LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 12



POV LUNA


Siang itu seperti biasa aku duduk santai di butikku. Tiba-tiba pintu butikku terbuka, tentu saja kupikir itu pelanggan yang mau belanja, jadi kubiarkan karyawanku yang melayaninya. Sedikit terkejut saat seseorang terlihat berdiri didepanku dan memanggil namaku pelan.


Reenata, teman lamaku.


Disebut teman kecil juga sebenarnya bukan. Karena aku mengenalnya saat kami duduk di Sekolah Menengah Pertama. Bisa berteman dengan Ree karena kami teman sebangku sejak kelas 1 sampai kelas 3.


Berteman 3 tahun dengannya cukup membuatku dekat dengannya. Aku terkadang menginap dirumahnya, pun Reenata demikian. Mulai dari acara sering menginap itu, orangtua kami lalu bertemu. Tak disangka Papa Ree, om Doni, ternyata pesaing bisnis ayahku.


Namun meski dalam pekerjaan mereka bersaing, akan tetapi diluar pekerjaan mereka ternyata berteman baik.


Sejauh yang pernah ayah ceritakan, om Doni dan ayahku berteman sejak masih kuliah. Memiliki pemikiran yang sama dalam mencari peluang usaha, mereka lalu bekerjasama membangun sebuah usaha. Awalnya usaha yang mereka lakoni tentu banyak kendala, jatuh bangun dan banyak menerima penolakan. Tapi berkat kegigihan mereka, akhirnya usaha mereka berkembang sampai bisa mendirikan sebuah perusahaan.


Saat ayah akan menikah, ayah ingin mendirikan perusahaannya sendiri. Ayah lalu meminta izin pada om Doni untuk mendirikan perusahaan yang sama, diluar dugaan om Doni mengizinkan.


Bagi om Doni, rezeki tidak akan tertukar.


Om Doni lalu membagi setengah profit perusahaan yang mereka bangun bersama pada Ayahku untuk modal awal pendirian perusahaan ayah. Mereka menjadi pesaing, tetapi tetap berteman.


Tidak selamanya kondisi perusahaan stabil. Saat perusahaan om Doni kolaps, ayah membantu, pun demikian ketika perusahaan ayah yang mengalami ketidakstabilan, om Doni selalu ada membantu. Begitulah persahabatan mereka, betul-betul tulus tanpa pamrih.


Ironisnya, persahabatanku dengan Ree tidak demikian. Saat kami masuk Sekolah Menengah Atas, aku pindah ke luar kota. Kami berpisah. Awal-awalnya kami tetap menjaga komunikasi. Kami berdua masih sering telepon-teleponan menanyakan kabar dan menceritakan hal-hal lucu lainnya seyogyanya anak remaja. Saat itu kami hanya memakai telepon rumah, seru sekali rasanya. Lama kelamaan mungkin dengan kesibukan Ree di sekolahnya, dan aku dengan sekolahku, komunikasi kami putus.


Saat akan masuk kuliah, aku kembali ke kota asalku. Kucari sosial media Ree. Dapat!


Aku menghubunginya, memberitahu kalau aku kembali. Ree sangat senang kala itu. Kami bahkan janjian untuk mendaftar dikampus yang sama. Tetapi kami mengambil fakultas yang berbeda. Ree masuk di Fakultas Ekonomi sementara aku di Fakultas hukum.


Berada di fakultas yang berbeda tidak serta merta memutuskan hubungan kami. Kami masih sering janjian untuk jalan bersama sekedar nongkrong bareng di cafe atau nonton bioskop.


Pertemanan kami kembali renggang sejak Ree mengenal Siska. Entah kenapa Siska terlihat kesal kalau Ree punya janji denganku. Dia seperti ingin menyabotase Ree. Sayangnya Ree tipe orang yang tidak peka dengan hal-hal seperti itu. Aku tahu Ree seperti apa, aku mengenal sifatnya, Ree memang sedikit polos dan kurang peka. Dan Siska betul-betul memanfaatkan itu.


Kami akhirnya benar-benar putus hubungan saat Ree berpacaran dengan Anton dan memutuskan untuk menikah dengannya.


Nomor telepon Ree diganti, sosial medianya dihapus, pergaulan Ree dibatasi. Ree menghilang.


Aku pun sudah tidak berniat mencarinya. Untuk apa, toh Ree juga bahagia dengan kehidupannya yang seperti itu.


