LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 6



Mas Anton terjungkal ke sudut ruangan. Ethan betul-betul meninjunya sekuat tenaga.


Aku terkejut setengah mati.


Sementara Siska? Jangan tanya, dia mundur jauh hingga badannya tersandar kedinding dengan satu tangan menutup mulutnya, masih tak percaya apa yang terjadi barusan.


“Apa-apan kau Ethan!” mas Anton berdiri sambil melap darah disudut bibirnya.


“Aku? Kau yang apa-apaan! Kau apakan Reenataku!” balas Ethan tak kalah sengit.


“Reenataku? Kau lupa atau kau memang bodoh heh? Aku suaminya!” mas Anton setengah berteriak.


“Suami? Kau sebut dirimu suami?” Ethan menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Cih! *******! Masih berani kau sebut dirimu suami setelah Ree jadi seperti ini?!” Ethan menunjukku, “Pergi kalian berdua dari hadapanku!” hardik Ethan sengit.


“Tidak akan Ethan! Kau tak punya hak disini!” mas Anton mengepalkan tangannya.


“Apa kau bilang....” Ethan maju hendak melayangkan pukulannya kembali.


Mas Anton bersiap menerima pukulan Ethan.


“TOLONG HENTIKAN!” teriak seorang perawat yang tiba-tiba datang dari arah pintu. “Tolong, ini rumah sakit. Kalau ingin bertengkar lakukanlah dijalan. Jangan disini!” marah perawat itu.


Siska yang sedari tadi hanya diam langsung mendekati mas Anton dan menarik tangannya, “ayo mas, kita pergi dari sini.”


Anton menarik kembali tangannya, “Tidak Siska. Aku tidak akan kemana-mana. Ree adalah ISTERIKU.” jawab mas Anton penuh penekanan.


Aku bisa menebak, sepertinya harga dirinya mulai terusik.


“Tolong. Kalian semua. Tolong pergi dari sini. Ibu Reenata perlu istirahat begitupun pasien yang lain.” Perawat itu mengulang kembali perintahnya.


“Sorry Sus. Kalau mereka berdua silahkan diusir.” Jawab Ethan santai. “Kalau aku.. tidak. Dia adikku. Aku yang akan menjaganya.” Tunjuk Ethan persis ke arahku.


“Dan kau ...” Ethan maju mendekati mas Anton. “Kau kenal aku Anton. Aku terkenal sebagai orang paling sabar. Tapi kau juga tahu, jika itu menyangkut keselamatan Ree, stok kesabaranku sangat tipis. Kau ingat kan aku pernah masuk tahanan 3 hari karena memukul seorang ******** yang mengganggu Ree. Dan aku... tidak peduli masuk tahanan lagi kalau itu memang bisa membuatmu babak belur!”


Ethan menatap mas Anton tajam. Aku mengenal Ethan, dia tidak main-main.


Mas Anton mundur beberapa langkah, “sial.” Umpatnya, “besok aku datang lagi. Jangan kau pikir aku menyerah Ethan.” Mas Anton berbalik menuju pintu keluar sembari diikuti Siska dari belakang.


Aku menghela nafasku lega. Perawat itu menggelengkan kepalanya. Mungkin dirasanya kenak-kanakan sekali bertengkar di rumah sakit.


Perawat itu lalu melihat kearahku, “bu Reenata silahkan istirahat kembali. Tolong istirahat yang banyak ya bu biar cepat sembuh.” Sejurus kemudian milirik ke arah Ethan, “dan bapak tolong kalau ada apa-apa silahkan tekan tombol interkom disana” perawat itu menunjuk ke dinding kanan samping ranjangku.


Ia lalu melangkah keluar sebelum kemudian berbalik, “tolong pak, jangan buat keributan lagi disini.” Ucapnya sambil berlalu dan menutup pintu.


Aku menaikkan alisku melirik Ethan.


Kalau hanya bisa suaraku keluar, sudah habis kuomeli pria ini.



