LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 18



Aku berdiri tepat didepan sebuah gedung tinggi berlantai duapuluh. Entah kenapa melihatnya sekarang membuat perasaanku tidak karuan. Padahal dulu saat masih kecil, sering sekali aku keluar masuk bermain disana sambil menunggu papa selesai dengan pekerjaannya. Atau tidak, akan kuhabiskan waktuku ditaman bunga samping gedung ini bersama Ethan sampai akhirnya papa datang mencari dan mengajak kami pulang.


Kukepalkan tanganku menguatkan hati. Ethan berdiri disampingku. Ia merangkul pundakku.


“Ini milikmu Ree. Dari awal ini adalah punyamu. Dan sampai kapanpun itu tidak akan berubah.”


Kuanggukkan kepalaku tipis.


Ya! Dan tidak akan kubiarkan siapapun merebutnya dariku.


Kulangkahkan kakiku dengan mantab menuju pintu masuk gedung itu. Ada satpam yang menjaga tepat di samping pintu masuk.


“Mohon maaf bu. Kalau boleh tahu ada keperluan apa ibu datang kesini?” tanya satpam itu mencegahku masuk.


Ethan langsung bergeser, berdiri tepat di depan satpam dan tersenyum tipis.


“Pak... Ethan?” ucap Satpam itu ragu-ragu.


Bisa kutebak satpam ini pasti sudah lama bekerja diperusahaan. Nyatanya dia masih mengenal Ethan meski sudah lama Ethan tidak kerja disini lagi.


Ethan mengangguk. “Ini ibu Reenata, dia adalah anak Pak Doni. Untuk sementara dia lah yang akan memimpin perusahaan ini sebagai Direktur. Jadi tolong perhatikan baik-baik wajahnya, supaya besok-besok kau tidak salah menghentikan orang.”


Satpam itu sedikit membungkuk, “Maaf Bu, saya minta maaf. Silahkan masuk bu.”


Aku mengangguk lalu melangkah masuk. Sebelum mencapai lift, aku harus melewati dulu hall yang luas dengan meja penerima tamu yang letaknya berseberangan dengan pintu masuk tadi.


Dulu hall ini selalu kujadikan tempat main sepatu rodaku ketika papa harus lembur dikantor.


Saat kami berjalan, ada beberapa karyawan yang mengenal dan terang-terangan menyapa Ethan. Mungkin itu karyawan yang masa kerjanya kurang lebih seperti satpam di pintu masuk tadi.


Sementara dari sudut mataku bisa kulihat beberapa yang lainnya tengah berbisik-bisik melihat kearah kami. Bisa kupastikan bagian yang ini bukan karena mereka kenal Ethan, melainkan karena mereka terpesona dengan ketampanan Ethan. Ini lah yang selalu terjadi kalau aku berjalan berdampingan dengan Ethan. Aku merasa kecantikanku memudar dan berubah menjadi itik buruk rupa.


Ethan memang tidak berwajah asli Indonesia. Dia seperti turunan eropa timur, berbadan tegap tinggi, kulit putih bersih, rambut hitam tebal, hidung mancung, dengan alis yang juga tebal. Yang banyak orang takjub melihat Ethan adalah warna matanya. Mata Ethan berwarna abu-abu dan itu menambah kesempurnaan diwajahnya. Tapi buatku, semua itu adalah hal yang biasa. Mungkin karena aku sudah mengenal Ethan sejak masih kecil, bermain bersama bahkan saat dulu sering sekali aku tidur bersamanya.


Ketampanan Ethan yang menurut orang-orang luar biasa itu terkadang malah bikin aku lelah dan kesal. Apalagi saat masih sekolah dulu. Aku bahkan harus memilih-milih orang yang tepat untuk kujadikan teman. Karena banyak kali kejadian anak-anak perempuan sepantaranku hanya memanfaatkanku untuk mencari muka pada Ethan dan malah mengacuhkanku.


Sekarang pun melihat Ethan buatku tidak ada yang berubah. Dia tetaplah pria tengil yang suka menjahiliku dan yah... pelindungku walaupun terkadang dia melakukannya dengan cara yang berlebihan. Ethan memang bukan kakak kandungku, jadi aku sering kesal kalau ada orang yang membanding-bandingkan fisiku dengan Ethan. Karena selain kulit putihku, tidak ada lagi didiriku yang bisa dipersamakan dengan Ethan. Rambutku sedikit berombak, alisku tipis, hidungku minimalis, dan tinggiku... yah begitulah.


