LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 14



Mas Anton sudah berangkat ke kantor sejak sejam yang lalu. Dia terlihat agak tegang pagi ini. Bisa kutebak dia pasti sedang mempersiapkan hatinya menghadapi semburan amarah Siska. Melihat gerak geriknya semalam dengan penampilannya yang berantakan, aku bisa memastikan kalau dia semalam sedang bersama Siska lalu tiba-tiba meninggalkannya begitu saja saat menerima laporan dari orang bayarannya. Entah apa yang sudah terjadi diantara mereka berdua kemarin. Biar saja. Aku tidak peduli.


Terkait masalahku dengan Luna, mas Anton juga sudah tidak menyinggungnya lagi. Mungkin karena dia merasa cukup puas dengan penjelasanku tadi malam.


Walaupun begitu, tentu saja hal itu tetap tidak membuatnya seratus persen percaya padaku.


Nyatanya saat fajar tadi, aku menerima laporan dari Juki kalau mobil hitam yang kemarin mengikuti kami, sudah mengintai rumah ini sejak jam 5 subuh. Luar biasa! Kuberikan apresiasi yang tinggi buat orang suruhan mas Anton. Dia benar-benar memantau gerak gerikku bahkan sejak matahari belum terbit.


Tapi tentu saja itu tidak berpengaruh banyak buatku. Ingatanku akan masa sebelumnya, terbacanya gerak gerik maupun rencana mas Anton, termasuk memiliki orang-orang yang berkompeten dipihakku, jelas itu membuat posisiku satu langkah didepan mas Anton dan Siska.


Tapi tetap saja, aku tidak boleh lengah. Seperti yang oma katakan, pengulangan waktu itu seperti buah simalakama. Kita tidak pernah tahu hal baik atau hal burukkah yang akan menghampiri.


Aku meremas liontin ungu dileherku.


Ya, aku memutuskan untuk memakainya pagi ini dan seterusnya. Aku ingin menjadikannya sebagai pengingat bahwa tidak mudah bagiku untuk sampai di posisi sekarang. Supaya kedepannya aku tetap bisa berhati-hati dalam melangkah dan mengambil keputusan.


Aku duduk diatas tempat tidur, mataku menatap layar laptop di depanku dengan seksama.


Aku sedang mencari data terkait nama-nama pemegang saham. Kuambil semua data-data ini dari komputer papa tempo hari. Tentu saja data-data internal yang paling rahasia bisa kuakes, karena aku mengambilnya lewat komputer pemilik perusahaan.


Dapat!


Aku membuka file pemegang saham.


Seperti yang kuduga, namaku tertera tersendiri di kolom paling atas. Papa sudah mengalihkan semua sahamnya atas namaku. Aku pemegang saham utama.


Aku lalu mengklik siapa saja nama-nama pemegang saham yang lain selain diriku.


Deg!


Aku terkesiap.


Mas Anton? Dia berada diurutan kedua?


Dan... apa ini? Siska memiliki saham lebih banyak dari Ethan? Bagaimana bisa? Ethan bahkan berada di urutan terakhir!


Manipulasi apa yang sudah mereka lakukan selama ini?


Aku kemudian mengklik kolom keterangan. Nampak terpampang dilayar nama-nama pemegang saham beserta jumlah kepemilikannya.


Reenata Refanda \= 35 %


Anton Hadimoko \= 20 %


Frederika Jonathan \= 20 %


Siska Sarina \= 15 %


Ethan Rai \= 10%


Melihat sekilas data porsi pemegang saham memang jelas terlihat kalau aku lah pemilik saham paling banyak.


Namun, kalau dilihat lebih lanjut dan lebih teliti, aku paham, kalau aku tidak bergerak cepat, di Rapat Umum Pemegang Saham berikutnya, mas Anton memiliki kesempatan besar mendapatkan posisi Direktur Utama.


Mengapa?


Perhitungannya sederhana. Misalnya ada 2 calon utama. Dari pihak mas Anton tentu dia akan mengajukan dirinya sendiri sebagai calon Dirut.


Sementara dari pihakku, aku berencana akan mengajukan Ethan, tentu saja dengan persetujuannya lebih dulu.


Melihat porsi sahamku dengan Ethan, kami berdua jelas memiliki 45%.


Siska sudah pasti memilih Anton, maka porsi saham mereka berdua adalah 35%.


Sampai disini, aku dan Ethan masih lebih unggul.


Tersisa Frederika Jonathan. Dia adalah penentu. Kalau Frederika berada dipihakku untuk menjadikan Ethan sebagai Dirut perusahaan, kami menang telak dengan perolehan 65% hak saham.


Tetapi kalau dia memihak Anton, maka habis sudah.


Mas Anton akan menjadi Dirut selanjutnya menggantikan posisi papa yang selama ini sudah kosong. Dan itu berarti semakin jauh langkahku dan semakin berat usahaku untuk membebaskan papa.


Kesimpulannya adalah siapa yang berhak atas perusahaan, tergantung pilihan Frederika Jonathan.


Dan masalah yang kuhadapi sekarang, mas Anton memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan aku. Selama ini dia sudah terlibat banyak diperusahaan. Tentu dia kenal dengan Frederika Jonathan.


