
Brak!
Srek!
Prang!
Anton membuang semua barang-barang yang ada diatas mejanya.
“Sial! Sial! Sial!”
Anton mengacak rambutnya kasar.
Anton lalu mengambil gawainya dan memencet sederetan angka, menelepon seseorang.
“Halo bos.” Ucap seseorang diujung telepon.
“Sialan! Apa yang kau lakukan selama ini! Mengapa isteriku bisa bertindak sejauh ini!”
“Saya sudah berusaha mengawasi. Tapi akhir-akhir ini mobilnya agak sulit untuk diikuti.”
“Sulit...? SU-LIT?!! Aku tidak membayarmu untuk mengucap kata SULIT sialan!! Sekali lagi kau bilang begitu, jangan harap kau akan dapat bayaran dariku!” ucap Anton dengan nada tinggi.
“Tetap ikuti mereka. Laporkan padaku setiap pergerakan mereka. Cari orang tambahan untuk memantau perusahaan pak Handoko. Mereka pasti akan kesana. Akan kukirimkan kau alamat perusahaannya. Laporkan padaku sekecil apapun itu! Paham kau!”
“Baik bos.”
Anton menekan gawainya memutuskan sambungan telepon.
“Aarrgghh!”
Anton membuang kasar gawainya diatas meja, menghempaskan tubuhnya dikursi.
“Mas...” Siska yang sedari tadi diam melihat Anton mengamuk akhirnya buka suara. Ia lalu duduk didepan Anton.
“Dengarkan aku.” Siska menghela nafasnya. “Menghadapi mereka sekarang tidak bisa pakai emosi mas. Apalagi ada Ethan sekarang. Walaupun dia sudah lama fakum, tapi pengalamanmya diperusahaan ini jauh lebih panjang daripada kita berdua.”
“Tapi bagaimana bisa? Maksudku bagaimana bisa si perempuan bodoh itu, berpikir sendiri, melakukannya semua seorang diri, dia bahkan sudah berani mengancamku!”
“Tidak sendiri mas. Aku curiga Luna yang sudah membantunya. Termasuk mencari tahu jati diriku. Aku tidak mengenal Luna dekat, tapi aku pernah dengar kalau suaminya itu Intel di kepolisian.”
“Sialan! Ree ternyata sudah menipuku!” Anton memukul kasar meja.
“Tapi sejak kapan dia menyadarinya?”
“Tidak penting mas. Yang jelas Ree sekarang sudah menunjukkan taringnya pada kita.”
“Kamu benar.”
“Kita hanya harus cari cara bagaimana lebih meyakinkan Frederika untuk memilih kita. Mas sudah dapat kabar dari pak Han?”
“Belum. Nanti sebentar mas coba hubungi pak Han lagi.”
“Kita juga harus memikirkan cara bagaimana caranya agar Frederika tidak memilih mereka mas. Kamu tahu kan maksudku. Kita sedikit menghasutnya, atau... memberitahu beberapa kelemahan Reenata.”
“Ya Sis. Idemu bagus. Itu kenapa aku sayang padamu. Kau wanita cerdas. Kalau begitu kita atur kembali jadwal untuk bertemu dengan pak Han.”
“Kenapa mas tidak telepon saja pak Han langsung.”
“Tidak bisa Sis.” Anton menggelengkan kepalanya.
“Kenapa mas?”
“Kemarin aku berani langsung menghubunginya karena aku sedang terburu-buru. Dan seharusnya aku tidak boleh seperti itu. Mulai sekarang kita harus melakukannya secara profesional Sis. Sesuai prosedur. Supaya pak Han bisa yakin kalau kita memang orang yang dapat diandalkan.”
“Baik mas. Aku akan membuat janji dengan sekretarisnya lebih dulu.” Ucap Siska sembari berdiri dan melangkah menuju pintu.
Anton mengangguk.
“Sis.” Panggil Anton menahan langkah Siska. “bagaimana dengan berkas pengalihan saham kita dulu. Kamu sudah mengamankan bukti-bukti kecurangan kita kan? Aku yakin Ethan akan mengutak-atik itu dan mencari tahu bagaimana cara kita mendapatkan saham-saham itu.”
“Sudah mas”
“Kamu yakin?”
“Ya mas.”
“Seyakin apa?”
Siska menghela nafasnya, “karena aku sendiri yang sudah memusnahkan berkas-berkas itu.”
.
.
****
.
.
