LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 11



“Pagi Ree... Mas Anton...” sapa Siska tiba-tiba sudah muncul di ruang makan.


Aku dan mas Anton yang tengah sarapan sontak menoleh.


Siska memang sudah terbiasa keluar masuk rumahku sesuka hatinya. Kalau dulu buatku itu tidak masalah. Terkadang dia memang berangkat kerja bareng mas Anton. Tentu kupikir karena mereka memang lagi ada urusan pekerjaan yang harus dikerjakan pagi-pagi.


Tapi lain dengan sekarang. Apalagi setelah melihat adegan bak sinetron tadi malam. Kemunculannya tiba-tiba tanpa permisi ini benar-benar merusak moodku.


“Kamu sudah sarapan, Sis?” tanyaku basa-basi.


Siska melangkah duduk di depanku. “sudah kok tadi dirumah.” Jawabnya sambil mengambil potongan apel.


“Semalam kamu datang kesini yah?” tembakku langsung.


“Uhuk-uhuk.” Mas Anton terbatuk. Siska salah tingkah.


Aku ingin tahu bagaimana tanggapan mereka berdua.


“Eh anu Ree... iya. Tapi karena mas Anton bilang kamu masih tidur, jadi aku langsung pulang.” jawab Siska gugup.


“Hmmm benar ya mas?” tanyaku melirik mas Anton.


Semalam memang aku bersembunyi dibalik lemari hias berusaha untuk tidak ketahuan.


Ketika Siska pulang dan mas Anton mengantarnya keluar, secepatnya aku berlari kembali ke kamarku, pura-pura tidur.


“Eh... Iya Ree.” jawab mas Anton sembari meneguk airnya, menghilangkan kegugupan. “Tapi Siska tidak lama kok. Tidak sempat masuk rumah, hanya sampai dihalaman depan. Begitu dia tahu kamu tidur, dia langsung pulang.” sambungnya.


“Loh... Aku kan hanya tanya Siska datang atau tidak. Bukan tanya Siska masuk rumah apa tidak.” Jawabku acuh sambil menyuapkan potongan roti terakhirku.


Mas Anton dan Siska kompak melongo mendengar ucapanku. Aku tidak peduli.


“Ninaaaa” panggilku pada Asisten Rumah Tangga Baruku.


“Iya buuu.” Nina datang sedikit berlari.


“Tolong ambilkan tas saya di kamar yah. Saya lupa tadi bawa kesini.” kataku pada Nina.


“Siap bu. Laksanakan!” jawab Nina sambil menaruh tangannya didepan kening, seperti menghormat bendera, untuk kemudian berbalik melangkah menuju kamarku.


Siska menautkan alisnya menatapku,


"Kamu punya pembantu baru yah, Ree.”


Aku sedikit meliriknya, "Lah kamu lihat sendiri kan tadi.”


“Kamu tahu mas?” tanya Siska melihat mas Anton.


“Iya Sis. Ree sudah minta izin padaku 2 hari lalu.” Jawab mas Anton sambil mengunyah makanannya.


“Bi Asih memang kenapa Ree? Udah berhenti yah?” Tanya Siska kembali melirikku.


Huh! Sibuk betul dia dengan urusan rumah ini. Dipikirnya siapa dia.


“Tidak Sis. Bi Asih masih ada kok. Aku hanya kasian dia kerja sendiri tidak ada yang bantu. Dia sudah tua.” Jawabku sembari meneguk jus. “lagi juga Bi Asih kan tidak tinggal di rumah ini. Hanya datang masak, beresin rumah terus pulang. Nah si Nina ini nanti dia tinggal disini. Biar kalau aku ada perlu apa-apa Nina bisa bantu.


“Uhuk-uhuk.” Mas Anton kembali terbatuk. Entah sudah yang keberapa kalinya. Dia hendak bicara lagi namun tertahan saat melihat Nina datang membawakan tasku.


“Ini bu tasnya.” Ucap Nina.


“Oke, makasih Nin.” Jawabku sambil mengambil tas dari tangannya.


Nina menganggukkan kepalanya, tersenyum dan berbalik melangkah pergi.


“Kamu kok tidak bilang-bilang mas sih kalau Nina bakal tinggal disini?” sembur mas Anton menatapku.


“Lah itu tadi barusan sudah kubilang. Ya kan?” Jawabku sambil menampilkan senyumku yang paling manis.


“Tapi Ree, kamu harusnya..."


“Udah lah mas” potongku cepat. “kan cuma bantu-bantu ini. Tidak ada salahnya kan?” tanyaku menaikkan alis sebelah.


