LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 21



“Bagaimana proposal kerjasamanya, sudah kau pelajari?” tanya Ethan.


“Huuffhh... Bisakah kau biarkan aku bernapas barang sekejap Ethan?”


“Hahaha. Sorry Ree. Aku cuma sedikit tegang. Kau tahu kan pak Han beberapa hari lagi sudah balik ke Indonesia.”


“Aku tahu Ethan. Tenanglah sedikit. Kau tidak percaya kemampuanku yah?”


“Bukan begitu Ree. Hanya... Ya sudahlah.” Ethan mengedikkan bahunya. “Mungkin aku memang sedikit tegang. Hahaha”


“Kita bahas yang lain saja boleh? Rasa-rasanya sebulan ini aku terus berkutat dengan masalah si Frederika itu. Kau tahu kan rasanya seperti makan mie goreng terus-terusan. Adakalanya kau merasa enek.”


“Hahaha. Baiklah.” Jawab Ethan sambil menyesap tehnya. “Kau ingin membahas apa?”


Kuangkat kedua kakiku diatas kursi membuat diriku lebih nyaman dan santai. Aku duduk bersila.


Ini kali kedua kami duduk dengan secangkir teh memandang lepas langit malam. Pertama kalinya saat Ethan baru datang di malam pertengkaranku dengan mas Anton.


“Kau tahu Ethan, saat duduk seperti ini mengingatkanku kembali saat malam kau datang pertama kalinya ke sini.”


“Hah?” Ethan melirikku bingung. “Bukannya itu malam saat aku menonjok Anton yah? Kenapa juga kau harus mengingatnya.”


“Hahaha. Iya Ethan. Tapi bukan itu yang kumaksud.”


“Lalu?”


“Maksudku, saat kau mengatakan kalau aku telah menyelamatkanmu.”


“Oh.” Jawab Ethan memandang langit.


Lama aku menunggu, tidak ada kelanjutannya.


“Ck! Oh saja?” tanyaku berdecak kesal.


“Hahaha. Harus kuceritakan yah Ree?”


“Harus. Kau sudah janji padaku. Toh urusan kita sudah tidak terlalu banyak sekarang. Masalah perceraianku sudah hampir tuntas. Pengacaraku sudah mengurusinya. Mas Anton juga ternyata tidak mempersulit seperti yang dia ancamkan kepadaku. Lalu... Masalah perusahaan, saat ini aku sudah jadi Direktur seperti saranmu. Tinggal masalah Frederika yang belum selesai. Tapi itu sudah jauh lebih mudah kan sekarang.” Ku tarik nafas sejenak.


“Jadi kupikir tidak ada salahnya kalau kau menceritakan itu padaku.”


“Hmm... Aku harus memulai dari mana yah.” Ethan mengelus dagunya tampak berpikir.


“Mulai dari hal yang pertama kali terlintas dipikiranmu.”


“Hahaha. Kau mengikuti kalimatku dulu Ree.”


“Tidak salah kan?” aku mengedikkan bahu.


“Hahaha. Baiklah tuan puteri.” Ethan menyesap tehnya. Ia menerawang melihat langit. Hening sejenak.


“Aku yatim piatu Ree. Opamu yang menemukanku.” Ucap Ethan memulai ceritanya.


“Opa?”


“Ya. Di Subra Khit, sebuah desa kecil sekitar 92 kilo meter dari Alexandria.”


“Kau berasal dari sana?” tanyaku sedikit takjub. Puluhan tahun aku tinggal bersamanya baru ini aku tahu asal usul Ethan.


“Ya.”


“Benarkah?” aku masih tak percaya.


“Ya Ree.”


“Waah... kau benar-benar bukan turunan asia, Ethan. Pantas kau nampak berbeda.”


“Kenapa? Aku tampan ya?” Ethan tersenyum menggoda.


“Tidak.” Jawabku cepat.


“Jangan bohong Ree. Akuilah kalau aku tampan. Hahaha.”


Aku mendeliknya kesal.


“Hahaha.” Ethan tertawa lagi.


“Sudah puas ketawanya?”


“Hahaha sudah.” Ethan menyelesaikan sisa tawanya. “Lalu apa lagi yang ingin kau tanyakan, hem?”


“Hmm... Bagaimana opa bisa menemukanmu ditempat sejauh itu?”


“Opa omamu dulu tinggal di Alexandria Ree.”


“Hah? Masa sih? Maksudku aku memang tahu kalau mamaku dulu kuliah di sana. Tapi aku sama sekali tidak tahu kalau mereka menetap disana. Tidak ada satupun yang pernah mengatakannya padaku.”


“Kau tidak pernah bertanya Ree.”


“Hehe iya sih.” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


“Opa dan omamu arkeolog disana. Daerah penjelajahannya disekitar Mesir, jadi dia cukup lama tinggal dan menetap di Alexandria.” lanjut Ethan menjelaskan.


