LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 16



Bruk!


Seketika aku jatuh terduduk.


Aku ambruk. Lututku lemas. Badanku seakan tidak bertulang. Kepanikan dan ketakutanku pada mas Anton tadi benar-benar menguras tenagaku.


Tanpa tedeng aling-aling Ethan langsung menggendongku menjauh dari mas Anton dan Siska. Mendudukanku dilantai, bersandar ke dinding.


“Tunggu disini Ree, kuurus dulu pengecut sialan itu.” Ucap Ethan sembari berlalu menuju mas Anton kembali.


Mas Anton langsung berdiri saat melihat Ethan menuju kearahnya.


“Aku tidak perlu penjelasan Anton. Semua yang terpampang saat ini kurasa sudah sangat mewakili jawaban dari semua pertanyaanku. Jadi... pergi kalian berdua dari sini!”


“Tidak Ethan! Kau tau tak punya hak mengusirku dari sini. Ini rumahku!”


“Rumah?” Ethan bersedekap. “Dari sisi mana kau bilang ini rumahmu, hah? Aku yang disuruh om Doni mencarikan Ree rumah untuk ditinggalinya selepas menikah.


Dan aku juga yang mengurus semua surat-suratnya. Jadi aku tahu persis rumah ini milik siapa.”


“Jangan sombong Ethan! Ree masih isteriku. Ini masalah internal kami. Kau tidak berhak ikut campur!”


Alih-alih menjawab ucapan mas Anton, dengan langkah lebar Ethan mendekati mas Anton dan menarik kerah bajunya.


“Jangan menguji kesabaranku Anton. Selagi aku masih waras, pergilah baik-baik bersama kekasih busukmu itu. Kau tahu kan, sampai sejauh ini aku masih bisa menahan diri hanya karena ada Ree yang melihat. Kalau tidak, sudah dari tadi aku membunuhmu.” Ethan mendorong mas Anton.


Mas Anton terhuyung ke belakang. Menatap Ethan tajam, mengepalkan tangannya. Nampak amarahnya membuncah. Bisa kutebak harga dirinya terluka. Tapi siapa peduli. Toh itu konsekuensi dari pilihannya sendiri.


Mas Anton tetap bergeming. Ia lalu kembali melangkah maju hendak melayangkan pukulannya pada Ethan.


Tangannya sudah terangkat hampir sampai diwajah Ethan saat tiba-tiba Juki muncul dan menahan tangan mas Anton.


“Sudah cukup. Daritadi saya hanya diam mengawasi karena saya pikir ini urusan pribadi ibu Ree. Tapi sekarang anda sudah melampaui batas.” Ucap Juki pada mas Anton.


Ethan mundur beberapa langkah membiarkan mas Anton bergelut dengan Juki.


“Sialan kau! Cuma sopir, belagu kau! Aku membayarmu! Lepaskan!” mas Anton menarik kasar tangannya. Sia-sia. Cengkraman Juki lebih kuat.


Dengan lengan kekarnya ia lalu menyeret mas Anton dan Siska menuju pintu keluar.


“Lepas sialan! Aku majikanmu! Patuhi perintahku!” Teriak mas Anton membabi buta.


“Maaf. Tapi saya tidak bekerja pada Anda.” jawab Juki acuh tetap menyeret mas Anton dan Siska yang berjalan terseok-seok mengikuti langkahnya.


“Aku tidak akan menceraikanmu Ree! Tidak akan! Ingat itu Reenata!” teriak mas Anton tepat diambang pintu, menudingkan jarinya padaku, lalu menghilang.


Kuhela nafasku dalam, menyandarkan kepalaku didinding. Mencoba mencerna semua yang sudah terjadi hari ini. Rasanya seperti melihat putaran cepat dari sebuah film dan telah mencapai klimaksnya.


Kuremas kedua tanganku.


Tidak apa-apa. Semua yang terjadi hari ini cepat atau lambat pasti akan tiba. Bukankah selama ini aku sudah mempersiapkan hatiku, mentalku, dan jiwaku untuk menghadapi datangnya hari ini. Jadi aku pasti akan baik-baik saja. Aku menguatkan hati.


.


.


****


.


.


“Kau baik-baik saja Ree?” tanya Ethan menatapku lekat.


“Hu’um.” aku mengangguk memeluk kedua lututku.


Kami berdua sedang duduk selonjoran diberanda samping rumah, memandang lepas langit malam.


“Ini dadaku.” Ucap Ethan sambil menepuk dada bidangnya.


“Untuk?”


“Kali saja kau ingin menangis sesenggukan meratapi kelakuan pria brengsek tengik itu.”


