
-- REENATA --
Juki menginjak pedal gasnya sedikit dalam membuat mobil melaju cepat diantara kepadatan kendaraan.
Seperti biasa, Juki melakukannya dengan mulus, bahkan sesekali dia terdengar bersiul, bersenandung mengikuti alunan lagu yang terputar di radio.
Sementara itu, jauh dibelakang sana, orang suruhan mas Anton justru sedikit kewalahan mengikuti kecepatan mobil yang dikendarai Juki. Itu bisa dilihat dari beberapa kendaraan yang mengklakson mobil hitam itu.
Aku cukup heran, entah dari mana mas Anton bisa mendapatkan orang sesembrono itu.
Kubuka layar gawaiku, membaca kembali pesan-pesan dengan nama pengirim berkode E,
[[ Aku tertahan Ree. Cuaca tidak bagus. Penerbangan yang tadinya hanya sekali transit menjadi tiga kali transit. Sekarang posisiku di bandara Abu Dhabi. ]]
[[ Kenapa kau tidak membalas pesanku? Kau marah yah? Aku hanya akan telat 5 jam dari perjanjian awal kita Ree ]]
[[ Ree ]]
[[ Balas donk. Kau marah yah ]]
[[ Baiklah kalau kau memang marah. Aku minta maaf. Tapi harusnya kau marah pada pilotnya karena tidak bisa membawaku tepat waktu ]]
[[ Ree, ayo lah balas pesanku. Kubelikan kau oleh-oleh deh dari sini. Kau mau apa? Kurma? Akan kubawakan kau dengan pohon-pohonnya. ]]
[[ Ree ]]
[[ Ree ]]
[[ Reenata refanda yang cantik, manis dan rajin menabung ]]
[[ Ree ]]
[[ Kau yakin tidak mau membalas pesanku? ]]
[[ Ree aku berangkat. Tidak lama lagi aku sampai di Indonesia. Akhirnyaa.... Jangan marah yah Ree, sudah kubawakan kau Unta dari sini ]]
Aku menatap lekat pesan-pesan yang tak kubalas satu pun itu, sembari menghitung-hitung kapan kira-kira pria menyebalkan ini sampai disini.
Kalau benar yang dikatakannya dia akan telat 5 jam dari perjanjian awal, harusnya dia sampai disini sebentar sore.
Tepatnya jam berapa, aku sudah malas menghitungnya.
Tiba-tiba Juki menginjak pedal remnya, membuat mobil berhenti total.
Aku sontak mendongak melihatnya,
“Kenapa ki. Kok berhenti?”
“Sudah sampai bu.” Jawab Juki.
Aku mengedarkan pandanganku melihat kanan kiriku.
Benar, kami sudah berada di parkiran lapas. Aku sampai tidak menyadarinya karena terlalu serius melihat gawaiku.
Aku melirik jam ditanganku, sudah pukul 2 siang rupanya. Itu artinya Juki lebih cepat 15 menit dari biasanya.
“Tunggu sini ya ki. Aku masuk dulu sebentar.” Kataku sambil berlalu turun dari mobil menuju bangunan lapas.
Aku harus segera menemui papa dan bertanya banyak hal padanya. Hanya informasi dari papa lah harapanku agar aku tidak salah mengambil langkah.
Di dalam bangunan lapas, seperti biasa aku mengikuti sejumlah prosedur bagi pengunjung. Memberikan kartu identitas, mengisi formulir serta mengecek barang bawaan.
Setelah semuanya selesai, aku duduk dikursi panjang yang sudah disediakan, menunggu panggilanku.
“Ibu Reenata.” Panggil seorang petugas wanita.
“Iya, saya.” Aku berdiri berjalan mendekatinya.
“Disini ibu menulis hubungan ibu dengan pak Doni adalah anak yah?”
Aku mengernyitkan dahiku bingung, “iya betul. Saya anaknya pak Doni Darsono.”
“Sebentar ya bu.” Ucap petugas itu sembari berlalu menuju temannya yang berdiri dibelakang tidak jauh darinya.
Mereka berbisik-bisik membicarakan sesuatu, sesekali melirikku, seperti ada yang tidak beres.
Petugas wanita itu lalu kembali berjalan ke arahku.
