sekali rasanya.
“Aku tidak pernah menangis untukmu karena kau tidak pernah membuatku sekhawatir ini Ethan. Jadi berhenti ketawa! Tidak lucu!”
“Hahaha. Begitu yah? Apa aku harus melakukan sesuatu yang membuatmu khawatir biar aku dapat reward lagi?” Ethan mengelus dagunya pura-pura serius.
“Hissshh!” Kupukul punggung tangannya yang terpasang jarum infus.
“Aww! Tega!” Ethan mengelus tangannya.
“Makanya jangan bicara begitu! Bercandamu tidak lucu Ethan! Sungguh! Aku benar-benar khawatir. Kupikir kau... tadi...." ucapanku tertahan.
Seketika emosiku kembali teraduk. Ada rasa sesak didadaku. Kutundukkan kepalaku diranjang samping Ethan berbaring. Air mataku menetes.
“Jangan bicara seperti itu, Ethan. Kau tahu, saat ini aku hanya punya kau dan papa. Papa sedang sakit sekarang. Kalau kau juga kenapa-napa, aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Tidak mudah bagiku sampai dititik ini, Ethan. Aku tidak bisa kehilangan kalian.” Aku mulai terisak.
Ethan mengelus kepalaku. Sepertinya ia merasa bersalah. Biar saja. Supaya dia tahu aku benar-benar serius mengkhawatirkan dirinya.
“Maaf Ree. Maafkan aku sudah membuatmu khawatir. Tidak akan kuulangi lagi. Aku janji.”
Aku menengadah menatapnya. Mataku sembab. “Janji?”
“Ya Ree. Aku janji.” Jari Ethan mengusap air mata dipipiku.
Aku mengangguk pelan, menarik nafas dalam, menetralkan emosiku. Ethan mengusap punggung tanganku.
Beberapa saat kami terdiam.
“Bagaimana keadaan om Doni?” tanya Ethan lagi setelah isak ku mereda.
“Papa tidak apa-apa. Dia lagi istirahat. Dokter sudah memeriksanya tadi. Katanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Waktu kutinggalkan papa masih tidur.”
“Syukurlah” Ethan menghela nafas lega. “Lalu bagaimana dengan perusahaan?”
“Perusahaan?” kutegakkan badanku. Tiba-tiba aku ingat telah melupakan hal yang penting. “Nampaknya?” kuangkat alisku sebelah.
“Hmm...” Ethan mengelus dagunya menatapku lekat.
“Kalau dari bibirmu yg terkatup rapat, alismu yang terangkat, matamu yang membesar, hidungmu yang sedikit kembang kempis...
raut mukamu itu menunjukkan kalau kau...
Berhasil?”
Aku mengangguk mengembangkan senyumku.
“Hah? Serius?”
Aku mengangguk lagi, cepat.
"Benarkah?"
Aku mengangguk lebih kuat.
“Astaga Ree!” Ethan menghambur memelukku, erat. “Syukurlah. Kau berhasil Ree. Kau hebat. Luar biasa. Aku tahu kau pasti bisa." Ucap Ethan tanpa melepaskan pelukannya
Bisa kurasakan hembusan nafasnya ditengkukku. Aku diam mematung. Masih terkejut dengan apa yang sedang dilakukan Ethan. Dadaku berdesir, hampir jantungku melompat keluar. Wajahku terasa panas, semoga saja tidak memerah. Itu akan memalukan, sungguh.
“Ehh maaf Ree. Aku terlalu senang.”Ethan buru-buru melepaskan pelukannya. Menggaruk hidungnya, salah tingkah.
“Hmm... Jadi bagaimana dengan Anton?” tanya Ethan lagi berusaha menetralisir situasi canggung diantara kami.
“Juki sudah mengurusnya. Kuminta dia melaporkan mas Anton ke polisi. Apa yang dilakukannya pada papa sudah sangat keterlaluan.” jawabku cepat.
“Bukan itu yang ingin kutanyakan Ree. Maksudku bagaimana perceraianmu dengan Anton?”
“Ohh.. Eh... hmm... pengacaraku telah mengurus semuanya. Menurutnya sudah selesai. Hanya tinggal menunggu akta cerainya keluar. Mungkin sekitar 2 minggu lagi.”
“Baguslah." Ethan tersenyum, menghela nafas panjang kemudian memalingkan wajahnya kearah jendela, melihat langit yang sedang mendung.