Mas Anton terdiam, menampakkan muka tidak sukanya.


Aku bisa menebak mas Anton dan Siska hanya tidak mau rumah ini ketambahan anggota. Bisa-bisa tidak leluasa lagi mereka bertemu atau membicarakan sesuatu. Tapi itu memang bagian dari rencanaku.


“Buu... Mobilnya sudah siap.” tiba-tiba Juki datang memecah ketegangan diantara kami.


“Oh iya. Tunggu di mobil dulu yah. Saya mau habisin jus saya dulu.”


“Baik bu.” Jawab Juki mengangguk.


Siska menatapku semakin bingung, "siapa Ree?"


“Sopir baru. Ree sudah minta izin padaku kemarin.” Mas Anton menjawab cepat pertanyaan Siska. Dia lalu melirikku “terus Juki tinggal disini juga?”


“Iya lah mas. Kan di belakang ada 2 kamar kosong. Nina sama Juki bisa tidur disitu.” Jawabku sembari meneguk sisa jus terakhir.


“Kamu tidak diskusi sama mas lagi Ree.” Mas Anton menatapku tajam.


“Iya Ree. Kamu ngapain sih pakai sopir. Kan ada mas Anton yang antar. Kalau mas Anton tidak bisa, kan ada aku.” Sambung Siska ikut menghakimiku.


Aku menatap Siska santai, seolah-olah tidak ada yang salah, karena memang kenyataanya tidak ada yang salah, “Kamu kan tahu aku tidak bisa menyetir. Makanya aku minta izin punya sopir sendiri. Kalau mas Anton sibuk, terus kamu juga tidak punya waktu, aku jadi tidak bisa kemana-mana. Selama ini kalian juga melarangku naik taxi kan? Katanya bahaya. Ya sudah, berarti tidak salah donk aku punya sopir pribadi."


Mas Anton terdiam seperti bingung mau menjawab apa. Aku mengelap mulutku dan berdiri “kalian berdua kenapa sih pagi ini? Aneh deh.”


Aku lalu melangkah mendekati mas Anton, mengecup pipinya. “aku pergi dulu ya mas.”


Mas Anton mengangguk lemah. Seperti shock dengan semua keputusanku barusan. Biar saja. Terserah mereka berpikir apa.


“Ninaaaa...” panggilku sebelum benar-benar beranjak pergi.


“Ya buu.” Jawab Nina setengah berlari menghampiriku.


“Nanti kalau semua sudah pergi, kamu kunci pintu rumah baik-baik. Saya tidak suka ada orang yang nyelonong masuk kesini seenak jidatnya tanpa pakai salam. Itu tidak sopan namanya. Paham?”


“Paham bu. Laksanakan!”


Aku melangkah ringan meninggalkan mas Anton dan Siska yang kompak menatapku dengan raut muka bingung.


.


.


*****


.


.


“Kamu apa-apaan sih mas!” cecar Siska saat Ree sudah pergi. Suaranya sedikit berbisik takut kedengaran Nina.


“Sis dengarkan mas. Masalah Nina akan tinggal disini, mas sungguh tidak tahu. Kamu lihat sendiri kan tadi Ree baru ngomong sama mas.” Jawab mas Anton menenangkan Siska.


“Tapi kan mas bisa menolak.” ucap Siska sedikit kesal.


“Iya mas menolak. Terus mas harus alasan apa? Mau bilang tidak boleh ada orang tinggal disini supaya rencana kita tidak ketahuan, begitu?” mas Anton balik mencecar Siska.


Siska menyandarkan tubuhnya dikursi melipat tangan di dada. Menghela nafasnya, kasar.


“Sayang, ini juga mas lakukan biar Ree tidak curiga.” Mas Anton mengenggam tangan Siska, “Masalah Nina tidak perlu terlalu dipikirkan. Ree tidak mungkin menggunakannya untuk memantau kita. Dia tidak akan berpikir sampai disitu.”


Siska tidak menjawab. Masih kesal dia dengan sikap Ree tadi.


“Lalu kenapa mas izinkan dia punya sopir sendiri? Kita kan jadi tidak tahu dia kemana atau ngapain, sama siapa atau lagi merencanakan apa. Kita jadi tidak bisa membatasi geraknya seperti dulu.”