“Hiishh!” aku memukul pundak Ethan.


“Hahaha. Bercanda Ree. Kau sih daritadi hanya diam. Aku takut kau kesurupan tahu.”


Aku mendelik, “Ethan! Hissh!"


“Hahaha. Sorry Ree.” Ethan menyapu rambutnya, menghela nafas dalam. “Tapi kau benar tidak apa-apa?”


Aku kembali menengadah langit, “Hmm... dibilang tidak apa-apa sebenarnya tidak juga. Aku hanya bingung harus bagaimana.”


“Sejak kapan kau tahu?”


“Apanya?”


“Perbuatan mereka. Maksudku, kau tahu Ree, normalnya orang yang mengalami kejadian seperti ini akan mengalami shock ringan, menangis berhari-hari, menghabiskan banyak tisu, tidak makan, tidak tidur, akan mengurung diri dikamar, sedikit depresi, berantakan, kacau, dan setelah melewati semua itu dia baru bisa bangkit.


Tapi lihatlah kau sekarang! Kau baik-baik saja. Kau tidak menangis. Kau bahkan merespon semua yang terjadi sekarang ini seakan itu hal yang biasa. Jadi sebenarnya hanya ada dua kemungkinan, kau sudah mengetahuinya sejak lama. Atau .... Kau seorang pysco Ree.” Ethan menatapku bergidik ngeri.


“Hisssh!” aku kembali memukul pundak Ethan. “kau keseringan nonton film apa sih?”


“Hahaha. Filmnya bik Ida.” Ethan nyengir.


Aku menghela nafas dalam, “pernah Ethan. Semua itu pernah kualami. Sudah kulewati. Kesakitan yang paling sakit sudah pernah kurasakan. Kekecewaan, kepedihan, semua sudah pernah kulalui. Aku sudah pernah hampir mati Ethan, lalu aku berdiri kembali. Banyak darah dan air mata yang harus kuinjak untuk sampai di titik ini.”


Ethan mengelus dagunya seperti sedang memikirkan sesuatu. “Baiklah. Kau bisa bercerita padaku. Kau ingin memulainya darimana, terserah. Aku mendengarkan.”


“Aku tidak tahu harus memulai darimana Ethan. Semua yang sudah kulalui sangat panjang dan melelahkan.”


“Kau bisa bercerita dari hal yang pertama kali terlintas dipikiranmu saat ini.”


Kutengadahkan kepalaku menghadap langit, memejamkan mataku sejenak, mengingat-ingat kembali semua kejadian yang pernah kuhadapi.


“Tentang hubungan Mas Anton dan Siska... Entahlah. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa.” Kuputuskan memulai ceritaku dari situ.


“Perselingkuhan?”


“Tidak Ethan. Bukan itu.”


“Maksudmu? Mereka sudah jelas bermain dibelakangmu. Suami dan sahabatmu. Apalagi sebutan yang lebih pantas daripada perselingkuhan?”


“Bukan Ethan. Tidak seperti itu.


Bagiku selingkuh itu ketika kita pernah saling mencintai, lalu perasaan pasangan kita berkurang dan akhirnya berpindah ke orang lain. Lalu dia lebih memilih orang lain itu dibandingkan kita. Ia memilih meninggalkan kita, itu namanya selingkuh.” Kuhela nafasku dalam.


“Kasusku berbeda Ethan. Sejak kami berpacaran sampai kami menikah, semuanya itu hanya sandiwara. Pura-pura. Palsu. Mas Anton tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah memilihku. Sejak awal pilihannya adalah Siska. Dari pertama dia memang hanya mencintai Siska. Dan rasa cintanya itu tidak berubah sampai saat ini.”


Ethan menghela nafasnya kasar, “Baiklah, aku paham. Itu memang tidak bisa seratus persen disebut perselingkuhan. Tapi yang jelas itu seribu kali jauh lebih buruk. Harusnya kupatahkan saja tadi tangannya. Toh itu tidak sebanding dengan rasa sakitmu.


Tapi... tunggu dulu! Mengapa mereka melakukan semua ini? Maksudku aku sudah tahu mereka merencanakan banyak hal. Merebut perusahaan termasuk menjebak om Doni. Kau sudah menjelaskan secara singkat ditelepon. Tapi kupikir itu karena akibat perselingkuhan mereka lalu mereka jadi gelap mata. Kau tahulah seperti cerita di film-film yang biasa di nonton Bik Ida.” Ethan mengedikkan bahunya.


“Lalu kalau mereka berdua sudah merencanakannya sejak awal, bahkan sudah sejak Anton berpacaran denganmu, lantas alasan apa yang mereka punya?”


