
Sesampainya aku di bandara, aku langsung mencari mereka. Dengan memutar tubuhku dan mataku yang jeli melihat mereka. Akhirnya aku menemukan mereka yang tengah duduk dikursi
"Naura!" Teriak Ibu di samping kananku yang tidak jauh jaraknya denganku, aku langsung menghampiri mereka dengan senyum bahagia menyambut mereka
Dengan senyum lebar aku berlari kecil menghampiri mereka yang tengah berdiri menghampiriku dengan senyuman
"Ibu, aku kangen banget sama kalian!" Gemasku sambil memeluk ibu yang sedang memelukku dengan lembut dan mencium ubun-ubun kepalaku
"Sudah sudah! Nanti aja pelukannya setelah sampai dirumah Papa berat nih gendong Fatimah." Rengek papa yang berdiri disamping ibu dengan Fatimah yang melekat dibagian dada kanan papa
Aku balas dengan senyuman, lalu aku membawa koper ibu dan ibu membawa koper Fatimah sedangkan papa menggendong Fatimah sekaligus mendorong kopernya sendiri.
Sesampainya di mobil ibu dan Fatimah langsung masuk ke mobil karena mereka terlalu lelah.
"Papa itu tidak perlu! Biar pak Adnan yang melakukannya, Lagipula mobilnya dibelakang." Ucapku yang menghentikan papa yang akan mengangkut koper ke bagasi mobilku. Papa membalasnya dengan senyuman sambil mengerutkan keningnya
"Papa, disini kalian akan liburan bersamaku dan kalian gak boleh berkerja!" Pintaku pada papa yang masih heran dengan sikapku, mengerti dengan apa yang aku katakan papa langsung mengangguk dan memegang pipiku
"Kamu anak papa yang baik!" Ujar papa dan langsung menuju kedalam mobil dengan senyumannya
"Pak Adnan tolong ya, langsung aja kerumah dan siapkan semuanya! Sementara aku akan berjalan jalan dulu bersama mereka." Ujarku dengan lemah lembut tidak lupa diiringi dengan senyuman
"Baik, Non!" Jawab pak Adnan sambil mengangguk mengerti dan langsung berlalu
Lalu aku masuk dan melajukan mobilnya menuju Mall yang jaraknya tidak jauh dari bandara internasional dan rumah sakitku, sesampainya kami disana dengan raut wajah heran ibu yang sedang memeluk Fatimah bertanya padaku
"Sayang, Naura kenapa kita kesini?" Tanya ibu yang sedang duduk dibangku belakang mobil bersama Fatimah
"Ibu, kalian pasti lapar kita makan dan belanja yah! Ada seseorang yang akan bertemu dengan ibu." Pintaku pada ibu dengan senyuman, mengerti dengan ucapanku ibu turun dan Fatimah akan digendong oleh papa
"Eummh..." Geliat Fatimah saat akan digendong papa, saat Fatimah sadar bahwa dia sudah sampai, tanpa aba aba dia langsung memelukku dari belakang yang saat itu aku berada disamping ibu yang tengah menunggu papa dan Fatimah
"Kaka!" Teriak Fatimah yang sedang memelukku dari belakang. tingginya tidak sampai dada ataupun dagu, melainkan perutku yang membuatku geli dan gemas ingin mencubit pipinya yang tembem dan bening
"Fatimah." Ujarku yang langsung membalikkan badan dan menggendongnya nya kepangkuan ku
"Kamu berat yah!" Ejekku dengan wajah yang mengerutkan kening, sontak saja ibu dan papa tertawa yang membuat Fatimah tertawa lebar hingga gigi susunya yang tumbuh mulai kuat dan putih terlihat dengan rapih dan bersih
Tidak buang waktu aku, papa dan ibu masuk kedalam begitupun dengan Fatimah yang berada dipelukan ku. Datimah yang melihat permainanpun merengek minta diturunkan, akupun menuruti apa maunya.
Ini itu permainan dan beberapa boneka yang dia inginkan aku belikan untuknya. Sedangkan papa dan ibu cuma pusing melihat putri kecilnya berkeliaran kesana kemari memilih boneka yang dia suka untuk dibawa pulang.
"Ibu, ibu gausah khawatir Fatimah bersamaku. Ibu turun aja kelantai bawah dan ibu akan melihat bunda di meja 05. Nanti aku nyusul sama Fatimah setelah ini ya!" Pintaku pada ibu yang hanya berdiri, mendengar ucapanku ibu dan papa langsung menuruni eskalator menuju meja yang sudah aku pesan untuk kami.
