
Aku sedang duduk diruang tengah bersama Ethan sambil menyesap teh hangat ditemani sepotong roti yang dibuatkan Nina sejam yang lalu. Tadi malam Ethan memutuskan tidur dirumah papa, dikamar lamanya. Baru tadi pagi dia datang ke rumahku. Kami berencana sama-sama menjenguk papa pagi ini. Namun karena Ethan datang terlalu pagi, aku mengajaknya untuk sarapan dulu, sekalian membujuknya supaya mau menjadi calon Direktur Utama dalam Rapat Pemegang Saham yang akan diadakan beberapa minggu ke depan.
“Aku tidak mau Ree. Aku tidak bisa!” Ethan menggelengkan kepalanya, melipat tangan didada.
“Ayolah Ethan. Kau bilang kau mau menolongku.”
“Iya Ree. Tapi tidak untuk jadi Direktur Utama. Apa saja ree. Aku akan menolongmu apa saja. Hanya jangan yang itu. Aku tidak mau!” Ethan memalingkan wajahnya.
“Kenapa? Jelaskan padaku alasan yang masuk akal.”
“Sederhana. Karena itu bukan passionku. Aku senang memasak Ree. Mengolah rempah-rempah. Bukan mengurus tumpukan kertas.”
Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak. Itu tidak masuk akal. Aku tidak bisa menerima alasanmu. Sebelumnya kau bisa kerja diperusahaan. Jabatan mas Anton yang sekarang, itu jabatanmu dulu. Kalau dulu kau bisa, kenapa sekarang tidak?”
“Kenapa tidak kau sendiri saja?” Ethan balik bertanya.
Aku mengarahkan jari telunjuk ke dadaku, “Aku?”
“Ya. Kau.” Ethan menunjukku pakai dagunya.
Aku menggelengkan kepala. “Tidak bisa Ethan. Aku tidak bisa mengelola perusahaan. Aku tidak punya pengalaman.”
“Kalau begitu belajarlah Ree. Aku bisa mengajarimu.”
“Aku tidak bisa Ethan. Dan juga kalau kau memang bisa, kenapa bukan kau saja? Kalau dulu kau mau, kenapa sekarang tidak? Apa karena dulu papa yang meminta? Lalu karena sekarang aku yang meminta jadi kau tidak mau?”
“Bukan begitu Ree. Kau berpikir terlalu jauh. Dulu itu aku melakukannya semata-mata karena aku membantu om Doni.”
“Apa bedanya dengan sekarang? Anggap saja kau membantu papaku lagi Ethan.”
“Tidak Ree. Itu berbeda. Saat itu aku buat perjanjian dengan om Doni kalau aku akan membantunya hanya sampai kau mampu mengelola perusahaan sendiri. Tapi tidak lama setelah sarjana kau malah langsung menikah kan? Kau memang tidak bekerja diperusahaan, tapi Anton sudah menggantikanmu. Jadi bagiku perjanjianku dengan om Doni telah selesai. Itu kenapa aku memilih mundur dari jabatanku dan bekerja di restoran.
“Kalau begitu buatlah perjanjian baru denganku. Hanya sementara Ethan. Hanya sampai Rapat Pemegang Saham diadakan.”
“Tidak bisa Ree.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang menempati posisi Direktur Utama tidak gampang untuk kau gonta ganti Ree.”
“Hanya sampai kita menang Ethan. Setelah itu aku berjanji akan membiarkanmu pergi kalau kau memang ingin mundur.”
Ethan menghela nafasnya dalam. “Kau tidak mengerti ucapanku ya Ree?”
“Maksudmu?”
“Jabatan Direktur Utama itu bukan jabatan main-main Ree. Kalau kau belum paham juga, baiklah. Aku akan mengikuti pola pikirmu. Aku akan bertanya, dan kau hanya perlu menjawab. Oke?”
“Oke!" Kuanggukkan kepala tanda setuju.
“Jadi apa rencanamu?” Ethan memulai pertanyaannya.
“Rencanaku ya tadi, aku ingin menjadikanmu calon Dirut saat pemilihan di Rapat Umum Pemegang Saham perusahaan.”
“Lalu?”
“Lalu, saat kita berhasil dan kau telah terpilih, kau bisa melepaskan jabatanmu pada siapa saja. Terserah. Yang penting kita menang dulu.”
“Pada siapa saja?”
“Ya Ethan. Siapa saja.”
“Siapa?” tanya Ethan memiringkan kepalanya.
“Terserah kau.” Aku mengedikkan bahu.
“Kenapa jadi aku. Kan kau yang mengatur. Kalau aku mundur, selanjutnya kau ingin berikan jabatan itu pada siapa?”
“Aku.... Pada... ” aku tercenung, lama.
