LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 1



"Tuk, tuk, tuk" Hakim mengetuk palunya tiga kali, tanda putusan sudah ditetapkan. Aku limbung, pandanganku kabur. Sidang telah selesai, Papaku, Doni Darsono, ditetapkan bersalah dalam tindak pidana penipuan, penyalahgunaan jabatan, dan pencucian uang. Ia dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.


Tidak mungkin! Papaku tidak bersalah. Aku mengenalnya, ia pribadi yang baik, sangat baik. Ia penyayang keluarga, penyantun, role modelku, panutanku, bahkan ketika mencari pendamping hidup pun aku menetapkan standar "minimal harus seperti papa"


Papa menatapku pilu. Dari kejauhan kulihat dia tersenyum, menganggukkan kepalanya kemudian berpaling mengikuti polisi yang mengawal, menghilang dibalik pintu. Masih sempat kulihat air mata mengalir dari sudut matanya. Aahhh sakit sekali rasanya.


 


****


"Ree sayang, papa tidak apa-apa jika semua orang tidak percaya pada papa. Pun papa tidak peduli kalau seluruh dunia menganggap papa penjahat. Asal kamu, anak papa yang paling papa sayang, percaya pada papa, percaya bahwa tidak mungkin papa melakukan seperti yang mereka tuduhkan, itu sudah lebih dari cukup, nak."


"Ree janji akan berjuang untuk papa. Apapun caranya, papa pasti bebas."


"Tidak! Jangan, nak. Tidak boleh. Persidangan besok pasti akan memutuskan papa bersalah. Papa dijebak dan tidak punya cukup bukti. Kamu tidak perlu tahu seperti apa ceritanya. Ini rumit. Jangan lakukan apapun Ree, berjanjilah. Jangan membahayakan dirimu dan kandunganmu. Jagalah cucu papa sebaik mungkin, hiduplah bahagia."


"Ree tidak tahu harus bagaimana. Ree bingung" aku menatap wajah papa, wajah yang sudah berpuluh-puluh tahun melimpahkan kasih sayang itu. Tidak ada sendu tercetak disana. Aahh papa, kau selalu nampak kuat dihadapan anakmu, padahal aku tahu hancur lebur jiwamu didalam sana. Papa menggenggam tanganku.


"Ree, jika tiba saatnya kamu pasti akan mengerti. Kebenaran akan selalu mencari cara untuk menunjukkan jati dirinya. Ingat pesan papa, mulai saat ini, jangan percaya pada siapapun, bahkan ketika itu orang terdekat kita sekalipun. Karena seringkali yang terlihat dimata kita, itu bertolak belakang dengan kenyataan yang ada."


Aku menutup mataku, membiarkan setetes air mengalir dari sudutnya. Mengingat kembali pesan papa saat kunjungan terakhirku kemarin, menyisakan ketidakpahamanku.


"Ayo kita pulang, sayang" Anton, suamiku, menggamit telapak tanganku. "Kamu harus kuat sayang, ada mas disampingmu. Kita akan cari cara bebasin papa. Tapi kita pulang dulu yah, kamu harus istirahat, kasihan bayi kita."


Aku menatapnya, mengangguk. Memilih mengikuti langkah kakinya. Iya, seperti kata papa, aku harus kuat, demi papa, mas Anton, dan bayiku.


\*


Aku, Reenata Refanda, 28 tahun, anak tunggal dari Bapak Doni Darsono dan Almarhumah Ibu Rindi Remisa. Papa pengusaha sukses dengan berbagai macam usaha, memiliki 15 anak perusahaan yang tersebar hampir diseluruh provinsi. Sementara ibu, beliau meninggalkan kami tepat saat melahirkanku. Penantian buah hati selama 12 tahun pernikahan akhirnya membuahkan hasil. Ironisnya moment bahagia itu harus diiringi dengan pergantian nyawa.


"Sayang, kamu sudah ganti baju?" suamiku masuk membuyarkan lamunanku. Ia ikut duduk di ranjang, disampingku. "Lagi mikirin apa?"


"Banyak mas. Entahlah, aku lelah. Oh iya, apa Siska sudah pulang?"


"Siska? Belum lah sayang. Bagaimana bisa dia pulang, dia khawatir padamu. Papa sudah seperti orangtua kandungnya sendiri. Daritadi dia pengen ketemu, tapi takut mengganggumu."


"Iya mas. Biarkan aku istirahat dulu. Aku ingin tidur sebentar, kamu temani Siska dulu, yah"


Aku membaringkan badanku, mas Anton mengangguk dan mengecup keningku. "kalau ada yang kamu butuhkan, panggil mas ya sayang"


"hmmm" jawabku sambil memejamkan mata.


aahh mas anton dan Siska, kalian suami dan sahabatku, kepercayaanku, pelengkap hidupku. Aku begitu menyayangi kalian.


