Knock The Heart With Prayer

Knock The Heart With Prayer
keluarga!




Naura


Inilah kegiatanku sehari-hari, pagi hari aku selalu membereskan rumah, lalu siang hari aku akan pergi ke kantor ayah untuk meneruskannya. Tapi untuk hari Jum'at, Sabtu dan Minggu. Aku selalu ada dirumah sakit bersama Layla dan pagi hari untuk mengaji di mesjid bersama nya.


Cinta? Entahlah mungkin aku butuh waktu untuk memikirkan hal itu lagi, karena cinta membuat hidupku hancur entah itu mental, fisik, maupun keimananku.


Yah aku memang hampir menginjak umur 23 tahun untuk esok hari. Aku tidak menunggunya lagi meskipun hati ini masih mengharapkannya, aku hanya ingin tetap seperti ini. Bahagia dalam ketenangan yang aku rasakan setelah semua yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya.


Aku memandang langit yang dihiasi dengan bintang dan bulan tidak lupa dibawahnya terdapat hamparan cahaya yang indah.


Sesekali aku mendongakkan kepalaku sambil memejamkan mataku dan berdoa dalam hati.


Drett.. Dret.. Drett.. dering telpon berbunyi membangunkan ku dari pejaman mataku, aku langsung mengambil handphone ku dan menerima telpon yang masuk


"Assalamualaikum." Salamku pada seseorang disebrang telpon


"Waalaikumsalam, Nana sayang kapan kamu kerumah! Bunda kangen sama kamu!" Ucap bunda disebrang telpon


Ah iya, aku pindah dari rumah karena sejak kejadian itu ayahku mengusirku dari rumah, meskipun aku sudah mengambil alih perusahaan ayah tapi ayah tetap saja tidak menerimaku dirumahku sendiri.


Sekeras apapun aku mencoba yang terbaik untuk ayah, tapi tetap saja dia menganggapku sebagai aib baginya, sungguh sakit tapi inilah yang harus kujalani.


Maka dari itu, aku memilih ketenangan daripada harus mengenal cinta yang baru lagi! Yaa, meskipun tidak untuk saat ini tapi Allah Maha Mengetahui takdir hambanya. Jadi aku meyakini bahwa ayah akan memaafkan ku disuatu hari nanti.


"Bunda, emhh bukan Naura tidak ingin bertemu dengan bunda tapi Naura mohon bunda mengerti keadaannya! Naura akan bertemu dengan bunda di rumah sakit seperti biasanya ya!" Jawabku dengan lembut agar tidak menyinggung perasaan bunda


"Baiklah, kalau begitu kamu istirahatlah! Assalamualaikum." Salam bunda yang langsung menutup telponnya


"Waalaikumsalam." Jawabku dengan lembut


Ya Allah, berikanlah ketabahan agar hamba bisa menghadapi kemarahan ayah hamba ya Allah. Dan berikanlah hidayah pada ayah hamba agar dia memaafkan hamba, sungguh hidup ini hampa tanpa kehangatan darinya...


Aku langsung menghampiri kamar mandi untuk berwudhu, lalu shalat malam.


***


Hari ini aku jalani kehidupanku seperti biasanya, karena aku ada janji dengan dokter dirumah sakit dan makan siang bersama Bunda.


Setelah aku membereskan rumah aku langsung bersiap dan melajukan mobilku menuju Rumah Sakit untuk bertemu dokter yang baru datang dari luar negeri.


"Assalamualaikum." Salam Layla yang sudah menungguku didepan


"Waalaikumsalam, Layla apakah dokternya sudah datang?" Tanyaku yang langsung masuk kedalam bersama layla


"Katanya dia sudah datang tapi katanyah ada janji bersama temannya jadi dia akan datang terlambat." Jawab Layla yang berjalan beriringan denganku menuju ruangan VIP yang sudah dibuat khusus untukku


"Baiklah tidak apa." Jawabku yang langsung duduk dikursi ku


"Layla, kamu bisa ambilkan dokumen administrasi dan keuangan kepadaku." Pintaku pada Layla yang menjadi asisten kerjaku


Sejak aku mengambil posisi ayah dari perusahaan, tentunya aku membutuhkan seorang asisten yang bisa kupercaya. Apalagi keuntungan yang berlipat dan banyaknya jadwalku yang tidak beraturan membuatku kewalahan dalam menjalankannya


Kebetulan Layla bisa kupercaya dan dia juga pintar dalam berbisnis dia bisa meringankan beban yang aku tanggung sendiri. Sampai akhirnya Layla bersedia menjadi asistenku, mulai dari menjadi sahabatku dipengajian dan luar kerja, lalu menjadi rekan dirumah sakit sampai menjadi asistenku di perusahaan.


"Emh... Sepertinya ada yang kurang, kita membutuhkan dokter poli kandungan." Ucapku


"Kamu benar! Baiklah, nanti aku akan meminta Fauzi untuk membantu hal ini." Jawab Layla, aku anggukan kepalaku.


