LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 15 a



Luna tampak sedang menelepon seseorang saat aku baru masuk di butiknya. Dia sempat menatapku, tersenyum dan memberikan kode supaya aku duduk dulu sembari menunggunya menyelesaikan teleponnya.


Tidak begitu lama aku menunggu. Hanya selang waktu 10 menit sampai akhirnya Luna menekan layar gawainya, menutup pembicaraan. Dari beberapa kata yang Luna ucapkan aku bisa menebak kalau yang menelepon tadi adalah ibunya.


“Sorry Ree, lama yah?” tanya Luna sembari duduk di depanku.


“Tidak kok Lun. Tadi itu tante Kia yah?”


“Iya Ree. Ibuku tahu kita komunikasi lagi. Dia kirim salam buatmu.”


“Ya Lun, titipkan salam balikku juga buat tante. Aku kangen padanya. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Bagaimana kabarnya sekarang?”


“Masih seperti dulu lah Ree, tetap sibuk dengan bunga-bunganya. Kalau kamu datang ke rumahnya, baru sampai dipagar saja kamu sudah seperti masuk di taman bunga. Hahaha”


“Syukurlah kalau tante sehat-sehat. Aku senang mendengarnya.” Ucapku sembari tersenyum.


“oh iya, jadi bagaimana dengan Siska?” tanyaku langsung. Aku begitu penasaran dengan identitas aslinya.


“oh astaga Ree. Sorry aku hampir lupa.” Jawab Luna sembari berdiri menuju meja kerjanya, membuka lacinya dan mengambil sebuah amplop.


“Ini Ree.” Luna menyerahkan amplop itu padaku.


Aku membukanya dan mengeluarkan isinya.


Ada dua berkas yang diklip terpisah. Satunya adalah berkas yang sebelumnya sudah kuberikan pada Luna. Sementara yang lainnya adalah berkas yang mas Bobi berikan.


Mataku menatap lekat dua berkas itu.


Melihat dengan teliti dan seksama. Membandingkan isi keduanya.


Aku mengernyitkan dahiku sedikit tak mengerti. Tidak ada hal yang aneh. Hampir semua data di kedua berkas itu sama.


Artinya Siska tidak seratus persen memanipulasi datanya.


Satu-satunya hal yang berbeda dari kedua berkas itu adalah nama orangtua Siska.


Diberkas yang pertama kuberikan pada Luna, nama ibunya adalah Dewi, dan nama ayahnya adalah Junaid. Sementara diberkas hasil investigasi mas Bobi, nama ibunya adalah Lestari, sementara nama ayahnya adalah Beni.


Itu artinya Siska memang sengaja sudah memalsukan nama orangtuanya.


Apa alasannya? Apakah alasan itu akan berpengaruh besar mengungkapkan kebenaran?


Agak lama kutatap kedua berkas itu. Barangkali ada suatu keanehan yang sudah kulewatkan.


Nihil. Aku tidak mendapatkannya. Hanya nama orangtua saja berbeda. Tidak lebih.


“Yang berbeda hanya nama orangtua?” tanyaku akhirnya pada Luna.


“Ya Ree.” Luna mengangguk.


“Apa alasan Siska melakukan itu?”


“Karena dia ingin menyembunyikan jati dirinya. Lebih tepatnya menyembunyikan siapa ibu kandungnya.”


“Mengapa?” tanyaku mulai tertarik.


“Karena sebelum om Doni menikahi mamamu, Lestari, ibu kandung Siska, adalah mantan pacar om Doni.”


“HAAH?!!” aku membekap mulutku.


Luar biasa! Ibu kandung Siska dan papa pernah pacaran? Kenyataan ajaib macam apa ini?


“Lalu, apa hubungannya dengan Siska? Maksudku, baiklah kalau mereka memang pernah pacaran. Tapi itu masa lalu bukan? Lalu kenapa Siska bisa dendam mati pada papaku?”


“Itulah yang ingin kujelaskan padamu Ree. Ceritanya agak panjang, makanya kuminta kau datang pagi-pagi. Biar ceritaku tidak terpotong setengah-setengah.”


