LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 13



Siska menyandarkan kepalanya di dada Anton sembari memainkan ujung rambutnya. Mereka kelelahan baru saja selesai memadu kasih. Hal yang biasa mereka lakukan ketika Siska sedang marah atau kesal pada Ree.


Anton sedikit menggeser badannya mengambil gawai yang terletak diatas meja disamping ranjang mereka. Daritadi gawai itu bergetar, namun Anton mengacuhkannya.


Anton memang sengaja mematikan nada deringnya, takut mengganggu kegiatannya dengan Siska. Anton melihat gawai itu, tampak di layar beberapa pesan masuk dari nomor tak dikenal. Tapi Anton tahu siapa pengirimnya.


Anton membuka pesan-pesan itu dan membacanya.


[[ Target masuk dirumah pak Doni ]]


[[ Target membawa amplop cokelat ]]


[[ Target membawa masuk amplop cokelat. Baru keluar dari Luna Fashion Shop.]]


Anton menatap lekat pesan-pesan singkat itu, berusaha menyusunnya.


Ree pergi ke rumah papanya? Dari sana dia membawa amplop cokelat, dan...


memberikannya pada Luna?


Apa isi amplop itu?


“Sialan!” Anton mengumpat.


“Siapa mas?” tanya Siska bingung.


“Mas harus pulang ke rumah, Sis.” ucap Anton cepat sembari berdiri memakai kembali pakaiannya.


“Kenapa sih mas buru-buru? Tidak mandi dulu?”


“Tidak Sis. Mas harus pulang secepatnya.”


“Kalau begitu mas jelaskan dulu ada apa?” Siska mendesak.


“Ree melakukan sesuatu Sis. Dia tidak sepolos yang kita kira!” suara Anton sedikit meninggi. Ia berjalan melewati Siska, menyambar kunci mobil dan melangkah menuju pintu keluar.


Siska sedikit berlari melewati Anton dan menghadang tepat diambang pintu.


“Jelaskan padaku mas, apa yang perempuan sialan itu lakukan?”


“Nanti mas jelaskan padamu. Sekarang mas pulang dulu. Minggir.” Anton menggeser tubuh Siska. Siska kekeuh tidak bergerak.


“Sis!” Suara Anton meninggi. Kali ini dia benar-benar marah. “kamu apa-apaan sih!”


“Mas yang apa-apaan! Pertanyaanku belum mas jawab! Kalau begitu aku ikut.” Siska balas menghardiknya tak mau kalah.


Anton menghela nafasnya kasar, kesabarannya hampir habis.


“Kamu sadar tidak, ketidaksabaranmu itu bisa menghancurkan kita berdua! Ikutlah Sis, mari kita sama-sama ketemu Ree dan kita lihat setelah ini apa kita berdua masih bisa bertahan atau tidak!”


Siska melongo melihat Anton membentaknya. Ia sedikit takut. Anton begitu serius dengan ucapannya. Pelan Siska menggeser tubuhnya, membiarkan Anton pergi tanpa mengucapkan apa pun padanya.


Ia melihat punggung Anton menghilang masuk ke dalam mobil. Mesin mobil menyala, mobil itu berputar cepat, keluar dari halaman rumahnya.


Siska menghela nafasnya gusar.


Apa sebenarnya yang sudah Ree lakukan.


.


.



Di dalam mobil Anton terlihat gelisah. Ia beberapa kali memencet tombol klakson saat melambung kendaraan didepannya. Beberapa pengemudi meyemburkan sumpah serapah padanya, karena Anton hampir menggores kendaraan mereka.



Ia tidak menyangka Ree bisa menipunya. Ree yang polos itu, bagaimana bisa dia menyusun rencana.



Anton menggeleng kepalanya kuat.


Tidak mungkin! Orang macam Ree tidak mungkin mempunyai rencana. Delapan tahun bersama dengannya, Anton yakin Ree tipe orang yang tidak bisa berdiri sendiri.


Bahkan untuk mengambil sebuah keputusan sederhana, Ree selalu butuh masukkan dari orang lain. Apalagi menyusun rencana? Sangat tidak mungkin.



