LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 4 A



“Bayinya perempuan mah. Masih dalam inkubator, tapi sudah selesai papa adzankan. Dia cantik seperti mama.” pria itu menggenggam tangan istrinya.


Wanita itu tersenyum, “beri dia nama Reenata pah”


“Reenata... nama yang indah.” Pria itu tersenyum, ia mengelus rambut isterinya, “Mama banyak istirahat yah sayang, biar cepat sembuh. Kalau mama sudah baikan papa janji akan ambil cuti panjang terus kita jalan-jalan bareng Reenata.”


Wanita itu menganggukkan kepalanya, tersenyum.


“Ohiya, papa bawakan ini untuk mama.” Pria itu menyerahkan sebuah batu putih dengan tali hitam pada istrinya. “papa perhatikan mama selalu membawanya, sepertinya ini benda penting.”


Wanita itu mengernyitkan alisnya menerima batu putih itu. “Liontinku... Papa yakin hanya itu alasan sampai papa repot-repot membawakannya padaku?”


Pria itu menunduk lalu menatap kembali isterinya, “sebenarnya papa pernah dengar saat ibu bilang kalau liontin itu dapat mengabulkan permintaan apapun.”


“Wanita itu tertawa pelan, “dan papa percaya?”


“Entah lah. Papa hanya ingin mama sembuh.” Pria itu mengedikkan bahunya.


Wanita itu menerawang melihat langit-langit kamarnya, “sebenarnya sudah banyak kali mama mencobanya. Papa tahu, memiliki sebuah permohonan.” Wanita itu menghebuskan nafasnya, melanjutkan,


“tapi tidak berhasil.”


“Kenapa mah? Apa itu bohong?”


“Bohong? Tentu saja tidak... Ibuku adalah orang paling jujur yang pernah kujumpai sepanjang hidupku. Ibu tidak mungkin berbohong.”


“Lalu... kenapa tidak berhasil?”


“Entah lah pah. Mungkin karena bukan aku pemiliknya.


Pria itu terdiam berusaha mencerna perkataan isterinya.


“Pah, mama ngantuk, mama ingin tidur. Papa janji yah, selama mama tidur, papa tolong jaga Reenata sebaik-baiknya.”


“Iya mah. Papa janji. Pasti.” Pria itu menggenggam tangan istrinya, menangis. Ia paham ini adalah batas akhir isterinya.


Wanita itu lalu melirik kesudut ruangan tempat seorang bocah laki-laki yang sedari tadi duduk diam memperhatikan dia dan suaminya berbincang, “kamu juga nak, tolong jadilah kakak dan pelindung bagi Reenata. Tolong bantu tante yah.”


“Baik tante. Aku janji.” jawab bocah itu mengangguk.


Wanita itu menutup matanya dan tersenyum sesaat sebelum layar Elektrokardiograf yang terhubung di badannya menunjukkan garis lurus panjang.




“Pak seseorang ingin bertemu dengan bapak.” Suara sipir membangunkan lelaki tua itu. Ia mengerjapkan matanya, melihat kesekeliling ruangan yang sempit dan pengap.


“Aku mimpi.” Gumamnya pelan.



“Maaf membangunkan bapak. Tapi didepan ada seorang pemuda ingin menemui bapak. Katanya keluarga.” Lanjut sipir itu dengan sopan.



Ya, semua sipir termasuk tahanan lain di penjara itu memperlakukannya dengan sopan. Bagaimana tidak, lelaki tua itu sangat santun, tidak neko\-neko, bahkan tetap menjaga attitudenya meski itu di dalam penjara. Caranya bersosialisasi dengan orang lain menjadikannya sebagai orang yang dituakan dan dihormati di penjara itu, padahal dia penghuni baru. Dia.. papanya Reenata.



Sipir berbaju biru laut mempersilahkan papa Ree masuk ke sebuah ruangan ukuran 4 x 4, tempat tamu bertemu dengan tahanan. Dia tertegun saat melihat seorang pemuda berkemeja abu\-abu duduk disalah satu kursi ruangan itu. Pemuda itu berkulit putih bersih, memiliki garis muka tegas, bermata tajam dengan alis hitam tebal, tampan.


Aahh.. anak ini masih sama, hanya lebih tinggi sedikit dari yang terakhir kulihat, batinnya.


Mereka saling menatap sesaat sebelum akhirnya pemuda itu berdiri dan memeluknya erat,


“om Doni.”




“Maafkan aku om. Ayo kita duduk dulu.” Ethan menuntun papa Ree untuk duduk. “kabarku baik om,” lanjutnya, “aku yang harusnya bertanya apa yang sudah terjadi sebenarnya.”



