LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 20



POV SISKA


Akhir-akhir ini kebencianku pada Ree meningkat. Entah bagaimana dia bisa tahu nama asliku. Aku curiga dia meminta Luna untuk menolongnya. Masalah kerjasama pembukaan cabang butik itu aku tahu semuanya hanya omong kosong. Dan bodohnya mas Anton mempercayainya saat itu. Sudah kuperingatkan banyak kali supaya jangan percaya dengan perempuan bodoh itu, tapi mas Anton tidak pernah mendengarkanku.


Coba lihat tingkahnya sekarang. Dia begitu pongah menduduki kursi Direktur. Mempermalukan aku dan mas Anton, dan terus mengancamku dengan nama asliku, Vena.


Vena...


Aku benci dengan nama itu. Teramat benci. Nama itu mengingatkanku pada hal yang begitu menyakitkan. Suatu fase yang merupakan bagian terburuk sepanjang hidupku. Nama yang diberikan ibu kandungku, sekaligus nama yang sangat dibencinya.


Lestari. Dia ibuku. Ibu yang tidak pernah menyayangiku, juga tidak pernah mencintaiku. Aku bahkan tidak tahu mengapa dia harus melahirkanku. Sejauh yang kuingat aku tidak punya pengalaman masa kecil yang menyenangkan seperti kebanyakan anak-anak lain. Aku tidak pernah bermain bersama teman-teman sebayaku, tidak pernah bercanda dengan kedua orangtuaku, dan tidak pernah merasakan hangatnya keluarga.


Aku tumbuh dengan siksaan, pukulan, caci maki, sumpah serapah. Ibuku tidak pernah menginginkanku. Itu karena ia terlalu terobsesi dengan dendamnya pada seorang pria yang bernama Doni. Obsesinya itulah yang sudah menghancurkan kebahagiaan masa kecilku.


Ayah tiriku, Beni, pernah bercerita padaku kalau ia menikahi ibuku saat aku berumur satu tahun. Itu artinya aku anak bawaan ibuku. Status Beni saat menikah adalah duda tanpa anak.


Awal dia berkenalan dengan ibuku karena mereka teman satu kantor. Sebenarnya sudah lama Beni menyukai ibuku, namun ibuku sangat tertutup. Menurut Beni, waktu itu ibuku masih sangat mencintai mantan pacarnya yang sudah beristri. Tapi Beni tidak peduli, dia tulus mencintai ibuku. Dia terus melakukan pendekatan pada ibu agar ibu mau menerimanya jadi kekasih.


Namun suatu hari Ibu berhenti dari tempat kerjanya. Beni tidak tahu ibu kemana saat itu. Dia sudah berusaha mencarinya namun tidak menemukannya. Dua tahun lebih ibuku menghilang tanpa jejak.


Sampai suatu saat tiba-tiba ibuku muncul kembali. Ibu lalu mencari dan menemui Beni ditempat kerjanya. Saat kemunculannya itu ibuku tengah menggendongku yang masih berumur satu tahun. Kata Beni waktu itu aku begitu kurus dan tidak terurus. Karena kasihan dan memang masih mencintai ibuku, Beni lalu memutuskan untuk menikahi ibuku dan ikut merawatku selayaknya anak sendiri.


Beni sebagai ayah tiriku tulus menyayangiku. Aku pun merasakannya. Namun itu berbanding terbalik dengan ibuku. Ibu sangat membenciku. Awalnya aku tidak mengerti mengapa ibu begitu membenciku. Saat ayah tiriku sedang bekerja, ibuku kerap menyiksaku, memukulku, bahkan beberapa kali pernah membentur kepalaku di dinding. Tidak ada siksaan yang tidak pernah kurasakan. Mulai dari pukulan pakai gagang sapu, kursi, sisa kayu pagar, merendamku di bak kamar mandi, menarik rambutku, menampar sampai memberikanku nasi basi, semua sudah pernah kurasakan. Sepertinya tidak ada siksaan yang lolos dari badanku.


Sepuluh tahun setelah pernikahan mereka, ibuku akhirnya mengandung dan melahirkan seorang bayi perempuan. Kupikir dengan lahirnya bayi itu perasaan ibuku akan sedikit berubah. Aku tidak berharap dia menyayangiku, hanya paling tidak aku berharap perhatiannya sedikit terbagi pada bayinya yang baru lahir, supaya intensitas penyiksaannya pada diriku sedikit berkurang.


