
Anton nampak duduk di ruang tunggu sebuah kantor Konstruksi terbesar ke tiga se-Asia Tenggara. Dia cukup rapi hari ini memakai setelan jas berwarna biru dongker dengan kemeja biru laut di dalamnya. Sepatunya mengkilat baru saja disemir Nina tadi pagi.
Sementara disamping Anton duduk Siska yang juga memakai setelan jas, kemeja merah dan rok diatas lutut. Rambut Siska dibuat sedikit berombak untuk menambahkan rasa percaya dirinya. Sepatu hak tujuh centinya juga tidak lupa ia kenakan hari ini untuk memperlihatkan kaki jenjangnya. Penampilan mereka betul-betul sempurna.
Namun, sempurnanya penampilan mereka hari ini berbanding terbalik dengan apa yang sedang mereka rasakan. Mereka berdua justru nampak tidak tenang dan sedikit gelisah.
Itu bisa dilihat dari Anton yang beberapa kali mengelap keringat didahinya. Dan Siska yang sesekali memainkan jemarinya sembari meremas dokumen yang dibawanya.
Mereka terlihat tegang dan tidak saling bicara. Padahal ruangan tunggu itu sudah dibuat senyaman mungkin dengan udara yang sejuk dan sofa yang empuk. Tapi semua itu tetap tidak bisa membuat perasaan mereka jauh lebih baik.
Anton tidak pernah merasa segugup ini. Bagaimana tidak, saat ini ia harus bertemu dengan bapak Handoko, asisten dari Frederika Jonathan, dan ia harus berhasil mengajaknya untuk bekerjasama.
Benar memang Anton sering menangani proyek besar dan bertemu dengan pemilik-pemilik perusahaan.
Tapi yang ini kelasnya jelas jauh berbeda.
Dia harus bertemu dengan asisten dari seseorang yang bukan hanya pemilik berpuluh-puluh perusahaan, tetapi juga pemilik modal dengan kucuran dana investasi yang luar biasa banyak. Orang dengan sejuta rahasia sampai-sampai disebut sebagai pemegang saham anonim.
Anton sebenarnya pernah beberapa kali bertemu dengan pak Han. Tapi itu juga hanya karena dia menemani papa Ree. Terlebih lagi disetiap pertemuan itu, papa Ree dan pak Han akan masuk diruangan tersendiri dan berdiskusi berdua tanpa melibatkan orang lain.
Karena itulah Anton tidak punya bayangan sama sekali tentang bagaimana cara menghadapi pak Han, seperti apa cara melobi ataupun membujuknya sehingga mau diajak bekerjasama.
“Pak Anton dan ibu Siska, silahkan masuk. Pak Han sudah menunggu anda di dalam.” Salah seorang Sekretaris pak Han tiba-tiba muncul memecah keheningan.
Anton mengangguk sembari berdiri melangkah masuk ke ruangan pak Han.
Siska mengikutinya dari belakang.
“Selamat siang pak Handoko.” Ucap Anton mencoba menyapa pak Han yang tengah sibuk membaca tumpukan berkas di hadapannya.
“Oke silahkan duduk dulu.” Jawab pak Han tanpa menoleh.
Anton dan Siska lalu duduk dikursi kosong tepat didepan meja pak Han.
Seketika ruangan itu hening.
Hanya goresan pena dari pak Han yang terdengar saat ia mencatat sesuatu, atau menerakan tandatangannya diatas lembaran kertas.
Anton menelan ludah. Luar biasa aura pak Han ini. Sunggu berbeda dengan caranya berbicara di telepon. Auranya benar-benar langsung meruntuhkan kepercayaan diri Anton yang sedari kemarin sudah susah payah dibangunnya.
Ini masih asisten, bagaimana kalau Frederika sendiri yang dihadapinya. Mungkin dia bakal pingsan ditempat.
Setelah menandatangani lembaran kertas terakhir, pak Han lalu melepas kacamatanya. Ia menopang dagu sembari menatap Anton dan Siska tajam.
“Jadi apa yang bisa saya bantu pak Anton?” tanya pak Han dengan suara dalam.
“Ah.. ini pak. Kami ingin mengajukan proposal kerjasama.” Jawab Anton gugup.
“kerjasama apa yang ingin kalian ajukan saat pemilik perusahaan sendiri bisa terjerat kasus dan masuk penjara?”