“Pada siapa Ree?”
Aku terdiam, masih berpikir.
“Tidak tahu kan?” ucap Ethan.
Aku menatapnya lekat.
Ethan menghela nafas dalam, menyandarkan badannya dikursi.
“Dengarkan aku Ree. Ini pelajaran juga buatmu. Perusahaan itu bukan permainan anak kecil. Ketika kau memutuskan sesuatu, kau butuh pertimbangan matang.
Kenapa?
Karena ratusan perut ada disitu.
Saat kau sukses menjalankannya, ratusan perut itu akan kenyang. Tapi ketika kau gagal, perut-perut itu akan kelaparan.
Posisi Dirut bukan posisi main-main Ree. Dia pemegang keputusan tertinggi. Dia Masinis di kereta, Pilot di pesawat dan Nahkoda di kapal. Dia pemegang kemudi. Dia penentu mau diarahkan kemana kemudinya. Dan seorang pemegang kemudi tidak bisa labil Ree. Kalau salah arah kau bisa menghancurkan kendaraanmu.” Ethan berhenti sejenak menyeruput teh hangatnya.
“Begitu pun perusahaan. Aku bisa saja membantumu menjadi Dirut untuk sementara waktu. Sangat mudah untuk melakukannya. Tapi setelah aku memutuskan berhenti, kau mau bagaimana? Mengadakan rapat lagi? Apa yang akan dikatakan pemegang saham yang lain?
Kau pikir bagaimana nasib perusahaan yang Dirutnya terus-menerus berganti. Bukannya bekerja malah harus mengadakan rapat berulang-ulang dengan kebijakan baru yang terus berganti. Bagaimana kalau Dirut baru yang terpilih setelah aku ternyata tidak sepaham dengan kau. Lalu bagaimana dengan anggapan klien kita?
Kalau kita kehilangan kepercayaan dari pemegang saham, juga dari klien, lalu bagaimana kau akan bertanggung jawab pada nasib ratusan perut yang bernaung dibawah perusahaanmu. Anton dan Siska justru punya peluang besar untuk menjatuhkanmu.
Semua ini tidak mudah Ree. Pikirkan lah matang-matang.”
Aku terdiam menunduk. Penjelasan panjang Ethan memang sangat masuk akal. Tapi aku harus bagaimana? Aku tidak punya pilihan lain selain Ethan. Hanya dialah harapanku satu-satunya untuk masuk diperusahaan.
“Kau benar-benar tidak bisa membantuku Ethan?” Suaraku tertahan. Aku tidak tahu ternyata akan sesulit ini masalahnya. Kupikir masalah terbesarku diperusahaan hanyalah mencari tahu siapa Frederika Jonathan. Ternyata membujuk Ethan pun sulit sekali rasanya.
“Maaf Ree. Tidak bisa. Aku tidak bisa selama-lamanya menjadi Direktur Utama di perusahaan. Kau tahu suatu pekerjaan yang kita lakukan dengan terpaksa hasilnya tidak akan maksimal. Dan aku tidak mau itu terjadi.
Sudah kukatakan padamu Ree. Aku bisa membantumu. Apapun. Terserah.
Kau menyuruhku melompat ke danau terdalam pun aku mau. Karena aku tahu aku bisa berenang, aku bisa selamat.
Tapi kalau kau minta aku mengurus tumpukan kertas, maaf Ree, bernapaspun aku sulit.”
Kuremas tanganku. Perkataan Ethan benar-benar menancap dalam jauh di dasar hatiku. Sakit sekali rasanya.
“Lalu aku harus bagaimana Ethan?” suaraku bergetar, menahan tangis.
Ethan mengambil tanganku dan menggenggamnya erat, “Lihat aku Ree.” Ethan mengangkat daguku, menengadahkan wajahku kearahnya. Ia menyeka air mataku yang mengalir dipipi.
“Kau bisa Ree. Kau pasti bisa. Aku sudah melihat bagaimana mama dan papamu berjuang untukmu. Mamamu hebat saat mengandung dan melahirkanmu. Papamu hebat saat membesarkanmu. Kau anak dari orang-orang hebat Ree.
Semalam kau bahkan bilang padaku kalau kau pernah berhasil melewati kematian. Itu artinya kau orang hebat Ree. Masuk diperusahaan dan menjadi Direktur Utama jauh lebih mudah daripada melewati kematian. Kau pernah merasakan hal yang paling buruk. Dan kau berhasil melewatinya. Maka untuk kali ini pun, tentu sudah jauh lebih mudah bagimu Ree.”
Aku memandang Ethan lekat. Mencerna semua ucapannya. Membuat hatiku jauh lebih kuat.
