
POV SISKA
Aku melangkahkan kakiku masuk ke ruangan putih penuh marmer itu. Disudut ruangan terdapat guci keramik besar dengan ukiran timbul membentuk bunga dan kupu-kupu kukirim langsung dari Turki. Disisi lain terdapat sofa panjang pesanan dari pengrajin Bali yang kutaruh tepat disamping dinding kaca menghadap langsung ke taman samping rumah. Lampu gantung kristal yang menjuntai cantik dan pernak pernik lainnya dengan warna senada membuat rumah ini terlihat minimalis namun mewah, sempurna. Yap! Rumah ini memang didesain sesuai seleraku. Ree si bodoh itu mempercayakan aku untuk mendesain interior rumah ini. Tentu saja aku tidak menanyakan seperti apa seleranya, untuk apa, toh dia mempercayakan padaku sepenuhnya. Dan... bukan kah cepat atau lambat aku lah sang Nyonya dirumah ini, tentu saja aku harus membuat calon rumahku tepat sesuai keinginanku.
Aku masuk ke ruang makan ketika mataku menangkap Ree sedang bergelayut manja di lengan mas Anton.
Aku menelan ludah, benci.
“Mas... Ayo lah kita berobat lagi. Kita coba lagi yuk program hamilnya. Kata papa kali ini temannya punya kenalan di Belanda. Ia dokter yang hebat, punya rumah sakit sendiri, banyak yang berhasil punya momongan setelah berobat disana. Ini sudah tahun ke empat kita menikah. Mas tahu aku ingin sekali menimang anak. Selain berdoa kita harus ikhtiar kan mas?”
“Tapi Belanda itu jauh sayang. Kamu tahu kan mas banyak kerjaan disini, sementara program hamil itu butuh waktu berbulan-bulan.”
Kesal rasanya mendengar percakapan suami isteri palsu ini, "EHEM” aku berdehem kencang, berjalan mendekat, menarik salah satu kursi dan ikut duduk bergabung di meja makan. Aku mengambil segelas air dan meneguknya.
“Nah... Kebetulan kan ada Siska. Mas kasih saja sahabatku tersayang ini buat handle semuanya.”
“Uhuk uhuk” aku tersedak, kaget Ree mengikut sertakan diriku direncananya yang menjijikkan itu.
“Siska kan hebat. Semua pekerjaannya beres dan tidak pernah bermasalah juga kan?” Ree masih memaksa.
“Tapi Ree, pekerjaan Siska juga sudah menumpuk.” Mas Anton berusaha menolak.
“Ayo lah Sis.” Ree memegang tanganku tidak menghiraukan penolakan mas Anton, “Bujuklah teman keras kepalamu ini biar dia ikut aku ke Belanda. Siapa tahu pulang dari sana aku membawakanmu ponakan yang lucu. Ya kan?”
Aku menarik tanganku, tersenyum. Enak saja perempuan bodoh ini menyuruh membujuk kekasihku sendiri pergi bersamanya. Bisa hancur semua rencana yang kubuat dengan mas Anton.
Susah payah selama 4 tahun aku menyuruh mas Anton menaruh obat ke dalam jus milik Ree yang selalu diminumnya tiap malam. Hasilnya? Tentu saja Ree berpikir dirinya mandul. Dan sekarang dia memintaku memihaknya dalam program kehamilan? Najis! Kau mengharapkan langit runtuh Ree.
“Gak bisa Ree. Beberapa klien ingin mas Anton langsung yang menghandle proyek mereka.” jawabku. Ree terdiam, wajahnya sayu. Masa bodoh, dia pikir siapa dirinya mau mengatur-ngatur kekasihku. “Oh iya mas, ada beberapa berkas yang mesti mas tandatangan. Maaf mas, tapi bisa gak sekarang? Aku lagi buru-buru, mas” Lanjutku.
“Baiklah. Ayo kita ke ruang kerja.” Jawab mas Anton cepat.
“Mas ke atas dulu ya sayang. Kamu habiskan dulu makanannya, kalau sudah tunggu mas di kamar yah.”
Ree mengangguk manut. Aku tersenyum, dasar bodoh.
Mas Anton mengecup kening Ree dan berbalik ke arahku, “ayo Sis kita naik.”
Hah? Aku melotot, apa sih mas Anton. Sempat-sempatnya dia mencium kening Ree.
“Mas apa-apan sih?” cecarku saat mas Anton menutup pintu ruang kerjanya.
“Apanya?”
“Aku gak suka mas cium-cium Ree di depanku!”
Mas Anton tersenyum, melangkah maju dan merengkuh tubuhku.
