
POV ANTON
.
.
Aku mengenal Reenata sejak 8 tahun yang lalu. Awalnya aku mengenalnya hanya melalui cerita-cerita Siska, pacarku. Mereka berkenalan saat ospek kampus. Tidak ada yang salah sebetulnya dihubungan pertemanan mereka. Siska senang pada Ree karena Ree termasuk anak keluarga borjuis yang tidak sombong.
Sampai suatu saat Ree mengajak Siska mampir dirumahnya. Disanalah Siska pertama kalinya tahu kalau Ree adalah anak dari Bapak Doni Darsono, pengusaha sukses, sekaligus orang yang sangat ingin Siska hancurkan. Pak Doni merupakan orang yang telah memporak-porandakan bukan hanya hidup Siska, tapi juga seluruh keluarganya. Aku tahu betul ceritanya.
Siska lalu meminta bantuanku untuk ikut membalaskan dendamnya. Sebagai kekasihnya, tentu aku setuju.
Dewi Fortuna berpihak pada kami, pak Doni Darsono yang terhormat itu sama sekali tidak mengetahui siapa Siska sebenarnya, berasal darimana atau seperti apa latar belakang keluarganya. Yang ia tahu hanya Siska itu adalah sahabat Reenata, anaknya.
Merasa kesempatan kami besar, Siska dan aku mulai menyusun rencana. Awalnya rencana itu murni ditujukan untuk pak Doni seorang. Dan untuk mendekatinya tentu saja kami harus memanfaatkan Ree.
Rencana kami sederhana, aku berpura-pura menjadi pacar Ree, lalu meminta Ree untuk membujuk papanya agar aku bisa masuk diperusahaannya dan menghancurkan perusahaan itu dari dalam.
Sementara Siska? Tentu saja tetap menjadi sahabat Ree sampai mereka sarjana untuk kemudian ikut aku masuk diperusahaan tersebut.
Kami pikir rencana kami sudah sempurna. Salah besar!
Bahkan setelah berpura-pura menjadi cowok yang terbaik bagi Ree pun, aku tetap tidak bisa masuk ke perusahaan tersebut.
Pak Doni tipe orang yang pemilih dan sangat berhati-hati. Entah apa kekuranganku di matanya. Padahal anaknya sendiri pun sudah berusaha membujuknya.
Nihil!
Lelaki tua itu tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Aku bisa menebak ini juga pasti akibat dari ulah lelaki sialan yang bernama Ethan. Entah apa yang sudah dibisikkannya pada pak Doni hingga aku tidak diizinkan masuk ke perusahaan itu. Aku tahu Ethan sialan itu membenciku. Sederhana, itu karena Ree lebih berpihak kepadaku daripada kepadanya. Ia hanya iri kepadaku.
Sialnya, keputusan pak Doni untuk tidak menerimaku diperusahaan tersebut terus bertahan bahkan ketika Ree dan Siska sudah menyelesaikan masa kuliahnya.
Ketika Siska mencoba melamar di perusahaan itu, dengan bantuan Ree juga tentunya, justru Siska yang diterimanya. Namun masuknya Siska diperusahaan tersebut tidak berarti banyak. Siska tidak dapat melakukan apapun, pak Doni sangat teliti dengan pekerjaannya. Dengan kata lain, Siska butuh partner.
Kami mengubah rencana. Lebih tepatnya Siska yang mengubahnya.
Agar aku bisa ikut masuk perusahaan, ia memintaku untuk menikahi Ree. Aku? Tentu saja aku menolak. Yang benar saja! Siska adalah cintaku. Ree memang cantik, tapi aku sama sekali tidak mencintainya.
Tapi Siska bersikeras. Ia menangis, memohon, mengiba, bencinya pada pak Doni sangat memuncak. Ia teramat ingin menghancurkannya. Aku paham betul dengan itu. Dan sebagai orang yang tulus mencintainya, yang pernah berjanji akan membantu membalaskan dendamnya, akhirnya aku menerima permintaan Siska.
Aku datang melamar Ree. Awalnya pak Doni sedikit keberatan, tapi Ree bersikeras.
Pak Doni akhirnya luluh, ia memberikan keputusannya kepada Ree. Semua terserah Ree. Tapi Ethan si lelaki sialan itu dengan tegas menolak.
Hah! Memangnya siapa dia!