“Mantapkan hatimu Ree. Jadilah Direktur Utama perusahaan. Aku berjanji akan mendampingimu. Mengajarimu semua ilmu yang kupunya. Sampai kau bisa berdiri tegak dengan kakimu sendiri. Ada aku Ree. Aku tidak akan meninggalkanmu.” Ethan memandang jauh kedalam mataku. Mengusik sisi keberanianku yang tadinya sempat menciut.
Kali ini hatiku benar-benar kuat. Aku tersenyum lega dengan mata yang masih sembab. Kuseka air mata disudut mataku, “terimakasih Ethan. Akan kucoba mengikuti saranmu.”
Ethan mengacak rambutku.
“Begitu donk tuan puteriku. Kau pasti bisa Ree. Bukankah akan lebih baik kalau kau sendiri yang menghadapi dua cecunguk itu. Lalu menjatuhkan mereka ke jurang paling dalam dengan cara yang elegan. Bagaimana ibu Direktur Reenata?”
.
.
***
.
.
Aku melangkah menyusuri lorong rumah sakit mencari kamar papa. Mencium bau obat-obatan setajam ini membuat ingatanku kembali di masa sebelumnya saat aku terbaring lumpuh dan tidak bisa melakukan apapun.
Aku berbelok di ujung lorong, saat mataku menangkap tulisan angka 542.
Aku mengangguk tipis.
Langkahku tertahan tepat didepan pintu. Menarik nafas dalam-dalam, mempersiapkan hatiku untuk menghadapi takdir yang pernah kulewati.
Aku tahu ini pasti akan terjadi. Inilah salah satu bayaran dari pengulangan waktu. Dimasa sebelumnya papa pernah sakit saat Ethan pergi meninggalkanku malam itu. Waktu itu aku tidak tahu kondisi papa seperti apa, karena Ethan tidak kembali lagi.
Dan di masa sekarang, aku tahu papa akan sakit juga. Aku tahu bagian ini tidak bisa dihindari. Karena ini bukan bagian dari takdirku. Ini takdir papa. Dan itu sama sekali tidak bisa berubah. Aku hanya tidak menyangka akan secepat ini datangnya pengulangan itu.
Kuketuk pintu beberapa kali, mengucapkan salam, dan memutar pelan daun pintunya.
“Papa... ini Ree datang.” Ucapku sambil mendorong pintu lebih lebar.
Terlihat seseorang sedang duduk di kursi roda memandang keluar jendela. Ia membelakangiku. Ada perawat disampingnya.
“Siang Sus.” sapaku sembari menganggukkan kepala.
Perawat itu menoleh tersenyum.
“Pa...” panggilku pelan.
Perawat itu lalu memutar balik kursi roda papa.
Deg!
Aku terhenyak. Aku seperti tidak percaya dengan penglihatanku saat ini. Tidak kusangka kondisi papa akan seperti ini. Berbeda jauh dengan yang biasanya. Kutelungkupkan kedua tanganku menutup mulut. Berusaha menyembunyikan kekagetanku.
Papa...
Mulut yang biasa mengembangkan senyum bijaksana itu sedikit miring.
Jari tangan yang biasa mengelus kepalaku itu agak tertekuk.
Punggung yang dulu sering membopongku waktu kecil itu sekarang sedikit membungkuk.
Ethan mengelus punggungku, menenangkanku. Namun aku masih bergeming, tidak bergerak.
Ethan dengan cepat paham akan keterkejutanku. Jadi dia memilih untuk berjalan kearah papa, meninggalkanku yang masih berdiri setengah shock.
Ethan lalu memegang tangan papa dan menciumnya.
“Aku datang om. “ Ucap Ethan sambil tersenyum pada papa.
Tapi tidak ada respon lebih dari papa. Papa hanya mampu melihat Ethan tanpa bergerak satu inci pun.
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali berusaha mengembalikan kesadaranku yang sempat melayang waktu melihat kondisi papa pertama kali tadi.
Sadar Ree! Kau tidak bisa seperti ini. Papa tidak boleh melihatmu terpukul, itu akan menambah beban dihatinya. Aku membatin dalam hati.
Kuputuskan untuk menarik sebuah kursi, menyeretnya sampai tepat didepan kursi roda papa, lalu menggenggam tangan papa erat.
“Bagaimana keadaan Pak Doni, Sus?” tanya Ethan mewakili pertanyaan dalam kepalaku.
“Pak Doni terserang stroke pak. Gejalanya lumayan berat. Pak Doni agak susah menggerakkan anggota tubuhnya. Belum bisa berjalan, juga mengangkat tangannya. Berbicara juga masih belum bisa. Tapi bisa sembuh kok pak. Asal tetap rutin minum obat dan terus latihan menggerakkan badannya.” Jelas perawat itu melihat Ethan.