“Apa sih” aku berusaha melepaskan pelukannya namun pelukan mas Anton semakin kuat. Kesal sekali rasanya.
“Sayang, yang tenang donk. Nih mas kasih tau yah, kalau yang tadi itu namanya mengecup. Kalau cium tuh gini nih...” mas Anton tiba-tiba mendaratkan bibirnya ke bibirku. Lembut dan lama. Seketika amarahku hilang.
“Mas aku kangen. Besok nginap dirumahku yah.”
“Ya sayang. Besok mas pasti nginap. Mas juga kangen kamu sayang.”
Yah begitulah mas Anton, dia memang sudah terbiasa tidur dirumahku dengan alasan lembur kerja dan bodohnya Ree selalu percaya.
Ree bahkan akan mengizinkan mas Anton tidak pulang berhari-hari ketika punya tugas kantor diluar kota dengan satu syarat, aku juga harus ikut sebagai rekan kerja. Tapi sebetulnya diam-diam Ree memintaku untuk memantau apa saja yang dilakukan mas Anton diluar sana. Hah! Naif sekali dia.
Kulepaskan pelukan mas Anton dan beranjak duduk disofa, “jadi bagaimana dengan Belanda?”
“Tentu saja mas tolak sayang. Percuma donk rencana kita selama ini kalau mas pergi.”
“Iya mas, mas janji, yah.” Aku menatap mas Anton dalam-dalam.
“Mas janji sayang.” Mas Anton memelukku.
***
Aku membuka pintu beranda kamarku. Menumpukan badanku di pembatas beranda, menatap kebawah melihat bunga anggrekku yang masih setengah mekar. Aku menghirup dalam-dalam udara pagi ini, segar sekali. Aku bersemangat, mas Anton berjanji akan menginap denganku lagi hari ini, setelah 4 hari yang lalu dia tidur disini. Tidak sabar aku bertemu dengannya.
Loh... Bukannya itu mobil mas Anton yah. Aku memperhatikan mobil hitam dibawah sana muncul dari belokan jalan perumahan sampai akhirnya berhenti tepat didepan rumahku.
Secepatnya aku keluar kamar, setengah berlari menuruni anak tangga. Baju tidur satin tipis masih melekat dibadanku. Tidak apa, toh kekasihku ini yang datang.
Aku membuka pintu dan kulihat wajah pias mas Anton, tidak seperti biasanya, “Kamu kenapa mas?” aku menatapnya bingung.
“Maaf kan mas, Sis.”
“Mas kenapa sih? Masih pagi-pagi kok sudah datang minta maaf. Ada yang salah?” aku bersedekap dan menaikkan alisku sebelah.
“Ree... Papanya... Ree minta tolong papa untuk membereskan pekerjaanku.” Mas Anton terlihat gelisah.
“Terus? Dimana sih masalahnya?” aku masih bingung kemana arah pembicaraan mas Anton.
“Astaga Siskaaa.. Kamu tidak mengerti?” intonasi suara mas Anton naik. “Ree minta bantuan papanya membereskan pekerjaanku. Jabatanku sementara dilimpahkan ke orang lain untuk 6 bulan ke depan! Bahkan bisa diperpanjang sampai 1 tahun kalau Ree belum juga hamil. Aku disuruh pergi ke Belanda Siska!”
“Hah! Tu-tunggu sebentar...” Aku mengangkat tanganku meminta mas Anton berhenti sejenak. Aku menarik nafas berusaha mencerna satu persatu kalimat mas Anton, “lalu, kapan mas berangkat?”
“Siang ini Siska. Jam 2 siang ini.”
“APA?! Bagaimana bisa mas? Baru 4 hari lalu kan Ree berencana.” aku melotot padanya.
“Ree sudah mengatur semuanya. Tiket, pasport, visa, semuanya sudah ada. Sudah terjadwal. Malam itu dia ingin memberikan kejutan sebenarnya. Tapi urung karena aku menolak dengan alasan pekerjaan. Ree menelpon papa minta solusi dan seperti inilah kondisiku sekarang. Terpojok tanpa bisa menolak. Aku tidak punya alasan Siska, kamu tahu kan peranku disana sebagai suami penyayang keluarga?”
Aaahh sial! Aku mengacak rambutku. Perempuan licik itu, tidak kusangka dia akan menggunakan papanya.
“Obat mas? Bagaimana dengan obat untuk Ree?” tiba-tiba aku teringat obat yang harus diminum Ree agar dia tidak hamil.
“Sudah tidak banyak Siska. Mungkin hanya untuk 3 minggu saja.”