Saat ayah meninggal, Ree juga tidak muncul. Hanya om Doni yang datang. Om Doni menjelaskan kalau Ree tidak bisa datang karena Ree lagi program kehamilan di Belanda. Aku memaklumi itu. Toh aku juga sudah tidak begitu dekat denganya. Hadirnya Ree atau pun tidak sudah tidak berarti banyak buatku.


Siang itu Ree berdiri di depanku. Aku sedikit kaget, sudah lama sekali rasanya. Hampir 10 tahun aku tidak berhubungan dengannya. Kemunculannya tiba-tiba tentu menimbulkan beberapa pertanyaan dalam benakku. Pertama, dimana dia selama ini. Kedua, bagaimana dia bisa menemukanku. Ketiga, untuk apa dia mencariku.


Alih-alih menjawab apa yang kutanyakan padanya, Ree justru tertunduk menangis, lama. Aku sibuk menenangkannya. Berulang kali kata maaf terucap dari mulutnya, khususnya saat ia tidak bisa menghadiri pemakaman ayahku. Buatku itu tak mengapa, toh aku memang tidak pernah marah ataupun dendam padanya.


Ree kemudian menjelaskan kalau ia membuat akun sosial media baru untuk mencariku. Ia memakai nama samaran agar tidak ketahuan suaminya. Setelah menemukan alamat butikku, ia memberanikan diri memesan taxi untuk datang ketempatku.


Ree lalu mulai bercerita tentang rumah tangganya, perusahaan, om Doni, termasuk Anton dan Siska. Dia berusaha menjelaskan secara singkat, karena waktunya tidak banyak. Katanya dia hanya mencuri-curi waktu sebelum Anton pulang kantor.


Banyak hal yang ingin kutanyakan, namun urung karena kulihat Ree sepertinya memang sedang terburu-buru. Intinya adalah dia ingin meminta bantuanku, lebih tepatnya meminta bantuan suamiku untuk mencari orang-orang yang berkompeten untuk melaksanakan rencananya.


Suamiku tergabung dalam Baintelkam Polri. Ree tahu pekerjaan suamiku karena suamiku berteman dengan Ethan. Cukup dekat malah, karena itulah Ree ikut mengenalnya.


Suamiku lalu merekomendasikan Nina dan Juki. Nina dan Juji bukan bagian dari Polri, hanya warga sipil biasa, tapi yang jelas mereka bukan orang-orang biasa. Menurut suamiku, mereka cukup lihai untuk diajak kerjasama dan jadi bagian direncana Ree. Entah bagaimana suamiku mengenal Nina dan Juki, aku tidak bertanya lebih lanjut. Itu bukan urusanku.


Tadi malam Ree menghubungiku katanya dia ingin bertemu denganku siang ini. Ada hal yang ingin dia bicarakan lebih lanjut. Dia tidak bisa membicarakannya lewat telepon. Tapi yang jelas lagi-lagi dia membutuhkan kemampuan suamiku.


.


.


****


.


.


-- REENATA –


Juki membelokkan mobilnya masuk ke halaman rumah papa.


Aku lalu turun dengan langkah lebar dan berhenti tepat didepan pintu rumah.


“Assalamualaikum. Biii... Bi idaaa” panggilku sembari mengetuk pintu.


Selang beberapa menit pintu terbuka, muncul dibaliknya Bi Ida, asisten rumah tangga papa, sekaligus orang yang sudah ikut merawatku sejak kecil.


“Eeehh non Ree. Masuk non.” ucap Bi ida sembari membuka pintu lebih lebar. “Non apa kabar? Sebentar ya Non, bibi buatin teh.” lanjutnya


“Kabar Ree baik Bi.” Jawabku sambil berjalan melewatinya, “Bii, Ree mau ke ruang kerja papa, nanti tehnya bawa kesana saja yah.”


“Iya Non.” Bibi mengangguk dan berlalu menuju dapur.


Kulangkahkan kakiku masuk ke ruang kerja papa. Mataku mengitari ruangan itu.


Seketika aku merasa sepertinya ada yang aneh.


Ruangan ini sedikit berantakan. Yang kutahu papa tipe orang yang perfeksionis. Dia tidak akan membiarkan ruang kerjanya berantakan seperti ini. Memang tidak begitu kelihatan, tapi hidup berpuluh-puluh tahun dengan papa, aku paham, untuk ukuran papa ruang kerja ini berantakan.


“Ini tehnya Non.” Bi ida muncul memecahkan lamunanku.


