
Hakim mengetuk palu nya tiga kali. Selesai sudah persidangan papa hari ini. Sesuai bayanganku, papa divonis 15 tahun penjara. Harusnya aku sudah tahu. Aku sudah pernah mengalami ini. Tapi entah kenapa hatiku masih juga sakit. Nafasku tetap saja sesak mengetahui papa harus mendekam di bui untuk hal yang tidak ia lakukan. 15 tahun bukan waktu yang sebentar.
Dari kejauhan kulihat papa menatapku pilu. Ia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum padaku kemudian berpaling mengikuti polisi yang mengawal, menghilang dibalik pintu. Masih sempat kulihat air mata mengalir dari sudut matanya.
Deg!
Nafasku tertahan. Tunggu sebentar! Aku seperti mengalami de ja vu. Bukan kah ini sama persis dengan yang kualami dulu. Terlalu sama. Ada yang aneh.
Kugelengkan kepalaku kuat-kuat.Tidak! Aku tidak boleh berpikir yang aneh-aneh. Jelas sama, kan aku memang kembali ke masa sebelumnya. Bedanya kali ini aku akan memperbaiki semuanya. Aku menarik nafas panjang menenangkan hatiku.
Papa.... Tunggulah... Ree pasti membebaskanmu. Apapun caranya, aku janji padamu.
Mas Anton menggamit tanganku, mengelus pundakku, “Ayo kita pulang sayang. Kita akan cari cara bebasin papa. Tapi kamu istirahat dulu yah.”
Aku mengangguk. Bahkan apa yang diucapkan mas Anton saat ini pun hampir sama dengan yang diucapkannya dulu padaku. Entahlah.
“Ree...” Siska tiba-tiba muncul merengkuh tubuhku.
Kubiarkan dia memelukku. Aku lagi tidak punya banyak tenaga berdebat dengannya.
Air matanya luruh, “yang sabar yah Ree." Lanjutnya, "Ada aku sahabatmu. Aku selalu disisimu Ree.” Siska sedikit terisak.
Hah! Kesal sekali rasanya. Luar biasa akting selingkuhan mas Anton ini. Ingin kutempelkan Piala Citra dimukanya.
Aku hanya mengangguk, melepaskan pelukannya. Tidak bisa aku berlama-lama, bisa meledak nanti emosiku. Dipikirnya salah siapa papa bisa divonis 15 tahun penjara.
Namun tentu saja aku tidak akan menunjukkan perasaanku yang sebenarnya. Aku tidak boleh gegabah. Sedapat mungkin aku harus menjaga sikapku supaya mereka berdua tidak curiga. Cukup sampai kemarin saja aku menampakkan emosiku.
“Aku temani sampai dirumah yah Ree.” Lanjut Siska menawarkan diri.
Aku menggelengkan kepalaku cepat, “jangan repot-repot, Sis. Aku ada mas Anton kok. Ya mas? Aku melirik mas Anton, menyandarkan kepalaku dilengannya. Mas Anton salah tingkah lagi.
“Tidak repot kok Sis.” ucap Siska menarik sudut bibirnya membentuk senyum yang terpaksa, “Tidak ada istilah repot buat sahabat terbaikku."
“Bukannya bagus sayang.” sambung mas Anton mendukung Siska. “Lebih rame kan lebih bagus. Biar kamu juga sedikit tenang. Biasanya kamu senang kan rame-rame.” Mas Anton menatapku.
Iya mas. Tapi Itu dulu. Sebelum aku tahu mudah sekali kalian berdua melenyapkan nyawaku. Aku mengepalkan tanganku berusaha menahan emosi.
“Mas aku pengen sama kamu hari ini. Berdua.” Kupandang mas Anton lekat dengan muka sedihku. “ya mas. Boleh yah.” ulangku sambil bergelayut manja dilengannya.
Biasanya kalau seperti ini mas Anton tidak punya pilihan lain. Dia suami tanpa cela bukan?
“Tapi Ree... Aku kan cuma...”suara Siska tertahan saat sekilas kulihat mas Anton menggelengkan kepalanya pada Siska, tipis, hampir tidak terlihat.
“Hmm... Lain kali saja yah, Sis.” lanjut mas Anton kemudian.
Nah apa kubilang. Sikap sempurnanya mas Anton ini memang akan menguntungkan aku.
Siska mengerutkan alisnya, mengigit bibirnya, menahan marah.
Jelas saja dia kesal, janjiannya bertemu dengan mas Anton tadi malam juga sudah kubatalkan. Aku beralasan pada mas Anton kalau kepalaku sakit, badanku meriang, dan membutuhkannya disisiku. Kalau sudah begitu mas Anton tentu saja akan mememilihku.
Bisa kupastikan kali ini pun Siska hanya tidak ingin aku berduaan dengan pria yang masih berstatus suami sah ku ini.