Ethan melihatku lewat sudut matanya, tersenyum. “ayolah Ree, aku tahu kau akan mengomeliku kan? Aku paham dengan alismu itu.” Ethan lalu menarik kursi dan duduk disamping ranjangku. Mengambil tanganku dan menggenggamnya erat,



“Maaf Ree aku terlalu terlambat.” Ia berhenti sejenak, “Tidak. Bukan... Maaf karena telah menghilang. Harusnya aku tetap mengawasimu. Tetap menjagamu meski itu dari jauh. Aku telah mengingkari janjiku. Tante pasti marah padaku.” Ethan menundukkan kepalanya tampak menyesal.



Aku tersenyum menggeleng.



“Kau akan sembuh Ree. Akan kupastikan itu. Kau tidak perlu khawatir. Kau tahu kan aku selalu bisa diandalkan?" Ethan tersenyum, senyum yang menyebalkan tapi jelas kurindukan.



\*\*\*\*\*



Aku melihat jam di dinding, sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sejak kedatangan Ethan yang membuat keributan tadi, total 2 jam sudah Ethan tertidur dikursi samping ranjangku.



Huh, apanya yang menjaga. Malah aku yang balik menjaganya.



Kuperhatikan pria yang tertidur disampingku ini. Rambut hitam lebatnya tidak berubah. Hanya agak berantakan sekarang.


Alisnya, tetap sama, tebal dan hitam. Dulu aku suka mengejeknya dengan sebutan ulat bulu. Teringat waktu dulu dia masih berstatus mahasiswa dan aku masih sekolah menengah pertama, betapa kesalnya Ethan waktu aku memanggilnya ulat bulu di depan pacarnya. Hahaha.



Aku kembali melihat wajahnya, hmmm.. ada beberapa guratan halus disekitar bawah matanya. Sudah tua juga rupanya si ulat bulu ini.



Sejenak aku merasakan keheningan dalam kamarku sampai tiba\-tiba Ethan mengangkat mukanya,



“Aku tahu aku tampan Ree. Tapi tidak perlu segitunya kau terpukau padaku.” Senyumnya jahil.



Aku terkejut, langsung memalingkan wajahku. Huh, dia mengerjaiku lagi. Sejak kapan dia sadar?



Ethan meraih wajahku, menghadapkannya tepat diwajahnya, menatapku lekat, “Ree aku janji, kau pasti bisa mengomeliku, memarahi dan membentakku sepuas hatimu seperti dulu. Apapun caranya, aku akan membuat suaramu kembali.”



Aku tersenyum tipis. Ada sedikit sesal dalam hatiku. Dulu aku benci sekali dengan sikapnya yang sok pahlawan kesiangan itu, membatasi pergaulanku, menyortir cowok\-cowok yang ingin menjadi temanku, memaksa untuk mengantar dan menemaniku kemana pun aku pergi. Hampir tiap saat kami bertengkar karena itu. Rasanya aku tak bisa bernapas, dia terlalu posesif menurutku.


Sampai suatu saat amarahku memuncak ketika aku memprotes semua sikapnya, menumpahkan semua unek\-unekku, kekesalanku, keberatanku, tapi justru dibawanya janji pada mamaku sebagai tamengnya.


Saat itu juga tanpa perasaan kubilang kalau aku berharap dia pergi dari hidupku.



Kini aku sadar, semua itu hanya karena dia menyayangiku.



Maaf Ethan... Aku janji Ethan, saat suaraku kembali nanti, permintaan maafku lah yang akan kuucapkan pertama kali.



Ethan lalu beranjak dari kursinya mengambil tas ranselnya yang ditaruhnya dipinggir lemari.



“kau tahu Ree, aku membawakanmu oleh\-oleh dari Itali.”



Ia mengeluarkan sebuah kotak dari tas ranselnya, lalu membuka dan mengambil isinya.



Nampak sebuah gelang berwarna emas, dengan ditaburi permata disetiap lekukannya. Tepat ditengah lekukan gelang terdapat 3 susunan batu berwarna merah delima, bisa kupastikan itu permata delima asli.