“Ah ya! Kalau bagian arkeolog itu aku tahu. Oma pernah menceritakannya padaku.” jawabku cepat.


"Jadi bagaimana opa bisa menemukanmu?”


“Panjang ceritanya Ree. Tidak akan habis kalau harus kuceritakan malam ini.”


“Haha. Baiklah. Aku skip bagian itu. Karena yang ingin kutahu darimu bukan masalah itu. Tapi kenapa kau bisa mengenal Liontinku. Kau tahu maksudku. Perubahan warnanya. Seingatku Liontin ini selalu tersimpan rapi dilemariku. Tidak pernah sekalipun kupakai. Jadi harusnya tidak seorangpun yang tahu keberadaan Liontin ini tentu saja selain oma dan papaku.”


“Begitu yah?” Ethan menghela nafasnya. Hening sejenak.


“Kalau dari cerita omamu, darimana dia bisa mendapatkan Liontin itu?” tanya Ethan lagi.


“Hmm... Oma tidak menceritakannya lebih detail. Tapi kata oma, opalah yang memberikannya saat opa pulang dari perjalanan ekspedisi penggalian disalah satu reruntuhan artefak.”


Ethan tampak berpikir sejenak, “Sebetulnya itu ada benarnya tetapi ada salahnya juga. Tergantung sudut pandang kita memaknai kalimat omamu.”


“Maksudmu? Jangan pakai bahasa berat Ethan. Otakku lagi soak sekarang. Kau tahu kan proposal kerjasama itu memakan banyak energiku. ”


“Hahaha. Baiklah.” Ethan menyesap tehnya lalu meletakannya kembali ke meja.


“Maksudku, benar memang opamu mendapatkan Liontin itu saat ia pergi ekspedisi penggalian artefak. Tapi tidak benar kalau ia menemukanya di reruntuhan artefak.”


“Hah? Maksudnya?”


“Opamu menemukan Liontin itu diperjalanan ekspedisi, bersamaan saat dia menemukanku.”


“Hubunganya?”


“Karena Liontin itu tergantung dileherku Ree.” Ethan tersenyum tipis.


“Haaahhh?!” aku sedikit menganga menatap Ethan.


“Tunggu sebentar!” kuangkat tanganku sebelah, menarik nafas panjang.


“Jadi liontin ini opa dapatkan dari kau?”


“Ya. Aku yang memberikannya.”


“Ini milikmu?” aku menunjukkan padanya Liontin dileherku.


“Ya.”


“Dari awal ini milikmu?”


“Iya Reenataaaa. Harus berapa kali kau menanyakan itu.”


Kuhempas tubuhku disandaran kursi.” Waah... Aku seperti tak percaya Ethan. Maksudku, kau tak pernah mengatakannya padaku.


Bukan!” Aku menggeleng tipis


“Oma yang tak pernah menceritakannya padaku.”


“Tidak penting Ree. Toh aku juga sudah memberikannya pada opamu.”


Aku mengernyitkan dahiku sedikit bingung, "Mengapa?”


“Mungkin semacam tanda terimakasih.” Ethan mengedikkan bahunya.


“Hanya karena itu?”


“Ya.”


“Tapi kau tahu kekuatan Liontin ini? Maksudku cerita-cerita aneh tentang Lemurian dan segala macam yang ada di dalamnya?”


“Tentu.”


“Dan kau tetap memberikannya cuma-cuma pada opaku.”


“Ya.”


“Semudah itu?”


“Ya Ree.”


“Waah kau sungguh dermawan Ethan. Luar biasa.” Kutepuk tanganku.


“Tentu Ree. Aku memang tampan dan dermawan. Hahaha.”


“Hiish! Serius Ethan!”


“Hahaha. Aku dari tadi serius tahu. Mana coba jawabanku yang melantur.”


Aku tersenyum. “Baiklah. Lalu apakah dari awal opaku tahu kekuatan Liontin itu?”


“Opamu bisa melihat kalau itu artefak kuno. Tapi dia tidak bisa melihat lebih jauh tentang itu. Aku pernah menceritakan semuanya padanya, tapi dia tidak percaya.”


“Loh.. kalau begitu darimana oma bisa tahu cerita-cerita itu?”


“Aku yang memberitahukan pada omamu. Dia memang tidak ikut opamu di ekspedisi penggalian itu. Tapi dia percaya ceritaku. Dia lalu meneliti lebih lanjut tentang itu. Kau tahu maksudku. Lemurian.


“Aku masih bingung Ethan. Kenapa omaku lebih percaya kau dibandingkan opa.”


“Karena omamu sama denganku Ree.”


“Apanya?”


“Kami sama-sama bisa melihat warna.”


“Aura?”


“Ya.”


“Kau juga?”


“Aku lebih luas.”