\*


"Ree sayang, kamu lihat ini?"


"Ini apa, oma?" gadis 8 tahun itu membolak balik batu putih ditangannya. Batu itu diikatkan dengan tali hitam melingkar, membentuk kalung.


"Ini liontin. Liontin lemurian".


Oma tersenyum lembut mengusap kepala gadis kecil itu. "kamu mau oma beritahu rahasia?"


"Rahasia? Asik, Ree suka rahasia. Apa itu oma?"


"Kamu tahu gak, liontin ini akan mengabulkan apapun keinginan pemiliknya. Apapun, asal keinginan itu kuat, sekuat kamu ingin melawan takdir. Tapi itu hanya akan berlaku 1 kali."


"Seperti om jin di lampu Aladdin oma?"


"Hmm.. mungkin. Tapi tidak persis sama."


"Waahh keren!" gadis itu melompat kegirangan. "keinginan kuat. hmmm... aahh Ree tahu oma. Ree coba yah." gadis itu memejamkan matanya, "liontin ooh liontin, kabulkanlah satu permintaan Ree yang paling kuat, tulus dan ikhlas. Liontin ohh liontin, Ree ingin makan coklat sepuas\-puasnya"


Hening. 1 menit. 2 menit.


"Hahahaha" oma tertawa lepas.


"aaahh oma jahilin Ree, yah"


"Hahahaha" oma masih tertawa membiarkan gadis kecil itu menekuk wajahnya, cemberut.


\*


Mimpi. kenapa aku tiba\-tiba mimpi oma?


Aku beranjak dari tempat tidur, mengusap peluh dikeningku, mengambil air minum dan meneguknya. Aku membuka lemari, mengambil kotak di sudut tumpukan bajuku, membukanya dan mengambil isinya. Liontin ini, peninggalan terakhir almarhumah oma, tidak pernah aku memakainya padahal sudah kuganti tali hitam jelek itu dengan rantai emas yang indah. Kuputuskan untuk mencobanya, memasangnya di leherku. Indah. Liontin ini indah.


Kuusap liontin itu, kupejamkan mataku, "tolong, kabulkanlah keinginanku, bebaskanlah papa dari penjara" batinku.


Hening.


Kubuka mataku, tersenyum. Tentu saja ini percobaan kedua, setelah percobaan pertama belasan tahun silam tentang makan coklat itu gagal. Bodoh! Sepertinya aku sudah gila. Bisa\-bisanya aku percaya kejahilan oma.


Tiba\-tiba aku lapar. Mas Anton mana yah. Mungkin kita bisa makan diluar bertiga bareng Siska, sejenak menghilangkan penat dikepalaku, pikirku.


Aku beranjak keruang tamu mencari mas Anton. Nihil. Ke teras, ke dapur, ke ruang keluarga, nihil. Aku melangkah kelantai atas, menuju ruang kerja mas Anton. Dimana sebenarnya mas Anton. Aku berhenti tepat didepan pintu ruang kerjanya. Mendengar 2 orang bercakap didalam, lebih tepatnya bertengkar. Alih\-alih membuka pintu, aku malah menempelkan kupingku.


"Gila kamu, mas! Sampai kapan aku harus bersabar. 8 Tahun, mas! Apa belum cukup kesabaranku selama 8 tahun? Lihat perempuan bodoh itu, dia bahkan tengah hamil sekarang. Kau janji padaku akan berusaha agar istri bodohmu itu tidak hamil. Mana janjimu! Kau tahu, aku selalu tersiksa melihatmu mesra dengannya. Memikirkan kau tidur bahkan bercinta dengannya membuatku ingin mati. Dan sekarang kau suruh aku lebih bersabar? Kau gila!"


"Sabar sayang. Sabar. Ree hamil aku akui itu kesalahanku, maafkan aku, oke. Tapi tolong lah bersabar sedikit lagi. Kali ini sabarmu tidak akan lama. Toh papa, penghalang terbesar kita, sudah berhasil kujebloskan ke penjara. Tinggal Ree urusan kita. Tidak akan lama sayang, mas janji."


"Halah peduli setan dengan janjimu! Aku tidak percaya padamu, mas. Kalau kau masih mengulur waktu, akan kucari sendiri cara melenyapkan Ree dan bayi yang dikandungnya!"


Aku mendengar Siska melangkah, membuka pintu. Ia berhenti tepat didepanku. Siska, sahabatku 10 tahun terakhir, membelalakan matanya melihatku, kakinya mundur selangkah, "Ree, kamu ..."


"Siska... mas Anton... apa yang kalian lakukan?" aku memegang perutku. Sakit.