LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 24 B



Ethan dan Juki sedang berada di sebuah bangunan yang letaknya jauh disudut kota. Bangunan itu berlantai empat yang belasan tahun sudah terbengkalai dengan konstruksi yang belum selesai. Sudah hampir sejam yang lalu mereka sampai di bangunan itu namun mereka belum juga menemukan papa nya Ree.


Bagaimana tidak, disetiap lantainya sudah dijaga setidaknya 20 orang bersenjata tajam lengkap. Sementara Ethan dan Juki hanya datang berdua tanpa membawa senjata apapun. Kedatangan mereka itu benar-benar seperti rusa masuk di kandang buaya. Cari mati.


Syukurnya pengalaman Juki sebagai mantan anggota mafia, dan Ethan dengan beberapa teknik bela diri yang dikuasainya, membuat mereka berdua masih bisa menghadapi para penjahat itu.


Kini mereka sudah mencapai lantai 4 bangunan. Itu adalah lantai terakhir. Ethan bisa melihat disudut lantai terdapat sebuah ruangan tertutup. Ia bisa menebak papa Ree pasti disekap disitu.


Dihadapan Ethan dan Juki berdiri sekitar tigapuluh orang berbaju hitam. Mereka semua para penjahat suruhan Anton. Luar biasa.


Entah berapa uang yang sudah dikeluarkan Anton untuk menyewa penjahat sebanyak itu. Mereka betul-betul menjaga ketat sanderanya.


Baru saja Ethan dan Juki memulai perkelahian, tiba-tiba gawai Ethan kembali berbunyi untuk yang kesekian kalinya.


Ethan tau Ree lah yang sedari tadi meneleponnya. Tapi bagaimana bisa Ethan mengangkat teleponnya kalau perkelahian ini tidak ada habisnya.


Ia sedang berusaha membereskan para penjahat ini secepat yang dia bisa. Ree sudah menunggunya. Rapat sebentar lagi akan dimulai. Ethan bahkan tidak tahu jam berapa sekarang.


“Angkatlah! Saya akan melindungi bapak!” teriak Juki yang sedang sibuk berkelahi dengan 5 orang penjahat sekaligus dengan hanya memakai sebuah balok kayu besar.


Sementara Ethan menghadapi tiga orang dengan sebilah besi panjang.


Mereka berdua sudah cukup lelah sebenarnya, tapi perkelahian ini sudah kepalang tanggung. Mereka telah menghabisi lebih dari separuh penjahat dibangunan itu, dan ini adalah gerombolan terakhir.


Dering telepon berhenti. Lagi, Ethan tidak bisa mengangkatnya.


Setelah orang terakhir yang dihadapi Juki tumbang, ia segera berlari dan berdiri didekat Ethan menjadikan dirinya sebagai tameng melindungi Ethan.


Merasa punya kesempatan, dengan cepat Ethan mengambil gawai disaku celananya, hendak menelepon Ree kembali.


Ethan mengusap layar gawainya, nampak jam sudah menunjukkan pukul 09.15.


Tinggal 15 menit lagi rapat akan dimulai, Ethan sudah tidak punya waktu. Tidak mungkin dia menghadari rapat.


Tiba-tiba gawai Ethan kembali berdering. Nama ‘si bawel' terpampang di layar gawai. Ethan langsung mengangkatnya.


Ree uring-uringan diujung telepon, dia marah. Wajar saja, Ethan sudah mengingkari janjinya. Ethan tidak bisa menenami Ree dalam rapat pemilihan itu. Tapi tidak apa-apa. Sedari kemarin Ethan telah mempersiapkan beberapa hal seandainya tiba-tiba terjadi sesuatu pada dirinya. Dia sudah menitip pesan pada pak Ren apa yang perlu dilakukan pak Ren seandainya dirinya tidak datang.


Ethan lalu menyuruh Ree untuk bertanya pada pak Ren mengenai suara miliknya. Dia tidak bisa menjelaskan lebih jauh. Pak Ren akan mengurusi itu.


Tiba-tiba saja dari arah depan salah seorang penjahat lolos dari cengkraman Juki. Ethan tidak melihatnya. Fokus Ethan masih teralih pada Ree di ujung telepon. Penjahat itu lalu berlari kearah Ethan dan tanpa tedeng aling-aling memukul Ethan kuat tepat dibahu kirinya.


