LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 22



Pukul 11.30, saat suasana rumah sakit sedang hiruk pikuk, nampak dua orang pria sedang berjalan di koridor ruangan VIP rumah sakit.


Salah satunya memakai jas dokter lengkap dengan statoskop dilehernya, sedangkan yang lainnya memakai pakaian perawat membawa catatan medis pasien ditangannya. 


Wajah kedua pria itu tidak terlihat karena tertutup masker medis. 


Mereka melangkah menuju kamar nomor 542. Saat sampai di depan pintu, mereka sempat dihadang petugas jaga yang bertugas hari itu. Mereka berbincang sebentar dengan petugas itu sebelum akhirnya kedua pria itu dipersilahkan masuk ke dalam kamar. 


Tidak butuh waktu lama kedua pria itu lalu kembali keluar bersama pasien yang didorong pakai kursi roda oleh pria berbaju perawat. 


Tepat diambang pintu pria berbaju dokter sempat menganggukkan kepalanya tipis pada petugas jaga yang oleh petugas itu dibalasnya dengan senyuman.  


Kedua pria itu sedikit bergegas menuju pintu samping rumah sakit sambil tetap memantau keadaan sekitar. 


Dirasanya aman, pasien itu lalu didorong kearah parkiran dan masuk ke dalam mobil yang sebelumnya sudah disiapkan. Ada pria lain didalam mobil yang sudah menunggu mereka.


Mobil itu dengan cepat keluar dari parkiran rumah sakit. Sekitar 5 menit setelah mereka menjauh, pria yang memakai baju dokter tadi mengambil gawai di dashboard mobil. 


Ia membuka layar gawainya, mengetik pesan dengan cepat dan mengirimkannya pada bosnya.


Setelah ia yakin pesan itu sudah terkirim, ia lalu mengantongi gawainya sambil bersiul kecil. Kali ini ia begitu puas karena rencananya berjalan mulus dan tentu bayaran yang besar akan menantinya didepan.


.


.


***


.


.


Sementara itu di jam yang sama.


Kupijat pelipisku sedikit kuat. Aku sedang duduk di ruangan kerjaku masih berkutat dengan tumpukan kertas berisi visi misi, rencana, hitungan-hitungan keuntungan dan program ke depan yang akan aku jalankan seandainya aku terpilih menjadi Direktur Utama perusahaan. Hari ini adalah janji temuku dengan pak Han. Jam 3 siang ini kami telah sepakat akan bertemu di restoran salah satu hotel bintang lima di kota ini. 


Ethan yang duduk di sofa panjang depan mejaku nampak serius menatap laptopnya. Namun sesekali kutangkap saat ia beberapa kali mencuri pandang kearahku yang tengah membaca proposal kerjasama. Aku mulai jengah.


“Ethan! Berhenti!” ucapku memecah keheningan diantara kami.


“Hah? Aku? Kenapa denganku?” Ethan menurunkan kacamatanya setengah hidung menatapku bingung.


Kuputar bola mataku. “Jangan pura-pura **** Ethan. Aku tahu kau daritadi melirikku. Apa yang ingin kau katakan? Cepat.”


“Hahaha kau terlalu sensitif Ree. Siapa juga yang mau lihat muka jutekmu.”


“Ethan!” 


“Hahaha. Sorry Ree. Aku hanya...” Ethan menahan ucapannya. 


“Sepertinya kau sedikit kesusahan yah?”


“Tidak kok.”


“Serius?”


“Ya. Aku sudah menguasai semuanya.”


“Kalau begitu kau tegang?”


“Kalau tegang itu sudah pasti Ethan. Kau tahu aku tidak pernah melakukan ini.”


“Hmm... Baiklah.” Ethan mengelus dagunya.


“Atau begini saja, kalau kau bisa menjelaskan proposal itu secara lancar pada pak Han, aku akan mengabulkan keinginanmu. Terserah apa.”


Kunaikkan alisku sebelah, “Serius?”


“Ya.”


“Apapun?”


“Tentu. Sepanjang aku mampu.”


“Hahaha... Oke! Yang ini kau pasti mampu Ethan.” 


“Oh ya? Memang apa yang kau inginkan?”


“Nanti akan kuberitahu setelah semua ini selesai.” Aku tersenyum manis.


“Hiihh...” Ethan bergidik. 


“Kau tahu aku selalu ngeri kalau kau tersenyum begitu. Karena itu tanda kesengsaran akan datang padaku.”


