LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 2



Lututku bergetar. Kusimak baik-baik pertengkaran mereka di dalam sana. 8 tahun? Mereka menghianatiku selama 8 tahun? Aku berusaha menyusun kembali memoriku, mengingat sejak kapan aku mengenal mas Anton.


~~


Sore itu, 8 tahun silam, aku tengah sibuk mengerjakan tugas kuliahku.


“Hai Ree, udah lama?” Siska tiba-tiba duduk disamping dan langsung meminum mocca floatku.”


“Eh kamu, Sis. Kok lama sih? Hampir aku pulang. Terus itu siapa?” aku mengangkat daguku menunjuk pria yang berjalan kearah kami.


“Iya nih, kenalin Ree, temanku, Anton namanya”


“Hai Ree.” Pria yang bernama Anton itu mengulurkan tangannya.


“Oh hai. Aku Reenata, teman Siska, sahabat lebih tepatnya.” Aku tersenyum menjabat tangannya.


Begitulah awal perkenalanku dengan mas Anton. Tidak ada yang spesial, bukan suatu cinta pandangan pertama, aku sama sekali tidak tertarik dengannya. Berbeda dengan mas Anton yang menurut informasi dari Siska kalau dia sudah jatuh cinta padaku sejak pandangan pertama.


Apa aku percaya? Tentu saja tidak. Karena itulah bagaimanapun usaha mas Anton mendekatiku, tidak pernah kutanggapi. Tapi pria itu, mas Anton, dia terus menggangguku tanpa henti. Saat ada waktu luangnya, ia akan mengikuti kemana pun aku pergi, kecuali ketika aku sudah pulang dirumah tentunya. Tidak ada permintaanku yang tidak diturutinya. Ia tidak matrealistis, malah aku yang selalu ditraktirnya.


Ia juga tidak pernah lebih dalam menyentuhku, sesekali saja dan itu sebatas menggenggam tanganku. Ia sangat menjagaku.


Hatiku yang tadinya tertutup, sedikit demi sedikit mulai nyaman menerima perhatiannya. Ia lelaki sopan, penyayang, dan papa pun senang dengannya. 6 bulan kami pendekatan hingga akhirnya aku memantapkan hati berpacaran dengannya.


Tapi tunggu! Bukankah itu 8 tahun yang lalu? Aku menghitung kembali masa-masa kedekatan kami. 1 tahun aku berpacaran dengannya hingga kami memantapkan hati untuk menikah. Usia pernikahanku bahkan baru menginjak 6 tahun beberapa bulan yang lalu. Lalu bagaimana bisa mereka menghianatiku 8 tahun. Apa awal perkenalanku dengan mas Anton memang telah direncanakan?


Aahhh sakit sekali. Hatiku, badanku, kepalaku, perutku, sakit.


Bahkan papa? Bagaimana bisa papa dijebak menantunya sendiri? Apa yang sudah mereka lakukan? Oh Tuhan, apa yang sudah terjadi?


Seketika perutku melilit. “Aaahh” aku sedikit mengerang memegang perutku. Susah payah aku berdiri tegak.


"Halah peduli setan! Aku tidak percaya padamu, mas. Kalau kau masih mengulur waktu, akan kucari sendiri cara melenyapkan Ree dan bayi yang dikandungnya!"


Aku mendengar Siska setengah berteriak. Terdengar langkah kakinya mendekatiku, pintu terbuka, dan aku menatap pias orang yang kuanggap sahabat itu. “Ree... Kamu...” siska mundur selangkah, terkejut.


"Siska... mas Anton... apa yang kalian lakukan?" aku memegang perutku. Kali ini sakitnya luar biasa. Aku jatuh terduduk.


“Kau menikamku Siska! Dan kau mas, apa kurangnya aku dan papa kepadamu. Kau tega! Kau yang menjebak papa? Hebat sekali mas! Kalian berdua keterlaluan!” kutumpahkan sakit hatiku.


“Ree, dengarkan... ” Mas Anton mendekatiku.


“Tidak! Jangan coba-coba mendekat! Aku membencimu!” Kucoba berdiri dengan sisa tenagaku,


“aahhh perutkuuu.” Aku kembali jatuh, mengerang lebih keras. Perutku terasa keram dan ngilu. Kepayahan aku mengatur nafasku.


“Mengapa mas? Jelaskan padaku.” Bodohnya, aku masih mengharap penjelasannya.


“Sejak awal mas Anton hanya mencintaiku Ree. Hanya aku.” Siska menjawab.


Aku menatap Siska dengan kesakitanku, “ tapi kau sahabatku Siska, kenapa kau lakukan ini padaku.”


