Knock The Heart With Prayer

Knock The Heart With Prayer
Ukhti?



Seusai kelas kami ke taman, disana aku menceritakan segalanya yah ujungnya pasti matanya yang membelalak lalu kedua tangannya memegang erat pundaku dan diiringin ocehannya


"Sudahlah jangan mengoceh! By the way dimana ya Ali ko aku gak lihat?" Ucapanku membuat Anya sedikit kesal


"Kau ini! Aku gak suka sama Ali! Kamu udah tau disakiti mulu masih cari dia!" Ocehan Anya membuatku terkekeh


"Anya! Kau pernah dengar gak? Orang yang tulus mencintai seseorang akan gila karenanya!" Anya melihat ku dengan tatapan malas


"Ayolah Na! Kau ini udah dewasa kau bisa melihat yang buruk dan baik untukmu! Kau bisa memutuskan keputusan untuk masa depanmu! Kau tidak harus selalu memberitahukan orang lain tentang keputusan mu! Karena keputusan hidupmu ada ditanganmu!" Tegas anya, ucapan aya memberikanku sebuah jawaban yang selama ini kucari


Setelah mendengar hal itu aku tersenyum pada Anya lalu mencium pipinya dan pamit, saat itu juga aku langsung berlalu pergi menuju rumah bibiku


Sekilas aku melihat wajah Anya yang keheranan melihat sikapku yang langsung pergi, diperjalanan aku mengabari bibi bahwa aku akan pulang dan ingin mengatakan sesuatu, sesuatu ini akan mengubah hidupku


Sesampainya aku dirumah kulihat bibi, paman, dan Fatimah dengan wajah mereka yang bersinar menyambutku dengan kegembiraan yang akan datang


***


Muhammad Ali Rahman


Semalaman bahkan dari kemarin aku menunggu dan menunggu umi yang terbaring diatas ranjang rumah sakit karena tak kunjung sadar


Setiap menitnya setiap detiknya kubacakan lantunan ayat suci tidak lupa diiringi do'a


"Bang!" Zahra mengulurkan kotak makanan pada ku, ku ambil kotak makan yang dia ulurkan


"Makanlah sekarang bang dari kemarin Abang belum makan!" Lirih Zahra


"Nanti Abang makan!" Dinginku yang meletakkan kotak makan diatas meja


"Abang! Kalo umi tau abang begini umi pasti sedih!" Bujuk zahra dengan mengambil kotak makan sambil membukanya lalu mengulurkan kotak makanan nya


"Baiklah!" Jawabku yang langsung memakannya dengan perlahan tak lupa membaca do'a


***


Naura


Rasanya aku seperti baru lahir kembali sejak keputusan itu tak sedikit pun rasa sesal aku merasakan hal baru dalam hidupku dadaku seperti air didunia ini


"Naura?" Wajah Anya yang terkejut sontak saja membuatku tersipu malu


"Kau kah ini? Astaga Naura! Kau.. kau.. aku tak percaya ini!?" Sambung Anyah


"Assalamualaikum Anya!" Salamku pada Anya yang lupa kuucapkan saat bertemu dengannya


"Kau tau? Kau sangat mengejutkanku!" Celetuk Anya sambil menggandeng tanganku menuju taman


"Apa aku berbeda? Aku hanya ingin memperbaiki diri! Kau tau semalaman aku belajar dari ibuku! Maksudku ibu baruku!" Ucapanku sontak membuat Anya melirikku dengan pandangan heran


"Jadi semalam kau masuk Islam? Kau benar berubah 89%, dari mulai pakaian seperti seorang muslimah sampai cara bicaramu! Emh siapa maksudmu ibu baru?" Anya yang menatapku sambil memegang pipiku


"Itu!! Nanti kamu makan malam yah dirumahku! Diperjalanan aku akan jelaskan!" Ucapku yang langsung berlalu bersama Anya untuk memasuki kelas


***


"Apakah bundamu tau kalau kau jadi anak angkat bibimu dan kamu masuk agamanya?" Anya yang sedang duduk bersamaku ditaman melihatku dengan serius


"Bundaku? Tentu saja tidak akan bundaku akan berkata 'baiklah sayang kalau itu yang terbaik untukmu' dan masalah akan selesai!" Yakin ku pada Anya


"Baiklah! Itu sedikit membuatku merasa tenang!" Anya yang melihatku dengan tegang sedikit kelihatan lega


"Kau tau nya? Dimana Ali aku sudah


tiga hari gak lihat dia?" Aku membenarkan posisi duduk ku yang langsung bertatap muka dengan Anya


"Ali...Ali gak masuk kelas, yang aku dengar ibunya sakit jadi dia merawatnya" Ucapan Anya membuatku terkejut


"Astaghfirullah Kenapa gak bilang?"