“Mohon maaf bu. Saya tidak tahu mengapa info ini tidak sampai pada ibu. Tapi pak Doni sudah tidak berada di Lapas ini.”
“Tidak ada? Kenapa?” tanyaku tak mengerti.
“Pak Doni sakit, bu. Sekarang ada di rumah sakit Medical Care.”
“Sebentar. Saya tidak mengerti. Bagaimana maksudnya?” Tanyaku kebingungan. Aku sama sekali tidak mendapat kabar kalau papa sakit. Jadi itu jelas tidak mungkin.
“Pak Doni terserang stroke bu. Baru kemarin dibawa ke rumah sakit.”
Deg!
“Tunggu sebentar!” kuangkat sebelah tanganku. “papaku sedari kemarin berada di rumah sakit karena serangan stroke?” tanyaku kembali memastikan.
“Iya betul bu.”
Kepalaku tertunduk berusaha memahami ucapan petugas itu.
“jadi... kemarin papaku masuk rumah sakit dan kalian sama sekali tidak mengabariku?! Apa kerja kalian!” suaraku meninggi. Emosiku naik. Tiba-tiba aku merasa frustasi.
“Maaf bu. Tapi kami sudah memberitahu keluarganya.”
“Keluarga? Keluarga mana yang kalian maksud!” aku benar-benar marah sekarang.
“Di data pak Doni, keluarga yang terdaftar ada dua, bu. Yang pertama Ethan Rai. Kami sudah mencoba berkali-kali menghubungi pak Ethan, tapi tidak tersambung. Jadi kami menghubungi daftar keluarga yang kedua, yaitu Anton Handoko. Kami sungguh tidak tahu kalau kabar ini tidak sampai pada ibu.”
Aku terhenyak.
“mas Anton tahu?” tanyaku tak percaya.
“Iya bu. Pak Anton malah sempat datang kesini dan sama-sama petugas mengantarkan pak Doni ke rumah sakit.”
Apa yang barusan dikatakannya?
Mas Anton sendiri yang mengantarkan papa ke rumah sakit? Dan dia tidak memberitahuku?
Aku meremas kuat liontin di leherku.
Ada apa ini? Apa sebenarnya yang terjadi?
Seketika pijakanku terasa rapuh, aku limbung. Ruang tunggu lapas itu serasa berputar. Kupegang pinggiran meja menahan beban tubuhku yang semakin berat.
Sia-sia.
Aku ambruk.
Petugas wanita tadi seketika panik, sibuk membantuku berdiri.
Aku tidak menggubrisnya. Tubuhku tetap bergeming.
Kenapa mas Anton tidak memberitahuku kalau papa sakit parah? Apa maksudnya?
Harus sejauh inikah langkahnya untuk menghancurkan keluargaku?
Seketika emosiku memuncak. Aku meremas tanganku kuat. Menjaga kewarasanku agar tetap stabil.
Mas Anton... kau benar-benar meremehkanku. Mulai saat ini, aku tidak akan membiarkanmu lagi melakukan segala sesuatu sesuka hati. Tidak akan! Itu sumpahku!
Entah dari mana kekuatan itu datang, tiba-tiba dengan gerak cepat aku bisa berdiri. Meninggalkan petugas wanita tadi yang tengah sibuk mengkhawatirkanku.
Aku sedikit berlari melintasi lapangan parkir, dan langsung masuk ke mobil.
Juki yang melihatku terburu-buru seperti orang kesetanan, langsung menyalakan mesin mobil.
Kukencangkan sabuk pengamanku seketat mungkin.
Aku melirik Juki, "Kita pulang sekarang. Cepat. Secepat yang kau bisa.”
Tanpa banyak tanya Juki lalu menginjak pedal gas dalam-dalam melajukan mobilnya.
Mataku sempat menangkap mobil hitam suruhan mas Anton, saat kami keluar dari halaman lapas.
Mobil itu langsung membututi kami.
“Kelabui mobil hitam itu. Mulai sekarang dia tidak perlu tahu kemana tujuan kita.”
Dengan santai Juki menginjak pedal gasnya lebih dalam, berzig zag melewati beberapa kendaraan.