Apa Luna membantunya? Tapi bagaimana bisa Ree tiba\-tiba teringat Luna? Mereka bahkan hilang kontak hampir 10 tahun!


Tidak! Ree tidak akan mungkin berpikir sejauh itu.



Banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benak Anton. Kalau Ree tahu rencana mereka sekarang, maka habis sudah. Akan sia\-sia semua yang sudah ia dan Siska lakukan selama ini.



Anton meminggirkan mobilnya, berhenti di tepi jalan. Mengambil gawai yang tadi diletakkannya sembarang disisi kursi samping kemudi. Ia lalu membuka kembali pesan dari nomor tidak dikenal itu dan membalasnya



\[\[ dimana dia sekarang \]\]



Tidak butuh waktu lama, gawai Anton berbunyi, pesannya langsung dibalas



\[\[ rumah \]\]



Anton kembali melemparkan gawainya ke kursi di sampingnya. Menginjak pedal gas mobilnya dalam, melaju memecah padatnya jalan, menuju rumahnya.



.


.


\*\*\*\*


.


.



\-\- REENATA –


.


.



Segar sekali rasanya berendam lama di dalam bathup. Baru kali ini aku merasakan sedikit kedamaian.


Mas Anton belum pulang. Bisa kutebak, dia pasti sedang berduaan dengan Siska.


Biarlah. Nikmati saja waktu senggang kalian sepuas\-puasnya sebelum kalian menggantikan posisi papaku di penjara.



Kulangkahkan kakiku keluar kamar hendak mengambil air minum di dapur. Kulihat Nina sedang duduk di atas karpet, serius main game di gawai pemberianku, sesekali dia mengumpat ketika gamenya kalah.


Aku tersenyum melihat tingkahnya, ada\-ada saja anak ini. Dia bahkan tidak menyadari kehadiranku, tapi aku membiarkannya. Toh tugas rumahnya sudah selesai. Ditambah tugas pengintaiannya telah rampung untuk hari ini.


Nina sudah memberikan hasil videonya padaku tadi sore ketika aku sampai dirumah.



Aku melihat video itu sampai habis. Miris. Betul\-betul kejam mereka di belakangku. Tapi ada yang aneh. Sakit dihatiku sudah tidak ada lagi. Melihat mas Anton memeluk pinggang Siska, melihat mereka mengumpat dan menjelek\-jelekkan aku, hatiku sudah beku. Aku tidak merasakan apa\-apa lagi.


Mungkin juga karena terlalu banyak hal yang telah kulewati, termasuk melewati kematian itu sendiri.



Kakiku kini bisa berdiri lebih tegak. Aku memang masih membutuhkan orang lain, belum bisa berdiri sendiri, tapi paling tidak perasaanku sudah jauh lebih peka, mataku bisa terbuka lebar, membedakan mana yang baik dan yang buruk. Aku tidak akan tertipu lagi.



Aku meneguk air digelas sampai tandas saat kudengar mas Anton membunyikan klakson mobilnya.


Sudah pulang rupanya dia.



Nina setengah berlari keluar rumah membukakan pintu pagar. Mobil mas Anton terdengar masuk kegarasi.



Aku merapikan kembali tatanan piring dimeja makan yang sudah disiapkan Nina sebelumnya. Sengaja kuminta Nina membantuku memasakkan lima macam masakan kesukaan mas Anton malam ini. Kutebak hatinya pasti sedang gelisah sekarang.



Terdengar langkah mas Anton sedikit terburu masuk ke dalam kamar.



“Ree... Kamu dimana sayang.” panggil mas Anton setengah berteriak.


Ia mencariku.




Selang beberapa detik mas Anton berdiri di depanku.


Aku sedikit mengernyitkan alisku, menatapnya dari atas sampai bawah.



“Kamu dari mana sih mas? Kamu berantakan tahu. Seperti orang baru bangun tidur.” tembakku langsung.



Mas Anton salah tingkah, melihat kembali penampilannya, meluruskan kemejanya, dan merapikan rambutnya pakai jari tangannya.



“Mas baru dari kantor kok Ree. Pekerjaan sedikit menumpuk. Mas kelelahan, jadi mas tertidur.” jawab mas Anton sedikit gugup.