“Kau tahu Ree, aku selalu menyelipkan itu sejak dulu, diantara doa-doaku, setiap saat." gumam Ethan sangat pelan hampir tidak terdengar.
.
.
****
.
.
Siska mendorong kursi roda Anton ke pintu keluar gedung perusahaan pak Han. Dia begitu kesal dengan semua kejadian hari ini.
Sudah Anton gagal menjadi Direktur, sifat arogannya malah tambah membuat mereka terlihat memalukan. Benar-benar membuat kekesalan Siska menjadi berlipat-lipat.
Siska tidak ingin lagi berurusan dengan Ree dan papanya. Menurutnya semua yang terjadi saat ini sudah cukup. Toh papanya Ree juga sudah menderita dengan sakit yang diidapnya sekarang. Rumah tangga Ree pun sudah hancur lebur. Sementara dia dan Anton telah mendapat bonus saham yang begitu banyak diperusahaan. Jadi meskipun jabatan Direktur lepas, dia tidak terlalu ambil pusing.
Siska sudah berencana akan menjual seluruh saham miliknya dan Anton secepatnya, sebelum Ree mengetahui cara kotor mereka saat mengalihkan saham-saham itu.
Nilai saham yang mereka miliki sangat besar. Jika itu terjual, hasilnya lebih dari cukup untuk dipakai mereka berdua liburan ke luar negeri menyegarkan kembali pikiran dan sisanya dipakai untuk membuka usaha baru.
Bagi Siska, balas dendamnya cukup sampai disini. Ia berniat memulai semuanya dari awal dengan tenang.
“Apa-apaan kau Siska!” Anton kembali membentak Siska ditengah lapangan parkir.
“Apa-apaan?” Siska berhenti mendorong, dan melangkah berdiri didepan Anton, berkacak pinggang. “Kamu yang apa-apaan mas! Benar-benar memalukan!”
“Aku? Memalukan? Apa kau sadar bicara begitu? Kau tahu kan jabatan Direktur sudah lepas dari genggamanku!”
“Aku tahu mas. Tapi sudah cukup. Kita bisa jual semua saham kita dan memulai hidup baru.”
“Jual? Tidak Siska! Jangan harap! Kau sudah gila! Aku tidak akan berhenti sebelum jabatan Direktur ada ditanganku. Akan kulakukan apapun untuk itu. Apapun!”
“Mas! Sadarlah! Kita tidak benar-benar jatuh. Masih banyak yang bisa kita lakukan. Kita bisa memakai hasil penjualan saham itu untuk berlibur, melupakan sejenak semua permasalahan ini. Setelah itu kita bisa membuka usaha yang baru. Kita bisa memulai semuanya dari awal lagi. Kau dan aku. Berdua.”
“Tidak Siska! Aku tidak mau! Sebelum jabatan Direktur...”
“Alaaah... omong kosong! Apa yang sebenarnya kamu inginkan sekarang mas?” Siska memotong cepat ucapan Anton.
“Ini masalahku, ini balas dendamku. Kamu tidak lupa itu kan? Dan buatku ini sudah cukup. Kita berhenti sampai disini!"
“Aku tidak bisa.” Anton memalingkan wajahnya.
Siska menghela nafas gusar. Dia mulai jengkel. “Baiklah.” Siska bersedekap.
“Sekarang mas pilih, aku atau jabatan Direktur terkutuk itu?”
Anton menggelengkan kepalanya, “Jangan membuatku memilih hal yang sulit Siska. Tolong mengertilah untuk kali ini saja.”
“Oke. Aku paham. Terserah kamu mas. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak mau terlihat lebih memalukan daripada tadi. Kalau kamu tidak menurutiku, kita selesai sampai disini.”
“Tapi Sis...” ucapan Anton tertahan.
"Cepat pilih!"
"Aku tidak...."
"Pilih sekarang!"
"Aku masih...."
"Sudah lah. Terserah kamu mas." Ucap Siska sembari berbalik melangkah pergi meninggalkan Anton yang tengah diam mematung.
Siska sudah tidak peduli. Baginya dia tidak akan mempertahankan siapapun yang berniat menghentikan langkahnya. Meski itu Anton sekalipun. Tidak ada tawar menawar.