“Itu lah yang sekarang lagi kucari tahu Ethan. Langkahku sudah setengah jalan sebenarnya. Tinggal sedikit lagi. Aku hanya tinggal butuh informasi daripada papa. Tapi...” ucapanku tertahan.


“Tapi? Apa? Om Doni kenapa Ree?”


“Papa sakit. Sudah sejak kemarin. Aku baru tahu siang tadi.”


“Hah? Sakit apa Ree? Bagaimana bisa?”


“Serangan stroke. Aku belum tahu keadaannya sekarang bagaimana.”


“Apa?! Kenapa? Apa petugas lapas tidak mengabarkan apapun?


Ethan mengacak rambutnya, lalu menatapku lekat. “Maaf Ree, aku sungguh tidak tahu. Semua salahku. Harusnya aku tidak pergi jauh.”


“Tidak Ethan.” Aku menepuk bahunya. “Kau sudah berusaha kembali secepat yang kau bisa. Aku tahu kau masih dipesawat waktu itu. Itu bukan salahmu.”


“Terimakasih Ree.” Ucap Ethan dalam. “Lalu, bagaimana dengan Anton? Apa dia tidak memberitahumu?”


Aku menghela nafas dalam, “Tidak sama sekali.” kukepal tanganku. Emosiku serasa naik kembali.


“Mengapa Ree?


"Aku tidak tahu." Suaraku tertahan.


Ethan menggelengkan kepalanya, "Maksudku aku tidak mengerti kenapa dia tidak memberitahu keadaan papamu. Mengapa dia melakukannya? Apa yang ingin dia sembunyikan?”


“Aku tidak tahu Ethan! Aku sungguh tidak tahu!" Kuremas kedua tanganku berusaha menahan emosi.


"Kau pikir mengapa aku memilih berperang secara terbuka? Memilih langsung pulang kerumah ketimbang berlari melihat keadaan papa, hanya untuk menumpahkan sumpah serapahku pada pria brengsek itu?" Nafasku memburu.


"Dia memancingku Ethan! Kesabaranku sudah sampai pada batasnya! Dia tahu papaku sakit. Dia bahkan ikut dengan petugas membawanya ke rumah sakit. Dan dia... Dia tidak memberitahuku sama sekali. Dia menyembunyikannya semua itu dariku hanya agar rencananya berjalan mulus. Hanya supaya aku kalah dan bisa hancur sehancur-hancurnya. Aku tidak tahu manusia macam apa dia.” kugigit bibir bawahku menahan gejolak didadaku.


“Maksudku, aku bisa mengerti kalau dia tidak mencintaiku. Aku mengerti kalau dia menghianatiku dan bermain dengan sahabatku sendiri. Aku juga mengerti kalau dia mati-matian ingin merebut perusahaan. Aku pun mengerti dia ingin merebut apapun milik keluargaku dan ingin menghancurkannya.


Tapi Ethan... aku tidak paham kenapa dia bisa melangkah sampai sejauh ini.” Badanku bergetar.


“Itu papaku Ethan! Papa yang sudah memberikan dia segala-galanya! Memberikan dia gelimpangan harta dan jabatan. Papa yang sudah menyerahkan anak perempuan satu-satunya. Anak yang dinanti-nantikannya selama duabelas tahun! Anak yang lahir dengan mengorbankan nyawa ibunya! Papa yang sudah menyerahkan anak perempuannya itu Ethan. Papa yang sudah menerima ijab kabulnya enam tahun lalu. Dia bahkan berjanji pada Tuhan!


Coba lihat aku ethan. Jawab aku. Apa dia masih manusia? Apa tidak ada hati nuraninya barang secuil? Aku tidak minta banyak Ethan! Tidak mengapa dia menghancurkan aku. Sepuluh kali, seratus kali, seribu kali. Terserah sebanyak apapun sampai dia puas. Aku masih bisa berdiri kembali. Aku bahkan bisa melewati kematian saat mereka akan membunuhku!


Tapi papaku Ethan...


Dia sudah tua. Sudah tidak seharusnya dia mengalami semua ini. Hidupnya sudah cukup berat sejak kematian mamaku. Dan sekarang dia harus mengalami ini... aku tidak terima Ethan. Aku tidak terima... ”


Kutelungkupkan tanganku dimuka, menahan semua amarah, kekecewaan, kepedihan dan kesakitanku.


Ethan memelukku. Badanku bergetar.


“Lepaskan lah Ree. Jangan ditahan lagi. Kau sudah sangat kuat selama ini. Bagilah rasa sakitmu itu. Ada aku Ree. Selalu."


