LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 9



Mas Anton benar-benar menyiapkan sendiri sarapan kami pagi ini. Tidak aneh sebetulnya, toh dalam seminggu bisa 3 sampai 4 kali dia melakukannya.


Bagaimana bisa aku tidak akan terjebak dengan suami sempurna macam ini. Semua wanita pun kupikir pasti akan jatuh hati dengan sosok laki-laki seperti itu. Mas Anton benar-benar melakukan perannya dengan sangat rapi.


Tapi tentu saja kali ini aku tidak akan tertipu. Paling tidak saat ini mas Anton dan Siska sama sekali tidak tahu kalau aku sudah menyadari semuanya. Dan itu berarti, aku satu langkah di depan mereka.


“Aku sudah selesai mas.” Kataku sambil meneguk air, mengelap mulut sembari berdiri mengambil tas.


“Loh... Kita kan masih nunggu Siska lagi sayang.”


“Siska?” aku menaikkan alisku sebelah, kembali duduk. “kenapa kita harus menunggunya?”


“Ya ampun Ree. Kamu lupa lagi? Kemarin kan kita sudah janjian mau pergi sama-sama menjenguk papa.” Jawab mas Anton sambil menyuap sisa nasinya yang terakhir.


Aku menghela nafas, gusar, “Tidak mas. Kita berangkat sekarang.” Kataku sambil bediri, “Mas telepon saja dia, bilang janjinya batal, dia tidak perlu ikut.”


“Tapi Ree, dia harus...”


“Tidak mas!” Potongku tegas. “Dia tidak perlu ikut.” Aku melangkah meninggalkan mas Anton yang melongo melihat perubahan sikapku.


Baru saja kakiku sampai di ambang pintu, mobil Siska sudah masuk ke halaman rumah.


Aku menatapnya tidak peduli, terus melangkah cepat menuju mobilku sendiri. Mas Anton tergopoh-gopoh mengikuti dari belakang.


“Kenapa sih kamu buru-buru sayang.” tanya Mas Anton mengimbangi langkahku.


Aku mengacuhkannya, terus berjalan.


“Hei kalian mau kemana?” Siska berteriak buru-buru turun dari mobilnya, sedikit berlari mendekati kami. “Kok buru-buru? Ada sesuatu yah sama om Doni?” tanya Siska bingung.


Aku memutar bola mataku. Muak. “Tidak, Sis. Papaku tidak kenapa-napa. Kami hanya harus pergi sekarang. Ayo mas.” Aku berbalik menarik tangan mas Anton masuk ke dalam mobil.


Siska berdiri mematung disisi luar pintu mobil. “Kalian berdua kenapa sih? Janjiannya kan mau berangkat sama-sama.” Ucap Siska sedikit kesal.


"Mas....” panggil Siska dengan nada manja sembari melihat mas Anton lewat jendela mobil yang terbuka setengah. Ia menatap lekat, penuh harap, meminta dukungan..


“Maaf Sis. Aku sungguh tidak tahu. Ree tiba-tiba merubah rencana. Maaf yah.” Dari dalam mobil Mas Anton menatap Siska dengan wajah bersalah.


Hah! Bisa-bisanya aku buta dengan sikap romantis mereka selama ini. Kemana akal sehatku dulu.


“Aku ikut yah.” Siska memaksa hendak masuk.


Klik!


Pintu mobil terkunci. Kupasang senyumku yang paling manis, “Sorry Sis, kamu punya mobil kan, kalau mau pakai saja mobilmu sendiri. Aku mau berduaan dengan su-a-mi-ku.” sengaja kutekankan pada kata suami biar dia paham dimana posisinya.


Muka Siska merah padam, betul-betul tidak suka dengan ucapanku.


“Kamu apa-apaan sih Ree.” Mas Anton mulai salah tingkah.


“Apanya yang apa?” tanyaku dengan wajah polos.”


“Mas!” Siska setengah berteriak.


Kututup kaca jendela mobil, membiarkan Siska yang hampir menyemburkan amarahnya diluar sana, “Ayo berangkat Mas.”


“Tapi Ree...”


“Ck!” aku mendelik berdecak kesal.