Kalau dipikir-pikir sebenarnya dulu hampir tiap saat kami selalu bertiga. Siska selalu mengekor kemanapun aku dan mas Anton pergi. Dulu kupikir semua itu hal yang biasa, karena Siska sahabatku, dan dia hampir tidak terlihat punya teman lain selain aku dan mas Anton, aku sedikit kasihan padanya. Toh aku bisa kenalan dengan mas Anton juga karena jasa Siska. Jadi tidak masalah kalau Siska selalu ada diantara kami berdua. Tidak akan ada apa-apa diantara mereka berdua, begitu pikirku.
Tapi tentu sekarang sudah berbeda, aku tidak akan mengulangi tindakan bodohku saat dulu.
Aku melangkah ringan mengabaikan Siska yang diam mematung melihat kepergian kami. Aku terlalu lelah saat ini. Malas berdebat lebih panjang lagi. Aku ingin cepat sampai dirumah dan istirahat.
Sengaja kulekat-lekatkan tubuhku ke lengan mas Anton, mana tahu bisa memancing pertengkaran diantara mereka. Itu akan jadi keuntungan buatku.
Maaf Siska, kalau dulu aku buta dengan semua yang terjadi, tapi tidak untuk sekarang.
.
****
.
“Ree, kalau misal Ree punya kesempatan ke masa lalu, Ree ingin mengulang yang mana?” tanya oma tiba-tiba pada Ree.
Mereka berdua lagi asik nonton Discovery Channel.
“Masa lalu?” Ree mengambil remote televisi mengecilkan suaranya. “Tidak oma. Ree tidak berniat ke masa lalu.”
“Kenapa?” tanya oma tanpa melepaskan pandangannya dari televisi.
“Sederhana. Karena tidak ada yang Ree sesali. Ree punya oma yang bawel, papa yang penyayang, dan yah... meski Ree sering kesal dengannya, tapi Ree bersyukur punya Ethan. Hahaha. Ree sudah bahagia oma. Ree tidak ingin mengulang apapun.”
“Ya sayang. Oma senang dengarnya.” Jawab oma tersenyum.
“Kenapa oma? Kok tiba-tiba tanya begitu.” Ree menggeser posisi duduknya menatap oma.
“Lemurian Ree. Kamu pernah kan oma ceritakan kalo salah satu kemampuannya itu bisa mengulang waktu.” oma sedikit melirik Ree.
“Ya oma.” Jawab Ree ragu-ragu antara percaya dan tidak.
“Kamu ingat juga kan, setiap teknologinya itu punya timbal balik, bayaran?” tanya oma lagi.
“Hu’um oma. Terus kenapa dengan itu?” tanya Ree sedikit memiringkan kepalanya.
“Dari semua teknologi yang Lemurian punya, pengulangan waktu lah yang paling besar bayarannya.” Jawab oma sambil meneguk jus yang ada dimeja.
Ree menautkan alisnya, “ kenapa oma?”
Oma berbalik menghadap Ree, “Karena Lemurian hanya mengubah takdir pemiliknya, bukan takdir orang lain.”
“Maksud oma?”
“Hmmm...bagaimana yah oma menjelaskan...” omanya tampak berpikir sejenak,
"sederhananya sayang, misal Ree dicakar kucing, tangan Ree terluka. Sesaat kemudian kucing itu tertabrak mobil dan mati. Dalam hal ini takdir Ree saat itu adalah dicakar kucing. Sementara takdir kucing tadi mati dan menghilang.”
Oma menarik nafas dalam, melanjutkan, “Kalau Ree pakai Lemurian untuk kembali ke masa sebelumnya, luka Ree bekas cakaran kucing tadi akan menghilang, tidak ada.
Dan Ree bisa menghindari kucing itu untuk tidak mencakar Ree lagi.
Karena matinya kucing itu bukan bagian dari takdir Ree. Itu takdir kucing itu sendiri.
Ree paham maksud oma?”
“Ya oma. Sedikit. Hehe.” Jawab Ree terkekeh.
“Intinya sayang, oma tidak pernah berharap hidup Ree sulit. Tapi suatu saat Ree menghadapi kesulitan, jangan pernah meminta untuk mengulang waktu. Karena itu seperti buah simalakama Ree. Kita tidak pernah tahu hal baik ataukah hal buruk yang akan mendatangi kita.” Ucap oma sambil mengelus kepala Ree.
“Hmm gitu yah oma.”Ree mengangguk paham. Baik oma. Ree akan ingat selalu. Pasti.”
.
****
.
Mataku terbuka. Aku terbangun, tersadar. Nafasku tersengal. Bulir-bulir keringat menetes dari keningku.
Apa yang barusan ku mimpikan?
Oma? Oma ... Apa maksudmu? Pengulangan waktu? Bayaran? Kenapa aku justru baru ingat itu sekarang? Tapi aku ...