“Hahaha. Jadi kau menyesal?”


“Sedikit.” Ethan melihatku dengan wajah datarnya.


“Kau tidak bisa menarik lagi ucapanmu Ethan. Hahaha”


Tiba-tiba pintu diketuk, tawaku tertahan. Aku dan Ethan sontak menoleh ke arah pintu. Muncul pak Rendra dari baliknya. Ia membawa beberapa berkas di satu tangan, sementara tangan lainnya memegang kantongan.


“Siang nona Ree. Bagaimana proposalnya? Sudah bisa?”


Aku tersenyum kecut menyandarkan kepalaku di kursi. 


“Bisakah hari ini kalian menanyakan hal lain kepadaku? Misalnya kenapa model rambutku berbeda hari ini.”


Pak Ren dan Ethan saling memandang untuk kemudian tertawa berbarengan.


“Rambutmu hari ini cantik Ree. Hahaha.” Ucap Ethan dengan sisa tawanya. 


“Aku mendelik Ethan. “Lambat!” ketusku.


Mataku lalu tertuju pada kantongan yang sedari tadi dibawa pak Ren. 


“Apa yang pak Ren bawa?”  


“Oh iya, ini nona saya bawakan roti. Nona Ree memang akan makan siang dengan pak Han. Tapi ada baiknya makan roti dulu untuk mengganjal perut.” Jawab pak Ren menyerahkan kantongan itu padaku.


“Aaah... Pak Ren pengertian sekali.” Ucap Ethan. 


“Ree memang harus kenyang dulu sebelum berperang. Kalau tidak akan diamuknya kita nanti. Hahaha.”


“Ethan!” bentakku sambil mengunyah sepotong roti.


“Hahaha.” Ethan mengacuhkan bentakanku.


“Oh iya, Pak Ren sudah dapat berkas yang saya minta?” ucap Ethan melihat pak Ren. 


“Sudah pak. Ini berkasnya saya bawa” jawabnya sembari menunjukkan beberapa berkas yang sedari tadi digenggamnya.


“Agak susah mendapatkannya. Tapi server perusahaan barusan sudah ter backup semuanya. Dan teman pak Ethan yang intel itu benar-benar banyak membantu mengembalikan file-file yang sudah dihapus.”


Ethan tersenyum senang. 


“Baiklah pak Ren. Bisa saya lihat filenya?”


Ethan dan pak Ren lalu sibuk berdua dengan tumpukan berkas dihadapan mereka yang entah apa. Sebenarnya aku penasaran ingin bertanya berkas apa yang mereka bicarakan. Tapi aku menahan diri. Fokusku tidak boleh terpecah. Biar masalah pertemuan dengan pak Han selesai dulu. Kalau itu sudah tuntas akan kutanyakan berkas apa sebenarnya itu.


Kulihat jam didinding. Jarumnya sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Kutuntaskan makanku dan sedikit buru-buru merapikan kertas yang berserakan di meja. 


Ethan yang melihat tingkahku ikut melirik jam ditangannya. Mungkin dia juga sempat lupa waktu selagi berdiskusi serius dengan pak Ren.  Merasa sudah waktunya kami berangkat, Ethan menyudahi pembicaraannya dengan pak Ren. 


Pak Ren lalu menelepon Juki dan memintanya untuk menunggui aku dan Ethan didepan pintu utama gedung. Pak Ren tidak ikut. Hanya aku dan Ethan. Itu sudah kesepakatan kami. Pak Ren bertugas mengawasi kantor selagi aku tidak ada. 


Aku dan Ethan berjalan beriringan sampai di lobi gedung. Dari jauh sudah nampak Juki dan mobilnya sedang menunggu kami. Beberapa langkah lagi aku mencapai pintu utama saat tiba-tiba gawaiku berbunyi.


Kurogoh tasku mengambil gawai. Kulihat nama mas Anton tertera di layarnya. Langkahku tertahan. Entah kenapa perasaanku langsung tidak enak. Ethan menatapku bingung.


Kuusap layarnya, mengangkat panggilan telepon mas Anton.


“Halo.”


“....”


“Apa urusanmu?”


“....”


“Itu bukan urusanmu!”


“....”


“Apa kau bilang?!”


“....”


“KAU GILA ANTON!”


“....”


Sambungan telepon terputus.


Gawaiku jatuh berdenting di lantai.


