
Nafasku memburu, jantungku berdetak cepat, putaran dan lemparan yang baru saja kurasakan akhirnya berhenti. Perlahan-lahan sinar yang menyakitkan itu mulai redup dan menghilang. Susah payah aku mengembalikan kesadaranku.
Badanku gemetar, kepalaku pusing, isi perutku teraduk-aduk seperti mendesak ingin keluar. Aku betul-betul tidak mengerti apa yang baru saja kulalui. Rasanya seperti naik rollercoaster, hanya saja yang ini 100 kali lebih menakutkan.
Tapi tidak apa-apa. Setidaknya aku tahu, aku masih hidup.
Butuh waktu 15 menit lamanya aku diam mematung sebelum akhirnya aku memberanikan diri membuka mata. Beberapa kali aku mengerjap mencoba mengembalikan fokus penglihatanku.
Hal pertama yang kulihat adalah aku tidur disebuah ranjang besar. Ruangan itu berwarna putih. Ada lemari besar memanjang disudut ruangan, ada meja rias, ada hiasan vas bunga keramik yang diletakkan langsung diatas lantai bermarmer putih, dan... foto pernikahanku.
Hah? Tunggu sebentar!
Aku memperhatikan kembali ruangan itu.
Seketika aku sadar, ini kan kamar tidurku. Bagaimana bisa?
Aku mengangkat tanganku, memiringkan badanku, menggerakkan ujung kakiku, mencoba berbicara.
Bisa. Aku sembuh?
Aku bangun dan duduk ditepi ranjang. Lama aku terpaku, berusaha memahami apa yang baru saja kualami.
Sesaat kemudian aku berdiri berjalan mondar-mandir mengitari ruangan.
Bagaimana bisa aku tiba-tiba sembuh dan berada dikamarku sendiri? Apa aku mimpi? Kalaupun mimpi bagaimana bisa mimpi itu terasa lekat menempel diingatanku, sangat nyata. Aku bahkan mengingat setiap detail yang terjadi.
Aku memejamkan mata, berusaha mengingat hal terakhir yang kualami. Mimpiku... saat itu nafasku hampir habis, lalu aku mendengar suara, mengucapkan sebuah permohonan, dan ...
Liontinku! Mana liontinku.
Aku mengitari ranjangku, mencarinya dibawah bantal, selimut, disudut-sudut seprei, dibawah ranjang. Nihil. Liontin itu tidak nampak. Kemana benda itu?
Seketika aku teringat tempat dimana aku biasa menyimpannya. Mungkinkah ada disitu?
Aku berdiri, membuka lemari, mencari sebuah kotak di sudut tumpukan bajuku.
Dapat! Ini dia. Aku membukanya.
Prang!
Kotak itu jatuh dari tanganku. Nafasku tertahan, aku tidak percaya apa yang kulihat.
Ungu? Liontin ini berwarna ungu? Aku meraih kembali liontin itu dengan tangan bergetar, menatapnya dengan seksama. Benar berwarna ungu.
Aku terduduk di lantai mencoba mencerna apa yang baru saja kulihat.
[[ Liontin itu akan berubah warna ketika dia telah memenuhi keinginan pemiliknya ]]
Pesan oma seketika terngiang-ngiang dikepalaku. Lama kutatap liontin itu. Apa permohonanku dikabulkan? Apa liontin ini sudah memenuhi keinginan terakhirku? Apa...
“Sayang, kamu sudah bangun?
Aku terperanjat, hampir melompat. Mas Anton tiba-tiba saja sudah berdiri didepanku. Aku tidak sadar kedatangannya. Mataku sedikit membesar melihatnya. Buru-buru aku berdiri dan mundur beberapa langkah. Mau apa penjahat ini dikamarku.
“Ree, kamu kenapa sayang? Lihat mas kok kayak lihat hantu?” tanya mas Anton tampak bingung.
Jantungku berdegub cepat, badanku sedikit gemetar.
“Tidak! Jangan mendekat!” aku setengah berteriak. Tanpa sadar refleks aku meresponnya seperti sedang menghadapi musuh. Yang benar saja! Baru beberapa jam lalu dia mencoba membunuhku!
Mas Anton sedikit memiringkan kepalanya, bingung, “Ree... kamu kenapa sih sayang?”
“Mas mau apa kesini?” tanyaku waspada.
“Mau apa? Ya bangunin kamu lah sayang. Kamu terlalu lama tidurnya. Kamu ngigau yah?” mas Anton tersenyum.
Aku menyilangkan kedua lenganku didada. Memilih diam mematung, mencoba untuk tenang. Otakku berpikir cepat berusaha memahami apa yang sedang kualami sekarang.