“Maksudmu?”


Aku terdiam mengikuti Ethan melihat luasnya langit malam. Seperti sesuatu yang tidak berujung dan tidak berbatas. Aku berusaha memahami semua cerita Ethan.


“Jadi ini benar milikmu ya Ethan?” tanyaku lirih.


“Ya.”


“Lalu oma memberikannya pada mamaku?”


“Ya. Omamu memberikannya saat dia balik ke Indonesia. Mamamu sedang mengandungmu saat itu. Tapi mamamu bukan pemiliknya.”


“Omaku tahu itu?”


“Tentu. Dia bisa melihat warna mamamu.”


“Tapi kenapa oma tetap memberikannya?”


“Karena dia ingin membantu mamamu walau cuma sedikit. Mungkin omamu sedikit berharap kalau liontin itu dapat bekerja meski mamamu bukan pemiliknya.


“Membantu? Kenapa?”


“Entah lah. Aku juga tidak tahu. Kau tahu lah ikatan kuat seorang ibu dan anak. Yang aku tahu saat itu mamamu memang memiliki cukup masalah dirumah tangganya.”


“Ah.. saat itu ya. Aku sudah tahu itu. Aku tidak ingin membahasnya.”


Ethan mengedikkan bahunya.


“Lalu tetap tidak berhasil?” tanyaku lagi.


“Tentu. Kau tahu kan sesuatu yang tidak pada tempatnya tidak akan berhasil. Seperti kau ingin memasukkan bola kaki ke dalam sebuah botol. Itu tidak mungkin. Begitu lah sistem kerjanya.”


“Dan... Ternyata aku lah pemiliknya?”


“Ya. Omamu sudah tahu itu sejak kelahiranmu. Auramu sangat terang waktu itu.


“Ada hal yang tidak kumengerti Ethan. Kau sama sekali belum menjelaskan mengapa kau mengatakan kalau aku telah menyelamatkanmu.”


“Hmm..." Ethan tampak berpikir sejenak.


"Karena saat kau mengucap keinginanmu dan liontin itu bekerja, aku ikut tertarik.”


“Kau?”


“Ya.”


“Kenapa?” kukerutkan keningku. “Maksudku kenapa kau harus ikut tertarik sementara yang lain tidak?”


Ethan menghela nafasnya. “Karena aku juga pemiliknya Ree.” Ucapnya lirih.


“Haaah?!”


“Iya Ree.”


“Serius?”


“Ya.”


“Memang pemiliknya bisa dua orang?”


“Bisa. Tapi itu kejadian langka. Aku juga kaget saat melihat auramu pertama kali.”


“Berarti kau ingat semua kejadian di masa sebelumnya?”


“Tentu.”


“Saat aku lumpuh, saat mas Anton dan Siska menjahatiku, saat kau meninggalkanku malam itu, semuanya?”


“Ya Ree. Aku bahkan ingat telah memberikanmu gelang permata delima. Kau sih buru-buru menyuruhku pulang. Aku jadi tidak bisa menunggu gelang itu selesai. Padahal gelang itu sudah sementara dibuat di Italy sana. Aku bahkan sudah membayarnya di muka. Mahal tahu.”


“Hahaha. Sorry Ethan.” Kusandarkan kepalaku di kursi. “Tapi kenapa di masa sebelumnya kau bertingkah seolah kau tidak tahu apa-apa tentang Liontin itu?”


“Karena tidak ada gunanya Ree.”


“Kenapa?”


“Kau tidak akan percaya.”


“Aku percaya kok.”


“Sekarang. Tapi dulu? Saat omamu menceritakan semua hal aneh itu, apa kau percaya?”


Aku memalingkan wajah. Ada perasaan bersalah besar muncul dalam hatiku mengingat bagaimana aku selalu marah pada oma setiap dia menceritakan tentang Lemurian.


“Itu mengapa kau menaruh Liontin itu dalam genggamanku saat kau meninggalkanku malam itu? Kau sengaja?” tanyaku lirih.


“Ya Ree.”


“Jadi saat aku mengucapkan keinginan dan liontin itu bekerja, saat itu juga aku sudah menyelamatkanmu?”


“Ya.”


“Kenapa? Apa yang kau alami malam itu Ethan?”


“Aku... Mengalami kejadian yang tidak menyenangkan.”


“Apa itu?”


“Pokoknya sesuatu yang tidak menyenangkan.”


Kuhela nafasku panjang. “Baiklah Ethan kalau kau tidak ingin memberitahukan padaku. Toh aku juga mengalami kejadian yang tidak menyenangkan malam itu. Tapi itu sudah berlalu Ethan. Kita tidak akan mengalaminya lagi.”


“Belum tentu Ree.” Suara Ethan tertahan.


“Kau mungkin tidak. Tapi belum tentu denganku.”