“Baiklah. Akan kudengarkan.” kuubah posisi dudukku senyaman mungkin. Sepertinya ini akan menjadi dongeng yang panjang.


“Oke. Akan kujelaskan pelan-pelan.” Luna menarik nafas dalam-dalam.


“Semua informasi yang akan kuceritakan ini sebagian besar kudapatkan dari cerita ibuku.


Kau tahu kan, om Doni dan ayahku sahabatan sejak mereka masih kuliah. Jadi kupikir mungkin ibuku pernah mengenal atau minimal pernah mendengar nama Lestari.


Lalu saat kutanyakan mengenai hal itu, menurut ibuku sebenarnya secara pribadi dia tidak mengenal Lestari, pun tidak pernah bertatap muka dengannya, tapi ibuku sedikit tahu cerita tentangnya.”


“Kok bisa? Kalau tante Kia tidak mengenalnya, bagaimana bisa dia tahu ceritanya?” tanyaku sedikit bingung.


“Itu karena tante Rindi sendiri yang menceritakannya pada ibuku, Ree.”


Aku lagi-lagi mengernyitkan dahi.


Mamaku kenal Lestari? Bagaimana bisa? Setahuku mama dan papaku menikah karena dijodohkan. Dan sebelum itu, mamaku sama sekali tidak mengenal papa. Itu artinya dia juga tidak kenal dengan mantan-mantan pacar papa.


Apa papa selingkuh?


Tidak! Itu tidak mungkin! Kugelengkan kepalaku kuat.


“Tante Rindi mengenal Lestari karena Lestari sering mengganggu rumah tangganya, Ree. Dia punya dendam sama tante Rindi.”


“Alasannya?”


“Sederhana. Karena bagi Lestari, tante Rindi sudah merebut kebahagiaannya, yaitu om Doni.”


“Sebentar Lun.” ucapku menghentikan Luna melanjutkan penjelasannya. “Setahuku, mama papaku itu tidak melewari proses pacaran. Mereka dijodohkan tanpa mengenal satu sama lain. Jadi bagaimana bisa dia dikatakan merebut papaku?”


“Nah karena itu lah Ree! Perjodohan itu!” Luna menarik nafasnya sejenak, “tante Rindi pernah bercerita pada ibuku kalau orangtua om Doni, kakek nenekmu, tidak pernah menyukai Lestari entah kenapa.


Mereka selalu menyuruh om Doni untuk memutuskan hubungannya itu. Tapi Om Doni tidak mau. Dia terlalu cinta sama Lestari. Bahkan saat mereka sarjana, om Doni memaksa akan menikahi Lestari.


Kakek nenekmu tentu saja marah besar. Akhirnya mereka mencari cara lain agar om Doni bisa mengakhiri hubungannya. Ya dengan menjodohkan om Doni dengan anak temannya, mamamu.”


“Tunggu sebentar!” kuangkat satu tanganku, lagi-lagi memotong penjelasan Luna, “darimana mamaku bisa tahu cerita sedetail ini kalau sebelumnya dia tidak pernah mengenal papaku?”


Luna menghela nafasnya pelan, “Kata Ibuku, itu karena om Doni sendiri yang akhirnya mau menceritakan semuanya pada tante Rindi saat usia pernikahan mereka menginjak 5 tahun.”


Aku terkesiap menatap Luna, “selama itu?”


“Iya Ree.” Luna mengangguk tipis. “jadi bisa aku lanjut?”


Aku mengedikkan bahuku. Aku sama sekali belum mengerti.


"Lalu, meskipun ada pertentangan dari om Doni dan Lestari, tapi Kakek nenekmu tetap kekeuh dengan keputusan mereka. Tidak bisa diganggu gugat.


Kegigihan kakek nenekmu itu membuat Om Doni akhirnya menyerah.


Pernikahan dilangsungkan. Status tante Rindi resmi berubah menjadi isteri sah om Doni. Namun perubahan status itu tidak serta merta membuat Om Doni langsung cinta padanya. Kamu tahu kan Ree, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Apalagi menikah karena perjodohan, ditambah tidak saling mengenal satu sama lain.


Begitu pun dengan om Doni. Saat itu hatinya tetap masih milik Lestari.” Luna berhenti sejenak menyesap tehnya.


