LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 24 A



Siska kembali mengganti air kompresan didahi Anton. Ini sudah yang kesekian kali sejak tadi malam. Siska memang memutuskan tidak membawa Anton ke rumah sakit. Bukan karena dia tidak mau, tapi Anton melarangnya. Anton takut jika sudah masuk rumah sakit dan di infus, akan susah untuk pulang kalau lukanya belum sembuh. Sementara rapat akan diadakan sebentar lagi. Menjadi hal yang sangat sia-sia saat usaha mereka tinggal selangkah lagi, tapi pada akhirnya Anton tidak bisa menghadiri rapat. Tentu dia tidak akan membiarkan itu terjadi.


Siska cukup letih hari ini. Menjaga Anton semalaman benar-benar menguras tenaganya. Anton demam, mengigau dan sesekali masih meringis kesakitan.


Seketika badan Siska gemetar, tangannya menyilang didada. Ia meremas kedua bahunya berusaha menenangkan degub jantungnya.


Mengingat keberingasan Ethan dan Juki kemarin seakan mengingatkannya kembali pada kegilaan ibunya.


Ia tidak menyangka Ree akan berbuat sejauh itu. Perempuan bodoh sialan itu benar-benar sudah gila.


Ethan dan Juki bahkan membuat beberapa persendian Anton nampaknya sedikit bergeser. Nyatanya tulang lutut Anton agak menonjol dan membuatnya tidak bisa berjalan. Kemarin sore Siska bahkan harus pergi membeli kursi roda untuk Anton. Tindakan Ree kemarin betul-betul merepotkan dirinya.


Sejujurnya nyali Siska sedikit menciut melihat kenekatan Ree. Ree memang cukup berani kemarin. Tapi bagi Siska, Ree tetaplah perempuan bodoh. Dia terlalu percaya diri akan berakhir menjadi pemenang dan tetap mengikuti semua persyaratan yang diajukan Anton.


Hah! Omong kosong! Buat Siska memutuskan untuk tidak bertemu dengan pak Han dan memajukan jadwal rapat, tentu merupakan satu keuntungan tersendiri untuknya dan Anton. Paling tidak posisi mereka sekarang satu langkah di depan Ree.


“Sis...” ucap Anton lirih membuyarkan lamunan Siska.


“Ya mas. Mas sudah bangun? Apa yang mas rasa?” Siska memegang tangan Anton.


“Masih sakit, Sis. Tapi sudah lumayan dibanding semalam. Sialan mereka.” Anton mengumpat sembari mencoba untuk duduk. Siska membantunya.


“Mas benar sudah baikan?"


"Ya Sis." Anton mengangguk.


"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang mas?"


Anton menghela nafas panjang. “Tetap pada rencana awal kita. Tidak ada yang berubah. Aku tetap akan pergi besok meski harus pakai kursi roda. Tidak ada yang bisa menghentikanku sekarang. Kita sudah melangkah lebih dari separuh jalan. Besok adalah puncaknya. Penentu keberhasilan usaha kita selama ini.”


“Lalu bagaimana dengan papanya Ree. Kamu tidak ingin membalas perbuatan mereka padamu, mas?”


“Jangan, Sis.” Anton menggeleng cepat. “Aku tidak menyangka Ree akan berbuat sejauh ini. Aku sungguh tidak mengenalnya sekarang. Dia berubah. Ancamannya kemarin tidak main-main. Kalau kita menyentuh papanya, entah kenapa aku yakin dia akan berbuat hal yang lebih buruk daripada kemarin.”


“Jadi, kamu takut padanya?” Siska menatap Anton tidak percaya.


“Bukan begitu, Sis.” Anton berkilah.


“Kamu yang aku khawatirkan. Kamu pikir setelah mantan suaminya sendiri bisa dia perlakukan seperti ini, lalu kamu tidak? Ree yang sekarang bukan lagi Ree yang kita kenal dulu, Siska. Dia tidak punya rasa belas kasihan lagi. Dia bukan lagi wanita yang ragu-ragu melangkah. Dia sangat percaya diri sekarang. Dia tidak lagi lemah seperti dulu.”