Susah payah mobil hitam itu mengikuti kecepatan kami. Beberapa kali nampak dia hampir menabrak pengendara lain.
Saat mencapai persimpangan, Juki membanting setirnya berbelok ke arah jalan yang lebih kecil, menimbulkan suara berdecit di aspal.
Juki lalu melintasi jalanan yang aku saja tidak pernah melewatinya. Dia tidak menurunkan kecepatannya bahkan ketika melewati gang-gang sempit.
Mobil hitam itu kehilangan jejak.
Aku tidak peduli lagi. Aku ingin secepatnya pulang dan menumpahkan amarahku, sumpah serapahku, caci makiku tepat di wajah mas Anton.
Mulai saat ini, tidak ada lagi yang perlu ditutupi.
Kau sudah melampaui batas mas. Berani-beraninya kau melakukan semua ini padaku.
Kau sudah menabuh genderang perang. Kau yang memulai semuanya. Jadi kalau kau ingin berperang denganku, mari kita lakukan itu secara terbuka.
****
-- ANTON --
Anton masuk ke dalam rumah dengan diikuti Siska dari belakang.
Matanya mengitari ruangan dirumahnya.
Ia tidak menemukan siapapun.
Kemana semua sih orang di rumah ini.
“Ninaaaa” panggil Anton keras.
Sepi. Tidak ada jawaban.
“NIINAAA” panggil Anton lebih keras lagi.
Tetap tidak ada jawaban.
Mungkin Nina masih tidur yah dibelakang.
Tapi baguslah. Biarkan saja dia tidur. Dengan begitu tidak ada siapapun yang melihatku pulang mengambil baju. Jadi akan lebih mudah bagiku untuk memberi alasan pada Ree kenapa aku tidak pulang malam ini.
Anton berlalu menuju kamarnya, mengambil beberapa potong baju rumah, pakaian dalam, dan satu setel baju kerja yang akan dia kenakan besok dikantor.
Setelah dirasanya cukup, ia memasukkan semuanya ke dalam tas ranselnya dan melangkah menuju ruang tamu.
Nampak Siska yang tengah duduk di sofa dengan badan yang setengah berbaring seperti sedang kelelahan.
Kancing kemejanya yang terbuka menampilkan belahan dadanya, mengundang hasrat kelaki-lakian Anton.
Mati-matian Anton menahannya. Biar bagaimanapun ini masih rumahnya dengan Ree. Dia tidak bisa melakukannya disini. Resikonya terlalu tinggi.
“Sis ayo berangkat.” ucap Anton tiba-tiba.
Siska sedikit terkejut saat melihat Anton sudah berdiri tidak jauh darinya.
“Mas bikin kaget saja iihh.” Siska berdiri melangkah mendekati Anton.
“Lagi tidak ada orang yah dirumah?”
“Sepertinya begitu.” Jawab Anton. “Ayo kita pergi.” Anton meraih tangan Siska sembari berjalan.
Siska menahan tangannya. “Mas... lagi tidak ada siapa-siapa loh di rumah.” Ucap Siska menggoda.
“Lalu?”
“Ayolah mas. Kau mengerti maksudku.”
“Tidak disini Siska.” Anton kembali menarik tangan Siska.
“Tidak!” Siska tetap bergeming. “Aku ingin disini. Sekaliii saja. Yaah. Anggap saja ini perayaan pertama keberhasilan kita. Toh rumah ini juga sebentar lagi akan jadi milikku.” Ucap Siska sembari membuka kancing baju Anton.
Baiklah. Hanya untuk kali ini saja. Tidak ada salahnya aku bercinta dengan Siska. Toh Ree juga biasanya pulang jam enam sore. Masih banyak lah waktu tersisa kalau hanya untuk satu ronde.
Anton tidak tahan lagi. Hasratnya membuncah. Ia lalu menggendong Siska dan menjatuhkannya pelan di atas sofa. Anton bergerak ke atas badan Siska, dan menindihnya.
Di dalam mobil, gawai Anton yang ketinggalan di jok kursi terus berbunyi. Beberapa kali telepon masuk dari nomor tidak dikenal. Nampak pula ada pesan masuk dari nomor yang sama.
\[\[ Target telah sadar dibuntuti \]\]
\[\[ Rencana kita ketahuan \]\]
\[\[ Kami kehilangan target \]\]
Sayang, Anton tidak sempat membaca semua pesan penting itu.