Aku hampir tidak percaya sedramatis ini cerita pernikahan mama papa. Seperti mendengar cerita Siti Nurbaya. Bedanya ini justru dari pihak pria yang dipaksa menerima perjodohan. Dan satu lagi! Mamaku bukan nenek tua renta! Dia gadis belia cantik nan aduhai lulusan Alexandria University, Mesir.


“Lestari tahu kalau om Doni masih mencintainya.” Lanjut Luna.


“jadi dibelakang tante Rindi, Lestari masih sering mengajak om Doni untuk bertemu. Namun nahasnya disetiap pertemuan mereka om Doni sudah mulai menjaga jarak.


Bagi om Doni, dia memang masih mencintai Lestari, namun disisi lain dia memiliki tanggung jawab sebagai suami tante Rindi. Makanya om Doni tidak pernah melakukan hal lebih dengan Lestari bahkan saat Lestari merayunya sekalipun. Dan Lestari sangat benci itu.”


Baiklah. Aku tahu untuk bagian ini memang papa yang salah. Tapi kalau memang dia bisa menjaga jarak, baguslah! Seorang pria seharusnya memang seperti itu. Punya komitmen!


“Sebenarnya semua pertemuan mereka itu diketahui tante Rindi. Namun bukannya marah, tante Rindi justru memilih untuk diam. Mamamu sangat penyabar Ree. Dia tetap melayani om Doni dengan tulus, dan menjalankan tugasnya sebagai seorang isteri. Dan sifat tante Rindi yang seperti itu lama kelamaan membuat perasaan om Doni luluh. Ditahun ke empat pernikahan mereka, om Doni mulai mencintai tante Rindi.” Luna kembali menyesap tehnya.


“Tahun keempat Lun?”


Luna mengangguk tipis.


"Papa mencintai mamaku nanti di tahun keempat pernikahan?" Tanyaku masih tak percaya.


"Iya Ree. Ditahun keempat."


“Kau yakin si Lestari itu tidak main dukun? Kok bisa hati papaku setertutup itu. Sedih tahu dengarnya.”


“Hahaha. Kita tidak membahas sampai sejauh itu Ree.”


“Kan mana tahu.” Aku mengedikkan bahuku.


“Jadi bisa kulanjut?” tanya Luna


Aku mengangguk.


Tapi dia salah besar! Diluar dugaan tante Rindi ternyata sangat kalem menanggapinya. Dia justru meminta Lestari untuk menyerah dan menghilang dari kehidupan pernikahan mereka.”


Hahaha. Aku tertawa dalam hati.


Big applause lah buat mama. Cantik sekali caranya menghadapi nenek lampir itu. Aku sayang mama lah pokokmya.


“Lestari marah. Dia lalu memakai cara kotor dan mulai meneror tante Rindi.


Om Doni sebetulnya sudah meminta Lestari untuk menghentikan perbuatannya. Namun Lestari tidak menggubrisnya.


Lama kelamaan tante Rindi jadi kesal juga. Kesabarannya sudah mencapai batas. Dia lalu menumpahkan semua unek-uneknya pada om Doni.


Dia tidak terima dengan semua kesakitan yang telah dialaminya. Dia tidak tahu apa kesalahannya. Dia tidak tahu seperti apa kisah yang pernah om Doni dan Lestari jalani. Dia tidak tahu seperti apa hubungan mereka dahulu dan sudah sejauh apa hubungan itu. Dan dia bahkan tidak pernah tahu sedalam apa dendam Lestari padanya.”


“Karena itu papa lalu menjelaskan semua cerita masa lalunya pada mama?” tanyaku setelah beberapa menit hanya diam mendengarkan cerita Luna.


“Tepat sekali Ree. Om Doni merasa bersalah, lalu menceritakan semuanya pada tante Rindi. Om Doni berharap dengan menceritakan semua itu, tante Rindi dapat sedikit mengerti dan paham dengan kondisi yang sedang mereka alami saat itu.”


“Dan semua penjelasan itu baru didapatkan mamaku ditahun kelima pernikahan?” tanyaku kembali memastikan.


“Yup!”