“Iya... Iya... Kita berangkat sekarang.” Ucap mas Anton menyerah, memutar mobil keluar halaman, meninggalkan Siska yang tengah shock dengan sikap aroganku. Seumur-umur belum pernah aku memperlakukannya seperti itu. Biar saja. Aku tidak peduli.


Sepanjang jalan aku dan mas Anton sama-sama diam. Sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Sesekali aku mendapati mas Anton tengah melirikku, mungkin dia ingin bicara namun akhirnya enggan karena aku pun menutup mulutku rapat-rapat. Hanya alunan lagu dari radio yang memecah kesunyian diantara kami.


Mobil berbelok masuk ke parkiran Lapas. Kami turun dan masuk ke ruangan tempat penerimaan tamu, mengikuti serangkaian prosedur pengecekan bagi pengunjung.


Tentu saja mas Anton yang mengurusi semuanya. Aku hanya duduk santai dan akan berdiri hanya ketika dibutuhkan tanda tangan dan pengecekan barang bawaan.


Ada bagusnya juga peran mas Anton disisiku sebagai suami manut isteri. Walaupun itu hanya pura-pura paling tidak untuk saat ini aku bisa mengambil keuntungan dari situ.


“Sudah selesai sayang. Yuk masuk.” Ajak mas Anton.


Aku berdiri, “Tidak mas. Aku saja yang masuk. Mas tunggu di luar.”


“Loh... Tapi Ree...”


Aku mengambil tangannya, menggenggamnya erat, “mas... Aku ingin berduaan dengan papa. Banyak hal yang ingin kubicarakan. Kamu tahu kan, aku begitu terpukul dengan keadaan papa sekarang.” Kupasang wajah sedihku.


“Baiklah sayang.” Mas Anton mengelus kepalaku, “kamu masuk saja, mas tunggu disini yah.”


Berhasil. Aku mengangguk dan berbalik melangkah masuk ke ruangan pengunjung.


Sekitar 5 menit aku menunggu papa, hingga pintu yang menghubungkan ruangan pengunjung dan tempat menuju sel tahanan itu terbuka. Papa muncul dari baliknya.


Aku menatapnya sayu. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi sekarang agak berantakan, wajahnya kuyu dan sedikit kurus. Dadaku berdesir melihat penampilannya. Dua puluh delapan tahun aku bersamanya, baru kali ini aku melihat penampilannya menyedihkan seperti ini.


Papa melangkah pelan, menarik kursi dan duduk di depanku, tersenyum.


“Kamu apa kabar sayang.” Suara papa tertahan, “Kamu jangan terlalu banyak pikiran yah. Kamu harus fokus dengan program kehamilanmu.”


“Ree sehat-sehat pah” jawabku pelan. Tidak kugubris ucapan papa tentang program kehamilan. Bukan itu prioritasku sekarang. “papa yang jangan terlalu banyak pikiran. Ree sudah besar pah, Ree bisa menjaga diri Ree sendiri.” Aku diam sejenak, menarik nafas dalam.


“Papa tidak bersalah, nak. Kamu harus percaya sama papa.” Ucap papa tiba-tiba.


“Ree tahu pah. Ree percaya sama papa.” Aku terdiam lagi. “Pah... Ree mau tanya... Hhmm.. Apa papa percaya sama mas Anton dan Siska?” tanyaku ragu-ragu.


Papa menautkan alisnya, “kenapa kamu bicara begitu, nak?”


“Tidak ada apa-apa. Ree hanya ingin mendengar pendapat papa saja.”


Papa mengambil tanganku. “Ree dengarkan papa. Apapun hasil putusan sidang papa besok, papa akan terima. Jadi kamu tidak perlu mencari tahu apapun. Tidak perlu membantu papa. Pun tidak perlu mencampuri urusan perusahaan. Ree harus janji sama papa, oke.”


“Papa! Tolonglah, Ree bukan anak kecil lagi. Berhenti khawatir dengan keadaan Ree.”


“Ree, papa tahu kamu sudah besar. Sudah bisa diandalkan. Tapi nak, permasalahan papa ini rumit. Kalau kamu terlibat, itu akan membahayakan dirimu.” Jawab papa tampak khawatir.


“Karena mas Anton dan Siska terlibat?” tembakku langsung.


“Tidak, nak.”


“Pah...”


“Tidak Ree. Kamu tidak perlu memikirkan mereka berdua.”