“Bi, saat papa tidak ada, apa ada yang pernah masuk di ruangan ini?” tanyaku langsung.


“Eh iya Non. Den Anton beberapa hari yang lalu datang minta izin masuk ke ruang kerja Tuan katanya ada berkas yang harus diambil.”


“Mas Anton? Lalu Siska... Apa dia juga pernah?”


“Oh iya Non. Waktu Den Anton datang, itu barengan sama Non Siska.”


Deg!


Hatiku mencelos. Untuk apa mereka kesini? Apa yang mereka cari disini?


“Kenapa Non? Ada yang hilang yah?” tanya Bi ida lagi sembari meletakkan teh di meja dekat rak buku.


“Oh tidak Bi. Bibi boleh pergi kok.” Ucapku tersenyum.


Bi ida menganggukkan kepalanya dan berbalik pergi.


Aku mengerjapkan mataku, menggeleng kepalaku kuat.


Tidak!


Saat ini fokusku tidak boleh terpecah. Biarkanlah saja dulu mas Anton dan Siska mau berbuat apa atau ada kepentingan apa mereka sampai datang kesini.


Tapi yang jelas urusanku yang sekarang lebih mendesak. Aku tidak bisa membuang-buang waktu.


Dengan langkah lebar aku menuju meja kerja papa, menyalakan Laptop milik papa dan berselancar mengakses data base perusahaan. Ada hal penting lain yang perlu kulakukan selain mencari Ethan.


Aku mengambil beberapa data yang kuanggap penting dan memindahkannya ke flashdisk milikku. Beberapa data yang lain kucetak langsung memakai printer di samping meja kerja papa. Setelah kurasa cukup, aku mencabut flashdisk itu dari Laptop dan menyimpannya kembali ke dalam tasku. Sementara untuk berkas yang dicetak, kumasukkan rapi ke dalam amplop berwarna cokelat.


Selesai sudah urusan pertamaku disini. Selanjutnya mencari nomor kontak Ethan.


Aku sedikit membungkukkan badanku hendak membuka laci kedua di meja kerja papa.


Satu tanganku menarik laci.


Tidak bergerak.


Aku menautkan alisku, bingung.


Kutarik lagi laci itu.


Dikunci?


Aku menarik laci itu lagi.


Tidak bisa.


Papa kunci? Kok bisa?


Tapi papa tidak mengatakan apa pun saat itu. Apa papa lupa?


Kupejamkan mataku, kuhela nafasku dalam, berusaha berpikir tenang.


Tenang... Pikirkan baik-baik. Mungkin papa memang mengunci laci itu dan menyimpan kuncinya di suatu tempat.


Itu berarti aku harus mencari kuncinya terlebih dahulu.


Tanganku mulai menyapu benda-benda diatas meja. Tempat papa menaruh pulpen, rak-rak dokumen nya, diantara kertas-kertas, di dalam album-album buku catatannya. Nihil.


Aku berpindah ke rak dibelakang kursi, mengangkat foto-foto pajangan, disela-sela berkas perusahaan, diantara tumpukan-tumpukan kertas lainnya. Nihil.


Aku tidak mendapatkannya.


Dimana kunci itu.


Aku terduduk bersandar dikursi. Mataku mengitari ruangan kerja berukuran lima kali enam itu. Dimana sebetulnya papa menyimpan kunci lacinya?


Seketika mataku tertumbuk di rak buku milik papa. Ada satu buku yang menarik perhatianku. Buku yang sering kali papa baca. Bahkan setelah papa menamatkannya, papa tetap suka membacanya berulang-ulang.


Aku melangkah mendekati rak buku, menarik salah satu bukunya.


Ting!


Sebuah kunci jatuh dari dalamnya.


Aku memungutnya dan dengan gerak cepat kembali melangkah ke meja kerja papa, membuka lacinya.


Laci itu sedikit berderak saat aku membukanya, dan....


Dapat!


Ada secarik kertas didalamnya. Secepat kilat aku mengambilnya, lalu membuka lipatan kertas kecil itu.


Tertera kode huruf E besar yang diikuti dengan deretan angka beserta sebuah alamat email.


Aku tersenyum senang sembari menyeruput teh yang Bi Ida suguhkan tadi.


Ethan... Aku menemukanmu.


.


****


.


.


Juki menginjak pedal rem mobil, tepat di depan butik milik Luna. Aku turun dengan langkah lebar masuk ke butik.


Dari jauh kulihat Luna sedang sibuk menulis, mungkin mencatat penjualan baju-bajunya.