“Baik Sus. Saya mengerti.”
“Kalau begitu saya permisi dulu pak. Nanti bapak bisa memanggil saya kembali kalau urusan bapak sudah selesai. Saya ada diruangan kedua setelah kamar ini, sebelah kiri.” Ucap Perawat itu sambil berlalu dan menghilang dibalik pintu.
Ethan mengangguk tipis kearahku. Ia lalu mundur dan duduk ditepi ranjang. Memberiku ruang untuk berbicara pada papa.
Aku menatap papa lekat.
“Pa... Ree sudah membawa Ethan pulang. Mulai sekarang papa tidak perlu khawatir. Ree sudah ada temannya. Ree tidak sendiri lagi.” Suaraku tertahan, kutarik nafasku dalam.
“Masalah mas Anton dan Siska, Ree tahu papa pasti sudah lama curiga pada mereka. Tapi papa tidak usah memikirkan itu lagi, Ree bisa mengatasi semuanya.” Kugigit bibir bawahku. Mati-matian kutahan agar air mataku tidak menetes.
“Lalu masalah perusahaan, Ree berencana akan mengajukan diri sebagai Direktur Utama. Ree sudah melihat komposisi sahamnya. Ree hanya perlu dukungan dari Frederika. Sebenarnya... Ree masih mencari tahu dimana Frederika berada. Tapi papa tidak perlu khawatir, Ree pasti akan mendapatkan orang itu dan meyakinkannya.”
“Aahhuwaakhayhuunaa” papa berusaha berbicara seperti ingin menyampaikan sesuatu.
“Tidak papa.” Kucium tangan papa.
"Papa tidak perlu memberi tahu apapun. Ree pasti bisa pah. Ree anak dari mama yang hebat dan papa yang luar biasa. Ree pasti bisa menemukan Frederika dan menjadi Direktur Utama selanjutnya. Ree pasti bisa bebaskan papa dari semua tuduhan. Saat papa sembuh, Ree pastikan saat itu juga papa akan pulang kerumah. Ree janji pah. Doakan Ree...” kutundukkan kepalaku dipangkuan papa. Air mataku menetes deras lewat sudut mataku.
Setelah ini aku tidak akan menangis lagi pah. Aku akan berusaha melakukan semuanya sampai titik darah terakhirku. Tunggulah pah. Akan kupastikan mas Anton dan Siska mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatan mereka. Aku akan mengembalikan semuanya kepada mereka berdua apa yang sudah papa rasakan, kesakitan, kekecewaan, kepedihan, keterpurukan... berkali-kali lipat. Aku bersumpah!
.
.
***
.
.
Aku melangkahkan kakiku keluar rumah sakit dengan tekad yang lebih bulat. Ethan sedikit tergesa menyeimbangi langkah cepatku.
Dari jauh aku bisa melihat Juki yang tengah bersandar santai disisi samping mobil. Saat melihatku datang, Juki buru-buru masuk ke mobil dan menyalakan mesinnya.
“Kau kenapa sih buru-buru begini” tanya Ethan menoleh ke kursi belakang melihatku yang tengah memasang sabuk pengaman.
Alih-alih menjawab Ethan aku malah melihat Juki “Aku mau pergi ke beberapa Mall, Ki. Tapi kita mulai dari yang paling dekat dari sini.”
“Baik bu.” Jawab Juki sambil menyetir keluar dari parkiran rumah sakit.
“Kau belum menjawabku Ree.” Ethan kembali menoleh ke belakang. “Lalu, kau mau apa ke Mall?”
Aku menunjukkan jam tanganku diwajah Ethan dan menepuk pelan kaca bulatnya.
“Aku tahu Ree ini sudah jam 1 siang. Lalu?”
“Masih banyak waktu Ethan.”
“Untuk?”
“Belanja.”
“Untuk?”
Aku memutar bola mataku. “IBU DIREKTUR butuh baju baru Ethan. Biar bisa melibas musuh bebuyutannya dengan cara yang elegan.”
Ethan kembali membalikkan badannya ke depan, menyandarkan kepalanya ke kursi.
“Aku tunggu dimobil saja yah, ibu Direktur.”
“Tidak bisa.”
“Hah? Kenapa?”
“Kau harus menemaniku.”
“Kenapa harus?”
“Karena harus ada yang membawakan belanjaanku.”
“Kalau aku tidak mau?”
“Harus mau.”
“Kenapa?”
“Karena baru tadi pagi kau bilang akan melakukan apapun untukku. Apapun Ethan. Semua mauku. Bersyukurlah karena aku tidak menyuruhmu melompat ke danau.”
Ethan terdiam sejenak...
Lalu tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha. You got me, Ree.”