Ethan kaget, ia terhuyung ke samping. Gawai ditangannya jatuh terpelanting jauh. Ethan hendak menegakkan badannya, namun belum sempat ia melakukannya, penjahat itu kembali memukul belakang punggung Ethan menggunakan balok kayu, sangat kuat.


Tak ayal Ethan jatuh terkapar. Nafasnya terengah bercampur debu. Ia tidak sempat menangkap apa yang baru saja terjadi. Kejadian itu terlalu cepat.


Dalam kesakitannya Ethan menatap nanar Juki yang berdiri tidak jauh darinya. Nampak Juki berusaha berlari padanya tapi tidak bisa. Langkah Juki dihadang oleh beberapa penjahat yang lain. Mereka terlalu banyak.


Penjahat yang memukul Ethan tadi tidak memberikan Ethan kesempatan sedikit pun untuk bernapas. Penjahat itu lalu kembali menendang, memukul dan menginjak badan Ethan. Berkali-kali, membabi buta.


Ethan kehabisan tenaga. Ia terkulai lemah tidak bergerak. Darahnya mengalir dari hidung, sudut bibir dan kepalanya.


Beberapa bagian kulit tangan dan kakinya robek akibat injakan dan pukulan balok dari penjahat tadi. Ia merasakan sakit yang teramat sangat disekujur tubuhnya.


Seketika ia merasakan dejavu. Ia pernah mengalami ini. Terbaring lemah menunggu kematian datang.


Aahh... ia ingat, saat itu, saat kecelakaan nahas itu menimpa dirinya dan mobilnya gepeng menekan tubuhnya. Perasaan yang persis sama.


Ethan menengadah melihat keatas gedung yang tidak beratap tembus langsung kelangit.


Mendung.


Hari ini mendung.


Seketika Ethan merasakan hawa dingin menjalar naik ke badannya.


“Apa takdirku kembali berulang. Apa bagianku tidak berubah.” Ethan menggumam pelan.


Dadanya naik turun, nafasnya tersengal, tenaganya habis.


Pandangan Ethan mulai kabur, sedikit demi sedikit berubah menjadi gelap. Kesadarannya hampir melayang.


Tidak! Aku tidak bisa seperti ini. Tidak bisa! Ree sudah pernah menyelamatkanku. Aku tidak bisa menyia-nyiakan itu. Aku tidak bisa menyerah seperti ini. Seburuk apapun takdir yang datang padaku, meski itu terulang seratus kalipun, aku tidak akan kalah!


Ethan membatin menguatkan hatinya.


Ia dapat mengecap darah di lidahnya. Sesekali ia mengerjap lemah menatap Juki yang masih baku hantam dengan sisa penjahat. Mati-matian Ethan berusaha agar kesadarannya tetap terjaga. Mengalahkan hawa dingin yang menjalar dibadannya. Namun ia merasa berat. Ia kembali menutup mata.


Samar-samar telinganya menangkap suara Juki meneriaki namanya.


“Pak Ethan, sadarlah! Pak!” Juki menggocang keras tubuh Ethan. Membuat kesadaran Ethan berangsur-angsur kembali.


“Pak, anda bisa mendengar saya?” Juki menepuk-nepuk pelan pipi Ethan berusaha membuatnya tetap sadar.


“Sudah selesai pak. Sudah selesai. Sadarlah pak! Bapak bisa dengar suara saya?”


Ethan mengerjap pelan.


“Pak! Bapak mendengar saya?” Juki mengulangi kalimatnya, memastikan bahwa Ethan baik-baik saja.


Ethan mengangguk lemah.


“Syukurlah.” Juki menundukkan kepalanya, menghela nafas lega.


“Bapak tunggu disini sebentar, saya akan membuka ruangan sana. Sepertinya pak Doni dikurung disana.”


Ethan kembali mengangguk lemah.


Cukup lama Ethan mengumpulkan kembali kesadarannya. Pandangannya berangsur-angsur mulai jelas.


Goncangan keras Juki tadi membuat darahnya kembali mengalir menghilangkan hawa dingin dibadannya.


Ethan bisa melihat Juki yang sedikit tersengal berusaha mendobrak pintu ruangan tempat papa Ree disekap.


Pintu belum terbuka. Sepertinya Juki juga sudah sangat kelelahan.


Ethan menguatkan hati. Dia ingin membantu Juki. Dia tidak bisa terus-terusan seperti ini.


