LEMURIAN (Season 1)

LEMURIAN (Season 1)
Part 23



Juki menghentikan mobil tepat di depan pagar rumah Siska. Pintu rumah mereka terbuka. Dengan langkah lebar aku, Ethan dan Juki menyerbu masuk ke dalam rumah.


Nampak mas Anton sudah duduk di sofa ruang tamu. 


Hah! Dia sudah menunggu kami rupanya. Tanpa aba-aba Juki melewatiku dan langsung menggeledah seisi ruangan. 


Anton berdiri bersedekap dengan pongahnya di hadapanku dan Ethan.


“Papamu tidak ada disini Ree. Tidak perlu kau suruh tukang pukulmu itu menggeledah rumahku.”


“Apa yang kau inginkan Anton!” teriak Ethan sengit.


“Sederhana. Aku ingin Ree membatalkan pertemuannya dengan pak Han. Dan jangan lagi ada pertemuan sampai rapat pemegang saham diadakan."


Kuhela nafas panjang, “Baiklah.” Jawabku setenang mungkin, berusaha menahan gemuruh didadaku.


“Ree!” Ethan membelalakkan matanya.


Kupegang lengan Ethan tanpa melihatnya. Kuharap dia dapat mengerti maksudku.


“Lalu, aku ingin kau menandatangani persetujuan untuk memajukan jadwal rapat menjadi 2 hari lagi” lanjut mas Anton.


“Baiklah. Mana surat yang akan kutandatangan. Aku yakin kau sudah menyiapkannya mas.”


Mas Anton tersenyum, lalu mengambil selembar kertas dan memberikannya pada Siska. 


Siska melangkah mendekatiku, menyerahkan kertas itu padaku. 


Kubaca cepat isinya, dan tanpa ragu-ragu segera kutera tandatanganku tepat diatas tulisan namaku. 


Lewat sudut mataku bisa kulihat  badan Ethan menegang. Mulutnya terkatup rapat menahan amarah. Mimik mukanya menunjukkan seolah tak percaya dengan semua yang sedang kulakukan. 


Siska mengambil kertas itu dari tanganku dan memberikannya kembali pada mas Anton. 


“Ok. Sempurna!” Ucap mas Anton tersenyum puas setelah mengecek kembali tandatanganku.


“Apa lagi maumu mas?” tanyaku masih dengan nada tenang.


“Sudah cukup Ree. Aku janji tidak akan menyentuh papamu sepanjang kau mengikuti semua yang kuminta tadi. Akan kulepaskan dia setelah rapat pemegang saham telah usai.”


“Baiklah. Berarti sudah cukup persyaratanmu kupenuhi." Aku bersedekap menatap mas Anton tajam. "Sekarang giliranku.” 


Mas Anton menatapku bingung.


Aku melirik Ethan sekilas, “Berbuatlah sesukamu Ethan, tapi sisakan untuk Juki.” Pandanganku menghujam lurus pada mas Anton.


Ethan langsung paham maksudku. Ini yang dia tunggu daritadi. Dengan langkah lebar ia mendekati mas Anton dan mencengkram erat bahunya. Satu pukulan kuat mendarat telak di wajah mas Anton. Ethan benar-benar meninjunya sekuat tenaga.


Pukulan pertama membuat mas Anton terhuyung kebelakang. Pukulan kedua, Ethan membuat setetes darah mengalir dari hidung mas Anton. Tidak sampai disitu, Ethan kembali menarik mas Anton dan menghujaninya pukulan bertubi-tubi. 


Siska berteriak histeris, berusaha membantu mas Anton. Ia merentangkan tangannya, memasang badannya menghalangi pukulan Ethan. 


Ethan tidak menggubris, didorongnya kasar Siska hingga Siska terhuyung kesamping. Saat Siska hendak kembali memasang badannya, dengan langkah cepat kucengkram pergelangan tangan Siska dan menariknya menjauh. Siska memberontak. Tidak kugubris, justru cengkramanku semakin kuat. 


Nafas Ethan memburu melampiaskan seluruh amarahnya. Mas Anton tidak berkutik. Darah yang tercipta tidak hanya dari hidungnya, tapi juga dari sudut bibir dan pelipisnya.


Siska jatuh terduduk di samping kakiku, menangis melihat kebrutalan Ethan.


“Sudah cukup Ethan!” ucapku berteriak. Kepalan tangan Ethan berhenti tepat saat ia hendak melayangkan tinjunya yang kesekian kali. Ethan berpaling melihatku.