Astaga... Apa yang sudah kulakukan?
Seketika kepanikan melandaku. Kupijat pelipisku, berusaha mengingat-ingat kembali yang sudah terjadi.
Aku sudah melalukan permohonan. Saat itu aku sama sekali tidak minta untuk mengulang waktu.
Aku hanya meminta diberikan kesempatan memperbaiki semuanya. Dan...
Astaga...
Lemurian memilihkanku jalan ini?
Pengulangan waktu?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Seketika kamarku serasa berputar, kepalaku pusing dan sakit.
Aku memejamkan mata, memegang dadaku. Kutarik nafasku dalam-dalam.
Tenang... Tenang... aku harus tenang. Aku harus memikirnya satu persatu.
Kalau memang aku tidak bisa mengubah takdir orang lain, artinya itu kenapa saat aku kembali ke masa ini, bayiku tidak ada. Karena memang di masa sebelumnya bayiku sudah tidak ada. Dia sudah meninggal. Baik. Aku paham sampai disitu.
Aku berusaha mengingat kembali hal-hal terakhir yang kualami.
Lalu... Saat itu Ethan menerima telepon katanya kondisi kesehatan papa sedang bermasalah. Jadi... disaat ini pun nanti akan ada waktunya kesehatan papa bermasalah.
Tapi aku tidak tahu itu kapan. Dan juga aku tidak tahu bagaimana keadaan papa sebenarnya saat itu, apakah buruk atau tidak.
Saat itu Ethan juga tidak kembali memberikan penjelasan bagaimana kondisi papa.
Waktu mas Anton berusaha membunuhku, Ethan tidak ada.
Kemana Ethan saat itu? Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia terlambat?
Aku memijat pelipisku yang terasa sakit.
Apa itu alasannya kenapa seharian ini aku seperti merasakan de ja vu.
Respon papa yang sama saat persidangan, ucapan mas Anton yang sama saat menenangkanku.
Dan....
Tunggu sebentar! Kalau semuanya hampir sama, harusnya saat ini...
Dengan gerak cepat aku turun dari ranjangku. Membuka pintu, melangkah lebar menaiki tangga menuju ruang kerja mas Anton. Samar-samar kudengar suara orang bertengkar.
“Aku tidak peduli mas! 8 tahun aku bersabar, apa itu belum cukup hah?! Lihatlah Ree sekarang, dia mulai bertingkah didepanku! Kau pikir aku tidak tersiksa melihatnya bermesraan denganmu? Dan sekarang kau suruh aku lebih bersabar? Kau gila!" Terdengar suara Siska yang berteriak.
Seperti yang kuduga. Hal yang sama terulang kembali. Aku memijat lagi pelipisku. Bahkan kalimat yang diucapkannya pun hampir sama. Kusandarkan tubuhku ke dinding tepat disamping pintu yang masih tertutup rapat.
"Sabar sayang. Sabar. Toh papa sekarang sudah masuk penjara. Tinggal Ree urusan kita. Sabarmu tidak akan lama lagi sayang, mas janji." Mas Anton terdengar menjawab.
Aku memegang dadaku. Ini de javu kesekian kalinya yang kurasakan seharian ini. Dan... Ternyata rasanya tetap sakit. Biar bagaimanapun aku pernah mencintai mas Anton, suamiku. Pun pernah menyayangi Siska, sahabatku. Melihat kembali mereka seperti ini tetap terasa menyayat perasaanku. Sakit.
"Halah peduli setan dengan janjimu! Aku tidak percaya padamu, mas. Kalau kau masih mengulur waktu, akan kucari sendiri cara melenyapkan Ree. Apapun caranya!"
Aku mendengar Siska melangkah, mendekati pintu. Semakin dekat.
Seketika aku panik. Apa yang harus kulakukan?
Siska sudah mencapai pintu. Langkahnya tertahan, daun pintu berputar.
Entah dorongan darimana dengan gerak cepat aku melompat melindungi diriku dibalik lemari hias setinggi 2 meter yang letaknya tidak jauh dari pintu.
Aku bersembunyi.
Kulihat Siska muncul dari balik pintu.
Mas Anton mengejar, menarik tangannya, tubuh mereka saling berhadapan. Mas Anton lalu memeluk Siska erat, mencium keningnya,
“mas hanya mencintaimu Siska. Bersabarlah sedikit lagi. Kita akan temukan cara menghancurkan keluarga ini.” Ucap mas Anton pelan.
Siska mengangguk membalas pelukannya.
Dadaku bergemuruh. Kukepal tanganku sekuat tenaga, tubuhku bergetar, menahan amarah yang membuncah.
Oma... aku tidak peduli... Terserah takdir apapun yang mendatangiku, entah itu baik ataukah buruk. Meski itu terulang 100 kalipun, aku tidak akan pernah kalah.
Itu sumpahku.