Aku duduk bersandar di kursi kerja papa memijat pelipisku. Ethan baru saja selesai memperlihatkanku data-data dasar perusahaan, nama-nama klien penting, dan klien-klien yang menjadi langganan tetap perusahaan ini. Ia mengajariku banyak hal, termasuk bagaimana menangani sebuah proyek.
Ethan benar-benar mengajari tanpa ampun. Dia bahkan tidak mengizinkanku istirahat barang sekejap. Aku kewalahan.
“Ethan aku lapar.” Ucapku sembari melihat Ethan yang tengah sibuk dengan laptopnya.
“Sebentar Ree. Sedikit lagi.”
“Kerja apa sih?” aku beranjak mendekati Ethan.
“Lagi cari informasi tentang Frederika.” Jawab Ethan tanpa melihatku.
“Aku sudah mencarinya Ethan. Tidak ada satu pun informasi tentangnya. Kau tidak akan menemukannya.”
“Aku tidak mencari di internet Ree. Aku mencarinya di data perusahaan. Jika benar seperti yang pak Ren bilang kalau om Doni sudah lama bekerjasama dengan Frederika, harusnya akan ada banyak data tentangnya. Data yang tidak terungkap ke media.”
“Ahhh... Benar juga.” Aku menganggukkan kepala. “jadi apa yang kau dapatkan?”
“Om Doni sudah cukup lama bekerjasama dengan Frederika. Sesuai yang pak Ren katakan, sejak tahun ke dua perusahaan ini berdiri.”
“Wah.. benar-benar selama itu yah?”
“Ya Ree.”
“Lalu apalagi?”
“Belum banyak Ree, aku masih mempelajari proyek-proyek yang pernah ditangani bersama. Dan ini tidak akan cepat selesai kalau kau terus mengangguku.”
“Hahaha. Baiklah.” aku kembali duduk dikursiku, menopang dagu. “Ethan aku lapar.”
“Sudah kupesankan makanan.”
“Serius?”
Ethan mengangguk. “Sebentar lagi sampai.”
“Tapi aku ingin bakso.”
Tok, tok, tok!
Aku menoleh kepintu. “Ya masuk.”
Seorang office boy melangkah masuk membawa kantongan. “Maaf bu, ini ada pesanan makanan.”
“Oiya tolong taruh dimeja sana.” Kutunjuk meja yang ditempati Ethan kerja.
“Baik bu.” Jawabnya sembari menuju meja yang kutunjuk. “saya permisi dulu bu.”
Aku mengangguk tipis.
“Waahh... Kau benar-benar membelikanku bakso, Ethan.” Ucapku membuka kantongan makanan di meja.
Ethan tersenyum. “Cepatlah makan Ree, setelah ini kau ada jadwal. Pak Ren lagi mengaturnya untukmu.”
“Jadwal? Jadwal apa?” Ucapku sambil mengunyah sepentol bakso.
“Ibu Direktur harus memperkenalkan dirinya Ree. Mereka harus tahu kalau kau lah sekarang Direktur sementara diperusahaan ini sebelum rapat pemegang saham berikutnya diadakan.”
“Siapa saja yang akan hadir?”
“Kepala-kepala Divisi dan beberapa kepala cabang perusahaan.”
“Lalu akan ada mas Anton dan Siska juga?”
“Tentu saja. Posisi Anton sekarang wakil Direktur, tentu dia harus ada. Hanya kecuali dia meremehkanmu.”
“Aku bertaruh dia pasti tidak akan datang.” Kataku sambil meneguk air mineral.
Ethan mengedikkan bahunya. “tidak penting juga dia hadir.”
Tok tok tok! Kembali terdengar suara pintu.
Pak Rendra muncul dari balik pintu. Ia sedikit ngos-ngosan, seperti dikejar sesuatu.
“Ada masalah apa pak?” tanya Ethan.
“Maaf nona Ree. Sepertinya nona harus segera datang diruang rapat. Sebenarnya kemarin aku sudah menjadwalkan akan diadakan rapat hari ini terkait perkenalan nona Ree. Namun saat aku mengkonfirmasi kembali pada kepala divisi dan cabang, ternyata mereka ada undangan rapat juga dari Pak Anton. Waktunya bersamaan.” Ucap pak Rendra cepat.
“Anton ternyata mulai berulah.” Ucap Ethan sembari merapikan laptopnya. Ia lalu melihatku, “bersiap lah, Ree. Kita ke ruang rapat sekarang. Kita tidak bisa membiarkan Anton berbuat sesuka hatinya.”
Buru-buru kuteguk air hingga tandas. Kurapikan pakaianku, rambutku, memoles tipis bedak, lipstik dan blush on. Setelah kurasa cukup kulihat kembali wajahku lewat cermin kecil, sempurna!
