LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 5



Hidungku menangkap bau tajam obat-obatan. Samar-samar aku mendengar suara. Dengan kesadaranku yang masih setengah aku berusaha menajamkan pendengaranku,


[[ Kau tahu Ree, masalah yang kami hadapi sekarang justru kau. Aku dan Mas Anton tidak menyangka ternyata dibelakang kami papamu telah mengalihkan hampir seluruh sahamnya ke atas namamu. Lelaki tua busuk itu menjadikanmu sebagai pemegang saham utama. Kesal sekali rasanya waktu aku mengetahui itu. ]]


Aahh Siska rupanya. Batinku. Tapi tunggu! Dia bicara apa barusan? Papa menjadikanku pemegang saham utama? Kapan?


[[ Tapi tidak apa-apa Ree, ketika kau mati, semuanya tentu akan menjadi milikku, baik itu mas Anton maupun perusahaan, semua milikku.]]


Tidak Siska! Dengan segenap jiwaku aku bersumpah itu hanya sampai dimimpimu!


[[ Jadi tolong Ree, cepatlah pergi dengan tenang. Jangan lagi kau menguji kesabaranku lebih lama. Kalau tidak... aku sendiri yang akan memastikan kau pergi selama-lamanya. ]]


Susah payah aku menahan getaran emosiku, mengatur nafasku dan degup jantungku. Tidak! Jangan sampai Siska tahu aku sudah sadar.


Samar-samar kudengar Siska berdiri dari kursinya, melangkah menjauh dan menutup pintu.


Aku menghela nafas, berat... membuka mataku.


Aahh Siska... Apa benar kau sahabatku? Kemana sahabat yang selama 10 tahun ini kukenal? Sejak kapan kau memutuskan untuk berhenti jadi sahabatku? Atau kah memang dari awal kau tidak pernah menganggapku?


Dan mas Anton.... kupikir selama ini kau ikhlas. Kau sangat baik kepadaku. Tidak pernah kau membuatku marah. Kau benar-benar sosok suami yang sempurna. Aku sungguh tak menyangka begitu lihai kau bermain sampai bangkai yang kau sembunyikan tidak tercium olehku. Bahkan anakmu... Aahhh bayiku.... Dimana hatimu mas. Apa benar kau masih manusia.


Tuhan.... Takdir apa ini.


Setetes air mengalir dari sudut mataku. Aku melihat langit-langit kamarku mengingat ucapan Siska tadi.


Aku menarik nafasku dalam, berusaha menenangkan hatiku.


Apa yang Siska katakan tadi? Aku pemegang saham utama? Bagaimana bisa?


Aku berusaha mengorek memoriku sampai akhirnya aku ingat,


benar.... 3 bulan yang lalu papa pernah datang ke rumahku. Tumben hari itu papa datang sendiri tanpa Siska, sekretarisnya. Biasanya Siska tak pernah lepas darinya. Papa membawakanku beberapa dokumen yang katanya harus aku tandatangani. Aku tidak sempat membacanya karena saat itu papa tampaknya terburu-buru.


Apakah saat itu? Aku berusaha mengingat dokumen yang hanya sepintas kulihat itu. Mungkin saja terselip diingatanku sedikit isi tulisannya.


Nihil. Aku tidak ingat sama sekali.


Aku menghela nafas panjang. Sudah lah, tidak penting untuk saat ini. Tenggorokanku kering, sakit, aku ingin minum air.


Mataku mengitari seluruh ruangan, ahh.. tidak ada siapa-siapa. Perawat jaga pun tidak ada. Aku mencoba mengangkat tanganku berniat mencabut masker oksigen yang masih terhubung dengan ventilator dari hidungku.


Aneh ... Tanganku tidak merespon.


Kucoba lagi. Lohh... Kok tidak bisa?


Aku mulai panik. Kepalaku bergerak kesana kemari mencari pertolongan.


Aku mencoba bangkit... tidak bisa.


Kucoba lagi memiringkan badanku... tidak bisa juga?


Aku berteriak meminta tolong,


aneh ... mulutku terbuka, tapi tak ada suara yang keluar.


Tuhan... Kenapa aku?


Ada apa dengan tubuhku?


Aku berusaha menggenggam, menggerakkan jariku, lenganku, kakiku, bahkan mencoba berteriak lagi.


Nihil. Aku mati rasa.


Kenapa? Tolonglah.. ayolah ... Ada apa ini? Aku diliputi kepanikan.


Tiba-tiba seorang perawat masuk, terkejut melihatku sudah sadar, “bu Reenata, anda sudah sadar?”


Alih-alih menjawab, aku justru menangis tak bersuara.


“tenang ya bu. Sebentar saya panggilkan dokter dulu.” Perawat itu lalu menekan tombol interkom dan menghubungi dokter. Tak berselang beberapa menit seorang dokter dengan 2 perawat lainnya masuk dan dengan sigap melakukan pemeriksaan.


“Ibu Reenata bisa mendengar saya?” tanya dokter itu.


Aku mengangguk.


“Kata perawat tadi suara ibu tidak keluar? Badan ibu juga tidak bisa digerakkan?”


Lagi-lagi aku mengangguk.


Dokter itu tampak berpikir sejenak, kemudian berbalik pada perawat yang berdiri dibelakangnya “ibu Reenata perlu pemeriksaan lebih lanjut. Tolong hubungi wali atau keluarganya.”


Perawat yang dituju itu mengangguk.