Aku tersenyum memaklumi, aku tahu dia sedang berbohong. Yang benar saja ketiduran di kantor. Sejak siang tadi orang suruhanku diperusahaan memberi info kalau mas Anton sudah keluar kantor dari jam 3 siang tadi.



“Ya sudah, kalau begitu mas mandi dulu gih. Bau tahu!” ucapku tersenyum sambil menutup hidungku. “Selesai mandi langsung kesini yah. Aku tunggu disini. Kita makan sama\-sama.”



Mas Anton tersenyum tipis mengangguk. Kulihat seperti ada hal yang ingin dia katakan padaku, namun urung karena aku langsung membahas penampilannya yang berantakan.



Dia lalu berbalik, meninggalkanku yang sedang sibuk membuatkan teh hangat untuknya.



.


.


Sesekali aku melihat mas Anton tengah menatapku, seperti ingin membicarakan sesuatu, namun urung dilakukannya.


Tidak satu dua kali. Berkali-kali, dan aku mulai jengah.


“Mas kenapa sih? Memang ada yang salah yah di mukaku?” tanyaku sedikit kesal.


“Eehh.. tidak kok Ree.” Jawab mas Anton gelagapan, “mas... hmmm... Mas cuma ingin tahu, kamu kemana tadi?” tanya mas Anton sedikit ragu.


“Kan sudah kubilang aku ke butiknya Luna.”


“Kamu kok bisa tiba-tiba komunikasi dengan Luna lagi sih?”


“Kenapa mas? Ada yang salah yah?”


“Ehh.. tidak kok sayang, maksud mas bagaimana bisa kalian bertemu. Kamu kan sudah lama hilang kontak sama dia.”


“Iya mas. Aku tidak sengaja berpapasan dengan Luna di supermarket. Lalu seperti biasalah, kami tukaran nomor telepon.” Jawabku berbohong.


“Lalu ada urusan apa kamu di butiknya?” mas Anton terlihat pura-pura menyuapkan nasinya. Namun tampak dari mimik mukanya dia begitu penasaran dengan jawabanku.


“Hhffhh” aku menghela nafas, meletakkan sendok garpuku disisi piring, membenarkan posisi dudukku. Aku menatap mas Anton serius, “Sebenarnya aku ingin minta maaf sama mas. Aku ingin mengaku...”


“Mengaku? Kenapa Ree?” mas Anton nampak tambah penasaran. Ia ikut menghentikan makannya.


“Aku sebenarnya punya rencana kerjasama dengan Luna.”


“Kerjasama? Kerjasama apa Ree?” tubuh mas Anton sedikit menegang.


“Iya mas. Luna berencana mau membuka cabang butiknya. Aku ingin menaruh modalku disana. Sepertinya usaha butik Luna cukup lancar.”


Mas Anton menatapku bingung, “membuka cabang butik? Tapi kok kamu tidak diskusi sama mas dulu sih Ree. Kamu berubah akhir-akhir ini.” Ucap mas Anton nampak belum puas dengan jawabanku.


“Iya mas, makanya aku ingin meminta maaf. Aku takut kamu marah dan melarangku. Kamu tahu kan aku sedikit bosan dirumah. Aku kan juga ingin punya kegiatan mas.”


“Iya. Tapi kan kamu harusnya diskusi dulu sama mas.”


“Memang tidak boleh yah?” aku sedikit menunduk, kupasang raut sedihku.


“Bukan begitu Ree, tapi harusnya kamu tuh....”


“Ini pakai uang tabunganku sendiri kok mas” sergahku cepat, “Modalnya sebenarnya lumayan besar, makanya aku harus ke Bank dulu nantinya untuk ambil uang. Dari kemarin kucari-cari buku tabunganku tidak dapat. Kupikir mungkin terselip dikoper pakaian bekas yang kutaruh dikamar lamaku dirumah papa.”


Mas Anton sedikit terkejut saat kusebut rumah papa.


“Jadi kamu tadi ke rumahnya papa untuk...”


“Ya mas. Aku mau ambil buku tabunganku.” Aku memotong kalimatnya. “Lalu Luna juga butuh beberapa dataku untuk dituangkan diperjanjian kerjasama nanti. Dan kebetulan tadi aku sudah dirumah papa, jadi sekalian saja kupinjam printernya untuk mengcopy kartu identitasku dan lain-lain.”