“Pah... Papa selalu ajarkan Ree untuk jujur, apa yang papa katakan itu jujur?”


Papa terdiam, membuang muka.


Aku tersenyum, “Pah... Tadi kan papa bilang Ree tidak bisa menyelesaikan ini sendiri...” Aku menarik nafas sejenak, “jadi tolong papa beritahu Ree dimana Ethan sekarang.”


Papa mengerutkan keningnya, terkejut dengan permintaanku barusan. “Darimana kamu tahu kalau papa sedang mencari Ethan?”


“Papa mencari Ethan? Benarkah?” aku pura-pura kaget.


“Ya nak. Papa menghubungi teman papa di Italy. Ethan ada disana sekarang. Harusnya tiga minggu lagi dia pulang ke Indonesia, katanya dia perlu membereskan lebih dulu pekerjaannya disana”


“Tidak pah! Ree tidak bisa menunggu Ethan lebih lama.” Jawabku tegas. “papa tahu nomor Ethan? Biar Ree yang menghubunginya langsung.”


Papa terdiam menunduk.


“Pah... tolong... Papa percaya sama Ree. Kali ini papa harus percaya.” Aku menggenggam tangannya, “Papa tahu, tidak mudah bagi Ree untuk sampai di titik ini. Kesempatan Ree hanya tinggal saat ini. Kalau kali ini Ree gagal, Ree tidak punya kesempatan lagi memperbaikinya. Jadi tolong, hanya kali ini pah... papa percaya yah sama Ree.”


Papa terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu, “Di rumah. Meja diruang kerja papa, laci kedua” Jawab papa lemah hampir tidak terdengar.


****


Aku tersenyum meninggalkan ruangan pengunjung. Meski Ethan belum ada didepanku, paling tidak aku sudah tahu cara memulangkannya. Langkahku ringan menuju pintu keluar untuk sesaat kemudian aku tersadar, mas Anton tidak nampak.


Aku memutuskan langsung kembali ke mobil. Mungkin saja mas Anton menungguku disana.


Dari kejauhan kulihat mas Anton sedang menelepon seseorang. Nampaknya serius, karena saat jarakku hanya 100 meter darinya, dia tetap tidak menyadari kehadiranku. Ia membelakangiku.


“Tidak mungkin Siska!” mas Anton setengah berteriak.


Ohh mas Anton lagi bicara dengan Siska rupanya.


“Dengar sayang, dengarkan mas baik-baik. Pemecatan papa dari jabatannya pasti akan terlaksana. Masalah Ree, nanti mas yang urus. Kamu tidak perlu panik sayang. Mas punya rencana, kamu tahu kan rencana mas tidak pernah gagal.”


Aku menghela nafas, kasar. Melipat tanganku di dada.


“Baik sayang. Sebentar mas kerumahmu. Iya, Mas sayang kamu.”


Astaga! Bodoh sekali aku dulu.


Badanku bergetar, kupejamkan mataku, kugigit bibirku, mati-matian kutahan emosiku.


“Mas ....” panggilku akhirnya.


Mas Anton terperanjat, berbalik, “eehh.. Ree.. sudah selesai yah? Sejak kapan disitu? Mas Anton salah tingkah, buru-buru menyimpan gawainya.


“Barusan. Mas menelpon siapa?” tanyaku pura-pura


“Ehh... anu... itu dari kantor tadi menelepon, ada masalah sedikit disana.” Jawab mas Anton gelagapan.


“Hmmm... Baiklah” Aku berjalan melewatinya langsung masuk ke mobil.


Mas Anton mengikuti, menyalakan mobil. “kita mau kemana lagi sayang? Makan dulu yah. Ada cafe baru dipersimpangan jalan sana.”


“Tidak mas. Kita langsung pulang. Aku lelah. Besok sidang putusan papa. Aku ingin istirahat.” Kataku sembari memejamkan mata membiarkan mas Anton yang menatapku bingung.


.


.


Aku sudah diberi kesempatan yang kedua. Entah ini takdir baik atau buruk, yang jelas aku tidak akan menyia-nyiakannya. Jadi... jalankan lah rencana kalian mas. Aku juga akan menjalankan rencanaku.


Lalu kita lihat, siapa yang menang.