“Bagaimana? Cantikkan?” tanya Ethan bersemangat.



Aku mengangguk.



“Kau tahu Ree, aku memesannya langsung dari temanku, dia pengrajin di Itali, warga asli disana. Dia sering datang ke restorant tempatku bekerja. Dia suka masakanku. Saat berencana pulang ke Indonesia, aku menghubunginya dan minta dibuatkan gelang ini.” Ethan menjelaskan panjang lebar.



Oohh sudah jadi chef di Itali rupanya si ulat bulu ini.



“Kau suka kan?” tanya Ethan.



Aku tersenyum.



“Sekarang ini milikmu Ree." Ucap Ethan sambil menatapku lekat. "Tapi Ree.. masalahnya adalah..." Ethan menahan kalimatnya, "kau tahu kan, di dunia ini tidak ada yang gratis?”



Aku menautkan alisku. Ulat bulu ini mulai lagi kayaknya.



“jadiii..sebagai gantinya, saat kau sembuh nanti kau berhutang pelukan terimakasih padaku. Ingat Ree, sebuah pelukan! Hahaha.” Ethan tertawa lebar.



Aku? Aku tersenyum kecut. Dia mengerjaiku lagi. Huh!



Ethan lalu beranjak dari sampingku menuju meja kecil dekat lemari.



“kutaruh sini yah gelangmu” kata Ethan sambil membuka laci meja itu.


Namun seketika itu juga dia terdiam seperti melihat sesuatu yang tak biasa. Ia lalu mengambil apa yang dilihatnya itu dan menunjukkannya padaku.



“Ini punyamu Ree?” tanya Ethan menunjukkan kalung emas bermatakan batu putih.



Aku mengangguk.



“Sepertinya aku tahu kalung ini. Tapi pernah lihat dimana yah?” Ethan menatap lekat kalung itu berusaha mengingat.”



Aku melihat Liontinku dalam genggaman Ethan. Sebetulnya, aku memang tak pernah menunjukkan itu padanya. Sejak oma memberikan Liontin itu padaku, aku tidak pernah berpikir untuk memakainya. Bukan karena tidak cantik, hanya saja terlalu banyak cerita tidak masuk akal oma tentang liontin itu.



Tapi... Kalau aku memang tidak pernah memperlihatkannya pada Ethan, bagaimana bisa dia mengenalnya?



“Aahhh! Aku ingat.” Kata Ethan akhirnya. “sebetulnya tidak persis sama. Hanya batunya saja yang mirip. Yang pernah kulihat tali yang melingkar dibatunya hanya tali hitam biasa. Kau tahu, semacam tali berbahan kain begitu, berbeda dengan yang ini pakai rantai emas.”



Betul Ethan, Liontin ini memang sebetulnya hanya bertali hitam biasa sebelum akhirnya kuganti dengan rantai emas. Tapi bagaimana caranya agar aku bisa bertanya padanya.



Aku berusaha menatapnya tanpa berkedip. Semoga dia mengerti kalau aku sedang minta penjelasan darinya.



Tiba\-tiba Ethan kembali menarik kursi dan duduk di samping ranjangku, “Baik lah Ree. Aku akan menjelaskan.”



Aku melotot tak percaya. Dia paham keinginanku? Bagaimana bisa?



“Hahaha.” tawa Ethan pecah. “kau pasti bertanya bagaimana bisa aku paham maksudmu. Ayolah Ree... Sejak kapan aku mengenalmu? Sejak tangisanmu pertama! Sejak kau baru melihat dunia! Aku salah satu orang yang menemani kau tumbuh. Bahkan saat kau bayi, aku yang sesekali ganti popokmu! Hahaha.” Ethan masih tertawa, “Kau tahu Ree, mungkin aku lebih mengenalmu dibandingkan papamu yang begitu sibuk di kantor. Seandainya aku ini perempuan, mungkin aku akan cocok jadi mamamu. Hahahaha” Ethan kembali tertawa lepas.