“Sis, mas itu tahu Ree seperti apa orangnya.” Mas Anton menghela nafas sejenak,


“Ree tidak akan berbuat macam-macam Sis. Ree itu terbiasa di didik sebagai anak rumahan. Dia tidak akan merencanakan apa-apa. Dia itu polos dan naif. Nyatanya sampai sekarang dia tidak pernah curiga kan mas menaruh obat di jusnya setiap malam supaya dia tidak hamil. Apalagi masalah perusahaan. Dia tidak akan tahu apa-apa. Toh rencana kita sejauh ini juga selalu berhasil kan tanpa ketahuan Ree. Jadi kamu tidak perlu lah khawatir berlebihan.”


Siska menghela nafas gusar. “Terus Ree pergi kemana tadi?”


“Katanya dia mau ke butiknya Luna. Kamu kenal Luna juga kan. Kalian berteman waktu kuliah.” jawab mas Anton sambil meneguk air.


“Kok tiba-tiba? Ngapain Ree kesana? Selama ini kan dia hilang kontak sama Luna."


“Ya mana mas tahu sayang, mungkin Ree hanya mau belanja kali.” Jawab mas Anton acuh. “Kamu biarkan saja dia, lebih sering dia keluar, lebih bagus kan. Dia jadi tidak fokus dengan kasus papanya. Yang kamu khawatirkan itu kalau tiba-tiba Ree ingin ikut mengurusi perusahaan.”


Mas Anton berdiri merangkul pinggang Siska, “kalau kamu sudah tenang, kita berangkat yuk.”


Siska menyerah, mengangguk mengikuti langkah mas Anton menuju pintu keluar.


Tidak jauh dari situ, dibalik dinding, tampak Nina memegang gawai keluaran terbaru, pemberian Ree tadi pagi. Gawai itu diarahkan tepat ke meja makan tempat mas Anton dan Siska tadi duduk. Merekam semua yang sudah terjadi.


.


.


****


.


.


Mobil yang di kendarai Juki melaju memecah kepadatan jalanan. Aku beralasan pada mas Anton mau pergi ke butik teman lamaku, Luna. Itu memang betul. Aku memang berencana kesana untuk mengucapkan rasa terimakasih karena sudah membantuku mencarikan orang-orang yang dapat membantu rencanaku. Tapi itu nanti siang.


Pagi ini aku harus ke rumah papa mencari nomor telepon Ethan. Memulangkannya adalah prioritasku saat ini. Betul kata papa. Aku tidak bisa menghadapi masalah perusahaan seorang diri. Pengalamanku tidak cukup. Terakhir kalinya aku terlibat diperusahaan saat sebelum aku menikah. Itu berarti hampir 6 tahun yang lalu.


Sebetulnya aku masih senang bekerja, tapi buat papa melahirkan cucunya adalah yang utama. Aku diberhentikan dan disuruh mengikuti program kehamilan. Sayangnya semua program yang menghabiskan puluhan juta itu selalu gagal akibat ulah Siska dan suamiku sendiri. Dan sekarang aku tidak peduli lagi dengan program itu.


Kejadian semalam membulatkan tekadku untuk bergerak lebih cepat. Dari gerak gerik mas Anton dan Siska sepertinya mereka belum tahu kalau aku pemegang saham utama. Aku pun sebetulnya belum mengonfirmasi masalah itu langsung ke papa.


Tapi kalau memang dimasa ini adalah kejadian berulang dari masa sebelumnya, harusnya tebakanku tidak salah. Makanya aku memerlukan bantuan Ethan untuk masuk diperusahaan.


Walaupun selama ini Ethan menghilang, namun aku tahu, Ethan juga sebenarnya pemilik saham diperusahaan, dan sejauh yang kutahu dia tidak pernah menjual sahamnya. Itu artinya dia berhak untuk ikut campur dalam perusahaan. Apalagi sebelum mas Anton menduduki jabatannya sekarang, jabatan itu sebetulnya milik Ethan sebelum dia mengundurkan diri dan mengilang.


“Ki tolong lebih cepat lagi. Saya harus sampai secepatnya.” Ucapku pada Juki yang sedikit melambat akibat padatnya kendaraan.


“Baik bu.” Jawab Juki. “Tolong kencangkan sabuk pengamannya ya bu.” Lanjutnya.


Dengan gerak cepat aku mengencangkan sabuk pengamanku. “sudah ki.” Ucapku.


Seketika itu juga Juki menginjak pedal gasnya lebih dalam, menambah kecepatan. Juki lalu melambung beberapa mobil dan motor, mulus tanpa hambatan. Tidak ada ucapan sumpah serapah dari kendaran-kendaraan yang dilambungnya, karena Juki melakukannya dengan sangat lihai.


Aku tersenyum puas. Oke juga orang-orang yang diberikan Luna padaku.