Seketika Anton tersadar, hubungan yang dia pertahankan selama puluhan tahun itu bahkan membuat dirinya melakukan hal yang begitu kotor, ternyata serapuh ini. Ia tidak menyangka begitu mudah Siska meninggalkannya hanya karena mereka tidak sepaham. Padahal sejak mereka masih kecil, Anton selalu mengikuti apapun kemauan Siska, meski seringkali itu bertentangan dengan hati kecilnya Tapi Anton tidak pernah membantah. Sekarang, hanya kali ini. Cuma sekali ini saja selama hidupnya dia meminta sesuatu dari Siska, yang bertentangan dengan keinginan Siska, tapi dengan gampang Siska meninggalkannya.
Ia tertawa kecil meratapi kebodohannya selama ini.
Baru beberapa langkah Siska pergi, dari arah berlawanan muncul beberapa orang pria memakai seragam cokelat.
“Mohon maaf, apa benar ibu yang bernama Siska?” tanya salah seorang pria menahan langkah Siska.
“Ya benar.” Siska mengernyitkan keningnya bingung.
“Ada masalah apa yah?”
“Tahan dia.” Pria itu memerintahkan salah seorang pria lainnya yang berdiri dibelakangnya. Dengan sigap orang itu lalu memborgol tangan Siska.
“Lepaskan aku! Ada apa ini?” Siska panik.
Pria itu tidak mempedulikan. Mereka lalu berjalan ke arah Anton sambil menyeret paksa Siska.
“Dan benar bapak yang bernama Anton?”
Anton mengangguk.
“Mohon maaf pak Anton dan ibu Siska, kami dari kepolisian. Untuk sementara bapak dan ibu kami tahan. Kami mendapat laporan mengenai penculikan bapak Doni Darsono.”
“Tapi aku tidak melakukannya!” Siska berteriak histeris berusaha melepaskan tangannya. “Dialah pelakunya! Bukan aku! Tangkap dia!” telunjuk Siska lurus mengarah pada Anton.
Sontak Anton menatap Siska tidak percaya. Siska sudah mengkhianatinya terang-terangan. Luar biasa. Seperti inikah wanita yang dibelanya mati-matian selama bertahun-tahun. Anton terdiam mematung. Kalau hanya kakinya kuat berjalan, sudah ditamparnya Siska daritadi.
“Ibu bisa menjelaskannya nanti dikantor kami. Tapi sekarang ibu harus ikut kami.” Ucap pria itu lagi tidak mempedulikan protes Siska.
Para polisi itu lalu membawa Siska dan Anton menuju mobil patroli.
Anton pasrah tidak mengatakan apapun. Ia masih setengah shock dengan perubahan sikap Siska yang 180 derajat.
Sementara Siska, jangan tanya.
Dia mengamuk sejadi jadinya. Berteriak histeris dan menumpahkan segala macam sumpah serapah. Dia tidak terima diperlakukan seperti itu. Dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman polisi. Tetapi semakin kuat dia memberontak, semakin kuat pula cengkraman polisi itu. Siska tidak dapat melakukan apapun.
.
.
****
.
.
Dari lantai sepuluh ruangannya, pak Han melihat semua kejadian yang terjadi diparkiran bawah, sejak awal sampai akhir. Ia bersedekap menatap tiap detik kejadian itu dengan raut muka yang tidak bisa diartikan.
Banyak hal berkecamuk didalam kepalanya. Banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan.
“Prediksi Frederika tidak pernah meleset.” Pak Han bergumam pelan.
Mata pak Han terus mengikuti sampai mobil polisi itu benar-benar menghilang dari parkiran gedung perusahaannya.
Sejurus kemudian pak Han melangkah ke mejanya dan mengambil gawainya. Ia mengusap layarnya, membuka aplikasi pesan dan mulai mengetik.
Cukup panjang pesan yang ia ketik. Begitu banyak pertanyaan yang ia utarakan. Begitu banyak kenyataan yang membuat ia sangat penasaran.
Setelah puas mengutarakan semua isi kepalanya, pak Han lalu mengirimkannya pada orang yang dia tuju.
Tring.
Tidak berselang lama gawainya kembali berbunyi. Ia menatap notifikasi pesan itu, tertulis nama pengirimnya,
- F.Jo -
Pak Han lalu mengusap lagi layar gawainya membuka pesan itu.
[[ Pertanyaanmu terlalu banyak Han. Cutilah beberapa hari. Berliburlah kesini. Akan kujawab semua rasa penasaranmu itu, satu persatu ]]