“Sahabat? Kau gila yah? Sampai mati pun aku tidak akan pernah menjadi sahabatmu!”


“Apa salahku?”


“Salahmu? ohh.. tidak ada Reenata sayang. Kau tidak bersalah. Yang bersalah adalah papamu. Papa yang kau bangga-banggakan itu, tanyakan lah padanya seperti apa dia menghancurkan keluargaku! Aku membalasnya padamu karena kau adalah hidupnya. Menghancurkanmu sama saja membunuhnya pelan-pelan dengan penuh kesakitan.”


“Dan kau tahu semua itu mas?” aku beralih menatap suamiku.


“Ya Ree. Kami merencanakan semuanya dari awal." mas Anton menjawabku santai. "Siska teman kecilku. Dia cinta pertamaku. Terakhirku. Dan akan selalu begitu. Banyak yang sudah terenggut darinya. Dan kamu, kamu wanita yang sudah memiliki segala-galanya Ree. Kehilangan satu dua hal dalam hidupmu tidak akan berpengaruh banyak.”


“Mas, mas bicara apa?” Aku menatapnya marah sekaligus bingung. “Mas suamiku, ayah dari bayi dalam kandunganku. Kita sudah berbagi selama 6 tahun. Apa tidak ada sedikit rasa sayang dalam dirimu. Tega mas merencanakan ini semua!”


“Kalau kau mengetahui kebenarannya, kau akan memaklumi tindakan kami Ree.” Mas Anton masih membela diri. “Dan ya, tentang bayi itu, maaf Ree, itu adalah kesalahan. Gugurkan saja.” Mas Anton berpaling.


Habis sudah. Kalimat terakhir mas Anton telah meruntuhkan asaku. Aku sadar, semua ini, pernikahan ini, yang telah kami jalani selama ini, semua hanya drama. Pura-pura. Entah kesalahan apa yang telah papa lakukan sampai dua orang yang kuanggap penyejuk dalam hidupku ini, dengan tega mendorongku masuk ke dalam jurang.


Perutku kembali melilit. Darah segar mengalir diantara kedua kakiku.


“Aahhh perutku. Tolong aku. Aku akan melahirkan. Tolong aku. Tolonglah aku” tangisku pecah.


“Tidak mas, jangan! Biarkan saja dia dengan bayinya. Kalau Ree ataupun bayinya tidak selamat biarkan saja. Bukankah ini tujuan kita?”


Aku menatap Siska dan mas Anton bergantian tidak percaya. Mas Anton diam mematung, menatapku dingin.


“Bejat sekali kalian.” Aku mengutuk dengan linangan airmataku. “Inikah yang kalian bilang menghilangkan satu dua hal dalam hidupku?” aku setengah berteriak, frustasi, perutku begitu sakit. “Mas tolong lah, ini bayimu. Bawa aku kerumah sakit. Aku menangis, mengiba memeluk kakinya. “Tolonglah aku, aahh sakit sekaliiii. Tuhan... bayiku... tolonglah.”


***


Aku mencium bau rumah sakit. Berat sekali rasanya hanya untuk membuka mata. Badanku tidak bisa digerakkan, aku mati rasa. Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri.


Bagaimana bayiku? Seketika aku diliputi rasa panik, tapi badanku masih kaku. Aku memejamkan mataku, berusaha untuk sadar penuh. Sia-sia, obat bius sepertinya masih sangat mempengaruhi motorikku.


“Maaf pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin”


Aku mendengar suara dari sisi lain kamar ini. Kutajamkan pendengaranku dengan sisa-sisa kesadaranku.


“Maksud dokter?” suara mas Anton terdengar.


“Terlambat pak. Isteri bapak terlalu lambat sampai di rumah sakit. Bayi bapak terkena aspirasi mekonium dengan kata lain, bayi bapak keracunan. Ia juga kehilangan asupan oksigen. Air ketuban bu Reenata sudah lama mengering ketika sampai dirumah sakit. Kami tidak dapat menyelamatkan bayi bapak. Maafkan kami.”


Duniaku serasa berhenti. Aku menahan nafasku. Bayiku tidak selamat? Ya Tuhan, cobaan apa ini. Dadaku sesak. Teramat sakit rasanya. Aahh bayiku. Apa yang sudah menimpamu nak. Mama bahkan belum melihat wajahmu. Nasib apa sebenarnya yang menimpa kita? Aku menangis dalam diam. Air mataku terus mengalir lewat sudut mataku. Badanku masih tidak bisa digerakkan.