Pertahananku hancur. Tangisku pecah. Rasanya semua perasaan yang mati-matian kutahan sampai saat ini meledak. Kutumpahkan segala emosiku, amarahku, sakit hatiku, dendamku, kebencianku. Semua yang sampai saat ini kupendam dan kurasakan seorang diri.


Aku menangis sepuas-puasnya.


.


.


****


.


.


“Ini minum dulu.” Ethan menyerahkan air yang baru saja dibawanya dari dalam saat tangisanku telah reda.


Aku meneguknya hingga tandas.


“Sudah enakan?”


Aku mengangguk.


"Benar sudah tidak apa-apa?"


Aku kembali mengangguk.


“Besok kita jenguk papamu yah. Papamu orang yang kuat Ree. Aku mengenalnya sejak dulu. Dia tidak akan kenapa-napa."


Aku mengangguk.


“Papamu akan baik-baik saja Ree. Aku yakin itu.”


“Ya Ethan. Aku tahu.” jawabku lemah.


“Oiya mana untamu?”


“Unta?”


“Yang tadi Ree. Gantungan kunci.”


“Oh iya ini.” Aku merogoh saku celanaku dan memberikan gantungan kunci itu pada Ethan.


“Tidak. Kau simpan itu. Itu punyamu. Aku juga membawakanmu sesuatu yang lain. Tunggu disini.” Ethan lalu beranjak meninggalkanku.


Selang beberapa menit ia kembali lagi dengan menyeret koper besarnya. Ia lalu mengeluarkan sebuah boneka berbentuk unta dari dalamnya dan menyerahkannya padaku.


“Unta lagi?” aku menaikkan alisku sebelah sembari mengambil boneka itu.


“Hahaha. Kau mau apa Ree?”


“Hmmm..." Aku berpikir sejenak. "Kau bilang akan membawakanku kurma. Mana?”


Ethan kembali mengacak isi kopernya dan mengambil sebuah bantal kecil berbentuk kurma.


Aku mengambil bantal itu dan mendekapnya. “Lalu pohonnya mana?” tanyaku iseng.


Ethan lalu mengeluarkan sebuah miniatur pohon kurma.


Aku menatapnya takjub. Dia benar-benar membawakanku pohon kurma. “aku ingin pohon yang lain Ethan.” Aku mulai meracau.


Ethan lalu kembali mengeluarkan empat miniatur pohon kurma lainnya dengan bentuk yang berbeda-beda. Menjejerkannya dihadapanku. Total ada 5 pohon.


“Kau mau pilih yang mana terserah padamu tuan puteri.”


Aku melotot tak percaya menahan senyumku. “Tidak Ethan. Aku ingin kurma yang lain. Kurma yang bisa dimakan.”


Ethan lalu membuka resleting dasar kopernya dan mengeluarkan tiga box kurma.


“AHAHAHA” kali ini tawaku benar-benar pecah.


“Aku takjub kau sungguh-sungguh membawakanku semuanya. Luar biasa. Hahaha.”


“Kau mau apa, koper ini akan mewujudkannya Ree.” Ucap Ethan sambil menepuk-nepuk koper itu.


“Hahaha. Tidak Ethan. Sudah cukup. Kau luar biasa hari ini.” Aku memegang perutku menyelesaikan sisa tawaku.


"Serius kau tidak ingin apapun lagi?"


"Haha sudah Ethan. Sudah cukup." Aku menyeka setetes air disudut mataku.


Ethan kembali duduk disampingku. Menyandarkan tubuhnya didinding.


“Aku senang melihatmu tertawa, Ree.” Ucap Ethan menerawang melihat langit.


Aku terdiam.


“Dan...” Ethan menggantung ucapannya, “terimakasih Ree. Kau sudah menyelamatkanku.”


Aku menoleh pada Ethan. Menatapnya bingung. Aku tidak mengerti dengan ucapannya.


“Liontinmu Ree, sebelumnya dia berwarna putih. Tapi sekarang warnanya sudah berubah. Ungu itu warna yang cantik.”


Refleks aku memegang liontin dileherku. Aku menatap Ethan dalam. Bagaimana bisa dia tahu kalau liontinku berubah warna.


“Hahaha. Aku tahu apa yang kau pikirkan Ree. Aku bisa lihat itu dari matamu.” Ucap Ethan sembari kembali menengadah ke langit.


“Bersabarlah Ree. Suatu saat akan tiba masanya akan kujelaskan semuanya padamu. Tapi tidak sekarang. Bukankah akan banyak hal yang harus kita lakukan mulai saat ini?”