
“Oma, oma...” Gadis kecil itu menggoyang-goyang lutut omanya yang sedang menikmati teh hangat di beranda samping rumah, “oma tahu, Ree senaaaaang sekali.”
“Kenapa? Karena teman-teman Ree datang banyak bawa hadiah yah?” tanya omanya.
“Hu’um.” Gadis itu mengangguk riang. Dia baru saja selesai merayakan ulangtahunnya yang ke 10. Rumahnya tampak penuh dengan balon-balon hias.
Omanya lalu memperhatikan tumpukan kado disudut dalam ruangan, “hadiah dari teman-teman Ree banyak yah, bungkusnya warna warni, cantik... Ree lihat yang paling atas itu?” Omanya menunjuk salah satu kado dengan banyak garis-garis warna, “oma suka kado yang itu, banyak garis-garis warnanya, indah... kalau Ree?" Omanya balik bertanya.
“Yang garisnya warna warni itu oma?”
“Ya yang itu. Cantik yah?”
“Hehe iya oma. Ree juga suka.” Jawab gadis kecil itu memainkan ujung rambutnya, “tapi Ree lebih suka yang ada gambar bonekanya itu” jemarinya menunjuk ke salah satu kado berukuran paling besar.”
“Hahaha. Ree suka kado yang besar yah.” Omanya tertawa.
“Hehehe. Tapi bungkusnya kan juga cantik oma. Tuh lihat warnanya pink.” Gadis kecil itu berkilah.
“Terus kalau Ree sendiri sukanya warna apa?”
“Banyak oma. Pink, kuning, hijau, ungu.... pokoknya semua Ree suka, yang penting bukan warna hitam.”
Omanya mengelus kepala gadis itu, “sebenarnya semua warna itu cantik sayang, termasuk warna hitam.” Omanya berhenti sejenak menyeruput teh, melanjutkan, “Ree percaya tidak kalau oma sama Ree juga punya warna?”
“Warna? Maksud oma?”
“Iya warna.” Omanya mengangguk kecil. “Semua orang pada dasarnya punya warna, Spektrum warna.”
“Setrum? Listrik? Apa sih oma?”
“Spektrum Ree, bukan setrum.” Omanya tertawa kecil.
“Itu apa oma?” tanya gadis kecil itu bingung.
“hmm...” omanya tampak berpikir sejenak, “sederhananya kita semua, oma, Ree, papa, teman-teman Ree punya warnanya masing-masing. Warna itu mencerminkan kepribadian kita.”
“Seperti hitam jahat, dan putih baik?” tanya gadis itu mulai tertarik.
“Kurang lebih seperti itu. Tapi warna manusia itu lebih kompleks. Lebih banyak dan berwarna warni.
“Seperti pelangi? Mejikuhibiniu?”
“Nah. Pintar cucu oma. Darimana Ree tahu?”
“Iyalah oma. Ree kan lagi belajar itu disekolah. Sama guru disuruh hafal warna-warna pelangi. Ternyata warnanya banyak yah oma, Ree pikir hanya merah kuning hijau. Hehehe.” Gadis itu tertawa kecil.
“Aura? Tapi kok gak kelihatan oma?
“Kelihatan sayang. Cuma tidak semua orang bisa melihatnya. Dan bisa jadi suatu saat ketika ilmu metafisika semakin berkembang, akan ada alat yang bisa melihat warna-warna itu.” Jawab oma menerawang. “Tapi Ree tahu tidak, ratusan ribu tahun yang lalu, ada sebuah bangsa yang memiliki ilmu, teknologi dan intelegensi yang jauh melampaui ilmu yang ada saat ini.... Namanya Lemurian”
“Liontin punya oma?” gadis itu memiringkan kepalanya.
Omanya tersenyum, “Ree mau oma kasih tau rahasia lagi?”
“Apa oma?” Tanya gadis itu antusias
“Liontin oma, itu akan bekerja hanya saat spektrum warna nya sesuai dengan warna aura pemiliknya. Ree masih ingatkan dia akan mengabulkan apapun permintaan pemiliknya.” Omanya mengembuskan nafas sejenak, “tapi Ree tahu tidak, untuk jadi pemiliknya, bukan kita yang memutuskan. Tapi... Liontin itu sendiri yang akan memilih...”
****
Dalam ruangan serba putih itu, terbaring seorang wanita dengan banyak selang yang menempel ditubuhnya. Hanya bunyi peralatan medis yang terhubung dengan wanita itulah yang menandakan bahwa tubuh itu masih hidup. Genap sudah 3 minggu tubuh itu terbaring koma, tidak sadarkan diri.
Beberapa hari yang lalu dokter menyatakan bahwa ia telah melewati masa kritisnya, namun sampai saat ini belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sadarkan diri.
Seorang perawat masuk untuk mengecek keadaan wanita itu. Ia mencatat beberapa hal dibukunya sebelum kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar.
Dari kejauhan nampak seorang wanita lainnya, berambut coklat dengan high heels dan rok diatas lutut berjalan menuju ruangan tempat perawat barusan keluar. Ia membuka pintunya, masuk, dan menaruh buah yang sedari tadi ditentengnya ke atas meja.
Ia lalu duduk disalah satu kursi dekat tempat tidur wanita itu berbaring. Memandang lekat tubuh penuh selang itu, dan tersenyum.
"Sori Ree baru bisa menjengukmu. Kau tahu kan aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Aku dan mas Anton baru saja pulang dari Eropa, menikmati hasil jerih payah kami selama 8 tahun ini.
Dan yah, di perusahaan juga kami tengah sibuk memproses pengalihan jabatan papamu. Kau paham kan seorang penjahat tidak mungkin memimpin perusahaan meski itu sebenarnya miliknya.
Tapi tenang saja Ree, proses pengalihan jabatan itu tidak akan berlangsung lama.
Kau tahu Ree, masalah yang kami hadapi sekarang justru kau. Aku dan Mas Anton tidak menyangka ternyata dibelakang kami papamu telah mengalihkan hampir seluruh sahamnya ke atas namamu. Lelaki tua busuk itu menjadikanmu sebagai pemegang saham utama. Kesal sekali rasanya waktu aku mengetahui itu.
Tapi tidak apa-apa Ree, ketika kau mati, semuanya tentu akan menjadi milikku, baik itu mas Anton maupun perusahaan, semua milikku.
Jadi tolong Ree, cepatlah pergi dengan tenang. Jangan lagi kau menguji kesabaranku lebih lama. Kalau tidak... aku sendiri yang akan memastikan kau pergi selama-lamanya.” ia lalu berdiri, berbalik dan melangkahkan kakinya keluar kamar.
Sesaaat kamar itu hening.
Tiba-tiba wanita yang terbaring itu menghembuskan nafasnya berat untuk sesaat kemudian ....
membuka matanya.