Aku jatuh terduduk. Lututku lemas. Badanku bergetar hebat. Amarahku meluap. Aku menggeram. Kukepal tanganku kuat hingga kuku jariku sedikit menancap di telapaknya, membuat goresan luka. Setetes darah mengalir dari celah jariku.


.


.


****


.


.


Beberapa jam sebelumnya. 


Anton belum melihat pesan itu. Ia sedang diruang makan menunggu Siska menyiapkan makan siang. Ia sengaja lebih cepat keluar istirahat hari ini. Kantor membuatnya begitu penat. Ia malas melihat Ree dan Ethan yang lalu lalang digedung itu dan berurusan dengan mereka. Apalagi dia tahu hari ini adalah hari penentuan keberhasilan rencananya. 


Ree akan bertemu dengan pak Han siang ini. Sementara sampai sekarang dia belum mendapatkan kabar dari orang suruhannya mengenai papa Ree di rumah sakit. 


Tunggu saja, kalau kali ini mereka gagal lagi, tidak akan kubayar sepeserpun pekerjaan mereka selama ini! 


Anton membatin sembari mengepalkan tangannya.


Siska sudah selesai memasak dan mengatur makanan di meja. Ia melihat Anton sedang melamun memandang keluar jendela.


“Mas...” ucap Siska memecah lamunan Anton. “Mas mikirin apa sih?”


“Banyak, Sis.” Jawab Anton pelan.


“Makan dulu yuk.” Siska menaruh piring di depan Anton.


 


Mereka berdua makan dalam diam. Masing-masing hanyut dengan pikirannya sendiri. 


“Tenang lah mas.” Ucap Siska kemudian. 


“Aku masih punya rencana cadangan kalau yang ini tidak berhasil.”


“Benarkah?” Anton mengangkat kepalanya memandang Siska.


“Ya. Nanti malam akan kuberitahu apa rencanaku. Tapi kita lihat dulu bagaimana hasil dari pertemuan Ree dengan pak Han. 


Toh bagian kita sudah berhasil kan?”


“Ya, Sis. Aku sudah menelepon pak Han kemarin, katanya Frederika senang dengan proposal yang kita ajukan dulu.” 


“Nah. Jadi tenanglah sedikit. Paling tidak usaha kita sebelumnya tidak gagal kan?"


Anton mengangguk.


Dia melanjutkan makan siangnya dengan sedikit lebih tenang. Kata-kata Siska barusan mampu membuatnya kembali termotivasi. Kalau orang bayarannya tidak berhasil, maka masih banyak cara lain yang bisa ia tempuh. 


Setelah makan siang mereka selesai, Anton masuk ke kamar mencuci mukanya. Sementara Siska ke ruang tamu mengambilkan tas kantor Anton.


Siska mengambil gawai Anton di meja, dan menekan tombol disisi gawai membuat gawai itu menyala. Ia melihat ada notifikasi pesan di gawai Anton.


“Siapa, Sis?” tanya Anton melangkah mendekat. Ia baru saja kelur dari dalam kamar.


Siska berpaling pada Anton, “Eh... Ini mas. Ada pesan masuk. Coba mas buka dulu. Siapa tahu penting.”


Anton mengambil gawainya dari tangan Siska dan membuka notifikasi pesan itu.


[[Target sudah kami amankan]]


Mata Anton membelalak membaca pesan itu. Ia terdiam sejenak.


“Hahaha.” Anton tertawa lepas. 


Siska menatapnya bingung. Anton lalu memeluk Siska.


“Sis... Akhirnya kita berhasil. Hahahaha.”


“Apa sih mas?” Siska masih bingung.


Anton melepaskan pelukannya menatap lekat Siska. 


“Orangku berhasil, Sis. Mereka berhasil! Kita tidak perlu rencana cadangan. Papanya Ree sudah ditangan kita! Hahaha.”


“Benarkah mas?” 


“Ya! Hahaha.”


Anton tertawa puas. Siska tersenyum senang.


“Kalau begitu mas cepat telepon Ree. Katakan padanya untuk membatalkan pertemuannya dengan pak Han.


Anton mengangguk. Dengan cepat ia menekan nomor Ree digawainya dan meneleponnya. 


Telepon diangkat.


“....”


“Halo. Ini aku Ree. Kau sedang apa sekarang?”


“....”


“Bisa kutebak kau sekarang akan pergi bertemu pak Han kan?”


“....”


