
"Naura! Daripada bengong mending bukain gerbangnya dan masuk!" Perkataan Ali membuatku tersadar dari diamku
"Emh... Baiklah." Jawabku dengan membuka gerbang lalu mempersilahkan Ali masuk terlebih dahulu karena Ali membawa beberapa barang yang lumayan banyak.
"Assalamualaikum!" Sapa kami pada anak anak panti yang sedang belajar mengaji
"Waalaikumsalam." Jawab mereka dengan serentak
***
"Ali, terima kasih sudah membawaku kemari."
"Kau senang?" Tanyanya dengan lembut
"Aku senang." Jawabku dengan lembut diiringi senyuman
"Baiklah, apa kamu mau membantu ku mengajar ngaji pada anak-anak panti?" Aku seketika terhenti saking gembiranya
"Kenapa? Tidak mau?" Tanya Ali, saat melihat reaksiku
"Bukan begitu, aku sangat senang justru aku bersyukur bisa mengajari anak-anak panti, sekaligus aku bisa belajar." Jawabku dengan kegirangan pada Ali yang akan duduk dikursi, diikuti aku yang duduk disebelahnya
"Baguslah, Naura?" Ali melirikku
"Apa?" Saat aku menyadari Ali melihatku, aku memalingkan pandanganku
"Maaf untuk kejadian waktu itu," seketika aku melihat Ali yang sedang mengatakan isi hatinya
"Sudahlah itu salahku, bukan salahmu." Jawabku dengan senyuman
"Saat itu, impianku adalah mengajar di panti agar anak-anak bisa mengaji, dan kamu memaksa ingin ikut tentunya aku tidak bisa menolak jadi aku mengajakmu, tapi..."
"Maafkan aku.. aku tidak tau hal itu, seandainya aku memakai pakaian yang lebih tertutup saat itu, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi." Aku memotong ucapannya karena tak ingin memperpanjang masalah ini
"Tidak apa, sudahlah lupakan."
Sejak hari itu hubungan ku dengan Ali semakin membaik, kami juga sering ke panti setiap hari Rabu, pada hari sorenya.
***
Muhammad Ali Rahman
Ya Allah sekiranya aku jatuh cinta, maka jatuhkan lah Cintaku pada seseorang yang melabuhkan cintanya kepada-Mu, agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu.
"Amin.." Ku tempelkan telapak tanganku pada muka ku untuk beberapa saat, laluku lipat sajadah dan meletakkan ketempat nya.
Kuhampiri balkon yang menampakkan keindahan malam hari, sesekali aku mengingat Naura.
"Astaghfirullah, mengapa aku memikirkan dia?" Tanyaku pada diriku sendiri yang terus memikirkan Naura
"Benarkah? Abang Ali jatuh cinta." Ledek Zahra yang tiba-tiba ada di ambang pintu dengan kegirangan
"Apaan sih, enggak! Denger ya kalau mau masuk kamar orang itu, harus ucapkan salam dulu." Tegas ku yang berusaha mengalihkan perhatiannya
"Ehh.. ada apa ini? Ko ribut?" Tanya umi yang tiba-tiba datang karena mendengar keributan
"Ini loh umi, Abang mencintai seorang wanita, Zahra mau tau seperti apa ya wanita itu? Yang bisa membuka hati abang." Goda Zahra yang langsung berlalu pergi dengan nada meledek
"Benarkah itu?" Tanya umi yang menghampiriku
"Emh.. Ali tidak yakin, dan jika Ali jatuh cinta maka Ali akan jatuh cinta pada mahram ku."
"Tidak apa, mencintai wanita itu sudah kadrat mu. Tapi kamu jangan sampai melupakan aturan agama kita." Yakin umi sambil memegang pundak ku
***
Pagi tiba seperti biasanya aku bersiap untuk berangkat ke kampus, tidak lupa sebelum berangkat aku sarapan dan memberi salam.