"Anya kita harus jenguk ibunya Ali! Sekarang!" Tegasku yang beranjak berdiri dari tempat dudukku, sontak saja aku teringat akan ucapan ali


'Lain kali kita tidak bisa bertemu lagi!' seketika aku duduk kembali dengan menundukkan kepalaku


"Na? Aku tau ini akan terjadi!" Lirih Anya yang langsung memelukku


"Anya bisa kau bantu aku? Aku mohon!" pintaku yang akan dikabulkan Anya, Anya yang terdiam sedikit ragu untuk mengiyakan perkataanku


***


Anya


"Anya! Janji ya jangan kasih tau Ali soal ini!" Dengan ceria Naura mengatakan hal itu, dengan senyuman terpaksa aku mengiyakan perkataan Naura yang sedang menunggu didalam mobil yang terparkir di halaman rumah sakit tempat ibunya Ali dirawat


Disisi lain aku takut Naura tersakiti hatinya karena Ali tidak menyadari ketulusan hati Naura, sesaat aku berpikir jika Ali kedepannya tidak bisa menghargai Naura aku tidak akan berdiam diri


Aku memasuki rumah sakit dan langsung menuju resepsionis untuk mengetahui ruangan ibunya Ali


"Maaf mbak! Boleh saya tanya! Emh.. kalo Ibu Maryam ruangan berapa ya mba?" Tanyaku pada seorang wanita


"Ibu Maryam? Sebentar saya cek... Ibu Maryam dirawat di ruangan 04!" Jawabnya yang sedikit terjeda


"Oh yaudah makasih ya!" Lalu aku berlalu menghampiri ruangan 04


Aku membuka pintu ruangan tersebut dengan perlahan, kulihat Ali yang sedang duduk disebelah ranjang ibunya yang terbaring


"Ali?" Sontak saja Ali melirikku


"Anya? Aku mohon pergilah jika kau ingin mempermasalahkan soal Naura!" Ali yng melirikku langsung membuang muka padaku


"Maafkan aku Ali! Aku kesini tidak bermaksud seperti itu! Aku hanya ingin memberikan ini!"Aku langsung mengulurkan seikat bunga yang dirangkai seindah mungkin dan menaruhnya disisi ibunya Ali


"Maafkan aku Anya aku sudah berburuk sangka terhadapmu! Aku terpuruk saat ini! Aku tidak bisa memikirkan hal lain selain kesembuhan umi!" Jelas Ali yang menenggelamkan wajahnya pada tangan ibunya


"Tidak apa! Semoga ibumu lekas sembuh agar nanti kau bisa menyelesaikan masalahmu dengan Naura!" Ucapku dengan memegang pundaknya


"Ada kebahagiaan yang sedang menunggu mu!" Bisikku yang langsung berlalu pergi dari ruangan tersebut


Aku berjalan menghampiri Naura yang sedang menunggu kehadiranku, lalu aku masuk mobil dan menjalankan mobilnya


"Anya! Katakan sesuatu! Apakah ibunya baik baik saja?" Tanya Naura dengan mata yang berbinar binar


"Ibunya belum sadar tapi keadaannya membaik! Aku yakin dia akan cepat sembuh jika kau membantu ali mendoakan kesembuhannya!" Dengan senyuman tulus kuucapkan hal itu sambil memegang pipi Naura yang dibalut jilbabnya


"Aku akan mendoakannya Anya! Bersama ibu dan papahku!" Perkataan Naura membuat hatiku tersentuh


Hatimu benar benar tulus na! Andaikan dunia membuka mata Ali dan hatinya untuk melihat ketulusan hati Naura yang polos ini!


"Nana! Aku akan mengantarmu pulang ini udah magrib bukankah kamu seharusnya sholat?" Tanyaku membuat muka binar Naura menjadi sedikit khawatir


"Ah iya Anya aku lupa aku udah janji sama ibu kalau aku akan pulang sebelum magrib!" Naura yang panik menelpon ibunya, aku yang sedikit tak enak melihat Naura melalaikan kewajibannya sedikit menanjap gas


***



Bersambung...


Author:


Dari Author mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya! Semangat berpuasa ya!


dan untuk Readers jangan lupa kasih vote like dan komentar karena itu salah satu dukungan kalian pada author jadi jangan lupa kasih vote like rate dan komentar!


Dukung Author!