Ree dan Ethan bertengkar hebat hingga keluar dari mulut Ree sendiri kalau ia berharap Ethan pergi dari kehidupannya.
Ethan menghilang.
Baguslah! Tidak ada lagi yang mengganggu rencanaku.
Singkat, kami menikah dengan pesta yang luar biasa meriah. Statusku berubah, menjadi suami Reenata Refanda dan satu-satunya menantu dari Bapak Doni Darsono, seorang pengusaha sukses.
Beberapa tahun menjalankan perusahaan ternyata tetap sulit bagi aku dan Siska untuk mendapat kesempatan menghancurkan pak Doni. Ia sangat-sangat teliti, padahal jabatanku adalah Wakil Direktur, sementara Siska sebagai sektretaris dari Pak Doni. Seharusnya begitu banyak kesempatan yang kami miliki.
Tapi... apa yang bisa kami sentuh ketika pekerjaan pak Doni begitu rapi. Ia bahkan selalu mengecek kembali satu persatu setiap pekerjaan-pekerjaan yang sedang kami kerjakan.
Merasa tidak punya banyak kesempatan diperusahaan, kami mengubah rencana lagi. Kami berdua tahu kalau seorang pak Doni yang disegani banyak orang itu, sangat menyayangi anaknya.
Bagi dia, Reenata adalah bahagianya, nafasnya, hidupnya. Karena itulah kami memutuskan untuk menghancurkan Ree saja.
Lebih mudah, lebih menyakitkan.
Masalah nanti ternyata perusahaan ikut hancur juga itu adalah bonus.
Usaha kami bertahun-tahun akhirnya menampakkan hasil.
Sedikit lagi, hanya tinggal sedikit lagi dendam kekasihku terbayar lunas.
Ree keguguran dan aku tidak peduli. Toh dari awal aku memang tidak menginginkannya. Meninggalnya bayi itu dan sikap ketidakpedulianku menjadi pukulan telak bagi Ree. Ia tak ubahnya seperti mayat hidup dirumah sakit sana.
Di sisi lain, pak Doni sudah berhasil kami jebloskan ke penjara. Bahkan pemecatan dari jabatannya pun sedang dalam proses yang beberapa hari lagi dapat dipastikan akan selesai.
Rencana selanjutnya, pelan-pelan aku dan Siska akan menguasai perusahaan lalu akan kami jual semua aset-asetnya ke pihak lawan. Setelah itu, uangnya akan kami pakai untuk membuka perusahaan baru.
Sempurna bukan?
Harusnya semua berjalan lancar. Sialnya diluar sepengetahuan kami berdua, saham milik pak Doni ternyata sudah dialihkan pada Ree. Si perempuan bodoh itu menjadi pemegang saham utama. Gara-gara itu rencana kami sedikit terhambat.
Tapi tidak mengapa, dokumen pengalihan saham itu sudah kusiapkan. Kami hanya butuh sidik jari Ree, dan untuk mendapatkannya sekarang begitu mudah. Ree lumpuh bukan? Meski dia melihat perbuatanku, memang bisa apa dia.
Ree tidak akan sembuh, dan akan kupastikan dia akan tetap seperti itu hingga nyawanya berakhir.
Dan untukmu Ethan, selalu ada kesempatan menjatuhkanmu. Seperti dulu aku berhasil membuatmu menghilang dari hidup Ree, kali ini pun aku akan melakukan hal yang sama.
Aku memandang keluar melihat kegelapan malam, bersabar menunggu kesempatanku datang.
Tiba-tiba gawaiku berbunyi. Nampak dilayar notifikasi pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Kubuka pesan itu.
[[ Kamar aman bos. Target ke luar dari rumah sakit. Akan kami bereskan ]]
Sebuah pesan WhatsApp masuk di gawaiku. Aku tersenyum. Apa kubilang, selalu ada kesempatan.
[[ Ok ]] balasku singkat.
Kusimpan gawaiku disaku jaket. Kumatikan rokok yang masih setengah kuisap. Mengambil kunci mobil, berkas pengalihan saham, dan ya.... sebuah botol kecil berisi cairan kimia didalamnya yang Siska berikan tadi pagi.
Isi botol ini khusus untukmu Ree, ini keputusan akhir dari kami berdua.
Aku melangkah ringan masuk ke mobil dan mengendarainya menuju rumah sakit.
Tersenyum menjemput kemenangan.