“Panjang ceritanya nak. Rumit. Entah om harus mulai darimana. Om tidak percaya siapapun Ethan. Berbagi dengan Ree pun tidak mungkin...


Sudah 3 minggu Ree tidak datang menjenguk, entah bagaimana kabarnya sekarang. Dan lagi, Ree sementara hamil tua, ia mengandung cucuku, tapi kandungannya lemah, ia terus menerus mengeluhkan perutnya yang sakit. Karena itulah om tidak bisa menambah beban pikirannya, om takut kalau dia terguncang itu akan berpengaruh pada kandungannya.” Papa Ree menarik nafas, melanjutkan,


“Disisi lain, om sadar, om tidak bisa mengatasi semuanya sendiri. Ada masalah diperusahaan dan om tahu itu bukan masalah sederhana. Makanya om mencarimu Ethan, om pikir kau bisa membantu. Sayangnya kau menghilang entah kenapa. Susah sekali mencarimu nak.” Papa Ree menatap Ethan sayu,


“kau tahu, berbulan\-bulan om mencari tahu tempat tinggalmu. Sampai satu hari di pusat perbelanjaan om ketemu bibi Ani yang pernah bekerja di rumahmu. Tidak banyak informasi dari dia, yang dia tahu kau sudah pindah ke Itali bekerja sekaligus melanjutkan pendidikan memasakmu disana.” Papa Ree menghembuskan nafas, berhenti sejenak lalu melanjutkan,


“om lalu menghubungi salah satu teman yang punya Restorant disana. Saat menyebutkan namamu ternyata dia mengenalmu.”



“Ya om, Mr. Ang memang teman sekaligus guruku. Dan mengenai kepergianku... maafkan aku om.” Ethan berhenti sejenak, menatap wajah papa Ree.


“Kupikir semuanya akan baik\-baik saja. Kalau bukan karena janjiku pada Almarhumah tante saat aku berumur 9 tahun, janji untuk menjadi kakak dan pelindung bagi Ree, sudah sejak lama aku pergi dari sisi Ree.


Om tahu kan Ree selalu membenciku. Setiap kami bertengkar setiap itu pula dia pasti mengatakan berharap aku pergi jauh darinya. Aku dan Ree tidak pernah sepaham.” Ethan memainkan jemarinya, memandang cahaya yang masuk lewat terali dinding atas,


“Saat Ree bilang akan menikah, kupikir sudah saatnya harapan Ree kukabulkan. Toh dia sudah punya sandaran, tumpuan dan pelindung. Dia sudah memiliki sosok yang akan menyayangi dia sepenuh hati, menggantikan aku.”



Papa Ree menatap Ethan dalam, lalu menggelengkan kepalanya pelan, “kamu salah Ethan. Kau dan Ree memang hampir setiap saat tidak sepaham, selalu bertengkar dan selalu begitu. Kalian susah menyatu seperti air dan minyak. Tapi kau tahu Ethan, setiap kali kalian beradu argumen, setiap itu juga om mendengar Ree menangis di kamarnya. Disitu om paham, Ree tidak sungguh\-sungguh membencimu Ethan. Bagi Ree kau adalah kakak, sahabat, dan yah mungkin lebih, om tidak tahu.” Papa Ree mengedikkan bahunya,


“tapi sudahlah, itu cerita lalu kan?” papa Ree tersenyum.



“Ya om.” Ethan menghembuskan nafasnya berat,


“Jadi apa yang bisa kubantu?”



Papa Ree lalu menceritakan semua yang telah terjadi. Tentang kondisi perusahaan, awal mula kecurigaannya, proyek\-proyek yang ditandatanganinya, pembukuan keuangan, masalah yang timbul dan kejanggalan\-kejanggalan yang ada. Beberapa kali Ethan mengangguk paham dan mencatat hal\-hal penting yang perlu diingat dan dilakukannya.



“jadi Ethan, om harap kamu mau membantu om. Ingat nak jangan percaya siapa pun.” Papa Ree menatap Ethan serius.



“Anton dan Siska?” tanya Ethan menaikkan alisnya sebelah.



“Termasuk mereka Ethan. Awasi mereka." Jawab papa Ree penuh penekanan.



“Baik om. Setelah ini aku akan langsung pergi dulu mengecek keadaan Ree.” jawabnya sambil membereskan beberapa kertas di meja.


"kalau begitu aku permisi om, besok aku datang lagi.” Ethan bangkit dan mengambil kertas terakhir berisi alamat dan nomor telpon Ree yang diberikan papa Ree.



“Tolong jaga Ree, Ethan” tatap papa Ree penuh harap.



“Selalu om” jawab Ethan sesaat sebelum melangkah meninggalkan ruangan itu