Sesampainya aku di kampus, kulihat Naura sedang bersama Anya di taman kampus, aku berniat untuk menghampiri mereka yang asik membicarakan sesuatu.
"Assalamualaikum." Salam ku pada mereka yang keasikan berbicara, seketika mereka memandangku dengan tatapan terkejut
"Waalaikumsalam." Jawab mereka dengan serentak
"Lagi bahas apaan nih? Seru banget kayanya." Kataku untuk mencairkan suasana yang tak biasa
"Aku pergi dulu yah! Aku ada kelas." Ucap Anya yang tiba-tiba pergi
"Aneh, Ada apa dengan Anya?" Tanyaku pada Naura yang hanya terdiam
"Emh.. entahlah." Jawabnya dengan mengangkat bahunya
"Kalau begitu nanti sore ajak Anya ke Lestoran, kita makan siang bareng." Ajak ku pada Naura yang masih duduk disebelah ku
"Baiklah, aku akan ajak Anya. Kalau begitu aku pergi dulu ya, ada kelas. Assalamualaikum." Ucapnya dengan diiringi senyum manisnya
"Waalaikumsalam." Jawabku dengan melihat kepergian Naura yang berlalu
"Assalamualaikum." Salam seseorang yang mengagetkanku
"Waalaikumsalam." Jawabku dengan mata terkejut
"Boleh aku duduk disini?" Pinta Yuli, yang langsung duduk disebelah ku
"Ada yang harus aku bicarakan sama kamu, tapi sore ini dilestoran. Ini penting mengenai Naura, aku harap kamu datang ya!" Perkataannya membuatku terheran-heran, entah apa yang terjadi.
Pertama Anya, dengan sikapnya yang tiba-tiba pergi tanpa menyapaku. Kedua Naura, yang dingin terhadapku. Dan ketiga Yuli, yang seakan-akan kita ini sangat dekat. Aku tidak mengerti kaum hawa.
"Humph.. baiklah kita pergi bersama Anya dan Naura." Ucapku dengan nada dingin
"Tidak, jika kita bersama Naura, aku tidak akan bisa mengatakannya dihadapannya." Tolaknya dengan nada sedikit meninggi
"Aku tidak mengerti? Kau mau bicara apa?" Desak ku yang terus dibuat penasaran oleh Yuli
"Kalau kamu mau tau, datang ke Lestoran tepat pukul delapan malam ini. Assalamualaikum." Tegasnya yang langsung berlalu pergi
"Waalaikumsalam." Lirihku
Entah ada apa ini, ya Allah semoga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Perasaan tidak enak ini mengganggu pikiranku.
***
Waktu berlalu, Naura berhasil membujuk Anya untuk ikut ke Lestoran bersamanya. Disisi lain Yuli merencanakan rencananya dan Ali yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti alur mereka bertiga.
Sesampainya Ali dilestoran yang Yuli beritahukan, disambut langsung oleh Yuli di meja.
"Assalamualaikum." Salam Ali pada Yuli yang berdiri, dengan bermaksud untuk menyambut Ali
"Waalaikumsalam, duduklah!" Jawab Yuli dengan lembut tidak lupa menyungging senyum manisnya
"Katakanlah, Apa yang ingin kamu bicarakan!" Tanya Ali yang berhadapan langsung dengan wajah cantik Yuli, meski wajah mereka masih berjarak tetapi Ali bisa melihat betapa cantiknya Yuli yang tidak memakai cadarnya
"Ali, katakan sejujurnya. Apa aku salah dimata mu?" Tanyanya dengan nada lembut yang seakan dia merasa sedih
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan?" Tanya Ali dengan mengerutkan keningnya
"Ali, jujurlah padaku. Kau mencintaiku kan?" Ucap Yuli dengan nada sedikit menekan. Dengan posisi Yuli yang memegang tangan ali, membuat ali canggung
"Apa maksudmu? Aku... Memang mencintaimu tapi.." perkataan Ali terhenti saat Ali melihat Naura yang berada di ambang pintu
"Naura?" Ucap Ali yang langsung beranjak dari tempat duduknya
Naura terkesima melihat dan mendengar apa yang terjadi, berlari sekencang kencangnya. Entah darimana angin badai ini datang.