Tenang... tenang.... aku harus menghadapinya hati-hati. Aku tidak boleh terlihat aneh. Sedapat mungkin semuanya harus nampak seperti biasa saja.
“Mas, ini hari apa?” tanyaku akhirnya.
“Hari apa? Kamu lupa sayang? Ini hari Selasa. Besok sidang terakhir pembacaan putusan papa. Kemarin kita sudah berencana kan mau menjenguk papa hari ini.”
Deg!
Sidang putusan akhir? Aku semakin bingung. Ada apa ini? Sidang putusan papa kan sudah berakhir 1 bulan yang lalu! Bagaimana bisa sidang itu diadakan besok? Hari apa ini?
Apa mungkin ... Tidak! Tunggu... aku tidak boleh terlalu cepat menyimpulkan. Aku harus menyusun puzzle mimpiku satu persatu.
Tiba-tiba aku teringat anakku yang belum sempat kulihat wajahnya. Bayiku... Masih jelas diingatanku, aku harus melahirkannya diumur kandunganku yang masih 8 bulan. Lebih tepatnya terpaksa melahirkan.
“Mana bayiku mas?” tanyaku memastikan.
“Bayi? Mas Anton mengerutkan alisnya. “kamu bicara apa sih sayang? Kita kan sedang program sekarang.
Perasaan cemas mulai melandaku, “Belanda. Bukannya kita pernah program kehamilan disana?”
“Iya sayang. Tapi kan kamu sendiri tahu program itu tidak berhasil.”
Lututku lemas. Tolonglah... Ada yang bisa jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi.
“kamu kenapa sih sayang. Kamu sedikit aneh pagi ini. Kamu mimpi apa sih semalam?”
Aku menggeleng lemah. Berusaha menarik sudut bibirku, tersenyum.
“Baiklah.” Mas Anton berdiri. “kalau sudah enakkan kamu langsung mandi yah. Kamu bangun kesiangan tahu. Kita bisa telat nanti menjenguk papa. Mas sudah buatkan sarapan, sebelum berangkat kita makan dulu nanti. Mas tunggu kamu di luar yah sayang.”
Aku mengangguk.
Mas Anton mengecup keningku lalu melangkah menghilang dibalik pintu.
Seketika tubuhku melorot ke bawah.
Lemas. Kepalaku sakit. Aku ingin pingsan. Perasaanku kacau balau.
Bingung apa yang harus kulakukan selanjutnya. Bagaimana caraku memastikan apa yang telah terjadi? Kuputar otakku.
Gawai! Aku harus melihat gawaiku. Pertama-tama aku harus memastikan ini hari apa. Mataku mengitari ruangan mencari. Kulihat benda itu tergeletak di samping bantal. Dengan gerak cepat aku meraihnya, membuka layarnya, melihat tanggal.
Deg!
Benar! Ini 1 bulan yang lalu. Aku membuka pesan-pesan masuk, riwayat telepon, bahkan galeri fotoku. Lama aku melihat-lihat isinya.
Benar! Aku tidak pernah hamil. Tidak ada satu pun tanda yang membuktikan kalau aku pernah mengandung. Bagaimana bisa? Aku berusaha mengingat.
[[ saat kita menggunakan teknologi Lemurian, akan selalu ada bayarannya ]]
Kalimat yang pernah oma ucapkan melayang-layang dikepalaku.
Bayaran... Apakah ini bayaran karena telah menggunakan Lemurian? Atau memang dia membawaku ke masa ini sesuai kondisi terakhirku saat itu. Atau...
Kusandarkan tubuhku dikaki ranjang. Berusaha mengingat cerita-cerita oma lebih banyak lagi. Rahasia-rahasia yang oma ucapkan, pasti ada petunjuk.
Dentang jam memecahkan lamunanku. Jarumnya menunjukkan angka 9. Entah sudah berapa lama aku melamun.
Tidak! Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Kutegakkan badanku, kutepuk kedua pipiku. Sudah cukup! Teka-teki ini akan kupecahkan nanti.
Kalau memang benar aku kembali ke masa 1 bulan yang lalu, itu berarti banyak hal yang perlu kulakukan.
Aku tidak mau kehilangan lagi. Aku harus menyusun strategi. Tapi pertama-tama aku harus menemui papa lebih dulu. Banyak yang ingin kutanyakan padanya termasuk menanyakan dimana keberadaan Ethan. Di mimpiku harusnya dia di Italia sekarang, tapi aku tidak begitu yakin dengan itu. Yang jelas, dimana pun dia berada sekarang, aku harus membawanya kembali. Apapun caranya. Secepatnya
Aku berdiri, meraih handuk, dan melangkahkan kakiku ke kamar mandi. Kubiarkan badanku terguyur air.
Mas Anton... Siska ... Kali ini aku tidak akan kalah.