Aku tidak tahu sejak kapan dia menjadi anggota keluargaku. Dulu kupikir dia adalah kakak kandungku. Namun setelah mendapat penjelasan dari papa, baru kuketahui kalau Ethan bukan anak mama papa, Ethan hanyalah anak yang mereka rawat. Papa tidak pernah menjelaskan padaku asal usul Ethan, bagaimana mereka bisa menemukan Ethan, atau sejak umur berapa mereka merawatnya. Aku juga tidak pernah bertanya pada papa. Bagiku itu bukan hal yang penting dan aku juga tidak penasaran mengenai itu.


Kutekan angka duapuluh dijejeran tombol pada dinding lift. Itu adalah lantai tertinggi di gedung ini. Dan itu adalah ruangan papa.


Lantai lift bergerak naik. Hanya ada aku dan Ethan didalamnya.


“Kau tegang?” tanya Ethan memecah keheningan.


“Hhmm... Sedikit.”


“Tenanglah Ree. Ada aku disampingmu. Dan...” Ethan menggantung kalimatnya.


“Dan?”


“Dan... Kau tampak cantik hari ini.”


Aku sedikit mendengus, “Ya Ethan. Aku tahu aku cantik. Dari dulu sudah seperti itu dan itu tidak pernah berubah. Kau tidak perlu seterpesona itu padaku. Sebentar kutraktir kau makan bakso karena sudah memujiku hari ini.”


“Aku bisa bertaruh kau pasti tegang Ree. Hahaha.”


“Tidak lucu Ethan.”


“Hahaha. Kau tegang ibu Direktur.”


Aku mendeliknya. Menatap tajam seperti ingin menerkam orang.


Ethan mengedikkan bahunya tersenyum jahil.


Pintu lift terbuka. Kami sama-sama keluar dan melangkah ke ruang kerja papa.


Tampak pak Rendra sudah menunggu kami di depan pintu ruangan.


Pak Rendra adalah sekretaris pertama papa sejak perusahaan ini berdiri. Aku sudah mengenalnya sejak aku masih kecil. Saat Siska bekerja pertama kali, dia adalah asisten pak Rendra. Namun setelah beberapa tahun bekerja, papa mengangkat Siska sebagai sekretaris dengan posisi yang sama seperti pak Rendra.


Namun saat ini posisi Siska sudah berubah. Dia menjadi Sekretaris mas Anton, sementara pak Rendra diturunkan jabatannya menjadi staff bagian operasional. Kurang ajar sekali memang mas Anton dan Siska.


Membujuk pak Rendra untuk berada dipihakku sudah kulakukan sejak awal, bahkan jauh sebelum aku mencari Ethan. Mudah sekali menemukan pak Rendra karena tempat tinggalnya tidak pernah berubah. Dialah orang yang kumintai tolong untuk mengawasi gerak gerik mas Anton selama diperusahaan. Dia pula yang selalu menginformasikan padaku jam berapa mas Anton datang dan pulang kantor, supaya aku bisa menyesuaikan waktu keluarku saat aku masih mencuri-curi waktu dulu.


Tapi itu dulu, saat aku memilih untuk berperang diam-diam. Sekarang tidak lagi. Aku sudah memutuskan untuk berperang secara terang-terangan. Jadi biar saja mas Anton tahu kalau pak Rendra ada dipihakku.


Aku bahkan berencana akan menjadikan pak Rendra sekretarisku. Pengalaman pak Rendra persis sama dengan Papa. Itu berarti dia pun pasti bisa membantuku untuk menemukan siapa Frederika Jonathan.


“Mari masuk nona Ree, pak Ethan.” Ucap pak Rendra tersenyum.


“Terimakasih pak Ren.” Ucapku sembari mengikuti langkahnya masuk ke ruangan papa.


Ethan mengikuti.


Kami lalu duduk di sofa panjang yang terletak di depan meja kerja papa. Ethan duduk di sampingku.


Mataku mengitari ruangan itu. Tidak banyak yang berubah. Hanya beberapa lukisan dinding yang telah diganti, sofa tamu yang baru dan kursi kerja papa yang juga tampak baru. Selain itu, meja, rak buku, lemari dan tata letak di ruangan ini tidak ada yang berubah.


“Saya berusaha untuk tidak merubah apapun diruangan ini.” Ucap pak Rendra seperti bisa membaca pikiranku.


“Ya pak. Terimakasih.” Aku mengangguk tipis.


Tok tok tok. Terdengar suara pintu diketuk


“Ya masuk.” Ucap pak Rendra menjawab ketukan pintu.


Seorang karyawan masuk membawakan tiga gelas teh. Ia lalu menaruhnya dimeja tepat di depan kami masing-masing, kemudian berbalik dan menutup kembali pintu.