Tapi itu hanya harapanku. Justru sebaliknya, saat bayinya lahir dia malah makin menggila. Aku tidak tahu apa salahku. Pun tidak tahu apa dosaku padanya. Dia hanya mengatakan bahwa aku adalah anak yang seharusnya tidak pernah ada. Aku adalah sebuah kesalahan.


Tiap hari dia menyiksaku. Saat bayinya menangis, saat dia lelah, saat dia bertengkar dengan ayah tiriku, aku lah pelampiasannya.


Lalu apa yang dilakukan ayah tiriku?


Tidak ada!


Memang awal-awal ayah masih menyayangiku layaknya anaknya sendiri. Ia masih sering membelaku saat ibu mengamuk. Namun karena ibu selalu keras dan tidak berhenti menyiksaku, bahkan saat ayah mencoba menghentikannya, ia justru mengamuk tidak terkendali, akhirnya ayahku angkat tangan. Ia menyerah. Ia membiarkanku disiksa dengan catatan sepanjang ibu tidak memegang benda tajam.


Aku jadi sangat membenci ayah tiriku. Dia memang tidak pernah menyiksaku, tetapi dia juga tidak pernah menyelamatkanku.


Bayi perempuan mereka bernama Siska. Dia bayi yang lucu sebenarnya. Tetapi karena ibuku memperlakukan kami berdua dengan cara yang sangat berbeda, aku jadi membenci Siska. Ia sangat menyayangi Siska, jauh berbeda denganku. Bahkan setiap Siska rewel hingga membuat dia lelah, dia pasti memukulku hingga puas.


Banyak kali aku ingin supaya ibu membunuhku saja. Setiap kali dia menyiksaku, aku selalu mengatakan itu padanya. Tapi tahu apa jawabannya? Aku tidak berhak untuk mati, itu terlalu bagus untukku. Aku hanya boleh merasakan siksaan pelan-pelan, setiap saat, setiap waktu, agar dendamnya pada mantan pacarnya bisa terbayarkan.


Omong kosong! Dia bukan seorang ibu! Dia monster!


Doni Darsono, dia lah penyebab utamanya. Ibuku bilang dia adalah lelaki penyebab mengapa aku lahir. Semua adalah salah pria itu. Dia penipu dan pembohong. Dia telah mengkhianati cinta ibuku, karena sudah menerima perjodohan yang diatur oleh keluarganya.


Saat ibu berusaha mengejarnya, mempertahankannya bahkan mati-matian merebutnya kembali, pria itu memilih untuk meninggalkan ibuku. Bahkan mengancam ibu akan melaporkan ibu ke polisi kalau ibu masih mengganggu rumah tangganya.


Ibu menggila. Bertahun-tahun ibu menunggu agar orangtua dari pria itu mati sehingga ibu bisa leluasa merebutnya kembali.


Ibu yakin kalau pria itu juga masih sangat mencintainya. Pun ibu yakin pria itu berubah karena hasutan dari isteri sahnya dan kedua orangtuanya.


Lalu saat orangtua pria itu mati, ibuku kembali mencari pria itu. Ironisnya saat diperjalanan mencari pria itu, ibuku diperkosa! Ibu hamil. Dan aku? Ya benar! Aku adalah anak hasil pelecehan itu.


Pedih sekali saat ibu menceritakan semuanya padaku. Apa itu salahku? Apa aku yang menyuruhnya untuk mati-matian mengejar pria sialan itu sampai dia harus kena pelecehan ditengah jalan? Apa aku yang meminta untuk dilahirkan dirahimnya? Semua bukan salahku!


Tapi ibuku, dia tidak berpikir demikian. Baginya aku adalah kesialan. Lahirnya aku adalah akibat dari pria brengsek bernama Doni Darsono itu. Ibu begitu benci padanya. Karena itulah untuk melampiaskan rasa sakit hatinya, aku lah sasarannya.


Setiap dia memanggil namaku, Vena... setiap itu pula dia akan mengamukku, memukulku dan menyiksaku.


Maka sejak saat itu juga aku selalu gemetar setiap ada yang memanggilku Vena, seakan-akan itu adalah akhir hidupku.