“Ba-bayi saya... Meninggal dok? Oh tidak.” Mas Anton menutup mukanya, terisak. “isteri saya, dok? Bagaimana dengan isteri saya?”


“Kami belum bisa memastikan pak. Bu Reenata masih kritis. Dia terlalu banyak kehilangan darah. Sampai saat ini kami masih mencari donor darah yang tepat. Badannya terlalu lemah. Kami akan berusaha pak”


“Bayiku... Reenata... kenapa ini bisa terjadi. Semua salahku. Harusnya aku tidak keluar membeli makanan kesukaan Ree. Kupikir ia akan baik-baik saja sendirian. Harusnya aku menjaganya. Bodohnya aku.” aku mendengar mas Anton menangis sambil terus menyalahkan dirinya.


“Sabar mas. Kamu harus kuat. Demi Ree” terdengar Siska menggumam.


Aku muak. Drama apalagi kali ini. Aku terus memenjamkan mataku, mengatasi rasa sakitku yang teramat sangat. Aku putus asa.


Papa... Papa maafkan aku. Bagaimana nanti aku menemuimu, pah. Apa yang akan kukatakan. Bagaimana aku bisa menjelaskan, aku tidak bisa menepati janjiku. Aku tidak bisa bahagia, dan cucumu.. aku tidak bisa menjaganya. Aku kalah pah. Aku lemah. Aku tidak bisa menjaga siapapun termasuk diriku sendiri. Aku minta maaf pah. Maaf.


Seketika aku kehilangan tenagaku. Kesadaranku mulai habis. Sayup-sayup aku mendengar kepanikan, mereka memanggil manggil namaku, entah siapa. Dadaku naik turun saat alat pacu jantung melekat didadaku. Aku tidak merasakan apa-apa lagi.


***


“Ree, kamu tahu Lemurian?"


“Oma mulai lagi deh.” Aku bergumam acuh tak acuh, tetap mengerjakan tugas fisika didepanku.


“Lemurian itu peradaban manusia yang hilang. Mereka dipercaya hidup pada 75.000-11.000 tahun Sebelum Masehi. Peradaban mereka bahkan sudah ada jauh sebelum peradaban Atlantis terbentuk. Luar biasa bukan?”


“Ohh ayolah oma. Bisa gak oma menikmati sore ini dengan nyaman tanpa cerita sejarah yang tidak tercatat dibuku. Atlantis, lemurian, atau apalah namanya itu, semuanya cuma mitos oma. Udah deh, mending oma minum dulu tuh tehnya, keburu dingin gak enak oma. Kalo lama-lama entar keduluan lalat loh yang minum.”


“Berbeda dengan Atlantis yang terkenal rakus kekuasaan, Lemurian justru dikenal sebagai bangsa yang memiliki teknologi dan intelegensi paling tinggi.” Oma tetap melanjutkan tanpa peduli sikap protesku. “Kamu masih nyimpan Liontin yang oma kasih?”


“Hmmm.” Jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari tugas sekolah yang menumpuk.


“Kamu masih ingatkan prinsip liontin itu? Dia akan mengabulkan satu permintaan, hanya satu kali, tapi dapat mengabulkan apapun, asal keinginan itu kuat, sekuat...”


“Sekuat kamu ingin melawan takdir.” Aku memotong perkataan oma. “oma, bisa gak kita berhenti bicara tentang mitos. Oma terus mengulang lagi dan lagi. Ree sampai hafal diluar kepala. Bahkan saat Ree tidur pun, Ree bisa jawab prinsip liontin itu kalau tiba-tiba ditanyakan.” aku mulai cemberut.


“Hahahaha” oma terkekeh. “itu bukan mitos sayang. Itu teknologi.”


“Iya. Dan teknologi bangsa apalah itu namanya cuma mitos, oma.”


Oma kembali terkekeh, “Ree, kamu mau tahu rahasia lain dari liontin itu?"


“Gak oma. Ree udah gak tertarik lagi sm rahasia liontin oma. Ree udah 15 tahun oma, udah gede. Bukan anak SD lagi. Ree tidak percaya sama mitos.” Jawabku sedikit dengan penekanan. Berharap oma tersayangku ini paham kalau aku sudah kenyang dengan semua cerita sejarahnya.


“Liontin itu akan berubah warna ketika dia telah memenuhi keinginan pemiliknya.” Lanjut oma tanpa peduli jawaban senewenku tadi.


Aku hendak kembali protes, namun kuurungkan ketika kulihat oma menerawang melihat langit.


“Suatu saat, akan tiba saatnya, kamu pasti percaya Ree.”