“Sudah cukup.” Aku mengulangi ucapanku. “Sudah kubilang sisakan untuk Juki.”


“Cih!” Ethan melepaskan cengkramannya di bahu mas Anton, membuat mas Anton jatuh terduduk. 


“Kalau bukan karena Ree, sudah kubunuh kau.” Ucap Ethan sembari melangkah mundur. 


Juki maju menggantikan Ethan, mencengkram kerah baju mas Anton, memaksa mas Anton kembali berdiri.


“Sampai mana bu?” tanya Juki santai.


Aku tersenyum sinis, “Jangan sampai pingsan Ki, sisakan sedikit nafasnya.” 


Juki mengangguk tipis kembali memukul mas Anton dengan otot kekarnya. Kali ini tentu pukulan-pukulan telak ala perkelahian para penjahat mafia.


“KALIAN GILA!” Siska berteriak histeris.


Kujambak rambut Siska dan memaksanya kembali berdiri sejajar denganku.


“Jangan mengatakan aku gila Siska. Mulutmu terlalu kotor untuk mengucapkan itu.”


Kudorong kuat Siska hingga ia terhuyung kebelakang dan jatuh terduduk. Dengan sedikit tertatih Siska merangkak ke sudut ruangan. Ia meringkuk memeluk lututnya, terisak melihat kekejaman Juki melibas mas Anton.


Merasa sudah cukup, Juki menghentikan pukulannya. Mas Anton jatuh terkapar dilantai. Dadanya naik turun, nafasnya terengah, nampak dia begitu sulit bergerak. 


Seketika aku melihat keluarbiasaan Juki yang lain. Juki benar-benar membuat mas Anton babak belur, tapi tidak membuat mas Anton hilang kesadaran. Entah bagaimana Juki melakukannya. 


Tapi memang ini yang kumau. Aku butuh mas Anton tetap sadar agar ia masih bisa mendengar semua ucapanku selanjutnya.


“Dengarkan aku mas.” Aku bersedekap. Kutatap tajam mas Anton dan Siska bergantian.


“Sebenarnya sejak awal tadi bisa saja aku menyuruh Ethan dan Juki memukulimu hingga nafasmu habis. Aku juga tidak perlu menandatangani surat percepatan jadwal rapat. Tapi semua itu tidak kulakukan. Sebaliknya aku memutuskan untuk mengikuti semua persyaratan yang kau berikan padaku. Kau tahu kenapa?” Kutarik nafas sejenak. 


“Itu karena aku ingin menunjukkan padamu mas, sesempurna apapun rencanamu, sekotor apapun kau melakukannya, pada akhirnya tetaplah aku pemenangnya. Kau bisa menghentikan pertemuanku dengan pak Han, kau bisa memajukan jadwal rapat, kau bisa menyekap papaku saat ini. Tapi kau harus ingat mas, aku bukan lagi wanita polos dan naif seperti dulu. Dalam pertempuran ini, aku tidak akan kalah darimu. Dan untuk papaku, tanpa melapor dipolisi pun aku pasti bisa menemukannya, bagaimana pun caranya. Jadi jangan coba-coba kau berbuat macam-macam padanya. 


Yang barusan kulakukan adalah balasan karena kau sudah lancang menyentuh papa. Kalau kau berani menyentuhnya lagi, akan kupastikan kau merasakan hal yang lebih sakit daripada sekarang. Aku tidak takut padamu mas, juga pada ancamanmu. Kalau kau ingin selamat, harusnya kau mendengarkan kata-kataku. Aku tidak akan main-main lagi dengan kalian berdua.”


Aku lalu menatap tajam Siska, “Dan kau, Sis, urus baik-baik kekasihmu. Jangan buat dia melakukan hal yang lebih jauh lagi. Kau sudah lihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana kubuat kekasihmu hampir mati. 


Jadi berhati-hatilah, kapan kudengar kalian menyakiti papaku, bukan hanya mas Anton yang kubuat babak belur, tapi kau pun akan kubuat masuk rumah sakit.”


“Kau gila Reenata! Kalian gilaaaa!” Siska berteriak histeris. Badannya bergetar hebat. Ia menangis ketakutan memeluk lututnya. 


Aku mengacuhkannya. Kulangkahkan kakiku pergi meninggalkan mas Anton yang tengah terkapar dan Siska yang terisak hebat.


Aku sudah tidak peduli. Habis sudah perasaan belas kasihku pada mereka berdua. Terlalu banyak kesabaran yang sudah kucurahkan. Terlalu banyak kesempatan yang sudah kuberikan. Tapi mereka membalasku dengan begitu menyakitkan. Bahkan sempat-sempatnya mereka menculik papa. 