“Hai Lun” sapaku hati-hati takut mengganggu pekerjaannya.


Luna mendongak sedikit terkejut, “Eh Ree, kok baru datang? Sudah ditunggu daritadi loh padahal. Duduk dulu Ree.” lanjut Luna sambil memberikan satu kursi untukku.


“Iya nih Lun, ada sedikit urusan tadi, makanya baru sampe.” Jawabku ala kadarnya sambil tersenyum. Tidak mungkin kujelaskan kalau aku terlambat karena mencari kunci laci meja papa.


“Nah... Jadi apa yang bisa kubantu Ree?” tanya Luna langsung ke inti permasalahan.


“Hmm... ini Lun.” Aku menyerahkan sebuah amplop coklat padanya. “Aku ingin minta tolong mas Bobi lagi.”


“Ini apa Ree?” tanya Luna sedikit bingung.


“Buka saja. Nanti kamu juga tahu.”


Luna lalu membuka amplop itu dan sedikit terkejut melihat isinya. Nampak dari bola mata Luna yang sedikit melebar dan mulutnya yang sedikit terbuka.


“SISKA?” tanya Luna menatapku semakin bingung.


Aku menganggukkan kepala. “Aku ingin mas Bobi menolongku lagi Lun. Mencari tahu tentang Siska. Siapa dia sebenarnya, lebih tepatnya mencari tahu latar belakang keluarganya, dan ada hubungan apa dia sama papaku. Entah kenapa aku yakin data diri yang Siska masukkan diperusahaan itu semuanya palsu.”


Luna menautkan alisnya, “om Doni dan Siska?”


“Iya Lun.” Aku kembali mengangguk, “Semua kejahatan yang Siska dan mas Anton lakukan sekarang, aku hanya tahu itu akibat dari kebencian Siska pada papa. Tapi aku sungguh tidak tahu dendam apa yang Siska punya.”


Luna lalu memasukkan data diri Siska beserta fotonya kembali ke dalam amplop, “baik Ree, aku mengerti. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin kutanyakan padamu, tapi pasti kamu tidak punya banyak waktu lagi yah kali ini?”


Aku mengangguk tipis, mengedikkan bahuku, tersenyum, meminta sedikit pengertian, “maaf ya Lun. Kalau situasinya sudah agak tenang aku akan menceritakan selengkapnya padamu.”


“Baiklah aku mengerti. Nanti kuberikan amplop ini pada mas Bobi untuk diselidiki. Kalau sudah ada info darinya akan kukabari.”


“Terimakasih Lun.” Aku berdiri memeluk Luna.


“Ya Ree, kamu temanku.” Luna membalas pelukanku. “bagaimana kabar om Doni?”


“Papa baik-baik Lun.”


“Sampaikan salamku padanya. Katakan kalau mas Bobi akan mencoba membantunya.” ucap Luna lagi sebelum aku benar-benar beranjak pergi.


“Ya Lun. Kamu sudah banyak membantuku. Maaf merepotkanmu.”


Luna mengangguk tersenyum tulus.


“Aku pulang dulu yah.”


“Ya Ree.”


Aku tersenyum dan melangkah berbalik ke pintu keluar.


Kulihat Juki sedang bersandar di sisi badan mobil. Saat melihatku keluar ia sedikit kaget, buru-buru mematikan puntung rokoknya. Ia lalu masuk ke mobil dan menyalakan mesinnya.


Aku mengikuti masuk ke mobil dan menyandarkan tubuhku di kursinya. Melelahkan sekali hari ini.


“Lain kali kalau sedang mengantarku tidak boleh merokok Ki. Saya tidak suka bau rokok.”


Pria kekar mirip preman dengan tubuh penuh tato itu pun mengangguk,


“Baik bu.” jawabnya patuh sambil menginjak pedal gas. Mobil bergerak maju meninggalkan jejak ban di aspal.


.


.


Sekitar 200 meter dari tempat mobil Ree diparkir tadi, Ree tidak sadar, sebuah mobil berwarna hitam terus mengikuti mereka sejak keluar dari rumah tadi pagi.


Pria didalam mobil hitam itu terus mengintai gerak gerik Ree melalui teropongnya. Beberapa kali terlihat mengambil gambar Ree melalui kameranya. Pria itu lalu mengambil gawai disaku bajunya dan mengetik pesan.


[[ Target membawa masuk amplop cokelat. Baru keluar dari Luna Fashion Shop.]]