“Silahkan diminum tehnya pak Ethan, nona Ree.” ucap pak Rendra.


Aku mengangguk menyesap tehku. Begitupun Ethan.


“Jadi bagaimana dengan permintaan kami untuk mencari Frederika? Saya tahu dia membeli saham perusahaan setelah saya keluar dari sini. Karena waktu saya masih kerja disini, namanya belum terdaftar sebagai pemegang saham.” ucap Ethan memulai pembicaraan.


“Jadi bapak kenal dengannya?” tanyaku penasaran.


“Sebenarnya tidak juga nona. Dia orang yang punya banyak rahasia. Saya pikir pak Ethan dan nona Ree tahu itu. Terlalu banyak rumor tentangnya dan kita tidak bisa menjamin kebenarannya.”


“Apa yang bapak tahu tentangnya?” tanya Ethan.


“Tidak ada sama sekali. Frederika benar-benar menutup rapat informasi tentang dirinya. Hanya pak Handoko, asistennya, yang sesekali pernah kutemui atas arahan dari pak Doni.”


“Pak Handoko...” ucap Ethan mengelus dagunya seperti memikirkan sesuatu. “Saya pernah mendengar namanya.”


“Iya pak Ethan. Pak Handoko sebenarnya sudah sejak lama bekerjasama dengan perusahaan kita. Mungkin sekitar 2 tahun sejak perusahaan ini berdiri. Namun selalu saja pak Doni yang menghandle langsung proyek-proyek itu. Saat itu hanya saya yang bertugas membantunya. Pak Doni tidak mengizinkan orang lain untuk mengurusnya. Saya juga tidak tahu apa alasannya. Yang jelas waktu itu nama Frederika belum setenar sekarang.”


“Sebentar pak Ren.” Ucap Ethan sembari melipat tangannya didada “Kalau perusahaan kita sudah sejak lama bekerjasama dengan Frederika, lalu kenapa baru sekarang Frederika menanamkan investasinya?”


“Bagian itu sebetulnya saya sedikit curiga. Dan... Ada beberapa hal yang tidak saya mengerti.”


“Maksud pak Ren?” badanku sedikit maju menghadap pak Ren, penasaran.


“Hmm...saya berpikir sepertinya pak Doni tahu siapa sebenarnya Frederika. Karena sudah sejak lama pak Doni berurusan dengannya. Lalu, yang saya sedikit curiga adalah saham yang dibeli Frederika. Saham itu sebenarnya .... adalah milik pak Doni.”


“Apa? Milik papa? Maksud pak Ren?” tanyaku bingung.


“Benar nona Ree. Jadi tujuh bulan yang lalu pak Doni menugaskanku untuk mengalihkan semua sahamnya. Sebagian dialihkan ke atas nama nona Ree. Dan sebagian lagi pak Doni jual pada ....”


“Frederika?” Ethan memotong ucapan pak Ren


“Iya pak Ethan.” Pak Ren mengangguk.


Ethan mengelus dagunya, “ jadi... Om Doni memutuskan mengalihkan sebagian sahamnya pada Ree, dan menjual sebagiannya lagi pada Frederika. Kenapa? Maksudku kenapa dia tidak memberikan semuanya saja pada Ree?”


Aku menatap pak Ren menanti jawabannya.


Pak Ren menggeleng, “saya tidak tahu. Saya tidak pernah bertanya kenapa pak Doni harus melakukan itu. Saya hanya menjalankan tugas.”


Ethan tampak berpikir. Begitu pun pak Ren. Semua tenggelam dengan asumsinya masing-masing


“Baiklah pak Ren. Saya mengerti.” Jawabku akhirnya. “Tolong aturkan saya jadwal untuk bertemu pak Handoko.”


BRAK!


Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar. Kami bertiga sontak menoleh.


“APA YANG KAU LAKUKAN DISINI REE!” teriak mas Anton marah. Siska berdiri disamping mas Anton. Raut wajahnya menampilkan keterkejutan melihat aku, Ethan dan pak Rendra ada di ruangan ini.


Aku langsung berdiri, begitupun pak Rendra. Hanya Ethan yang tetap duduk santai sambil menyesap tehnya.


“Harusnya kau sopan Anton. Ini ruangan Direktur. Tidak seharusnya kau masuk tanpa permisi dan membuat keributan seperti ini.” ucap Ethan santai menyandarkan badannya di sofa lalu memangku kaki.