Aku yang kewalahan melihat tingkah Fatimah yang kesana kemari dan melempar pertanyaan untuk memilih ini itu. Seusai itu Fatimah memilih beberapa boneka kamipun menyusul ibu, papa, dan bunda.
"Assalamualaikum.." sapa ku pada mereka yang sedang asik berbincang bincang dengan bunda
"Waalaikumsalam..." Jawab mereka dengan serentak, akupun langsung ikut ngobrol dengan mereka sambil menunggu pesanan datang.
Beberapa menit berlalu pesanan kami juga datang, betapa tersentuhnya hatiku melihat mereka berkumpul disatu meja layaknya keluarga utuhku. Meskipun demikian aku merasa menyesal dengan apa yang aku lakukan pada ayah sehingga dia sangat marah padaku.
Selang beberapa menit kami menyantap hidangan diatas meja ini, aku menerima panggilan masuk dari Layla yang menurutku ini menyangkut rumah sakit.
"Emh.. sebentar ya, Naura mau menerima telpon dulu." Pintaku pada mereka, merekapun tak segan menganggukan kepala dan mengerti ucapanku.
Aku langsung sedikit bergeser ke barat dan menerima panggilan dari Layla.
"Assalamualaikum, iya Lala ada apa?" Tanyaku pada Layla disebrang telpon
"Naura, Kamu ditunggu oleh dokter spesialis poli umum untuk menyepakati beberapa kesepakatan yang harus ditandangani langsung olehmu." Jawab Layla dengan lembut
"Tapi... Apa gak bisa di cancel? Aku sedang makan siang bersama Bunda, ibu, papa, dan Fatimah." Jawabku dengan sedikit merengek
"Gak bisa dong. Kasian dia kan udah janji nanti kalau kesepakatan nya batal gimana? Bagaimana rumah sakit kita bisa maju untuk memberikan pelayanan yang maksimal kalo kamu gak profesional?" Bujuk Layla dengan tegas
"Oke! Aku kesana beberapa menit lagi." Ucapku pasrah karena tak bisa menentang hal itu memang benar
Dengan berat hati aku meminta izin kepada mereka dan memberikan alasannya, mereka menyetujuinya dan bunda akan mengantar mereka ke rumahku sekalian ibu mau menginap semalam dirumahku. Mendengar jawaban mereka aku langsung menuju mobil, tidak lupa mengucapkan salam.
Sesampainya aku dirumah sakit Health Green atau Rumah sakitku. Aku menuju ruangan ku dengan gerasa gerusu. "Assalamualaikum." Salamku saat memutar kenop pintu ruanganku, betapa terkejutnya aku melihat Ali bersama Layla yang sedang menungguku tidak lupa ada Yuli dan Reval di sofa merahku yang sering kupakai sebagai tempat istirahatanku saat aku lelah dengan dokumen yang berserakan dimeja kerjaku.
"Waalaikumsalam." Jawab mereka serentak dengan memandangku yang baru saja datang
"Emh... Kalian sedang apa disini?" Tanyaku seakan-akan tidak mengerti dengan ini, sebenarnya aku sedikit kesal pada mereka yang terus memojokkan ku untuk melihat Ali. Apalagi Layla yang sudah mengatakan hal itu, sungguh itu membuatku sedikit kesal padanya.
"Sama sama. Emh.. Layla segera setelah ini pertemukan aku dengan dokternya aku banyak urusan! Kamu tau itu." Ucapku dengan lembut namun sedikit menekan karena dia sudah membuang waktuku hanya untuk ini padahal mungkin aku sedang bercanda tawa dengan ibu, bunda, papa dan Fatimah saat ini.
"Baiklah.." jawab Layla dengan rasa bersalahnya. Entah apa yang ada dipikiran mereka, mereka tau kalau aku tidak suka cara mereka yang seperti ini
"Waalaikumsalam." Salamku dan langsung berlalu menutup pintu tanpa berkata lagi
Ini sudah keterlaluan. Benakku yang semakin kesal pada mereka, aku duduk di taman untuk menenangkan hatiku. Selang beberapa waktu dering telponku berbunyi
"Assalamualaikum." Sapaku pada seorang pria yang merupakan salah satu rekan kerjaku
"Waalaikumsalam, emh.. sebelumnya saya minta maaf karena menganggu hari liburmu, saya ingin meminta waktunya sebentar." Pinta Rayn dengan lembut
"Baiklah jangan sungkan, aku akan kesana." Ucapku yang memang ingin pergi dari sini. Lalu Rayn berterima kasih dan mengatakan dimana kami akan bertemu dan aku iyakan perkataannya. percakapan ditelpon kami tertutup setelah aku dan Rayn saling memberikan salam.