“Baiklah.” Siska menyandarkan bahunya dikursi. “Jadi kita tetap pada rencana awal kita?” Siska kembali memastikan.


“Ya, Sis. Kamu sudah menghubungi pak Han?”


“Sudah mas. Pagi tadi aku menghubungi Sekretarisnya memberitahukan kalau jadwal rapat akan dimajukan besok.”


“Lalu, sudah ada jawaban?”


“Ya mas. Tidak lama sebelum mas bangun aku sudah mendapat telepon dari sekretarisnya kalau pak Han sudah setuju. Ia akan hadir besok jam 10 pagi di kantor.”


“Bagus. Semua sudah berjalan sesuai rencana.” Ucap Anton menyandarkan kepalanya.


“Gawaiku mana, Sis?”


Siska berdiri mengambil gawai Anton di laci meja lalu memberikannya pada Anton.


Anton lalu menekan sederet nomor, melakukan panggilan telepon.


“Halo. Bagaimana situasi?”


“ .....”


“Baiklah. Jaga pak Doni baik-baik. Jangan sampai dia tergores sekecil apapun. Tetap pantau situasi. Langsung laporkan kalau terjadi sesuatu.”


“.....”


Anton mengusap layar gawainya, memutuskan sambungan telepon.


“Bagaimana mas?”


“Sejauh ini aman, Sis. Sudah tidak ada lagi yang harus kita lakukan sekarang. Kita tinggal menunggu hari esok tiba.”


Siska mengangguk tipis.


Benar ucapan Anton, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Semua usaha mereka sudah mencapai titik maksimal. Jadi yang bisa mereka lakukan sekarang hanya lah menunggu perputaran jarum jam berjalan untuk mereguh kesuksesan mereka.


.


.


****


.


.


Esok hari, Pukul 08.30.


Kantor, Ruangan Direktur.


Aku hilir mudik didepan meja kerjaku. Sesekali kulihat jam ditanganku. Sudah jam begini belum ada kabar dari Ethan.


Kuhempaskan badanku di kursi, memijat pelipisku. Kurang lebih satu jam lagi rapat akan dimulai. Ethan belum menampakkan batang hidungnya.


Tadi pagi-pagi sekali dia memang pamitan pergi mencari papa bersama Juki, karena Juki akhirnya telah mendapatkan informasi yang valid dimana papa berada. Sebetulnya sudah kubilang pada Ethan biarkan itu menjadi urusan Juki. Tapi Ethan bersikeras ingin pergi dan berjanji akan kembali tepat sebelum rapat dimulai.


Lihat sekarang! Mana janjinya?


Aku melongos kesal.


Mas Anton dan Siska bahkan sudah siap daritadi di ruang rapat. Sepertinya mereka sudah tidak sabar ingin menyaksikan hasil pemungutan suara hari ini. Harapan mereka benar-benar membumbung tinggi sampai dilangit ketujuh.


Sesuai yang tercatat di database perusahaan, Anton dan Siska memiliki 35% hak suara. Aku dan Ethan memiliki 45%. Sementara Frederika memiliki 20%. Jadi Frederika adalah penentu. Siapa yang dia pilih, itulah yang akan menjadi Direktur Utama selanjutnya.


Karena kalau dia memutuskan tidak memberikan suaranya, maka akulah yang akan terpilih sebagai Direktur selanjutnya berdasarkan besaran porsi kepemilikan sahamku dengan Ethan.


Biar bagaimanapun, aku tetap harus menjadi Direktur, apapun caranya. Selain dari awal semua ini adalah milikku, aku juga tidak punya pilihan lain. Jika ingin membebaskan papa dari penjara lalu melemparkan mas Anton dan Siska kejurang, maka aku harus menjadi Direktur Utama. Kenapa?