“Maksudmu?”


“Kau yang memegang liontin itu. Kau yang mengucapkan keinginan. Tentu dia akan mengubah bagianmu. Tapi aku. Aku hanya ikut tertarik denganmu. Belum tentu Liontin itu ikut mengubah bagianku.”


“Tapi kenapa?”


“Entahlah Ree. Itu juga tidak pasti. Sudah kukatakan padamu, ini kejadian langka. Tidak banyak penjelasan tentang itu. Apalagi untuk nasib orang yang hanya terikut di dalamnya. Aku tidak tahu bagian bayaranku seperti apa.”


“Huuffhh... Kenapa rumit sekali Ethan.”


“Teknologi canggih, ilmu pengetahuan yang tinggi, tidak ada yang mudah Ree.”


Kugenggam tangan Ethan, bisa kurasakan hangat kulitnya yang berbanding terbalik dengan udara malam ini, “Semoga apa yang terjadi padamu tidak terulang Ethan.”


“Ya Ree. Aku juga berharap demikian.” Ethan menatap langit.


Sejurus kemudian ia kembali melihatku, “Kau tidak perlu khawatir. Aku ini kuat tahu. Seperti Popeye si pelaut. Hahaha”


Aku terdiam, tidak menanggapi ucapan Ethan. Kami sama-sama diam melihat luasnya langit malam. Bintang yang bertabur diantara gelapnya angkasa luar. Banyak hal di semesta ini yang masih menjadi rahasia. Banyak hal yang tidak kita ketahui. Seperti batasan langit pertama yang tidak pernah bisa kita jangkau padahal ia ada tujuh lapisan. Atau bagaimana dalamnya samudera dan makhluk yang hidup di dalamnya yang sampai saat ini masih menjadi misteri.


Lama kami saling terdiam dan hanyut dengan pikiran kami masing-masing. Ternyata mengetahui asal usul Ethan pun tidak cukup meringankan beban hatiku saat ini.


Tapi aku yakin, tidak lama lagi semua ini pasti berakhir. Aku tidak akan kalah dengan apapun yang akan menghalangi jalanku saat ini.


Hanya tinggal dua hari lagi aku menemui pak Han. Akan kuyakinkan dia, bagaimanapun caranya agar Frederika memilihku. Aku memang tidak tahu apa alasan papa mengalihkan sebagian saham padanya. Tapi yang jelas papa mempercayainya. Tentu aku juga akan mengambil sedikit keuntungan dari situ. Yang jelas kemungkinan apapun itu, aku tidak bisa lengah. Aku tetap akan berusaha semaksimal mungkin. Karena aku pun tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kalau Frederika memberikan suaranya padaku, maka semua selesai. Akan kubuat Anton dan Siska mendekam menggantikan papaku di bui. Kupastikan itu yang akan terjadi selanjutnya.


.


.


****


.


.


Jauh dibelahan benua lain.


“Kenapa sih kau harus memilih tempat sejauh ini?” tanya Han melirik seseorang yang duduk didepannya dari balik layar laptopnya.


“Aku bosan Han, terlalu lama aku melihat tanah tandus dengan banyak pasir. Sekarang aku ingin melihat salju.”


“Tapi kau kan bisa memilih tempat yang hijau.”


“Hahaha. Itu tidak menarik Han.”


“Terserah kau lah.” Ucap Han acuh kembali menatap laptop didepannya.


“Kau sedang apa Han?”


“Biasalah. Mengurus uangmu.”


“Tidak usah terlalu kau urus Han. Kau tahu kan uangku tidak akan habis turun temurun. Hahaha.”


“Tapi yang ini menarik Jo.”


“Menarik?”


“Ya.”


“Tentang apa?”


“Perusahaan Doni Darsono.”


“Aahh... Aku cukup mengenalnya. Beberapa bulan lalu dia menjual sahamnya padaku dengan sebuah perjanjian.


“Oh... Perjanjian yang waktu itu.”


“Ya Han.”


“Lalu, kau akan memenuhi janjimu?”


“Tergantung.”


“Sudah kuduga. Kau iblis Jo.”


“Hahaha. Aku tidak bilang akan mengingkari janjiku Han. Aku hanya bilang 'tergantung'. Kau paham?”


“Tergantung apa?”


“Seperti biasa, tergantung semenarik apa ceritamu.”


“Kalau tidak menarik?”


“Aku tidak akan memenuhi janjiku.”


“Kau memang iblis Jo.”


“Hahaha. Ayolah Han. Kau tahu aku suka sesuatu yang menarik. Ceritakanlah padaku. Semenarik apa perusahaan itu?


Frederika Jonathan tersenyum bersandar dikursi hangatnya, memangku kaki sambil pelan-pelan meneguk segelas anggur. Sesekali ia tersenyum tipis saat mendengar cerita dari Handoko, asistennya.