Ethan lalu mencoba menggerakkan ujung jarinya. Bisa!


Ia mengangkat tangannya. Bisa.


Tidak apa-apa. Memang masih terasa sakit, karena banyak luka robek dikulitnya. Tapi paling tidak ia bisa bergerak.


Ethan memijat pelipisnya. Kepalanya masih terasa sakit akibat tendangan dan injakan penjahat tadi.


Ethan mengatur nafasnya, berusaha mengumpulkan tenaga.


Lalu dengan sedikit tertatih ia berdiri dan melangkah mendekati Juki.


“Apa bapak sudah baikan?” Juki berhenti mendobrak pintu. Alih-alih dia mengernyitkan dahinya melihat Ethan berjalan ke arahnya.


“Ya Ki. Terimakasih sudah menyelamatkanku. Ku bantu kau mendobrak pintu itu.”


“Tidak usah pak. Bapak istirahat saja. Tinggal sedikit lagi pintu ini bisa terbuka.”


“Aku sudah tidak apa-apa, Ki. Tenagaku sudah lumayan. Kau yang justru terlihat lelah. Biar aku membantumu.” Ethan sudah berdiri disisi Juki.


“Ku hitung sampai tiga. Hitungan ketiga kita mendobraknya sama-sama.”


Juki mengangguk. Tidak ada gunanya dia menahan Ethan. Niat Ethan sudah bulat untuk ikut membantu.


Mereka berdua lalu mengambil posisi ancang-ancang.


“Satu... Dua... Tiga!”


Ethan dan Juki beriringan berlari ke arah pintu, mendobrak pintunya kencang.


.


.


****


.


.


Kulangkahkan kakiku menuju ruang rapat.


Aku tidak bisa lagi menunggu Ethan lebih lama. Lima menit lagi rapat akan dimulai.


Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Aku hanya berdoa semoga itu bukan hal yang buruk. Semoga kejadian tidak menyenangkan yang pernah ia ceritakan di masa sebelumnya tidak terulang padanya.


Entah kenapa perasaanku tidak enak. Tapi aku tidak bisa seperti ini terus. Yang aku yakini Ethan pasti sedang berjuang disana. Maka aku pun akan berjuang disini.


Pak Ren membantu membukakan pintu ruang rapat. Aku langsung duduk dikursiku. Nampak mas Anton dan Siska juga sudah bersiap. Mereka kompak mengernyitkan dahinya melihatku datang tanpa Ethan.


Namun seketika mereka tersenyum tipis saling berpandangan. Sepertinya mereka senang melihat kondisiku.


Biar saja. Aku tidak peduli. Ini adalah puncak peperangan kami. Jadi aku tidak akan terpengaruh dengan pandangan menyepelekan mereka.


Mataku mengitari ruangan. Beberapa kepala cabang dan kepala divisi sudah hadir untuk menyaksikan jalannya rapat. Tapi aku tidak menemukan sosok yang paling penting di rapat ini.


Pak Han tidak terlihat.


Apa dia belum datang?


Kulihat jam ditanganku. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Rapat akan dimulai.


“Bagaimana para peserta rapat? Apa kita akan menunggu pemegang saham yang lain?” tanya MC yang tengah berdiri dipodium memecah keheningan ruang rapat.


“Tentu saja! Kita akan menunggu sebentar lagi.” Jawab mas Anton lantang.


Jelas saja dia meminta untuk menunggu. Kalau pak Han tidak datang itu akan menjadi kerugian buat mereka dan keuntungan buatku. Mas Anton tidak akan membiarkan itu terjadi.


Para peserta rapat juga setuju untuk menunggu sebentar.


Cukup lama kami menunggu. Sudah hampir satu jam berlalu, pak Han belum juga menampakkan batang hidungnya.


Mas Anton dan Siska terlihat sibuk bergantian menelepon. Bisa kutebak, mereka pasti menghubungi sekretaris pak Han.


Para peserta rapat yang lain nampak mulai tidak nyaman karena terundurnya waktu yang terlalu lama, sementara yang ditunggu tidak ada kabar sama sekali.


“Maaf kalau saya mendahului. Tapi ada baiknya kita mulai saja rapatnya, sambil menunggu pemegang saham yang lain datang.” Ucap seorang kepala divisi operasional perusahaan pusat, yang kemudian dibalas anggukan oleh para peserta rapat yang lain.