Karena baru tadi malam Ethan mengatakan padaku kalau penyelidikannya dengan pak Ren terkait kepemilikan saham mas Anton dan Siska mendapat sedikit hambatan.


Ethan dan pak Ren memang memiliki bukti kalau saham mas Anton dan Siska didapatkan secara ilegal, karena memang ada sebagian dokumen yang sudah palsukan. Namun yang menjadi pertanyaan mereka adalah bagaimana bisa pengesahan lembaran saham itu benar-benar ditandatangan dan mendapat stempel basah dari papa sendiri. Itu artinya papa telah menyetujui pengalihan saham pada mas Anton dan Siska.


Tapi aku yakin papa tidak mungkin melakukan itu. Apalagi tanggal papa bertandatangan hanya rentang waktu seminggu sebelum papa masuk penjara. Impossible! Saat itu papa bahkan sudah mencurigai mas Anton dan Siska. Jadi tidak mungkin papa akan menera tandatangannya di dokumen pengesahan saham mereka berdua.


Aku menduga mereka berdua pasti sudah mengutak atik ruang kerja papa di rumah.


Aku ingat, papa punya kebiasaan menyimpan beberapa lembar kertas kosong yang sudah tertera tandatangan dan stempel basahnya. Itu sebenarnya papa buat tujuannya agar ketika papa sedang bertugas di luar kota, sementara perusahaan membutuhkan surat keterangan atau pernyataan dari papa terkait persetujuan pelaksanaan proyek yang tidak bisa ditunda, maka kertas kosong itu lah yang nantinya akan diisi sesuai keperluan perusahaan.


Tapi tentu saja kebiasaan papa itu hanya aku dan pak Ren yang tahu. Mas Anton pun tidak pernah tahu itu. Papa bahkan menyimpan kertas kosong bertandatangan itu didalam brangkasnya di rumah. Saat memang diperlukan, Pak Ren biasanya hanya akan menghubungiku dan minta tolong untuk mengambilkan kertas itu, tapi tentu setelah sebelumnya aku mengkonfirmasinya pada papa.


Aku curiga Siska mungkin mengetahui tentang itu. Dia cukup lama menjadi sekretaris papa, tentu sedikit banyak dia tahu perihal kertas itu. Atau bisa jadi juga dia pernah mencuri dengar saat pak Ren meneleponku meminta kertas itu.


Kuat dugaanku kertas itu dicuri oleh mas Anton dan Siska dari ruang kerja papa di rumah. Karena masih lekat diingatanku, kurang lebih sebulan yang lalu saat aku mencari nomor telepon Ethan dirumah papa, bik Ida sempat mengatakan padaku kalau mas Anton dan Siska pernah datang ke rumah papa.


Saat itu aku tidak terlalu fokus dengan masalah kedatangan mas Anton dan Siska disana. Apa yang mereka cari atau apa yang mereka lalukan. Fokusku hanyalah kepulangan Ethan. Namun sekarang aku sadar, ternyata ini yang mereka lakukan. Menyempurnakan dokumen kepemilikan saham mereka. Luar biasa!


Jadi aku hanya berharap dalam pemilihan Direktur ini, keberuntungan ada di pihakku. Karena kalau mas Anton yang terpilih, agak sulit jalanku untuk menjatuhkan mereka. Aku memang punya rekaman video di gawai Nina tentang segala tindak tanduk mas Anton dan Siska, termasuk saat Siska mengatakan kalau mereka lah yang sudah menjerumuskan papa di penjara.


Ethan juga bahkan memiliki beberapa bukti tentang pemalsuan dokumen saham milik mas Anton dan Siska. Namun semua bukti itu menjadi lemah saat mereka memegang surat persetujuan pengalihan saham yang ditandantangani papa sendiri.