Sementara aku? Jangan ditanya. Jawabannya sudah jelas. Aku sama sekali tidak tahu siapa orang itu.


Apa yang harus kulakukan?


.


.


****


.


.


Sedari pagi Anton sudah uring-uringan. Sesuai dengan yang dia bayangkan, Siska murka padanya dan mereka bertengkar hebat bahkan ketika Anton baru masuk di ruangannya.


Menurut Siska, Anton sudah berubah akhir-akhir ini. Lebih sibuk dengan urusannya sendiri, waktu lowongnya pun kurang. Apalagi Anton makin sering membentaknya.


Amarah Siska sedikit mereda saat Anton meminta maaf, berjanji akan berubah dan akan membawa Siska mengunjungi toko permata setelah pulang kantor sebentar.


Emosi Siska yang tidak stabil dan ketidaksabarannya itu memang terkadang membuat Anton pusing dan mati kutu. Beberapa kali terlintas dalam kepalanya membandingkan sifat Siska dan Ree. Dibanding dengan Ree tentu Ree seratus kali jauh lebih baik. Ree polos, penyabar, tipe istri yang manut, serta akan mendukung apapun keputusan Anton.


Namun tentu saja hal itu tidak diungkapkan Anton pada Siska. Bisa perang dunia ketiga mereka.


Siang itu Anton sedang menatap layar komputernya. Bulan depan akan diadakan Rapat Umum Pemegang Saham terkait jabatan Direktur Utama yang sedang kosong saat ini.


Anton sedikit terkejut saat melihat beberapa perubahan pemegang saham. Nama Doni Darsono sudah tidak ada lagi. Digantikan nama Reenata Refanda diposisi paling atas.


Sementara nama Ethan tetap diposisinya. Anton memang sudah mengetahui Ethan ikut masuk sebagai pemegang saham, namun itu sudah tidak berarti banyak. Kepemilikan sahamnya paling kecil. Suaranya dalam RUPS sudah tidak begitu berpengaruh.


Selama ini Anton dan Siska sudah berbuat banyak membeli berlembar-lembar saham untuk menaikkan posisi mereka. Banyak hal yang sudah mereka lakukan, termasuk menjebloskan pemegang saham utama ke penjara agar lebih mudah mereka menjalankan rencana selanjutnya. Tapi apa yang terjadi? Posisi pemegang saham utama berubah!


“Sialan!”’umpatnya.


Ia mengacak rambutnya kasar.


“Kapan papa mengalihkan sahamnya pada Ree? Kenapa aku tidak tahu?”


Nafasnya tertahan. Ia tidak menyangka papa mertuanya akan melakukan tindakan diluar sepengetahuannya.


Mengapa papa melakukannya? Itu berarti papa mencurigaiku? Atau ada alasan lain? Apa pertimbangan papa mengalihkan sahamnya? Tapi... Kalau dia memang mencurigaiku, sejak kapan? Apa ada hal lain yang papa lakukan dan aku tidak tahu?


Banyak pertanyaan berkecamuk di dalam kepalanya. Ia tampak menimang-nimang, lalu mengusap wajahnya kasar.


Tidak! Apapun itu akan kuatasi! Seperti yang selama ini sudah kulakukan.


Memang sedikit memakan waktu dan usaha. Tapi aku selalu berhasil bukan?


Seperti aku mengalahkan lelaki tua yang teliti dan perfeksionis itu. Kali ini aku juga akan melakukan hal yang sama.


Ia membatin.


Anton lalu menatap kembali layar komputernya, memperhatikan secara seksama, menghitung komposisi pemegang saham, dan.... senyumnya mengembang.


Dapat!


Hanya dua hal yang dapat ia lakukan.


Pertama, membujuk Ree untuk mendukungnya. Tapi dia tidak bisa menjadikan Ree satu-satunya tumpuan.


Karena itu, Anton memerlukan rencana cadangan kalau-kalau Ree menghianatinya. Jadi opsi kedua adalah ....


Frederika Jonathan. Dialah penentu.


Anton memang tidak mengenalnya secara langsung. Tapi dia tahu cara menemukannya.


Anton lalu mengambil gawainya, mengusap layarnya, mencari sebuah nama, lalu menekan gambar telepon.


“Halo.... Selamat siang pak Handoko.” sapa Anton.


“Ya, selamat siang pak Anton. Sudah lama sekali kita tidak berjumpa.” Jawab seorang pria diujung telepon. “Ada urusan apa bapak tiba-tiba menelepon saya?” lanjut pria itu.


“Sebetulnya ada hal yang ingin saya bicarakan dengan bapak.”


“Oh ya? Hal apa pak Anton?”


“Maaf sebelumnya pak Han, saya tidak bisa membicarakannya lewat telepon. Apa kita bisa ketemu langsung?”


“Oh boleh pak. Kapan?”


“Sekarang bisa?”


“Hmmm... Kalau hari ini jadwal saya padat sampai sore. Besok bisa?” tawar pak Han.


“Bisa pak.” Jawab Anton mantap.