Ia tengah sibuk menumpahkan hasratnya pada Siska. Panas.
\*\*\*\*
\-\- REENATA \-\-
Dari jauh kulihat mobil mas Anton terparkir di depan pagar.
Tumben dia sudah pulang jam segini. Tumben juga dia tidak memasukkan mobilnya didalam halaman.
Apa dia sedang buru\-buru? Atau ada hal yang harus dilakukannya? Sedang apa dia didalam?
“Ki tolong parkir mobilnya di seberang jalan. Mas Anton tidak boleh tahu aku sudah datang. Aku ingin tahu apa yang dilakukannya di dalam rumah.”
“Baik bu.” Jawab Juki sembari memutar setirnya menuju seberang jalan.
Aku turun dengan langkah lebar menyeberang jalan, membuka pagar, melintasi halaman, dan berhenti tepat di depan pintu rumah.
Aku hendak memutar daun pintu namun kuurungkan saat telingaku menangkap suara desahan dari dalam.
Nafasku tertahan. Kupasang telingaku baik\-baik, memastikan apakah suara itu memang berasal dari dalam.
Jantungku berdegub cepat. Benar, suara itu memang dari dalam. Dan aku bisa paham apa yang sedang terjadi.
Kupersiapkan hatiku untuk melihat hal menjijikkan yang sedang terjadi dibalik pintu ini.
Dengan sangat pelan dan hati\-hati, kuputar daun pintu. Setengah berjinjit aku melangkah masuk. Kuupayakan agar tidak ada suara yang timbul dari langkah kakiku.
Langkahku terhenti. Aku terhenyak, melotot tak percaya dengan apa yang tersaji di hadapanku.
Sesuai dengan dugaanku, adegan tak senonoh itu terpampang jelas didepan mataku.
Dan yang luar biasanya, dua manusia menjijikkan itu tidak menyadari kehadiranku.
“Apa yang kalian lakukan di rumahku!” aku berteriak kencang.
Mas Anton dan Siska terkejut sontak menoleh ke arahku.
Mas Anton langsung melompat menyambar bajunya dan memakainya kembali.
Sementara Siska dengan cepat berdiri merapikan roknya yang sudah setengah terangkat, dan mengancingkan kembali baju kemejanya.
“Ree... Mas bisa jelaskan. Tolong dengarkan mas dulu.” Mas Anton berjalan mendekatiku.
“Berhenti kau! Dasar pengecut! Jangan coba\-coba mendekatiku!” kemarahanku membuncah.
Mas Anton terbelalak melihat sikap kasarku. Seumur\-umur baru kali ini aku membentaknya seperti itu.
Biar saja. Aku tidak peduli lagi. Selesai sudah kepura\-puraanku yang seolah tidak mengetahui apapun. Setelah ini aku tidak akan melakukannya lagi.
Sudah habis rasa empatiku pada dua makhluk hina ini.
“Kau mas, bisa\-bisanya kau tidak memberitahuku kalau papa sedang sakit!" Ucapku dengan suara bergetar. Mati\-matian kujaga kewarasanku.
"Kurang apa sayang nya papaku padamu! Dasar manusia tidak tahu berterimakasih! Mulai sekarang kita cerai!”
Akhirnya kuucapkan juga kata itu.
Tidak apa\-apa.
Toh kata itu sudah tidak berpengaruh sama sekali pada perasaanku.
Mas Anton terhenyak. Ia menatapku tak percaya.
“Ree... Apa maksudmu sayang? Mas minta maaf. Mas ....“ suara mas Anton tertahan, bingung mau mengatakan apa.
“Halaahh! Tidak perlu seperti itu lah mas.” Siska akhirnya buka suara setelah beberapa saat hanya diam mematung.
"Biarkan saja dia menceraikanmu. Toh sudah tidak ada lagi yang kita butuhkan dari dirinya.”
Aku mendelik pada Siska, “Diam kau perempuan busuk! Ini bukan urusanmu!” kataku sengit.
“Oh yah? Tapi kau berbicara dengan kekasihku. Jelas itu urusanku!”
