Knock The Heart With Prayer

Knock The Heart With Prayer
Sabar!



Setelah aku mengambil cemilan aku menonton televisi pada saat yang sama saat aku mencari remote aku menemukan ponsel anya


"Inikan handphone Anya? Sebaiknya ku kembalikan sekarang!" Aku langsung mematikan televisi dan bergegas pergi menyusul Anya


Saat diperjalanan aku melihat ponsel anya menerima pesan baru


Ali : baiklah aku akan pergi ketaman sekarang!


"Ali? Apa Anya langsung ingin memberikannya hemm baiklah akan kususul Anya tapi akan aku pastikan kalau aku hanya akan bertemu Anya!" Jawabku tegas


Sesampainya disana aku melihat mobil biru Anya terparkir, lalu aku penasaran apa yang mereka bicarakan jadi aku menguntit dari kejauhan tapi meskipun kejauhan aku masih bisa mendengar suara mereka


"Anya! Ada apa?" Sapa Ali yang tiba tiba datang menghampiri anya


"Kau tau tentang Naura?" Lirik Anya dengan kemarahan


Oh ya ampun aku takut mereka bertengkar! Sebaiknya aku kesana!, Seketika aku teringat Ali yang mengatakan 'lain kali kita tidak bertemu lagi' ,tidak aku tidak boleh kesana Ali tidak ingin melihatku!


Aku mengurungkan niatku untuk menghampiri mereka berdua


"Aku tau dia mencintaiku!" Sontak ucapan ali membuatku membelalakkan mataku termasuk Anya


"Aku tau! Maka dari itu aku ingin menjauhinya agar dia tidak berharap lebih tentang ku! Dan sungguh kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama!" Sambung Ali, tak terasa air mataku menetes tak tertahan


"Lu tau? Gue gak kaget! Karena gue juga lihat matalu juga mengatakan kalo lu mencintai Naura!" Tegas Anya, membuat matanya Ali terbelalak


"Aku... Aku gak suka sama Naura! Yang kamu lihat itu bohong!" Bantah Ali


"Oh iya gue tau! Lu suka Yuli?"


"Iya!" Jawaban Ali membuatku terjatuh tak berdaya, Anya sontak menampar Ali


Plak...


"Lu suka Yuli? Kenapa? Kenapa lu menyukainya apa karena dia berjilbab? Seagama denganlu? Tapi apa lu tidak tau perjuangan Naura? Lu tidak tau hati Naura hancur saat lu ninggalin dia di taman? Lu tidak tau betapa berantakannya Naura saat melihat lu dengan yuli ditoko buku? Lu tau Naura depresi karena cintanya yang semakin dalam buat lu setiap harinya! Dan lu...?" Mendengar semua yang Anya katakan membuatku tidak tahan lagi aku langsung menghentikan mereka


"Cukup!" Terlihat jelas saat aku melihat keduanya memasang wajah yang sama terkejutnya melihat aku dibalik pohon


aku berjalan menghampiri anya dan mengulurkan handphone nya, dengan menahan air mata aku memberikan handphone Anya dan pergi berlari sekencang kencangnya menuju parkiran


***


Muhammad Ali Rahman


Saat mendengar suara Naura aku terkejut dengan ke khawatiran anya menerima handphone nya yang berada ditangan Naura, seketika setelah Anya menerima handphone nya Naura langsung berlari sekencang kencangnya


Seketika itu Anya akan menyusul Naura tapi aku memegang tangannya


"Biarkan Naura tenang!" Mendengar ucapanku Anya Langsung menamparku untuk yang kedua kalinya


"Kau tidak punya hati Ali! Kau pecundang! Kau itu terbuat dari apa? Melepaskan wanita yang begitu tulus mencintaimu? Kau bodoh ali...!"


"Terus hina aku! Tampar aku Anya tampar! Kau pikir aku bahagia melihat Naura seperti itu? Kau pikir aku sekejam itu?" Ucapan Anya ku potong, setelah mendengar apa yang ku ucapkan mata Anya melebar, sejenak keheningan tercipta


"Kau pikir apa yang kulakukan selama ini? Kau pikir aku tidak mencintainya? Anya kumohon mengertilah! Kau tidak seharusnya memandang masalah ini dengan hanya satu sudut!" Sambung ku membuatnya semakin terbungkam


"Aku dan Naura mungkin saling mencintai tapi ingatlah Anya!! meskipun begitu kami tidak mungkin bersama selain dari kehendaknya!" Aku berlalu karena tak kuasa bila aku harus terus disana


Ya Allah cobaan apa ini? Kau menguji hambamu dengan mempermainkan perasaan hamba ya Allah! Kumohon berikan kekuatan agar aku bisa melewati ini dengan ta'bah! Amin....