Deg!
Hati Anton mencelos. Ia bingung harus menjawab apa. Pak Han membuatnya mati kutu.
“Karena itulah pak. Kursi Dirut sekarang kosong. Kami ingin mendapat dukungan dari bapak.” Siska tiba-tiba ikut buka suara, mengemukakan maksud mereka datang. Ia tidak bisa terlalu bertele-tele seperti Anton. Bisa habis nafasnya kalau terlalu lama di ruangan ini.
“Kau...” pak Han menahan ucapannya sembari menatap Siska tajam. “sekretaris pak Doni bukan? Apa yang kau lakukan disini?”
Siska menelan ludah, “saya... Saya bukan sekretaris pak Doni lagi, pak.” jawab Siska terbata.
“Oh ya?” sebelah alis Pak Han terangkat. “Jadi kau memutuskan untuk mengkhianati pak Doni? Apa jaminannya kalau kau tidak akan melakukan hal yang sama pada Frederika?”
Siska tersudut. Ia meremas tangannya, tidak tahu harus menjawab apa.
“Kami tidak mengkhianati pak Doni, pak. Pak Doni lah yang menghianati kami. Dia telah menyalahgunakan kepercayaan kami. Semua yang terjadi padanya adalah akibat ketamakannya sendiri.” Ucap Anton memberanikan diri.
Dia sudah terlanjur melangkah sejauh ini. Dia tidak boleh gagal. Apapun resikonya akan dia hadapi. Jadi dia tidak bisa kalah disini. Kalau suara Frederika lepas, maka habis sudah harapannya.
Pak Han menatap Anton dan Siska tajam. Tatapannya serasa menguliti setiap sendi dan urat mereka, membuat Anton dan Siska tidak berkutik. Mereka membeku tidak bergerak. Seperti dua kubu yang sedang beradu kekuatan. Hening mencekam.
Dan ....
...........
...........
“HAHAHA.” tiba-tiba pak Han tertawa terbahak memecah ketegangan diantara mereka.
Anton dan Siska saling lirik. Bingung dengan sikap pak Han. Benar-benar tidak bisa dibaca. Mereka bahkan tidak tahu mengapa pak Han bisa tertawa.
“Ayolah... Kalian tidak bisa diajak bercanda yah? Kalian terlalu tegang untuk ukuran anak muda.” Pak Han menyandarkan tubuhnya dikursi. Merubah posisi duduknya menjadi lebih santai.
“Cobalah untuk menikmati hidup ini. Jangan terlalu serius lah. Bisa cepat muncul keriput nanti.” lanjut pak Han tersenyum ramah.
Suasana seketika mencair. Ketegangan yang tadinya melingkupi mereka tiba-tiba lenyap.
“Maaf pak. Aku tidak tahu kalau tadi bapak hanya bercanda.” Ucap Anton tersenyum.
“Hahaha. Bukan hanya pak Anton saja yang terjebak. Banyak juga eksekutif muda lainnya bernasib sama seperti pak Anton. Hahaha.
Entah kenapa, aku hanya senang melakukannya. Anak-anak muda seperti kalian ini terlalu serius menjalani hidup.” Ucap pak Han sembari meneguk air mineral diatas mejanya.
“Jadi apa yang bisa saya bantu? Langsung ke intinya saja. Jelaskan secara singkat. Saya masih ada rapat lagi soalnya siang ini.”
“Begini pak. Beberapa bulan lagi kami akan mengadakan RUPS perusahaan. Isinya menunjuk Ditektur Utama yang baru. Jadi kami ingin bapak mendukung kami.” Jelas Anton singkat dan padat.
Pak Han mengangguk tipis, tanda paham. Dia sudah terbiasa dengan permintaan seperti ini. “Siapa saja calonnya?”
“Sebetulnya calon lawan belum ada. Tapi yang jelas dari pihak kami, kami akan mengusung pak Anton sebagai Dirut baru.” terang Siska.
“Kalau calon lawannya belum pasti, mengapa kalian repot-repot membutuhkan suara Frederika?” tanya pak Han
“Kami hanya menjaga jangan sampai suara kami terpecah. Makanya saat itu terjadi, kami ingin bapak ada di pihak kami.” Jelas Anton.
“Oke, saya paham. Lalu apa yang bisa kalian janjikan pada Frederika?”