Aku tersenyum tipis, senang.


Bagus. Memang ini yang kumau.


“Tidak bisa!” mas Anton menatap sengit kepala Divisi itu. “Kita tetap menunggu!” lanjutnya tegas.


“Kita bisa memulai acara rapat pak Anton.” Ucap pak Ren yang duduk disampingku, mendukung pernyataan kepala divisi operasional tadi.


“Kuota suara untuk pelaksanaan rapat telah terpenuhi. Suara pak Ethan sudah ada ditangan saya, dan ditambah hadirnya pak Anton, ibu Siska, dan ibu Reenata, itu sudah melebihi setengah porsi saham. Dengan kata lain sesuai peraturan yang ada rapat tetap bisa diadakan meski tanpa hadirnya satu orang pemegang saham.”


“Benar... Benar... Itu benar.” Suara para peserta rapat saling bersahutan. Mereka mulai ribut berdebat.


Aku mengetuk meja beberapa kali. Sontak semua orang melihat kearahku.


“Baiklah. Saya sudah memutuskan. Sesuai jadwal yang tertera diundangan, acara rapat ini akan selesai dipukul 13.00. Itu artinya rapat harusnya diadakan selama 3 jam lamanya. Karena waktu pembukaan rapat sudah mundur satu jam, tentu rapat akan selesai di jam 14.00. dan itu terlalu lama kalau kita terus mengundurnya lagi. Jadi saya memutuskan, seperti usulan pak Rendra, rapat akan kita mulai sekarang sambil menunggu hadirnya pemegang saham yang lain.”


Semua orang mengangguk setuju. Hanya mas Anton dan Siska yang memandangku seakan ingin membunuh. Aku melemparkan senyum manisku pada mereka berdua.


Siska melangkah keluar ruangan dengan gawai menempel ditelinganya. Sepertinya dia masih berusaha menghubungi sekretaris pak Han.


Kuanggukkan kepalaku pada MC di podium, memberikan tanda kalau dia sudah bisa memulai acara rapat.


.


.


****


.


.


Pak Han mengitari ruangan kantornya nampak gelisah, sedikit panik bercampur kesal. Sektretarisnya dari tadi bolak balik melaporkan kalau pihak Anton terus menelepon. Mereka bahkan menunda acara rapat hingga sejam lamanya hanya untuk menunggu kedatangannya.


Tapi dia bisa apa? Frederika benar-benar sudah berulah.


Kemarin saat pak Han memberitahukan padanya kalau jadwal rapat di majukan, Frederika mengiyakan dan mengatakan akan mengirimkan surel berisi keputusan suaranya pada pak Han sebelum rapat diadakan.


Tapi lihatlah! Meski pak Han sudah mengirimkan pesan kalau acara rapat diundur sejam hanya karena menunggu suara Frederika, tapi sampai sekarang belum ada kabar apapun darinya. Bahkan telepon dan pesan pak Han diabaikannya.


Pak Han nampak mencoba menyambungkan teleponnya lagi ke nomor Frederika.


Nihil. Tidak ada jawaban. Teleponnya tidak diangkat.


Belum putus asa, pak Han mengirimkan pesan tambahan. Entah ini sudah pesan yang keberapa puluh.


[[ Jo! Kau benar-benar tidak akan memberikan suaramu? ]]


Tring.


Gawai pak Han berbunyi. Nampak sebuah notifikasi pesan masuk. Ajaib! Dibalas! Pak Han cepat-cepat membukanya.


[[ Siapa bilang? ]]


Hah? Apa maksudnya? Pak Han mengetik lagi.


[[ ???? ]]


Gawainya kembali berbunyi.


[[ Rajin-rajinlah mengecek surelmu. Jangan terlalu malas Han. Barusan aku mengirimkannya padamu. Hahaha ]]


Barusan? Dia mengirimkan surelnya barusan? Surel yang sudah aku tunggu sejak kemarin. Surel yang membuatku tidak tidur semalaman karena terus bolak balik mengeceknya. Dia baru mengirimkannya? Dan mengatakan aku malas? Sialan kau Jo!


Pak Han mengumpat dalam hati.


Buru-buru pak Han mengecek surelnya. Matanya terbelalak tidak percaya. Yang benar saja, Frederika baru mengirimkannya 2 menit yang lalu. Sementara rapat 50 menit lagi akan usai!