Tidak ada satu pun hal yang kulakukan benar dimata ibu. Ia selalu menyalahkanku dan mencecoki dalam kepalaku bahwa Doni Darsono lah penyebabnya semua penderitaanku. Maka jika suatu saat kesabaranku habis dan aku ingin membunuh seseorang, ibuku menyuruhku untuk melampiaskannya pada Doni Darsono.


Ingatan kepedihan dan dendam itu lalu sedikit demi sedikit terpatri dan mengakar dalam darah dan dagingku. Aku tumbuh menjadi anak yang pendendam.


Anton. Dia tetanggaku. Saksi hidup kekejaman ibu padaku. Dia yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Ia juga sering disiksa oleh pamannya.


Merasa nasib kami tidak jauh berbeda, kami menjadi sahabat dekat.


Anton jatuh hati padaku. Kemana-mana kami selalu bersama. Tidak jarang dia mendapat amukan dari ibuku setiap kali dia berusaha melindungiku.


Kami saling melindungi. Kami lebih banyak hidup di jalanan dan beberapa kali memilih tidur dibawah jembatan dibandingkan pulang kerumah. Padahal saat itu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, sementara Anton duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.


Anton tidak pernah memanggilku dengan nama Vena, karena dia tahu aku selalu ketakutan mendengar nama itu.


Saat itu ia memanggilku putri. Panggilan umum untuk seorang gadis.


Suatu hari ibu menyuruhku untuk menjaga adikku Siska selagi ibu pergi ke pasar. Siska baru berumur satu tahun waktu itu. Saat sedang menjaganya, tiba-tiba saja Siska menangis histeris. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Siska. Ia sedang asik main saat kutinggal sebentar mengambil air minum didapur. Ia kejang-kejang dan tidak bisa bernapas. Aku ketakutan setengah mati.


Dalam kepanikanku aku ke rumah Anton dan minta tolong padanya.


Dengan bantuan tetangga yang lain, Siska lalu dibawa kerumah sakit. Ibuku yang baru pulang dari pasar tentu saja kaget mendapat informasi dari tetangga. Ibu lalu berlari kerumah sakit melihat keadaan Siska.


Sayang Siska tidak tertolong. Menurut dokter Siska tertelan uang koin dan menyumbat saluran pernapasannya. Ia terlalu lama mendapatkan pertolongan hingga nafasnya habis.


Ibu dan ayahku terpukul hebat. Sementara aku? Tentu saja aku ketakutan menunggu akhir dari hidupku.


Saat semua prosesi pemakaman telah selesai dan sudah lewat tiga hari sejak Siska meninggal, ibu tiba-tiba mendobrak pintu kamarku dan menyeretku ke dapur. Ia mengamukku membabi buta. Segala macam sumpah serapah dia lontarkan padaku. Ia melemparkanku piring, gelas dan semua perkakas masakan. Kulit wajah dan badanku berdarah karena goresan serpihan kaca. Dia menarik rambutku, menendangku, membentur kepalaku di dinding dan mengguyur badanku dengan air cucian.


Aku merengek minta ampun. Ibuku tidak menggubris. Ia benar-benar menggila.


Puncaknya ia mengambil sebilah pisau dan menodongkannya padaku. Aku ketakutan setengah mati. Kupikir itu ada akhir hidupku.


Kaki ibu terpeleset air bekas guyuran badanku tadi dan membuatnya jatuh terjerembab di lantai yang basah. Tiba-tiba darah mengalir dilantai. Aku panik sejadi-jadinya.


Kubalik badan ibuku. Pisau yang tadinya dipegangnya, ternyata tertancap dalam di dadanya. Aku menangis ketakutan.


Ayah yang baru datang dari tempat kerjanya kaget setengah mati melihat apa yang terpampang di depannya.


Kekasihnya sudah mati. Aku membunuhnya. Ayah lalu memukulku sampai dia puas.


Saat aku hampir mati, bukannya membawaku ke rumah sakit, ayah malah membawaku ke kantor polisi. Ia mengatakan bahwa aku telah membunuh ibuku. Namun saat itu polisi tidak langsung memproses itu, mereka membawaku kerumah sakit untuk diobati. Aku pingsan beberapa hari. Saat aku akhirnya sadar, pertama kali yang kulakukan adalah mengatakan pada polisi yang menjagaiku saat itu kalau ayahku lah yang membunuh ibuku.


Begitulah kisahku, seorang gadis kecil berumur 11 tahun, kelas 6 Sekolah Dasar, telah membunuh ibunya, menjebloskan ayah tirinya ke penjara dan memiliki dendam pada seorang pria bernama Doni Darsono.