“Aku siap. Kita pergi sekarang.” Ucapku sembari melangkah sedikit terburu.
Ethan dan pak Rendra mengikutiku dari belakang.
Brak!
Ethan mendorong pintu ruang rapat. Sontak semua peserta rapat menoleh kearah kami. Aku berjalan dengan anggun dan duduk dikursi kosong paling depan, kursi Direktur. Ethan dan pak Rendra masing-masing berdiri disisi kanan kiriku.
Kusandarkan badanku santai di kursi lalu menatap tajam Anton.
“Aku tidak tahu mengapa kau mengadakan rapat tanpa memberitahukan padaku lebih dahulu pak Anton. Kupikir tadi pagi kau sudah tahu bahwa aku lah Direktur disini.”
Mas Anton bungkam, menatapku seakan ingin membunuh. Aku tidak peduli.
“Apa kau tidak ingin maaf padaku pak Anton?”
Anton sedikit menggeram, mengepalkan tangannya. Semua mata tertuju pada kami berdua.
“Ma... af” ucapnya sangat pelan hampir tidak terdengar.
“Baiklah. Permintaan maafmu aku terima, pak Anton. Tapi kalau kau melakukannya lagi, aku akan memberikanmu surat peringatan.” Ucapku tegas.
Aku lalu menatap tajam para peserta rapat. “Dan kalian juga. Siapapun yang berani mengadakan rapat tanpa sepengetahuanku, akan kuberikan surat peringatan hingga pemecatan.”
Tampak orang-orang didepanku menatapku kebingungan.
“Baiklah.” Aku berdiri dengan kedua tangan menyentuh sisi meja. “Aku akan memperkenalkan diri. Namaku Reenata Refanda. Kalian bisa memanggilku ibu Ree. Mungkin sebagian dari kalian ada yang pernah melihatku atau mengenalku. Aku adalah anak dari pak Doni Darsono.”
Kuhela nafasku sejenak, "Mungkin ada yang sudah menebak kalau aku juga isteri dari pak Anton Handoko.” Kulemparkan senyumku pada mas Anton.
“Itu benar. Tapi mungkin juga tidak. Yang jelas aku tidak akan membicarakan masalah pribadiku disini.”
Kuubah posisi berdiriku menjadi lebih tegak. “Saat ini aku lah Direktur Utama diperusahaan. Kalian bisa mengingat wajahku mulai sekarang. Aku akan menjabat selama Rapat Pemegang Saham belum diadakan. Paham?”
Orang-orang didepanku nampak mengangguk.
“Dan ini...” ku arahkan lenganku pada Ethan.
“Namanya Ethan Rai.”
Ethan sedikit menundukkan kepalanya dan tersenyum pada peserta rapat.
“Aku yakin beberapa orang disini juga sudah mengenal pak Ethan. Dia dulu adalah Wakil Direktur perusahaan, jabatan yang sekarang di pegang pak Anton. Namun saat ini pak Ethan akan menjadi sekretaris pribadiku bersama pak Rendra. Saya harap kalian mengetahui itu.”
Aku lalu duduk kembali.
Kutatap officegirl yang tengah berdiri membawa teh dan cemilan menunggu pidatoku selesai.
“Kau boleh menyajikan teh dan cemilannya.” Ucapku pada officegirl itu.
“Baik bu.”
“Biarkan Siska yang membantumu.” Lanjutku lagi.
Officegirl itu menatap Siska. Siska menatapku. Aku menatap Siska. Nampak bola matanya membesar seolah tak percaya dengan ucapanku barusan. Mukanya merah padam. Bisa kutebak selama bekerja diperusahaan dia tidak pernah melakukan hal seperti ini. Dan kalau aku menyuruhnya, itu berarti penghinaan buatnya.
“Kenapa Siska? Ada yang salah?” aku bersedekap sedikit memiringkan kepalaku.
Siska menunduk mengepalkan tangannya. Dengan langkah pelan Siska ikut menyajikan teh dan cemilan untuk para peserta rapat. Beberapa peserta saling berbisik melihat ke arah Siska dan mas Anton.
Aku sudah tidak peduli. Tidak ada yang bisa menghentikan langkahku sekarang.
Kulihat Siska mendekat membawakanku teh.
“Terimakasih VENA.” Ucapku setengah berbisik saat Siska meletakkan cangkir teh tepat disampingku.
Siska terlonjak hampir terjatuh. Ia menatapku getir. Ia meremas kedua tangannya didada. Badannya bergetar. Ia melangkah mundur dan berbalik lari keluar ruangan rapat.