Jadi buatku, tidak ada lagi kelonggaran. Tidak ada lagi toleransi. Cara yang halus tidak mempan bagi mereka berdua. Maka mestinya cara kasar seperti ini lebih berguna dan bisa membuat mereka sedikit sadar bahwa aku tidak bisa lagi dianggap enteng.


.


.


***


.


.


Mobil melaju. Juki nampak rileks memegang setir mobil membawa aku dan Ethan kembali ke kantor. Ia santai seperti tidak terjadi apa-apa.  Sepertinya memang dia sudah biasa menghadapi kejadian baku hantam macam tadi.


“Kenapa tadi kau menahanku Ree? Aku belum puas meninjunya tadi.” Ethan melongos kesal memandangku.


Kuhela nafas panjang, “Karena kalau dilanjutkan, aku tahu kau akan membunuhnya, Ethan.”


Ethan melirikku bingung. “Lalu apa bedanya dengan Juki.”


Ethan menghempaskan kepalanya dikursi, melihat keluar jendela mobil. “Kau benar Ree. Kalau kau tidak menahanku tadi, sudah pasti aku akan masuk penjara besok.”


Aku tersenyum tipis. 


Tiba-tiba aku teringat akan janjiku pada pak Han. Kuambil gawaiku dari dalam tas, mengusap layarnya, mencari nama pak Han, dan menyambungkan telepon.


“Selamat siang pak Han. Maaf saya membatalkan janji tanpa pemberitahuan sebelumnya.


“Siang ibu Ree. Ya, saya sudah menunggu ibu tadi setengah jam. Karena tidak datang jadi saya kembali ke kantor.”


“Saya minta maaf pak.”


“Itu bukan hal yang baik ibu Ree. Sebenarnya proposal kerjasama ibu sudah saya pelajari kemarin, itu cukup menarik. Tetapi karena kejadian hari ini, sejujurnya saya cukup kecewa.”


“Saya tidak tahu harus mengatakan apa selain meminta maaf pak Han. Tiba-tiba saya ada urusan mendesak tadi, maafkan saya sekali lagi.”


“Tidak apa-apa. Tapi maaf, kita tidak perlu mengadakan pertemuan lagi. Ini tidak masuk dalam kriteria berbisnis saya. Ibu tahu maksud saya. Membatalkan janji secara sepihak tanpa pemberitahuan.”


“Ya pak Han. Tidak apa-apa. Saya mengerti.”


“Baiklah. Sampai nanti di rapat pemegang saham, ibu Ree.”


“Baik pak.” 


Kutekan layar gawaiku. 


Sambungan telepon terputus.


Kuhempas kepalaku dikursi, memejamkan mata.


“Bagaimana Ree? Sepertinya bukan kabar yang baik.”


“Ya Ethan. Seperti dugaanmu. Kita tidak bisa berharap lebih pada suara Frederika. Kemungkinan besar dia tidak akan memihak kita.”


“Hmm... begitu yah? Ethan mengelus dagunya, “Tidak apa-apa Ree. Aku sebenarnya punya rencana cadangan untuk jaga-jaga kalau proposal kerjasama ini tidak berhasil.”


Kubuka mataku menatap lekat Ethan, “Ohh ya? Apa itu?”


“Terkait kepemilikan saham Anton dan Siska. Ini sementara kukerjakan dengan pak Ren. Sedikit lagi selesai. Akan kuceritakan setibanya kita di kantor nanti.”


“Berkas yang kau bahas dengan pak Ren sebelum kita berangkat tadi?”


“Ya.”


“Itu yang ingin kutanyakan padamu sebenarnya tadi, hanya tidak jadi karena aku ingin fokus ke proposal kerjasama ini. Jadi apa yang sudah kalian temukan?”


“Pengalihan saham Siska dan Anton. Kau tahu maksudku. Cara ilegal yang mereka lakukan untuk mendapatkan porsi saham segitu banyak.”


“Hmm... Baiklah.” Kusandarkan kepalaku dikursi. “Sebentar saja kau jelaskan. Itu akan menjadi cerita yang panjang. Kepalaku terlalu sakit sekarang.”


Ethan mengangguk, “Kita ke cafe Metropolis dulu Juki.” ucap Ethan pada Juki.


Juki mengangguk tipis.


“Kau lapar ya?” tanyaku pada Ethan.