Aku mengerucutkan bibirku.



“Baik... Baik.” Ethan memegang perutnya menahan tawa, “aku akan menceritakan semua padamu, tuan puteri. Semua yang kuingat.”



Ethan menghela nafas sejenak, “saat aku berumur 9 tahun, dihari kelahiranmu, waktu itu aku duduk tidak jauh dari tempat tidur tante Rindi, mamamu. Ada om Doni juga saat itu. Tante Rindi baru saja selesai melahirkanmu Ree. Aku tidak begitu paham apa yang terjadi saat itu. Yang aku tahu, kondisi tante sepertinya betul\-betul kepayahan.”


Ethan berhenti sebentar mencoba mengingat\-ingat. “Lalu aku melihat om Doni menyerahkan batu putih itu pada tante dan bilang sepertinya ini dapat mengabulkan apapun. Mungkin saja tante Rindi bisa sembuh.”



Ethan tampak berpikir sejenak seperti sedang memilah kata yang tepat, “tapi tante Rindi bilang, ia sudah mencoba berulang kali. Meminta sebuah permohonan. Tante Rindi tidak menjelaskan apa permohonannya, tapi yang jelas itu tidak berhasil. Katanya bisa jadi karena bukan ia pemiliknya.” Ethan diam sejenak.



Aku menatap Ethan lebih dalam, berharap ada penjelasan lebih.



“Sorry Ree, tidak ada lagi. Hanya sebatas itu yang kuingat. Tidak lebih, tidak kurang.”



Aku memalingkan wajahku, menangis.



Oma.... Apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan kepadaku.



\*\*\*\*


“Ngapain Ree?” tanya oma pada Ree yang sedang sibuk dengan buku tulisnya. Ia sedang asik duduk melantai sambil menulis di meja yang tingginya hanya selutut.


“Lagi belajar oma.” jawab Ree masih terus menulis, tak menoleh.


“Belajar apa sih serius sekali.” oma lalu duduk dikursi dekat Ree melantai.


“Biologi oma. Ini lagi jabarin pembagian otak manusia dan sistem kerjanya. Udah itu mau dihafalin.”


"Hhmm..." omanya mengangguk. “Jadi... bagaimana penjabaran otak manusia itu?"


Ree bergeser menghadap omanya, "oma yakin mau tahu?"


Omanya tersenyum, "memang aneh yah? ya kan biar sekalian Ree latihan, supaya bisa cepat hafalnya." oma tersenyum


“Oke deh.” Ree mengangguk setuju, “Oma dengerin Ree yah.”


Ree lalu manarik nafas sebentar, "jadi oma, otak manusia itu memiliki 3 bagian utama cerebrum, cerebellum dan batang otak. Oma tahu gak, otak kita hebat loh. Dia terbuat dari sekitar 100 miliar sel saraf yang disebut neuron. Hal ini adalah bagian paling penting dari sistem saraf pusat yang mengendalikan kemampuan untuk berpikir, berbicara, merasa, melihat, mendengar, bernapas dan membuat memori."


"Hhmm... menarik yah. Berarti otak manusia semacam komputer gitu yah Ree?"


"Iya donk oma." jawab Ree mulai antusias, "pada dasarnya, tubuh manusia itu adalah carbon-based computer, ia mengikuti input dan output dengan standar tertentu." Ree berhenti memandang omanya, "eehh... bahasa Ree terlalu berat yah oma? hehehe."


"Gak kok sayang." omanya tersenyum, melanjutkan, "Jadi Ree percaya gak kalau suatu saat nanti akan ada komputer yang bisa menyamai otak manusia?"


Ree berpikir sejenak, "Percaya donk oma. Tekhnologi kan semakin berkembang oma, bisa saja 20 atau 50 tahun kedepan akan tercipta yang seperti itu. Apa sih yang tidak mungkin sekarang."


Omanya tersenyum penuh makna, "Lalu... bagaimana dengan rasa sakit? Apa otak meresponnya juga?"