Aku tidak bisa mengkonfirmasi hal itu pada papa. Karena selain papa belum ditemukan, papa juga masih sakit belum bisa bicara. Satu-satunya cara adalah menjadi Direktur Utama secara utuh. Dengan begitu aku bisa memecat mas Anton dan Siska dari jabatannya sekarang atas dasar pemalsuan beberapa dokumen perusahaan dan secara resmi dapat mengajukan kekepolisan untuk menginvestigasi dan mengaudit secara menyeluruh data-data lembar saham milik mereka berdua.


Memang saat ini aku sudah menjadi Direktur sementara. Tetapi posisiku sekarang masih sangat terbatas. Hanya kecuali aku menjadi Direktur melalui pemilihan rapat pemegang saham lah maka kewenanganku bisa penuh, tidak terbatas. Dan aku harus mendapatkan itu.


Tok, tok, tok!


Aku sontak menoleh kearah pintu.


Kuhela nafas lega. Syukurlah Ethan sudah datang.


“Ya masuk.” Jawabku.


Pak Rendra muncul dari baliknya.


Aku mengernyit melihat pak Ren untuk kemudian menghela nafas panjang. Ada sedikit rasa kecewa dihatiku, kupikir Ethan yang datang.


“Maaf, sepertinya Nona agak kecewa melihat siapa yang datang.”


Aku tersenyum,


“Maaf pak Ren. Sejujurnya saya berharap tadi Ethan yang datang. Pak Ren lihat lah ini sudah jam berapa. Setengah jam lagi rapat akan dimulai. Saya daritadi menelepon Ethan tapi dia tidak menjawab panggilanku. Entah apa yang sedang dia lakukan sekarang.”


“Ya Nona Ree. Ini yang ingin saya beritahukan pada Nona.”


“Kenapa pak Ren?”


“Sebenarnya pak Ethan kemarin sudah berpesan pada saya, kalau sudah tiba waktu pembukaan rapat dan dia belum datang, dia ingin memberikan ini untuk rapat nanti.” Pak Ren menunjukkan amplop cokelat ditangannya.


“Itu apa pak Ren?” tanyaku bingung.


“Suara pak Ethan. Pilihannya.”


“Apa?!” refleks aku berdiri memukul meja.


“Ethan tidak datang? Dia hanya menitipkan suaranya? Kenapa? Dia merencanakan ini? Apa maksudnya?”


“Tenang dulu Nona.” Ucap pak Ren tersenyum kalem.


“Pak Ethan bukan berniat tidak datang. Dia memberikan saya amplop ini hanya untuk jaga-jaga kalau seandainya ada kejadian tiba-tiba, atau kejadian diluar dugaan yang menyebabkan dia tidak bisa datang, maka dia tetap bisa memberikan suaranya di rapat pemilihan. Dan saya pikir sepertinya dia punya hambatan sekarang sampai benar-benar tidak bisa datang.”


“Tunggu sebentar.” Kuangkat sebelah tanganku pada pak Ren.


“Biar saya coba meneleponnya lagi.” Jariku mencari nama Ethan dilayar gawai,


menyambungkan telepon.


“Halo.” Jawab Ethan diseberang telepon.


“Ethan kau dimana sekarang! Kenapa belum datang? Cepatlah! Rapat sebentar lagi akan dimulai. Aku menunggumu daritadi!”


“Maaf Ree, tidak bisa. Sudah kutitipkan suara resmiku pada pak Ren. Dia akan menjelaskannya padamu.” Suara Ethan sedikit tersengal.


“Apa maksudmu? Kau sedang apa? Dimana? Kenapa ribut sekali disana?”


“Sorry Ree. Aku agak sibuk!”


Diujung telingaku terdengar suara seperti balok kayu dipukulkan ke badan, ada juga seperti suara dentingan logam saling beradu. Beberapa kali terdengar orang yang sedang meringis dan mengadu kesakitan.


“Kau berkelahi Ethan? Kau sedang apa?


Tut tut tuut.


“Ethan?”


Tut tut tuut.


“Ethan?”


Tut tut tuut.


“Ethan!”


Kulihat layar gawaiku, panggilan terputus.