Dengan gerak cepat pak Han langsung mencetak sendiri surel berisi surat suara Frederika. Ia tidak lagi memanggil sekretarisnya. Terlalu lama. Tidak akan sempat untuk mempersiapkan semuanya sementara ia masih harus pergi menghadiri rapat.


Tiba-tiba gawai pak Han kembali berbunyi. Cepat pak Han mengusap layarnya.


[[ Berolahraga lah sedikit Han. Kulihat perutmu sudah membesar saat kau datang terakhir kali. Hahaha ]]


Pak Han melongos kesal mengetik cepat dilayar gawainya.


[[ Awas kau! ]]


Pak Han memasukkan gawainya ke saku celana. Menaruh cetakan surel suara Frederika didalam map berkop nama perusahaan, lalu mengambil kunci mobilnya. Ia melangkah cepat keluar ruangannya.


“Ikut aku. Sekarang!” Ucap pak Han pada sekretarisnya saat pak Han melewati mejanya sembari berlalu.


Sektretarisnya yang melihat pak Han berjalan terburu-buru langsung paham kalau bosnya pasti sudah dikerjai Frederika lagi.


Gadis itu membereskan cepat berkasnya, mengambil tasnya, dan berlari mengejar pak Han yang menghilang di balik lift.


.


.


****


.


.


Sepuluh menit lagi rapat selesai. Perhitungan suara telah usai. Untuk sementara aku lah yang menduduki posisi teratas. Kalau benar pak Han tidak datang maka sudah jelas aku lah yang akan terpilih menjadi Direktur Utama selanjutnya.


Kuremas tanganku sembari berdoa. Hanya tinggal sepuluh menit lagi.


Sebenarnya itu waktu yang sebentar, tapi jadi terasa begitu lama di saat-saat seperti ini.


Kulihat mas Anton sudah menundukkan kepalanya. Siska memijat pelipisnya. Satu tangan Siska masih memegang gawai. Tapi dia sudah tidak melakukan apa-apa dengan gawainya itu. Sepertinya dia juga sudah pasrah.


Aku kembali melihat jam ditanganku.


5 menit lagi. Tinggal 5 menit. Aku berdoa dalam hati. Dadaku bergemuruh, jantungku berdegub kencang.


Tolonglah. Jangan datang. Tolong jangan datang. Jangan datang pak Han. Aku mengulang ulang dalam hati.


Krieek....


Tiba-tiba suara pintu terbuka. Seluruh peserta rapat termasuk aku sontak menoleh.


Muncul dari balik pintu sekretaris pak Han, yang kemudian diikuti pak Han sendiri dari belakangnya.


Hatiku mencelos. Habis sudah. Pak Han datang.


“Yaass!!” mas Anton tanpa sadar memukul meja berteriak kencang. Senyumnya nampak sumringah. Kalau hanya kakinya tidak sakit mungkin sudah melompat dia. Wajah Siska tidak kalah senangnya.


Seketika mataku berkunang-kunang. Seisi ruangan seperti berputar. Kupijat pelipisku.


Aku masih tak percaya. Padahal tinggal sedikit lagi langkahku. Hanya tinggal 5 menit.


“Maaf semuanya, saya sangat terlambat.” Ucap pak Han melemparkan senyumnya.


“Saya harap rapat ini belum selesai.” Lanjutnya sembari menempati salah satu kursi kosong. Sekretarisnya mengikutinya berdiri dibelakang.


“Oh... Tentu belum pak Han. Kami memang sedang menunggu kedatangan bapak. Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk hadir.” Ucap mas Anton lantang. Senang sekali dia.


“Baiklah. Karena semua sudah menunggu lama, saya langsung menyerahkan saja suara resmi dari pihak Frederika Jonathan.”


Pak Han mengambil amplop berkop perusahaan dari dalam map batik yang sedari tadi dipegangnya. Ia lalu menyerahkan amplop itu pada Sekretarisnya.


Sekretaris pak Han berjalan menuju MC rapat untuk sama-sama membuka dan membacakan isi amplop itu.


Aku menelan ludah. Nafasku tertahan. Seperti gerakan slow motion kulihat MC itu mengambil amplop dari tangan Sekretaris pak Han.


Ia lalu membuka perekat amplopnya, mengambil selembar kertas dari dalamnya, dan membacanya.


“Frederika Jonathan memilih ..... “