“Oh ya? Itu jelas urusanku Ree. Aku tidak mungkin membiarkanmu bertemu pak Han. Biar kuperingatkan padamu, papamu saat ini ada ditanganku. Kalau kau tidak ingin terjadi apa-apa padanya, batalkan janjimu dengan pak Han, lalu datanglah ke rumah Siska sekarang juga.”


“....”


“Kubilang papa kesayanganmu sekarang ada padaku. Orang suruhanku sedang menjaganya. Jadi sekarang kuminta kau batalkan janjimu dengan pak Han dan datang sekarang juga ke tempatku. Aku ada dirumah Siska. Jelas?"


“....”


“Hahaha. Kau boleh mengkonfirmasi ini dirumah sakit. Aku tidak main-main Ree. Kalau kau tidak datang kesini sekarang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan papamu. Dan... Ya. Jangan coba-coba kau lapor polisi Ree. Kalau tidak, akan kubuat kau bertemu dengannya dalam keadaan terbujur kaku.”


Anton memutuskan sambungan telepon. Ia tidak perlu mendengar respon Ree selanjutnya. Anton tahu Ree sedang murka sekarang. Biarkan saja. 


Salah Ree sendiri kenapa bertingkah membangkang padanya. Harusnya Ree jadi isteri yang manis saja seperti yang dulu-dulu. Jadi kalau sekarang dia melakukan sesuatu sampai sejauh ini, itu salah Ree sendiri. 


Anton menggenggam erat gawainya, menghempaskan badannya di sofa. Ia akan menunggu kedatangan Ree dan menghadapi amukannya. 


Tidak apa-apa. Ree tidak akan bisa melakukan apapun. Papa kesayangannya ada ditanganku. Anton membatin sembari memangku kakinya, tersenyum puas.


.


.


***


.


.


“Ree...” 


Samar-samar aku mendengar kepanikan Ethan saat memanggil namaku.


“Ree.” 


Aku tidak menggubris.


“Ree!” 


Aku bergeming.


“REENATA!” suara Ethan meninggi sembari menggoncang bahuku keras. 


“Sadarlah! Kau kenapa?”


Aku terkesiap. Kutatap Ethan getir. Setetes air menganak disudut mataku. Buru-buru kuhapus pakai punggung tanganku. 


Dengan gerak cepat aku berdiri mengambil gawaiku yang jatuh tidak jauh dari kakiku. Kuusap layarnya menelepon penanggungjawab penjagaan papa dirumah sakit. Aku ingin mengkonfirmasi benar tidaknya ucapan mas Anton tadi. Apakah mas Anton benar menyekap papa atau dia hanya menggertakku.


Diluar dugaan, penanggungjawab itu membenarkan penculikan itu dan berulang kali meminta maaf. 


Kuputuskan sambungan telepon.


Sudah cukup. Aku sudah tahu. Berarti benar papa menghilang. Ternyata benar ancaman mas Anton bukan omong kosong. 


Kulangkahkan kakiku sedikit berlari menaiki mobil yang sudah disiapkan Juki. Ethan berlari mengejarku. Ia lalu ikut duduk disampingku. Mobil melaju.


Kuberikan alamat rumah Siska pada Juki. 


“Kita kesana sekarang Ki. Cepatlah, secepat yang kau bisa. Kita tidak bisa membuang banyak waktu."


Juki mengangguk tipis lalu menginjak dalam pedal gasnya. 


“Kita tidak jadi ketemu pak Han?” Tanya Ethan saat mobil telah melaju.


“Tidak Ethan. Kita kerumah Siska sekarang, ketemu mas Anton.”


“Kenapa lagi dengan mereka? Lalu kudengar kau tadi menelepon rumah sakit. Ada apa dengan om Doni?” Ethan memberondongiku pertanyaan.


“Papa hilang Ethan. Anton menculiknya.” Jawabku tanpa menatap Ethan. Mataku lurus ke depan.


“APA?! Kapan Ree?”


“Baru beberapa jam yang lalu.”


“Sialan! Brengsek!” Ethan memukul kasar jok mobil.


Aku tidak menggubris kemarahan Ethan.


Kulihat Juki yang sedang serius menatap jalanan.


“Apa kau capek Ki?” 


“Tidak bu.” 


“Berarti kau masih bisa berkelahi?”


“Tentu. Itu pekerjaanku dulu.”


“Bagus. Simpanlah tenagamu, Ki. Aku butuh kau untuk menggantikanku menghabisi seseorang.”