Setelah kejadian nahas itu, Anton lalu mengajakku melarikan diri. Kami menjadi gelandangan beberapa saat sebelum akhirnya kami ditemukan dinas sosial lalu dimasukkan kepanti asuhan. Anton tetap tinggal di panti hingga dia dewasa dan bekerja. Sementara aku telah diadopsi oleh pasangan suami isteri pak Junaidi dan ibu Dewi tidak lama setelah aku masuk dipanti.


Aku berbohong pada semua orang mengaku tidak mengingat apapun tentang latar belakangku kecuali namaku. Aku lalu memakai nama adikku. Mulai saat itu aku memulai hidupku yang baru dengan memakai nama adikku, Siska Sarina.


Meskipun aku telah diadopsi, namun aku dan Anton tidak pernah putus hubungan karena aku selalu minta bersekolah di tempat yang sama dengan Anton. Kami tumbuh bersama dengan situasi dan kondisi yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.


Tapi aku, sebagai anak yang pernah mengalami goncangan hebat dimasa lalu tidak akan pernah melupakan dendam matiku pada seorang pria yang bernama Doni Darsono. Buatku dialah penyebab aku harus mengalami beban hidup seberat ini.


Jadi jika saat ini Ree merasa bahwa dialah korban dan harus membalaskan dendamnya, dia salah besar! Karena apapun kejahatan yang kulakukan pada Ree dan papanya itu sama sekali tidak sebanding dengan semua yang pernah kurasakan akibat dari perlakuan papanya pada ibuku, Lestari.


Seandainya papanya tidak menghianati ibuku, tentu aku tidak akan mengalami semua penyiksaan itu.


Ini belum apa-apa. Semua kesakitan dan kepedihan yang mereka rasakan saat ini, tidaklah lebih besar daripada serpihan pasir jika dibandingkan dengan apa yang telah kurasakan di masa lalu.


Aku tidak akan kalah Ree. Sepongah apapun kau saat ini, aku tetap tidak akan menyerah. Aku akan tegak berdiri sampai kau dan papamu hancur sehancur-hancurnya.




Kuteguk jusku hingga setengah. Mas Anton baru saja selesai mandi setelah pulang kantor tadi. Ia lalu duduk disebelahku.



“Bagaimana keadaan kantor mas?” tanyaku pada mas Anton.


Sudah 1 minggu ini aku tidak masuk kantor. Aku memang sengaja mengambil cuti. Sejak kejadian di ruang rapat itu aku tidak bisa lagi menghadapi Ree secara langsung. Nama asliku adalah kelemahanku, dan aku tidak bisa terus\-terusan terlihat lemah di depannya. Itu akan menambah tingkat kesombongannya.



“Begitu lah Sis, melelahkan. Ree dan Ethan benar\-benar berbuat ulah.”



“Bersabar lah mas. Tinggal sedikit lagi kita bisa mereguh kesuksesan. Lalu bagaimana kabar pak Han?”



“Dia masih di luar negeri. Rencana akan balik minggu depan.”



“Berarti nanti minggu depan kita baru bisa bertemu dengannya?”



“Ya Sis. Dan sepertinya Ree juga sudah buat janji dengan pak Han.”



“Tentu saja mas. Frederika adalah penentu. Biar bagaimanapun dia pasti membutuhkan suaranya.”



Mas Anton mengangguk sambil menyesap tehnya.



“Lalu bagaimana dengan orang suruhan kita. Sudah ada kabar dari rumah sakit?”



“Mereka masih memantau, Sis. Tapi tadi baru saja aku dapat kabar kalau mereka sudah mulai paham jadwal pergantian shift penjagaan di rumah sakit.”



“Katakan pada orangmu supaya cepat, mas. Jangan terlalu lama. Kalau kita bisa menculik papanya dari rumah sakit, kita bisa jadikan dia jaminan untuk mengancam Ree dan Ethan supaya mereka membatalkan jadwalnya bertemu dengan Frederika.”



“Ya Sis. Semoga dalam waktu dekat ini mereka bisa berhasil.”



Aku mengangguk tipis sembari menghabiskan sisa jusku.



Kalau rencana ini berhasil, kau akan tunduk di kakiku Ree. Tidak hanya hari ini. Tetapi untuk seterusnya dan selama\-lamanya.