Aku memutuskan untuk pergi dan menyuruh dokumennya dikirim ke rumahku saja. Aku pergi tanpa pamit karena aku mengirim pesan untuk Layla dan menyampaikan salam pamitku pada mereka.
Tanpa berpikir panjang aku langsung pergi melajukan mobilku.
Sesampainya aku disana, Rayn menyapaku dengan senyuman dimeja nya.
"Assalamualaikum." Sapaku dengan menghampiri yang sedang menungguku
"Waalaikumsalam." Jawab Ryan, lalu dia mempersilahkan aku duduk dengan isyarat tangan kanannya. Aku mengangguk mengerti dan duduk didepannya
"Jadi gini, karena proyek yang sudah kita jalankan berhasil dengan banyak keuntungan. Aku memutuskan untuk mengadakan pesta dan mengundang para sponsor lainnya."
"Emh.. untuk itu.." aku berpikir panjang karena mungkin sekarang aku harus membagi waktu bersama keluargaku yang sudah aku rindukan selama beberapa tahun ini.
"Tidak apa, jangan memaksakan diri hanya saja mungkin acara itu tidak akan meriah tanpa kehadiran CEO Naura untuk membuka acara tersebut." Ujar Rayn dengan lembut seakan membujukku tanpa memaksakan kehendaknya
"Tentunya aku merasa tidak enak hati bila semua karyawan dan para sponsor tidak melihatku untuk membuka acara tersebut, jadi aku akan mempertimbangkannya kembali." Enggan untuk menolak dan banyak berbicara tentang acara itu akupun mengalihkan pembicaraan
"Emhh... Aku dengar direktur sedang dekat dengan sekertaris dan berencana untuk bertunangan." Godaku untuk mencari topik lainnya
"Anda terlalu berlebihan, saya cuma mengaguminya." Jawab Rayn dengan senyuman untuk menutupi rasa malunya
"Tidak apa jangan sungkan, aku menunggu undangan darimu. Kalau begitu aku pergi ya." Pintaku padanya yang hendak berdiri, dengan senyuman Rayn mengikutiku berdiri
"Assalamualaikum." Ucapku dengan menyatukan kedua telapak tangan dan berlalu dengan senyuman setelah Rayn menjawab salamku.
***
Malam hati tidak seperti biasanya, hujan deras membasahi sebagian balkon kamarku hingga aku tak dapat duduk manis sambil mengerjakan kerjaanku seperti biasa. Ditemani green tea dengan laptop yang tengah aku pakai untuk mengerjakan Bisnisku.
Setelah mengerjakannya aku berniat mandi hangat lalu menandatangani kontrak untuk rumah sakit.
***
Pagi hari matahari menembus pintu balkon yang terbuat dari kaca membuat Aku terbangun.
Tok.. tok.. tok.. suara ketukan pintu dari luar kamarku. "Siapa?" Tanyaku pada seseorang disebrang pintu
"Ibu sayang, ayok turun udah siang. Makanan juga udah siap ko!" Perintah ibu yang membuatku terkejut
"Astaghfirullah, jam 08:30." Bisikku yang langsung beranjak dari tempat tidurku. "Iya Bu Naura nanti nyusul, mau siap siap dulu." Jawabku yang sedang gerasa gerusu untuk pergi bersiap
"Yaudah nanti ibu tunggu." Jawab ibu yang berlalu pergi dari dekat pintu.
Seusai bersiap aku mengambil laptop dan beberapa berkas yang harus aku bawa ke kantor.
Astaghfirullah, baru kali ini aku terlambat ke kantor. Dan bodohnya aku kenapa setelah shalat subuh malah tidur lagi sih! Celetuk benakku yang kesal pada diriku.
Karena kerjaan yang menumpuk hingga aku tidur lebih malam dari biasanya mungkin bisa disebut gak tidur semalaman lalu shalat shubuh abis itu tidur lagi hingga aku kesiangan.
"Naura, sini sama kita!" Pinta bunda yang sedang duduk bersama yang lainnya dihadapkan sarapan pagi untuk mereka.
"Maaf bunda, ibu, ayah, dan Fatimah. Naura kesiangan jadi gak ada waktu buat makan. Naura pergi dulu ya, Assalamualaikum!" Ucapku yang langsung berlalu pergi menuju mobil yang sudah terparkir sejak 15 menit yang lalu.
"Non mau diantar?" Tanya pak Adnan yang merupakan salah satu supir dirumah.
"Gak pak, biar saya saja. Oh iya ajak yang lainnya ke Lestoran tempat saya selalu makan siang ya!" Pintaku yang sedang membuka pintu mobil.
"Baik non." Jawabnya, kuanggukan kepalaku dan langsung melajukan mobilku.