"Iya lah oma. Segala sesuatu itu pusatnya di otak. Bahkan ada penelitian yang membuktikan ada bagian di otak yang disebut dorsal posterior insula, lebih bersinar ketika kita mengalami rasa sakit. Bagian itu bertindak semacam barometer rasa sakit atau nyeri di otak ketika ada bagian tubuh lainnya yang merasakan sakit." jawab Ree panjang lebar penuh semangat.


"Baik. Terus bagaimana dengan penyembuhan rasa sakit itu?"


"Penyembuhan? Itu berbeda lagi oma. Dalam hal ini otak harus bekerjasama dengan sistem saraf.


Tapi oma tahu gak, Ree pernah baca artikel kalau sebenarnya secara alami tubuh manusia itu bisa memperbaharui sistemnya.


Itu dikarenakan semua jaringan di tubuh bermula dari sel induk, dan sel induk itu punya 2 keistimewaan.


Pertama, dapat memperbaharui diri dan kedua, dapat berubah menjadi sel lain.


Intinya oma keistimewaan regenerasi sel induk itu membuat terapi pengobatan dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat.


Keren kan oma?” Ree tersenyum lebar tanda dia sudah menguasai materi yang dipelajarinya.


Sebaliknya, omanya tersenyum puas penuh makna, “terus, Ree percaya tidak kalau suatu saat ketika tekhnologi sel induk itu dipelajari lebih lanjut, kemudian dikembangkan ke tingkat lebih tinggi lagi, bisa membuat penyakit apapun sembuh dalam waktu singkat?”


Ree tampak berpikir sejenak, “hhmm... Bisa jadi sih oma. Kita tidak pernah tahu kan apa yang akan terjadi dimasa depan. Seperti orang zaman dulu yang tidak percaya akan bisa terbang seperti burung, nyatanya sekarang kita bisa terbang dilangit pakai pesawat melintasi negara.” Jawab Ree sambil memandang keluar jendela, melihat langit.


“Sebetulnya semua teknologi itu pernah ada Ree. Hanya saja telah musnah dan dilupakan ratusan ribu tahun yang lalu. Teknologi yang ada sekarang hanya mencoba mengulang yang sudah pernah ada.” Jawab oma menatap lekat wajah Ree.


“Jangan bilang...” Ree menahan kalimatnya.


“Benar Ree... Lemurian.”


“Aahh!!” Ree memutar bola matanya, “sudah kuduga oma kembali menceritakan hal tidak masuk akal itu. Ree sudah curiga tadi sebetulnya kenapa oma tiba-tiba membahas sistem kerja otak yang berbuntut pada tekhnologi penyembuhan.” omel Ree sambil membereskan bukunya.


“Tapi Ree...”


“Tidak oma!” Ree memotong tegas kalimat omanya. “Betul memang Ree percaya akan ada tekhnologi komputer menyamai otak manusia. Pun Ree percaya mengenai tekhnologi penyembuhan yang akan terus berkembang.” Ree berhenti sejenak mengatur nafasnya. Kesal sekali dia. “tapi oma... Ree percaya itu terjadi 20, 50 mungkin 100 tahun akan datang. Di masa depan oma. Bukan di ratusan ribu tahun yang lalu!” Ree berdiri memeluk semua bukunya, “Itu mitos oma. Mitos!” ucap Ree senewen dan berbalik pergi menuju kamarnya, meninggalkan oma dengan mimik muka yang tidak bisa diartikan.


Omanya menatap lekat punggung Ree yang semakin jauh, sambil tersenyum dan bergumam,


“oma bisa melihat warnamu Ree. Kau selaras dengan warna energi Liontin itu. Kau lah pemiliknya. Bukan oma, bukan pula mamamu. Kau lah yang dipilihnya.


Besok-besok, meski kau kesal, tetap akan oma ceritakan tekhnologi lain yang tersimpan di dalamnya....


Lalu nanti kita lihat, takdir apa yang ingin kau lawan, dan teknologi apa yang dipilihkan liontin itu untukmu...”