“Tentu Ree. Kau sih enak tadi sudah makan roti dari pak Ren. Aku belum makan sejak tadi pagi.”


“Kau tidak makan Ethan, tapi kau hampir membunuh mas Anton tadi. Tenagamu banyak. Tidak usah manja lah.”


“Hahaha. Kalau itu beda cerita Ree.”


Kupejamkan mataku berusaha mencerna semua yang baru saja terjadi. Papa menghilang. Mas Anton menyekapnya. Tapi aku yakin akan menemukan papa dalam waktu dekat. Sudah kuminta pada Juki untuk membantu mencarinya. Informan Juki lebih luas didunia hitam dibandingkan kepolisian. Dia mengenal banyak penjahat dan berteman dengan mereka. Harusnya tidak susah untuk menemukan tempat papa dan mencari tahu siapa suruhan mas Anton yang sudah melakukan penculikan. 


Kalau Frederika tidak memberikan suaranya padaku, maka sasaranku selanjutnya adalah saham milik mas Anton dan Siska. Aku tahu mereka tidak mungkin mendapatkan saham sebanyak itu dengan cara yang benar. Seperti yang Ethan bilang, mereka mendapatkannya secara  ilegal, dan syukurnya Ethan dan pak Ren bergerak cepat untuk menyelidiki itu. 


Kalau itu berhasil maka akan kukeluarkan juga bukti yang ku punya. Rekaman gawai Nina. Semua yang terjadi dirumah, tidak luput dari rekaman Nina. Termasuk malam pertengkaranku dengan mas Anton, saat Siska mengungkapkan dengan lantang dan sombongnya kalau mereka adalah dalang sampai papa masuk penjara, itu terekam jelas di gawai Nina. 


Tentu itu akan menjadi hadiah yang luar biasa buat mas Anton dan Siska.


 


.


.


****


.


.


Pak Han sedang duduk santai dikursi kerjanya. Ia tidak menyangka  pertemuannya dengan Reenata akan batal. Dipikirnya ini adalah pertemuan penting bagi Ree. Jadi mestinya semua akan berjalan lancar tanpa ada hambatan. Padahal sebenarnya dia sangat tertarik dengan isi proposal kerjasama yang diajukan pihak Ree. Banyak hal yang ingin ia tanyakan terkait itu. Sayang, Ree sudah melanggar prinsip utama berbisnisnya. Dan itu tidak bisa dimaafkan. 


Pak Han mengambil gawainya dan mengetik pesan.


[[ Reenata membatalkan pertemuannya. Jadi? ]]


Tidak lama gawainya berbunyi. Pesan itu langsung dibalas.


[[ Benarkah? ]]


Pak Han langsung membalas kembali pesan itu. 


[[ Ya. Apa pilihanmu? ]]


Gawainya kembali berbunyi.


[[ Itu keputusanku Han ]]


Pak Han meletakkan kembali gawainya di meja. Selesai sudah. Ia tahu apa keputusan Frederika. Membatalkan janji adalah hal yang paling dibenci Frederika. Ia tidak akan memberikan kelonggaran pada siapapun rekan bisnisnya yang membatalkan janjinya, apapun alasannya.


Tiba-tiba gawai pak Han kembali berbunyi.


[[ Cari tahu apa alasannya ]]


Lama pak Han menatap layar gawainya. 


Ia menautkan alisnya. Alasannya? Alasan Ree membatalkan janjinya? Sejak kapan Frederika mengurusi alasan seseorang membatalkan janji? Frederika tidak peduli dengan itu. Dia tipe orang berhati dingin. Itu kenapa pak Han selalu menyebutnya iblis. Frederika senang membatalkan janji, tapi dia paling benci jika orang lain yang melakukan itu padanya.


[[ ???? ]]


Pak Han kembali menekan tombol kirim. 


Tidak berapa lama pesannya langsung dibalas.


[[ Hahaha. Itu akan menarik Han. Percaya padaku ]]


Pak Han semakin mengernyitkan kening membaca pesan balasan Frederika. Ia meletakkan kembali gawainya di atas meja. Ia melepas kacamatanya. Tidak dibalasnya pesan itu. 


“Kalau kuingat-ingat lagi, dari dulu Frederika sangat tertarik dengan perusahaan Doni Darsono. Sejak perusahaan itu masih kecil, tidak ada apa-apanya, hingga berkembang sebesar sekarang. Ada apa sebenarnya didalamnya. Apa yang Frederika cari disitu.”


Pak Han bergumam pelan menyandarkan punggungnya dikursi.