Sejenak aku berpikir mungkin aku harus mengatakan semuanya pada Naura dan berusaha mendengarkan penjelasanku mungkin saja dia akan mengerti


Saat itu juga aku pergi menuju apartement Naura tapi saat diperjalanan dering teleponku berbunyi


"Assalamualaikum?" Sapaku pada Zahra yang menelpon ku


"Waalaikum salam Abang umi masuk rumah sakit! Segera kesini bang! Aku udah kasih alamatnya!" Suara Zahra yang lirih membuatku tak bisa berpikir dan langsung menuju ke rumah sakit yang diberitahu Zahra


Ya Allah ujian apa lagi ini?


Benakku tak karuan saat itu, saat aku melihat umi di infus, Abi dan Zahra yang sedang menunggu diluar pintu


"Abi katakan pada Ali! Ada apa dengan umi!" Ucapku dengan jongkok dihadapan Abi yang sedang duduk


"Umi terjatuh dari tangga! Kata doktee Kepalanya terbentur keras!" Lirih Zahra dengan menaruh tangannya dibahuku


"Abi! Umi abi?!! Seandainya Ali gak pergi saat umi bilang jangan kemana mana!" Tangis pun tak bisa ku bendung lagi walau seberapa kerasnya aku menahan


"Abang! Ini bukan kesalahan Abang!" Zahra membantuku berdiri lalu duduk bersama


Tak bisa ku pungkiri sedari tadi aku menyalakan diriku sendiri, beberapa menit kemudian seorang dokter keluar dari ruangan umi, seketika aku tak bisa menahan diri untuk bertemu umi


"Sabar lah! Kalian tidak boleh membuat keributan didalam! Pasien sedang istirahat!" Cegah dokter, seketika aku menghentikan langkahku


"Lalu dokter bagaimana keadaan istri saya dokter?" Abi yang sedari tadi melamun kini melontarkan kata katanya


"Dia sudah membaik! Tapi biarkan dia istirahat dan dirawat disini untuk beberapa hari sampai keadaan pasien benar benar pulih!" Jawab dokter itu yang hendak berlalu


"Bapak suaminya?" Sambung dokter


"Baiklah ikut saya! Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan!" Abi langsung mengikuti dokter itu dan berlalu


Aku dan Zahra perlahan melangkahkan kaki memasuki ruangan umi, tak kuasa ku menahan tangis saat melihat umi dengan selang infus dan berbaring lemah dengan wajah cantik nya yang pucat membuat hatiku bergetar


Bodohnya aku! Mengapa aku harus pergi meninggalkan umi! Kau bodoh ali bodoh!


Melihat Zahra yang tersedu sedu menangis membuatku semakin sakit, lalu aku memeluk Zahra memberikan kekuatan untuk Zahra


Ya Allah berikanlah kekuatan kepada keluarga ku! Dan sembuhkan umi dari sakitnya ya Allah


***


Aku menyuruh Abi dan Zahra pulang karena takut mereka tidak bisa tidur bila disini dengan berat mereka meninggalkan ruangan umi, karena kupikir bila mereka disini mereka tidak bisa membendung air mata, sekaligus aku ingin menebus dosaku yang telah meninggalkan umi dirumah meskipun umi sudah melarang ku untuk pergi


Magrib tiba akupun langsung ke toilet karena aku pikir aku tidak ingin meninggalkan umi lagi, setelah aku selesai berwudhu aku memasuki ruangan umi lagi dan menggelarkan sajadah didekat ranjang umi


"Assalamualaikum warahmatullah, assalamualaikum warahmatullah" salamku diakhir shalat


Ya Allah berikan kesembuhan kepada umi! Kuatkan Abi yang tidak kuasa melihat istrinya terbaring lemah! Begitupun pada Zahra yang tak kuasa melihat uminya terbaring lemah! Ya Allah berikanlah kekuatan kepada keluarga hamba dan hamba yang lemah ini! Amin...