“Kekasih katamu?” aku menatap mas Anton dan Siska bergantian.
“belum puas kalian menghancurkan keluargaku? Papaku masuk penjara dan masuk rumah sakit. Lalu sekarang didepanku kalian mengaku sepasang kekasih? Hahaha.” aku bertepuk tangan.
“Luar biasa sekali kebejatan kalian.”
“Ya Ree. Aku puas sudah menjebloskan papamu dipenjara. Aku juga puas sudah menghancurkan rumahtanggamu. Dan sebentar lagi perusahaan juga akan jadi milikku.” Ucap Siska sembari tersenyum puas.
“Perusahaan?” Aku melipat tanganku didada, menatap tajam Siska, “itu hanya mimpimu VE\-NA”
Siska membelalakkan matanya mendengar ucapanku barusan. Nama "vena" nampak jelas mempengaruhi psikologinya.
Ia mundur selangkah sembari membekap mulutnya. Raut wajahnya seperti disambar petir.
“Apa yang barusan kau katakan Ree?” mas Anton menatapku dengan mimik muka yang tak bisa kuartikan.
“Ku bilang VE\-NA.”
Seketika Siska ambruk. Badannya gemetar. Ia memeluk tubuhnya seperti orang ketakutan.
“Jangan pernah sebut nama itu Ree!” mas Anton berteriak ke arahku. Dengan langkah panjang ia meraihku dan mencengkeram bahuku.
“Lepaskan aku!” aku memberontak.
“Tidak! Kau melewati batas Ree!” mas Anton mencengkeramku lebih kuat. Ia menyeretku. “ikut aku! Kuberi kau pelajaran!"
Aku sedikit terhuyung mengikut langkah mas Anton. Aku ketakutan.
Dengan segenap keberanianku, kugigit keras tangannya.
“Ahh!!” mas Anton meringis menarik tangannya. Ia mendelik menatapku nyalang. “Kau!”
Aku mundur beberapa langkah, badanku mulai gemetar. Lututku lemas. Mataku kesana kemari mencari barang apa saja yang bisa kujangkau untuk pertahanan diri.
Jantungku berdegup kencang. Nafasku memburu. Aku diliputi kepanikan, ketakutan.
Saat aku diambang kepasrahan, tiba\-tiba saja muncul sekelebat bayangan dari belakangku. Bergerak cepat melewatiku, menuju arah mas Anton.
Hanya sekedip mata, mas Anton tiba\-tiba sudah jatuh terjungkal jauh kesudut ruangan.
“BAJINGAN! APA YANG KAU LAKUKAN PADA REENATAKU!”
Aku terhenyak. Hampir tidak percaya dengan penglihatanku. Seorang pria berperawakan tinggi dengan rambut hitam tebalnya berdiri didepanku, menyelamatkanku.
Ia membelakangiku, hanya menampakkan punggung lebarnya. Tapi aku tahu persis siapa pria pemilik punggung itu.
“Ethan?” suaraku tertahan.
Aku membekap mulutku dengan satu tangan masih shock dengan kejadian barusan.
Pria arogan ini....
Dikehidupan mana pun dia selalu muncul dengan tinjunya.
“Hai Ree. Aku pulang.” Ucap Ethan santai menolehkan kepalanya ke arahku.
Ia lalu menudingkan jarinya ke arah mas Anton, “DAN KAU \*\*\*\*\*\*\*\*, TETAP DIAM DISITU !!”
Ethan kemudian berbalik berjalan kearahku membiarkan mas Anton yang tengah meringis kesakitan dengan darah yang menetes dari sudut bibirnya.
“Buka tanganmu.” Ucap Ethan padaku.
“Hah?” aku kebingungan.
“Kubilang buka tanganmu.” Ethan mengulangi ucapannya sambil mengambil satu tanganku dan menaruh sesuatu ditelapak tanganku.
Aku melihat sebuah gantungan kunci. Namun aku tak mengerti apa maksudnya.
“Apa ini?”
“Itu Unta Ree. Sudah kukatakan padamu aku akan membawakanmu Unta dari Abu Dhabi.”
Aku melotot tak percaya.
Ingin kugampar rasanya mukanya itu.