“Kalau begitu jam 2 siang kita ketemu di kantor saya.” ucap pak Han.


“Baik pak. Terimakasih.”


“Oke. Sama-sama.”


Anton mengusap layar gawainya, mematikan sambungan telepon.


Dia tersenyumnya puas.


“Keberuntungan memang selalu dipihakku.” ucap Anton pelan.


.


.


***


.


.


Aku masih duduk diatas ranjangku, menepuk kedua pipiku sedikit keras. Kuremas liontin di leherku.


Tidak! Aku tidak boleh menyerah. Langkahku sudah sangat jauh. Aku tidak bisa berhenti hanya karena hal seperti ini. Aku harus mencari tahu siapa sebenarnya Frederika Jonathan.


Kuputuskan berselancar di dunia maya mencari informasi tentang Frederika.


Dengan cepat jariku mengetik nama Frederika Jonathan di kolom pencarian.


Minimal aku harus tahu seperti apa wajahnya.


Nampak di layar laptopku hasil pencariannya. Wow, luar biasa. Tidak sedikit artikel yang membahas tentang dirinya.


Kubuka semua situs-situs yang memuat artikelnya itu, membacanya satu persatu sampai tuntas.


Aku mengernyitkan keningku. Sudah hampir satu jam dan hampir empat puluh artikel selesai kubaca, tetapi tidak ada satu pun yang membahas secara detail terkait data dirinya.


Bahkan tidak ada satupun situs yang memuat gambar wajahnya.


Lalu... bagaimana bisa aku mencarinya?


Dari hampir empat puluh artikel yang kubaca, aku dapat menyimpulkan....


Frederika Jonathan, dikenal pula sebagai anonymous shareholder, atau pemegang saham anonim. Tidak diketahui secara pasti gender maupun umurnya. Namun berdasarkan kesaksian beberapa orang, Frederika adalah seorang pria dengan kisaran umur lima puluhan. Akan tetapi kesaksian itu juga tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.


Frederika dikenal sebagai orang yang senang menginvestasikan uangnya diberbagai perusahaan. Mulai dari perusahaan kecil, sedang berkembang, maupun perusahaan paling bonafit.


Uniknya, Frederika tidak sekalipun tercatat pernah memangku jabatan di perusahaan-perusahaan itu, baik itu sebagai jajaran Direksi maupun Komisaris. Ia hanya berada di posisi pemegang saham.


Frederika disebut sebagai pemegang saham anonim, karena dia senang bermain dibelakang layar. Tidak pernah bertemu langsung dengan para pemegang saham lainnya, ataupun tampil di media.


Dia memiliki seorang asisten sebagai perantara yang akan mengurusi semua berkas-berkas maupun dokumen-dokumen mengenai dana investasinya.


Begitupun halnya setiap diadakan Rapat Umum Pemegang Saham, ia tidak pernah hadir secara langsung. Ia hanya akan menitipkan keputusan suaranya melalui surat berkop yang diantar langsung oleh asistennya.


Alamat tempat tinggalnya tidak terdeteksi, karena diduga nama Frederika Jonathan hanyalah nama samaran yang dipakainya untuk bertransaksi. Tapi informasi itu juga masih simpang siur.


Informasi lain yang beredar adalah hanya ada beberapa pemilik perusahaan besar yang mengetahui secara pasti siapa Frederika. Tetapi mereka sudah membuat perjanjian terlebih dahulu untuk merahasiakan identitasnya sehingga para pemilik perusahaan itupun ikut tutup mulut.


Beberapa informasi juga menyebutkan kalau Frederika memiliki kapasitas untuk menguasai media sehingga tidak ada satupun media yang dapat memaparkan data dirinya secara utuh.


............


............


............


Oke! Baik! Bagus!


Jadi intinya adalah...


Aku sedang mencari sesosok hantu! Hahahaha! Luar biasa sekali! Keren! Aku ingin menangis.


Kutundukkan kepalaku, memijat pelipisku.


Masalah apa lagi ini sebenarnya. Apa tidak ada yah masalah yang lebih aneh daripada ini.


Papa... Apa kau mengenalnya? Kalau kau juga tidak mengenalnya, aku harus bagaimana?


Mataku menerawang melihat langit lewat kaca jendela, satu tanganku memainkan liontin ungu di leherku.


Oma.... Apa yang harus kulakukan sekarang?


_______


_______


Tring! Tring! Tring! Tring!


Beberapa kali gawai disamping lututku berbunyi, memecah lamunanku.


Tampak ada beberapa pesan masuk. Kuusap layarnya melihat siapa yang mengirim pesan padaku.


Luna, 4 pesan masuk.


[[ Kamu dimana sekarang? ]]


[[ Kalau kamu punya banyak waktu, datanglah sekarang ke butik. Tapi kalau tidak, datanglah besok pagi ]]


[[ Banyak hal yang perlu kubicarakan denganmu. Dan itu tidak akan selesai kalau waktumu sempit seperti kemarin-kemarin ]]


[[ Mas Bobi.... Dia sudah menemukan data asli milik Siska ]]


Membaca sekilas pesan singkat Luna, seketika aku melupakan masalah Frederika Jonathan.