"Ali!" Cegah Yuli yang memegang tangan Ali, seseorang telah melihat itu. Zahra melihat Yuli dan Ali yang sedang berhadapan sambil berpegangan tangan.
Apa yang dipikirkan Zahra? Zahra hanya berpikir wanita itulah yang abangnya cintai. Wanita yang berparas cantik dengan jilbabnya yang indah, Disungging nya senyuman yang manis.
Zahra hanya berpendapat itu, sesaat Zahra langsung pergi dengan rasa gembiranya melihat wanita pilihan abangnya.
"Yuli, dengarkan aku! Aku dulu memang mencintaimu tapi dulu, Saat kita waktu SMP!" Tegas Ali yang langsung melepaskan tangan yuli dan berpaling darinya
"Anya kamu benar! Memang tidak mudah memisahkan mereka tapi lihatlah! Aku akan membuat sumpahku menjadi kenyataan!" Bisik Yuli dengan nada sedikit menekan
***
Naura
Ali, Ali, Ali, Ali, please! Aku ingin melupakannya! Nama itu terngiang di telingaku. Ini yang terakhir! Aku mohon ya Allah hilangkan rasa cinta ini! Ini sungguh menyiksaku.
"Badai dari mana ini?" Lirihku
"Tidak! Aku tidak boleh lemah!" Seru ku sambil mengusap air mataku
Aku bergegas pergi menuju rumah ibu, tanpa melihat siapapun yang ada dirumah aku nyelonong masuk ke kamar lalu menenggelamkan wajahku kedalam bantal ku
Dari dalam aku mendengar suara ibu dan papa yang terus memanggilku dengan pertanyaan yang beruntun, karena tak ingin mendengar apapun dari luar, aku masuk kedalam kamar mandi, dengan disirami air aku terus meratapi hati yang tak bisa ku kendalikan
Dinginnya air dan ditambah angin dari balkon yang masuk kedalam kamar mandi ku membuatku semakin tak berdaya, seketika aku mendengar hentakan yang keras dari luar
***
Aku tersadar dari mimpi buruk ku, kubuka mataku yang berat secara perlahan, mulai melihat dan mendengar suara dari sekitar. Suara itu, bau itu, itu yang aku tidak suka, penglihatan ku mulai kembali pulih
Kulihat seseorang sedang tertidur didekat lenganku yang diinfus, seorang wanita yang berparas cantik dengan ditutupi cadar indahnya
Ku tutup mataku secara perlahan, bukan tak berdaya untuk membuka mata lagi, hanya saja aku sedang berharap semoga semua ini hanya mimpi yang tak ku rindukan
Ya Allah berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi semua cobaan yang telah kau berikan, dan biarlah hanya aku yang menanggung setiap kesalahanku. Jangan kau libatkan mereka yang menyayangiku, mereka harus kuat karena mereka adalah kekuatanku
***
"Terima kasih dokter." Ucap seseorang dengan lembut, perlahan kubuka mataku
"Sayang!" Perkataan yang lembut, dengan lembut tangannya menyentuh kepalaku sambil mencium keningku
"Seseorang tolong katakan padaku? Apa yang terjadi?" Pintaku pada semua orang yang ada diruangan
"Sayang gak papa ko, kamu cuma kecapean. Kamu istirahat biar kamu cepet keluar dari rumah sakit, bukankah kamu tidak suka dengan bau obat?" Goda ibu yang ku iyakan,
"Assalamualaikum." Salamnya yang berlalu
"Waalaikumsalam." Lirihku yang berpaling pada jendela yang memancarkan cahaya sinar matahari dari luar
***