Aku menahan nafas. Wali? Keluarga? Aku tidak punya siapa-siapa. Itu berarti mas Anton dan Siska akan kesini? Perutku tiba-tiba melilit. Aku tidak punya pilihan. Aku tidak mungkin menghindar. Cepat atau lambat aku pasti akan menghadapi mereka kembali.


Apa yang akan mereka pikirkan? Mengutukku karena aku hidup? Atau bahagia karena aku lumpuh?


Tidak! Aku tidak mungkin lumpuh.


Tanpa sadar aku menggeleng, kubuang jauh-jauh pikiran itu.


Aku pasti sembuh.


Aku mengikuti semua prosedur medical check-up yang telah dijadwalkan. Melelahkan karena badanku sama sekali tidak bisa digerakkan. Dan rasanya itu sepuluh kali lebih melelahkan dibanding bergerak normal memakai otot sendiri.


Aku melihat dari balik kaca, diluar ruangan sana wajah mas Anton dan Siska diliputi kecemasan. Pura-pura cemas lebih tepatnya. Menyebalkan.


Setelah serangkaian proses medical check-up yang melelahkn itu selesai, perawat membawaku ke kamar untuk beristirahat.


“Aku tinggal dulu ya bu. Ibu Reenata banyak istirahat yah. Jangan banyak pikiran. Hasil medical check-up nya akan keluar 2 hari lagi. Keluarga ibu tadi masih konsultasi dengan dokter, mungkin sebentar lagi akan kesini.” Perawat itu tersenyum dan berlalu menutup pintu kamar.


Aku menatap langit-langit kamarku. Tersenyum hambar.


Apa yang sebenarnya terjadi padaku?


Kesalahan apa sebenarnya yang papa lakukan, kesalahan yang Siska dan mas Anton maksud, sampai-sampai hilang jiwa manusia mereka.


Apa yang harus aku lakukan sekarang?


Mempersiapkan hatiku untuk mendengar umpatan mereka berdua? Aahh.. rasanya hatiku sudah membatu.


Lamunanku buyar saat kudengar pintu kamarku dibuka.


“Hai Ree... “ Tampak Siska masuk sambil menggandeng tangan mas Anton.


Memalukan. Rendah sekali mereka. Maki ku dalam hati.


“Bagaimana kabarmu Ree?” tanya Siska basa basi. Ia lalu menepuk keningnya, “aahh iyaa. Aku lupa. Kau bisu sekarang. Hahaha.” Tawa Siska pecah.


Mas Anton tersenyum, “ sudah lah sayang. Biarkan saja dia. Dia hidup pun sudah tidak berpengaruh pada kita. Bisa apa dia sekarang.”


Aku tersenyum sinis menatap mas Anton. Ternyata dia sudah berani menampakkan aslinya. Inikah pria yang mengucapkan ijab kabul untukku 6 tahun lalu? Pengecut. Ingin kumuntahkan isi perutku tepat dimukanya.


“Iya sih sayang.” jawab Siska sambil tertawa pelan. Ia melangkah mendekatiku, membungkukkan badannya dekat dengan wajahku, “Harusnya kau mati saja Ree. Sudah kukatakan berulang kali jangan membangkang pada kami. Lihat kau sekarang, bernafas pun tidak ada gunanya. Kau tak ubahnya seperti mayat Ree. Tidak bisa melakukan apapun.”


Aku mendengus berpaling. Ingin kuludah mukanya itu.


“Oh ya Ree...” sambung mas Anton, “besok kami akan kembali kesini. Kami akan membawa dokumen pengalihan saham. Kau tidak perlu melakukan apapun. Kami hanya butuh sidik jarimu. Dan yah... berhubung kau tak bisa bergerak, tentu saja kami akan membantumu membubuhkannya ke dokumen.”


Aku menatap mas Anton tajam. Ini rencana mereka selanjutnya? Kotor sekali mereka berdua. Ingin kutumpahkan sumpah serapahku, sayang suaraku tak keluar.


“Kalau kami sudah membereskan masalah diperusahaan, selanjutnya kau yang akan kami bereskan.” Siska kembali mendekat dan memegang selang infusku.


“Kau lihat ini Ree? Begitu mudah memasukkan sesuatu lewat selang ini. Kau tahu, sesuatu yang membuatmu berhenti bernapas.” Siska tersenyum licik.


Nafasku tertahan. Aku menatapnya tegang. Kurasakan degup jantungku meningkat. Apa yang akan dia lakukan padaku? Tidak! Jangan! Tolong, jangan lakukan itu padaku, ratapku dalam hati.




“Ree?” sebuah suara dari arah pintu memecahkan ketegangan diantara kami.



Belum sempat aku menoleh, tiba\-tiba saja pemilik suara itu menubruk dan memelukku. Ia tak peduli dengan mas Anton dan Siska yang sedang berdiri didekat ranjangku.



Dipegangnya tanganku erat, menatapku lekat tak berkedip.



Aku balas menatapnya, aahh.. mata itu.. sudah lama aku tak melihatnya, batinku.



“Ree ada apa denganmu? Apa yang terjadi padamu?” cecarnya. “tidak, tidak. Kau tidak perlu menjawab Ree, aku paham.” Ia menungkupkan kepalanya ditanganku menghembuskan nafasnya kasar.



“Kaliaann...” suara pria itu tertahan.


Ia lalu mendelik pada mas Anton dan Siska, menatap mereka tajam seakan ingin membunuh,



KALIAN BERDUA!! APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA REENATAKU?!! Teriaknya berdiri mendekati mas Anton.



Seketika bogem mentah melayang telak diwajah mas Anton.



Aku melotot tak percaya.


Astaga... pria posesif ini memang tak pernah berubah.



Ethan ...