“Diam kau! Aku tidak bertanya padamu Ethan.” Mas Anton menatap tajam Ethan. Ia lalu beralih melihatku, “aku bertanya padamu, Ree. Apa yang kau lakukan disini, hah?”


“Aku?” kulipat tanganku di dada. “Kau bisa lihat sendiri mas. Aku sedang menggunakan hakku disini.”


“Hak?” mas Anton tersenyum sinis. “Hak apa yang kau punya?”


Aku melirik pak Rendra dan mengangguk tipis,


“Ibu Reenata pemegang saham utama. Dia juga adalah anak dari Pak Doni. Sesuai peraturan perusahaan, jika jabatan Direktur kosong, sepanjang belum diadakan Rapat Pemegang Saham berikutnya, maka yang berhak mengisi kekosongan jabatan ini adalah pemegang saham utama.” Jelas pak Rendra.


Ethan kembali menyesap tehnya, “Tidak usah munafik Anton. Kau sangat tahu itu, makanya kau masih menahan diri untuk tidak memindahkan tumpukan berkasmu keruangan ini kan? Kau biarkan ruangan ini kosong sampai rapat berikutnya karena kau tahu kau tidak punya hak untuk duduk di kursi itu.” tunjuk Ethan ke arah kursi kerja papa.


Mas Anton menggeram. “Aku tidak bicara padamu Ethan! Dan kau tidak punya hak berbicara padaku. Kau bukan siapa-siapa disini!”


“Oh ya? Hanya sekedar informasi untukmu Anton, sampai kemarin aku memang bukan siapa-siapa. Tapi mulai hari ini tidak lagi. Aku sudah kembali diperusahaan. Jadi sedikit nasehat buatmu, matangkanlah rencanamu. Kalau tidak, besok-besok bisa jadi aku yang akan mendepakmu dari sini.” Ucap Ethan santai.


“Apa yang sudah kau lakukan Ree!” mas Anton melihatku tajam.


“Aku? Aku hanya mencoba mengembalikan semua pada tempat yang seharusnya mas. Dan kau mas... Tempatmu bukan disini.” Jawabku sinis.


“Aku khawatir dengan masa depanmu Anton. Kasihan sekali. Ck,ck,ck” Ethan menggelengkan kepalanya memandang rendah Anton.


“Aku pemegang saham disini! Begitupun Siska. Tidak ada satu pun orang yang bisa menyentuh kami disini!” ucap mas Anton sengit.


Ethan menyeringai, “Percaya diri sekali kau. Apa kau yakin semua sahammu itu kau dapatkan secara legal Anton? Karena kalau tidak, mulai lah berdoa hari ini.”


Mas Anton menggeram, mukanya merah menahan amarah, “Sialan kalian! Kau akan menyesal Ree! Akan kubuat kalian menyesal telah memilih melawanku!"


Aku maju mendekati mas Anton “Menyesal? Aku tidak tahu ucapanmu itu untuk diriku ataukah lebih tepat kembali kedirimu mas.” Ucapku menatap tajam mas Anton.


Aku lalu merogoh tasku dan mengambil selembar kertas. Aku berjalan menuju Siska.


“Dan.... Ini!” kutaruh kertas itu di dada Siska.


“Itu surat perceraian kita mas. Kau bisa menandatanganinya.”


“Aku tidak akan menceraikanmu Ree!” Teriak mas Anton.


“Kuperingatkan mas, jangan coba-coba kau mempersulit ku. Kalau kau berani macam-macam, pengacaraku akan menghancurkanmu di pengadilan.”


Aku lalu menatap tajam Siska.


“Itu kan yang kau harap selama ini Sis? Berbahagialah aku sudah mengabulkan keinginanmu. Kau boleh memungut sisaku, Sis. Sampah memang cocok dengan sampah.” Aku menyeringai.


Siska mundur beberapa langkah. Wajahnya merah padam menahan amarah. Namun dia tidak melakukan apapun. Kutebak dia sudah tidak bisa beradu mulut denganku setelah aku mengetahui nama aslinya.


“Apa-apaan kau Ree!” mas Anton melangkah lebih dekat.


Ethan langsung bangkit dan berdiri disampingku.


Tangan mas Anton sudah terangkat keatas hendak menamparku. Dengan sigap Ethan menangkap tangan mas Anton dan mencengkramnya erat.


Kuangkat daguku menantang. “Cobalah kau pukul Direktur perusahaan ini, PAK ANTON. Berani kau menyentuh ujung rambutku, kuturunkan kau dari jabatanmu. Sebelum kau bersujud dikaki papaku dan meminta maaf padanya, akan kupastikan kau merasakan neraka di perusahaan ini.”