“Wah... Luar biasa sekali.” Aku bertepuk tangan tipis. “dan kau yakin itu bukan karena dukun Lun?”


Luna mendelik, “Ree!!”


“Hahaha oke-oke. Sorry Lun, aku hanya kesal dengan papaku. Lanjutkan lah ceritamu.”


Luna menarik nafasnya dalam-dalam mengembalikan konsentrasinya. Ia lalu bercerita kembali.


“Karena keluhan tante Rindi itu, om Doni lalu menemui Lestari dan mengancamnya kalau dia masih mengganggu mereka, om Doni tidak akan segan-segan melaporkan Lestari ke polisi.


Dan diluar dugaan, Lestari ternyata takut dengan ancaman itu. Sejak saat itu Lestari tidak muncul lagi dihadapan mereka.”


Aku mengernyitkan dahiku mendengar semua penjelasan Luna.


“Lalu, apa hubungannya dengan Siska, Lun? Yang bermasalah dengan papaku kan Lestari, bukan Siska.”


“Itu masih setengah ceritanya tahu. Kau sih dari tadi memotong ceritaku ”


“Hehe, baiklah. Aku akan berusaha mengunci mulutku. Lalu bagaimana selanjutnya?”


“Lalu enam tahun berikutnya kakekmu meninggal diusia 50 tahun, setelah dua tahun sebelumnya nenekmu yang meninggal.


Anehnya, saat kakek nenekmu sudah tidak ada, Lestari justru kembali.


Saat itu Lestari mencari om Doni langsung dikantornya. Dia mengatakan kalau kedatangannya itu bukan untuk mengganggu mereka. Melainkan hendak minta tolong untuk meminjam sejumlah uang karena hidupnya sudah sulit.


Om Doni merasa kasihan dan mengiyakan. Mereka lalu janjian bertemu di salah satu cafe untuk serah terima uang itu.”


Pinjam uang? Dan papa memberikannya? Ini papaku yang kelewat baik apa bagaimana sih. Aku mulai kesal lagi.


“Ironisnya, semua itu hanya tipuan Lestari. Saat mereka bertemu, Lestari menjebak om Doni dengan menaruh sesuatu di minuman om Doni. Malam itu om Doni tidak pulang ke rumah.”


Hah! Ibu dan anak sama saja kelakuannya.


“Lalu?” Tanyaku penasaran.


“Lalu.... Aku ambil cemilan dulu Ree. Lapar tahu menceritakan hal yang begitu panjang. Hahaha.” Luna tertawa sembari berlalu mengambil kue untuk kami berdua makan.


Luna kembali dengan membawa 2 toples kue dan 1 botol besar minuman bersoda lalu menaruhnya di atas meja.


Aku menyomot kue dan memakannya. Demikian juga dengan Luna. Sepertinya kami berdua benar-benar kelaparan karena cerita ajaib si Lestari itu.


“Itu artinya saat papaku tidak pulang malam itu, dia sedang bersama Lestari?” tanyaku memulai lagi percakapan kami.


“Tepat sekali.” Luna membidikkan jari telunjuknya padaku. “saat om Doni siuman pagi harinya, dia marah besar. Lestari lalu meminta maaf dan mengatakan bahwa tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Kejadian itu akhirnya dilupakan begitu saja.


Namun Lestari ternyata licik. Lima bulan setelah kejadian itu, Lestari tiba-tiba datang ke rumah om Doni dengan perutnya yang sedikit membesar. Saat itu tante Rindi juga tengah mengandungmu.


Nahasnya, waktu Lestari datang, hanya tante Rindi yang berada dirumah, karena om Doni dan ayahku sama-sama lagi tugas di luar kota. Dia lalu mengatakan pada tante Rindi kalau bayi yang dikandungnya itu adalah anak dari om Doni.”


Aku menutup mataku menahan kesal. Benar-benar si Lestari itu!


“Saat itu tante Rindi merasa terpukul. Dia butuh teman bicara, jadi dia datang pada ibuku sambil menangis dan menumpahkan keluh kesahnya. Dia lalu menceritakan semuanya pada ibuku.”


“Tapi lun, aku belum begitu paham apa hubungannya dengan Siska.”