Celaka! Harus bagaimana aku. Sial, sial sial. Aku terus mengutuk.
Aku tidak punya pilihan lain, kugenggam erat tangan mas Anton, “Mas tolonglah. Mas mencintaiku kan? Mas bilang akan menjagaku, menjadi pelindungku dan membuatku bahagia. Itu janjimu sejak kita kecil sampai saat ini. Tolong pegang janji itu mas. Tolong, jangan buat Ree hamil mas. Akan rumit bagi jalan kita. Tolong mas. Aku percaya padamu.”
Mas anton menarik tubuhku kepelukannya, “mas janji Siska, mas janji. Hanya kamu satu-satunya.”
***
Tit tit tit tit.. Elektrokardiograf yang tersambung dengan tubuh Ree berbunyi cepat.
Seorang perawat yang menjaga Ree dengan sigap menekan interkom, “tolong dok, pasien mengalami penurunan detak jantung”
Tidak sampai 5 menit kulihat seorang dokter dan beberapa perawat berlari dilorong rumah sakit, masuk ke ruangan tempat Ree terbaring.
Kau tahu Ree, aku marah saat kau membawa kekasihku ke Belanda menjalani program menjijikkan itu. Tiap malam aku tidak bisa tidur memikirkan apa yang sedang kalian lakukan disana. Benciku memuncak Ree, sampai akhirnya kuputuskan mempercepat pelaksanaan rencana yang sudah kususun rapi sebelumnya dengan kekasihku untuk menjebloskan papamu ke penjara. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Kau tahu Ree, bertahun\-tahun aku dan kekasihku berusaha menipu papamu, tapi selalu gagal. Papamu terlalu teliti, aku kesal karena itu sama dengan membiarkan kekasihku lebih lama dalam genggamanmu. Pernah sekali papamu curiga kepada kami berdua, tapi kau tahu Ree, dia sama naifnya dengan dirimu. Air mataku, aktingku, statusku sebagai anak yatim\-piatu, meluluhkannya. Ia percaya padaku, pun pada kekasihku.
Menginjak tahun ke empat rencana kami mulai menampakkan hasil. Papamu terjebak Ree dan dia tidak sadar! Aku sangat puas. Dan yah, ditahun keenam aku menggenggam buah dari usahaku, hari itu... awal kemenanganku. Papa yang kau bangga\-banggakan itu, lelaki busuk itu, dia masuk dalam jeruji, dia akan hidup dibui selama 15 tahun.
15 tahun Ree! Bisa kau bayangkan? Hahaha, aku dan kekasihku luar biasa bukan?
Kau tahu Ree, seharusnya masih ada waktu lebih bermain\-main sampai masa dimana papamu kujebloskan ke penjara. Tapi kau mengusik kesabaranku dengan rencana ke Belandamu itu. Aku hancur Ree saat tahu kau akhirnya hamil. Aku bertengkar hebat dengan kekasihku. Semua salahmu. Kata kekasihku, di Belanda sana kau terus menjaga dan memastikan agar obat\-obatan doktermu itu ditelannya. Dia tidak bisa menghindar saat dia merasakan hormon kelaki\-lakiannya menjadi lebih tinggi dari biasanya. Aahh dia laki\-laki normal. Tentu dia punya batas untuk bertahan. Aku memaklumi itu.
Sebagai gantinya kususun berbagai rencana untuk mengugurkan kandunganmu. Sialnya bayi itu, anak mu itu terlalu kuat. Bahkan sampai bulan kedelapanpun bayi itu enggan keluar dari perutmu. Aku kesal sekali.
Tapi kau tahu Ree, segala sesuatu ada batasnya. Selalu begitu. Itu sudah hukum alam Ree. Seperti papamu yang punya batasan, kau pun juga begitu Ree. Batasmu sampai disini.
Harusnya kau menjadi isteri yang baik saja, menuruti orang yang kau anggap suamimu itu, dan mendengarkan orang yang kau anggap sahabat ini. Seharusnya kau tetap ikut alur rencana kami, agar ketika kau hancur, kau tidak akan sesakit ini. Ini salahmu Ree. Kau membangkang kepada kami. Kau licik membuat sendiri rencana bersama papamu untuk menjebak kekasihku. Dan lihatlah kau sekarang Ree. Bernafas pun kau tak mampu.
Dari pintu yang setengah terbuka, masih sempat kulihat tubuh Ree dipasang berbagai macam peralatan medis, sebelum akhirnya alat pacu jantung ditekan kedadanya.
Aku tersenyum puas, penuh kemenangan.