"Rabbana atina piddun'ya Hasanah wafil'ahirati Hasanah waqina adabannar, amin!" Setelah ku berdoa aku melantunkan ayat ayatnya dengan diiringi tangis yang tak kuasa kutahan


***


Naura



Aku begitu kacau saat aku tersadar dari kemarahan yang telah menguasaiku, seketika aku mendengar suara ketukan pintu disebrang pintu tapi aku mengabaikannya, aku terkejut mendengar suara seseorang


"Assalamualaikum! Astaghfirullah ada apa ini?" Ucap seseorang yang baru saja membuka pintu apartementku, aku tidak memperdulikannya aku sibuk menenggelamkan pikiranku dengan kejadian akhir akhir ini


"Naura? Kamu kenapa nak? Kamu berantakan sekali?" Ucap seseorang dengan membereskan wajah ku yang Basar karena air mata dan rambutku yang berantakan


"Bibi!" Lirihku yang langsung memeluk adik bundaku, aku memeluknya dengan erat dengan tersedu sedu, lalu bibi melepaskan pelukannya dengan menatapku


"Sekarang bundamu atau ayahmu tidak akan bisa melepaskanmu dariku! Kamu akan tinggal bersama bibi! Bibi tidak mau kamu seperti ini!" Ucap bibi yang langsung membereskan barang barangku dan kami langsung pergi menuju rumah bibi yang jaraknya lumayan jauh


Kupandangi bibi yang sedang menyetir dengan memakai baju besar dan kerudungnya yang besar, seketika aku merasa iri dan mengingat kejadian saat aku melihat Ali bersama Yuli ditoko buku, cara berpakaian yang sama hanya saja Yuli tidak sebesar baju bibi dan kerudungnya juga tidak terlalu besar


"Katakan pada bibimu ini! Kenapa?" Pertanyaan bibi membuatku tertunduk


"Bibi? Apakah aku boleh meminta sesuatu?"


"Katakanlah!"


"Apa bibi bisa membantu aku seperti bibi?" Mendengar ucapanku bibi yang tadinya bermuka serius langsung menampakan wajah terkejut dengan tertawa kecil


"Sayang! Ini tentang agama jika kamu ingin menjadi seperti bibi kamu harus pindah agama dan kamu tau sendiri agama bibi tidak seperti agamamu sayang! Banyak yang harus dilakukan seperti memperbaiki diri sampai membenahi akhlak mu! Dan sayang coba kamu pikir pikir dulu yang matang jangan lupa bunda dan ayahmu beritahu bibi gak mau kamu menjadi seseorang yang bimbang dalam menentukan hal seperti ini!" Ucapan bibi membuatku tertunduk


Bibi benar seandainya aku masuk agama bibi trus nanti aku tak betah bagaimana? Aku takut ini hanya sesaat karena hasrat saja! Humph Biarkan aku melihat kegiatan bibi nanti akan ku nilai seberapa besar tekadku ini!


Sesampainya kami dirumah bibi aku disambut oleh pamanku dan anaknya bibi namanyah Fatimah masih kecil sekali


"Assalamualaikum!" Salam bibiku diikuti aku yang hanya tersenyum


"Waalaikum salam, eh Naura? Akhirnya kamu mau tinggal bersama kami!" Ucapan paman hanya kubalas dengan senyuman, seketika bibiku mencium tangan suaminya dan Fatimah mencium tangan bibiku


"Ayo kita masuk kedalam! Bibi udah masakin makanan enak!" Ucap bibi yang langsung kedalam diikuti aku lalu paman dan Fatimah


***


Tepat pukul 04:30 am aku mendengar lantunan ayat yang membuatku terbangun dan tenang


Siapa yang bersuara! Ini membuatku sedikit tenang!


Saat aku beranjak dari tempat tidurku aku melihat bibi dan suaminya sedang membaca Al-quran, aku tak ingin mengganggu lalu aku kekamarku kembali


Keesokan harinya Aku bersiap untuk pergi ke kampus aku diantar bibi kekampus, baru saja aku turun dari mobil lalu menyapa bibi aku disambut oleh Anya yang langsung melontarkan banyak pertanyaan padaku


"Naura kamu kemarin kemana? Aku ke apartement mu tpi kamu gak ada! Aku pikir kamu pergi ke London! Maafin aku na!.....?" Cerocos Anya yang tidak hentinya berbicara


"Kamu itu kaya mobil blong, nyerocos Mulu gak ada remnya!" Rujuk ku pada Anya yang khawatir tentangku


"Ya habis nya kemarin lu tiba tiba ngilang gitu ajah! Gue cek ke apartemen lu gak ada! Kan gue khawatir sama lu!"


"Oke sahabatku sayang! Nanti aku jelasin diperjalanan yuk mending kita masuk kelas!" Ucapku yang langsung merangkul Anya lalu kami pergi ke kelas


***


Author: Untuk Readers jangan lupa kasih vote like dan komentar karena itu salah satu dukungan kalian pada author jadi jangan lupa kasih vote like and komentar!


Dukung Author!!


Naura*


"Jangan takut mengambil keputusan, kamu tetap akan mendapatkan manfaatnya. Antara menjadi pemenang atau menjadi lebih bijak."