“Nah sebetulnya poinnya justru disitu Ree. Bayi yang dikandung Lestari.”


“Maksudmu?”


“Setelah kedatangan terakhir tante Rindi ke rumah ibuku, tante Rindi tidak pernah muncul lagi. Itu adalah kunjungannya yang terakhir ke rumah ibuku. Dia menjadi tertutup dan membatasi sosialisasinya diluar.


Ibuku sebenarnya pernah mengunjungi tante Rindi beberapa kali, untuk sekedar menanyakan kabar atau mengantarkan kue kesukaannya. Namun tante Rindi sudah tidak pernah menyinggung atau bercerita apapun soal Lestari. Dan ibuku juga tidak enak untuk menanyakan hal itu.


Kata ibuku, kondisi tante Rindi saat mengandungmu betul-betul kepayahan. Kesehatannya sangat menurun. Entah karena beban pikiran atau tekanan yang dirasakannya, ibuku tidak tahu pasti.


Namun karena masih penasaran, ibuku lalu bertanya pada ayah apa dia tahu kelanjutan masalah Lestari.


Kata ayah jangan coba-coba menyinggung itu didepan om Doni dan tante Rindi. Karena itu topik sensitif buat mereka.


Tapi sejauh yang ayah tau, satu bulan setelah Lestari melahirkan, dia menghilang dengan membawa bayinya. Bayi itu perempuan. Diberi nama Vena.”


“Vena?”


“Ya Ree. Namanya Vena.”


“Apa betul dia anak papaku?”


“Tidak ada yang tahu Ree. Ibuku hanya mengatakan bahwa saat itu om Doni menolak dan bersumpah kalau Vena itu bukan darah dagingnya.”


Aku mulai menyusun puzzle ini. Jadi Siska memalsukan data orangtuanya. Ibu kandung Siska yang asli adalah Lestari. Dan Lestari punya anak perempuan bernama Vena. Apakah Vena dan Siska...


Aku menatap Luna dengan sebelah alis yang terangkat.


“Aku tahu apa yang kamu pikirkan Ree. Mas Bobi juga berpikir demikian. Jadi dia menyuruh anak buahnya untuk menelusuri hal tersebut.”


“Hasilnya?”


“Hasilnya... sekitar 80% mas Bobi bisa menjamin kalau Siska dan Vena adalah orang yang sama.”


Hatiku mencelos. Vena adalah Siska?


“Kamu yakin Lun?”


“Hanya 80% Ree. Tapi paling tidak itu sudah lebih dari setengah kan?”


“Lalu, kebenaran mengenai pengakuan Lestari kalau Vena itu anak papaku?”


“Kalau itu mas Bobi tidak bisa menjamin Ree. Karena tidak ada satupun informasi yang dia dapatkan mengenai hal itu."


Aku memijat pelipisku berusaha memahami penjelasan panjang Luna.


Mengapa Lestari akhirnya memutuskan untuk menghilang bersama bayinya?


Lalu... Kalau benar Vena adalah Siska, apa dia ingin balas dendam karena papa sudah menyia-nyiakan ibunya? Atau karena papa tidak mengakuinya? Atau ada alasan lain?


Kepalaku tertunduk, kupejamkan mataku


Masih banyak hal yang belum terpecahkan.


“Kalau kamu ingin memastikannya cobalah bicara langsung sama om Doni. Tanyakan padanya mengenai Lestari dan Vena.”


Aku mendongak menatap Luna.


Benar kata Luna. Harusnya aku mengkonfirmasinya langsung pada papa. Hanya papa yang bisa menjelaskan semuanya. Aku harus cepat. Ini tidak bisa ditunda.


Bulan depan akan diadakan Rapat Umum Pemegang Saham, dan sebelum itu terjadi aku harus mengetahui semua kebenarannya. Karena kalau tidak, semua rencanaku bisa berantakan.


Kulihat jam ditanganku, masih jam 1 siang. Itu artinya masih cukup waktuku untuk mengunjungi papa di Lapas.


Akan kutanyakan langsung padanya tentang Lestari dan Vena,


lalu... tentang Frederika Jonathan.