Mas Anton yang melihat itu langsung berdiri mengejar Siska, meninggalkan banyak tanda tanya pada para peserta rapat.
Kuhela nafasku dalam, tersenyum tipis.
“Baiklah. Kalau semua sudah jelas, silahkan kalian lanjutkan rapatnya sambil menikmati teh dan cemilannya. Aku akan duduk disini mendengarkan.” Ucapku memecah keheningan.
Ini belum apa-apa Siska. Semua yang kulakukan sama sekali tidak sebanding dengan kesakitan dan kepedihan yang pernah kurasakan. Aku akan menggores luka dibadan kalian pelan-pelan dan dalam. Hingga kalian akan merasakan setiap inci rasa sakit itu.
.
.
****
.
.
“Aku tidak tahu kalau kau bisa jadi penyihir Ree.” Ucap Ethan menyeimbangi langkah panjangku. Kami baru saja keluar dari lift kembali ke ruanganku.
Aku mengedikkan bahuku, “paling tidak aku penyihir cantik Ethan.”
“Hahaha. Pokoknya kau luar biasa tadi.”
“Aku tahu. Aku memang selalu begitu. Akan kutraktir kau makan gado-gado karena sudah memujiku.”
“Hahaha. Kau tidak pernah mentraktirku Ree, aku yang selalu membayar makananmu.”
Kuhentikan langkahku menghadap Ethan. “Dengar yah ulat bulu, aku selalu menawarkan untuk mentraktirmu. Bukan salahku kalau kau ternyata tidak pernah mau.” Ucapku sembari berbalik meninggalkan Ethan yang tengah bengong melihatku.
“Hahaha kau benar-benar penyihir Ree.”
“Tapi cantik.”
“Hahaha.”
Kudorong pintu ruanganku dengan sebelah tanganku. Nampak Pak Ren sudah duduk di sofa tamu.
“Bagaimana pak Ren? Sudah ada kabar dari pak Handoko?” tanyaku sembari duduk dihadapannya.
“Sudah nona Ree. Menurut Sekretarisnya, pak Handoko masih diluar negeri. Dia akan balik kesini dua minggu lagi.”
“Dua minggu?” tanya Ethan sedikit kaget.
Pak Ren mengangguk.
“Apa waktu kita cukup pak Ren?” tanyaku khawatir. “Maksudku bukan kah kita harus mengajukan proposal terlebih dahulu untuk meyakinkan Frederika di rapat pemilihan nanti? Sementara rapat diadakan kurang lebih tinggal tiga minggu lagi.”
“Harusnya cukup Ree.” Ucap Ethan sambil mengelus dagunya.
Ethan lalu menatap pak Ren, “Pak Ren sudah melakukan sesuai rencanaku kan?”
“Sudah pak Ethan”
“Kalian bicara apa sih? Ada yang bisa jelaskan padaku?” tanyaku melirik Ethan dan pak Ren bergantian.
“Sebelumnya aku dan pak Ren sudah membuat proposal kerjasama yang akan kita ajukan nanti Ree. Kami jaga-jaga kalau seandainya pak Han tidak berada di tempat, kami tetap bisa mengirimkannya lewat email. Jadi dia bisa membaca dan mempelajari dimana pun di berada. Nanti kalau dia sudah kembali, kita tinggal menemuinya langsung dan menjelaskan inti dari proposal itu.” Ucap Ethan.
Aku mengangguk paham, “Lalu, bagaimana pak Ren? Apa proposal itu sudah dikirim ke pak Han?”
“Sudah nona Ree. Sebelum kesini tadi, aku sudah mengirimkannya dulu pada pak Han. Katanya nanti dia akan memberikannya pada Frederika.”
“Baiklah. Nanti berikan aku copyannya. Akan kupelajari dulu. Supaya saat kita bertemu Han aku bisa menjelaskannya secara lancar.”
“Baik nona Ree.”
“Tapi memangnya dimana posisi pak Han sekarang?” tanyaku lagi.
“Greenland.”
“Greenland?” aku sedikit terkejut. “ada urusan apa dia ditempat sejauh itu?”
“Saya tidak tahu. Waktu saya tanya pada sekretarisnya dia juga tidak tahu. Hanya beberapa bulan terakhir ini katanya pak Han memang sering kesana.”
“Apa mungkin kalau Frederika ada disana?” ucap Ethan tiba-tiba.
Kami bertiga saling menatap.
Pak Ren mengedikkan bahunya, “Tidak pernah ada yang tahu dimana Frederika berada.”