Siska menyodorkan berkas yang sedari tadi dipeluknya. “Bapak bisa baca dulu proposal kerjasama dari kami.”
Pak Han mengambil berkas itu lalu membacanya denga teliti. Sesekali ia mengusap dagunya menunjukkan ketertarikannya pada rancangan kerjasama itu. Ketika jemarinya membuka lembaran terakhir, dia tersenyum,
“Luar biasa memang ide anak muda sekarang. Saya menyukainya.”
“Jadi... Apa bapak bisa berpihak pada kami?” tanya Anton cepat.
“Saya tidak bisa memutuskan. Tetap keputusan ada ditangan Frederika. Namun saya bisa memastikan Frederika senang dengan ide kerjasama kalian. Dia selalu menyukai hal seperti ini.” jawab pak Han diplomatis.
“Baiklah kalau begitu pak Han. Saya senang mendengarnya. Saya bisa menjanjikan kita akan menjalin kerjasama yang menguntungkan.” Ucap Anton tersenyum lebar.
“Kalau begitu kami pamit dulu pak. Senang rasanya bisa bekerjasama dengan anda.” Anton berdiri lalu mengulurkan tangannya pada pak Han.
Mereka berjabat tangan tanda kesepakatan awal berhasil.
Anton dan Siska keluar dari ruangan itu dengan senyum lebar. Mereka telah berhasil meyakinkan pak Han.
Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mengetahui bahwa suara Frederika akhirnya bisa mereka dapatkan. Memang mereka hanya menemui pak Han, asistennya. Tetapi jika pak Han sudah menyatakan kesukaannya pada proposal kerjasama yang mereka ajukan, itu artinya Frederika akan melakukan hal yang sama.
Bukan kah pak Han satu\-satunya orang yang paham selera berbisnis Frederika, ya kan? Jadi sudah pasti rencana mereka kali ini seratus persen berhasil.
Anton melangkahkan kakinya ringan menuju parkiran. Betapa bahagianya dia hari ini. Rasanya tingal selangkah lagi. Hanya tinggal selangkah lagi dia bisa mereguk kesuksesannya. Dia sudah tidak sabar agar RUPS perusahaan secepatnya dapat dilaksanakan.
Kalau dia berhasil jadi Direktur Utama, maka semua akan ada digenggamannya.
Anton hendak masuk ke mobil saat Siska tiba\-tiba memeluknya dari belakang.
“mas.... Selamat yah.”
Anton terkejut dan segera melepaskan lingkaran tangan Siska dibadannya. “kamu apa\-apaan sih, Sis! Kalau dilihat orang bagaimana?” suara Anton sedikit meninggi.
“Maaf mas. Aku cuma kelewat senang tahu. Lagi juga mana ada sih orang di parkiran seluas ini.” Siska celingak celinguk.
“Mas... malam ini tidur sama aku yah. Kita rayakan keberhasilan ini berdua.” Siska kembali memeluk Anton.
“iya sayang.” Anton membelas pelukan Siska dan mengelus rambutnya. Ia lalu melirik jam ditangannya,
“Ini baru jam 3. Biasanya Ree belum pulang. Kita singgah rumah mas dulu yah ambil pakaian ganti.”
“Oke mas.” Jawab Siska senang. Tidak pernah dia merasa sesenang ini.
Dari lantai sepuluh ruangannya, Pak Han berdiri dipinggir jendela menatap jauh ke bawah, ke arah parkiran. Ia bisa melihat dengan jelas Anton dan Siska yang tengah berpelukan. Lama pak Han menatap mereka dengan mimik muka yang tidak bisa diartikan.
Saat mobil Anton pergi, pak Han melangkah ke mejanya. Ia lalu mengambil gawainya yang diletakkannya disamping tumpukan kertas. Ia mengusap layarnya, membuka aplikasi pesan, dan mulai mengetik.
Ia membaca kembali ketikan pesan itu sebelum benar-benar mengirimnya.
Setelah dirasanya cukup, ia lalu menekan gambar kirim.
Ia meletakkan begitu saja gawainya dengan layar yang masih terbuka, untuk kemudian memasang kacamatanya dan melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
Dari layar gawainya yang masih menyala, nampak nama penerima pesan yang diketiknya tadi.
Nama penerimanya, tertulis “F.Jo”