“Terus?”


“Terus... Kuserahkan semua berkasku ke luna.”


“Pakai amplop?”


“Iya lah mas. Kalau cuma dipegang gitu nanti kececer kan?”


Mas Anton mengangguk melanjutkan makannya. Nampaknya sudah puas dengan jawabanku.


“Eh tapi kok mas tahu aku pakai amplop?” tanyaku bingung.


“Ehem-hem” Mas Anton berdehem membersihkan tenggorokannya. “Mas cuma menebak sayang.”


“Oohh...” ucapku sambil meneguk air. “Jadi boleh yah mas. Aku sama Luna.”


Mas Anton menatapku tersenyum, “boleh donk sayang. Lain kali kalau seperti itu kamu bilang dulu yah sama mas.”


Aku mengangguk tersenyum.


Yass!! Sudah kutebak mas Anton pasti akan menanyakan hal ini padaku. Tentu saja aku mengetahuinya, karena aku tidak membayar murah saat mepekerjakan Juki.


Juki bukan sopir biasa. Dari bentukannya yang seperti preman itu saja sudah jelas menunjukkan bukan pekerjaan orang biasa yang ia lakoni sebelumnya.


Sejauh yang kutangkap, saat mas Bobi menjelaskan secara singkat, Juki sebenarnya mantan anggota mafia kelas kakap. Belasan tahun dia masuk dalam Daftar Pencarian Orang, baru 5 tahun lalu dia ditangkap. Itu juga karena dia sendiri yang menyerahkan diri. Alasannya karena dia sudah lelah dengan kehidupan kotornya, apalagi setelah dia memiliki 2 putri yang cantik, ia memutuskan untuk kembali kejalan yang benar.


Sejak berangkat tadi pagi Juki memang sudah memberitahuku kalau ada mobil hitam yang mengikuti kami. Ia menanyakan padaku apakah mobil itu mau dikelabui biar kami terbebas dari pengintaiannya, atau dibiarkan saja.


Kuputuskan untuk membiarkannya saja. Kalau langsung dikelabui mereka pasti curiga. Nanti akan kucari alasan kenapa aku harus ke rumah papa dulu sebelum pergi ke butiknya Luna.


Dan... Lihatlah...


Mas Anton terjebak di dalam rencanaku.


Mas Anton lalu mencium pipiku. “Mas sudah kenyang, masakanmu malam ini enak. Semuanya kesukaan mas.”


Aku tersenyum manis. Memang itu tujuanku. Menyenangkan hatinya.


“Mas ke kamar duluan yah.”


“Ya mas. Aku mau bantu Nina membereskan meja dulu.”


Mas Anton mengangguk lalu berbalik melangkah menuju kamar.


Kupastikan punggungnya menghilang dibalik pintu kamar. Saat pintunya tertutup sempurna, dengan gerak cepat aku mengambil gawai dimeja, melangkah menuju halaman belakang.


Kulirik Nina yang berdiri tak jauh dariku. Ia lalu mengirimkan kode aman melalui tangannya.


Aku memencet sederet angka dilayar gawaiku, menelpon seseorang,


“Halo... Kamu dimana sekarang?”


“Hahaha... Nanya kabar dulu kek."


"Hiisshh. Jawab dulu kamu dimana sekarang?"


"Di bandara tuan puteriku. Gara-gara kebawelanmu tadi siang memintaku cepat kembali, aku dipecat dari restoran.”


“Biarkan saja. Toh kamu tidak akan balik kesana lagi.”


“Kata siapa?”


“Kataku!”


“Hahaha. Disana aku tidak punya masa depan tahu.”


“Punya kok. Disini kamu punya peluang membangun restoran sendiri.”


“Kata siapa?”


“Kataku!”


“Hahaha. Tapi setelah urusan disana beres, aku tetap ingin kembali tahu.”


“Tidak boleh.”


“Kata siapa?”


“Kataku! Hisshh!”


“Hahahaha”


“Jadi kapan kamu sampai disini?”


“Harusnya kalau penerbangan lancar, 18 jam lagi aku sudah berdiri di depanmu, Ree.”