Beberapa menit aku berbicara dengan Layla, dering telponku berbunyi. Ternyata Yuli menelponku lalu segera kuangkat telponnya


"Assalamualaikum, Yuli ada apa?" Sapaku pada Yuli disebrang telpon sambil menghampiri jendela yang ada di ruangan ku


"Waalaikumsalam, Naura bisa kita bertemu hari ini! Aku mohon!" Pinta Yuli


"Emh.. aku ada janji hari ini. Maafkan aku lain kali saja ya!" Jawabku dengan lembut


"Naura! Kau tidak setia kawan pada kami! Meskipun kamu sibuk tapi tidak seharusnya kamu menolak kita!" Tegas Reval yang tiba-tiba mengambil handphone Yuli


"Dengar ya! Aku sedang sibuk.."


"Aku tidak mau tahu hari ini detik ini aku tunggu kamu! Assalamualaikum!" Sela Reval dengan tegas dan langsung menutup telponnya


"Waalaikumsalam." Jawabku yang langsung membalikkan badan menghadap Layla


"Siapa?" Tanya Layla yang berjalan menaruh dokumen dirak


Sejak aku mengambil alih perusahaan ayah aku jadi jarang untuk melakukan hal seperti membaca novel yang sering kali menjadi hobyku dan melakukan hal lainnya yang membuatku seperti masa kuliahku


Karena sudah terbiasa dengan banyak dokumen dan banyak pekerjaan aku menjadi orang yang malas untuk melakukan hal seperti itu lagi, ya tapi karena Mereka memaksa aku dan Layla langsung menuju Lestoran yang telah mereka tentukan


"Emh... Layla kita pergi ketoko dulu ya!" Ucapku pada Layla yang hanya melihat kedepan


"Mau apa?" Tanya nya yang langsung melihat ku yang sedang menyetir, dengan pandanganku yang masih lurus kedepan


"Aku mau beliin mereka hadiah!" Jawabku yang hanya meliriknya sekilas


"Oke! Aku juga sepertinya mau buah mangga muda deh!" Jawab Layla dengan lembut sambil memainkan telponnya yang sesekali mengetuk ngetukan ujung ponselnya ke dagunya dengan lembut


Aku iyakan perkataan Layla yang memesan buah mangga muda disebuah supermarket yang kebetulan dekat dengan toko yang akan aku datangi.


"Layla! Apa kau yakin mau beli mangga muda sebanyak itu? Dan buah masam ini?" Tanyaku dengan khawatir karena setahuku Layla tidak pernah membeli buah seperti ini


"Sudahlah jangan pedulikan aku! Sekarang ayo kita belanja secepatnya!" Jawab Layla dengan tenang meskipun ditangannya keribetan membawa beberapa kilo buah mangga muda


Aku iyakan perkataannya dan menuju toko tersebut, aku memesan beberapa pakaian untuk bayi dan barang barang yang memang diperlukan untuk bayi. Aku berpikir sekalian saja membelikan untuk calon anak Layla yang mungkin belum muncul tapi persiapan kan! Wkwkwk..


Tapi aku tidak memberikan langsung pada Layla maupun pada Yuli, aku sengaja tidak membawanya dari ditoko karena itu banyak dan tidak akan muat kalo semuanya diangkut kemobilku jadi aku meminta seorang pegawai toko agar mengirimkan barang barang kerumahnya masing masing.


"Naura, kamu beli barang untuk bayi sebanyak ini untuk Yuli? Emangnya Yuli mengandung?" Tanya Layla yang asyik makan petis yang tadi dia beli saat aku berbicara dengan salah satu pegawai toko


"Yaaa, semoga saja! Meskipun belom kan bisa persiapan dari sekarang. Aku menunggu bayi dari kalian berdua tau!" Ucapku dengan nada menggoda sambil menjulurkan bibirku yang tipis, sontak itu mengundang tawa yang terpecahkan di dalam mobilku


Sesampainya aku disana dengan wajah yang memasang senyum untuk menyambut merekapun menghilang saat pertama aku menginjakkan kaki menuju bangku 10 yang tepat disebrang meja yang disisi kananku, tak bisa kugambarkan betapa terkejut dan bahagianya aku melihat Ali bersama mereka bertiga. Perasaanku campur aduk tanpa berpikir panjang aku membalikkan badanku yang akan melangkahkan kaki keluar tapi Yuli melihatku dia langsung mencegahku


"Naura!" Teriak Yuli, betapa malunya aku dipanggil dihadapan banyak orang. Nanti aku dikira punya hutang pada Yuli


Aku membalikan badanku dan Yuli menghampiriku tanpa berkata dia langsung memegang tanganku dengan Layla menuju meja mereka, dengan memasang senyum terpaksa aku duduk disebelah Layla


"Assalamualaikum." Sapa ku setelah aku duduk dengan enggan tanpa berkata banyak lagi


"Waalaikumsalam." Jawab mereka dengan serentak, aku hanya melempar senyuman yang terpaksa dan aku yakin Layla mengerti keadaanku hingga dia memulai pembicaraan dengan mereka dan mengalihkan pandangan mereka padaku


Kecanggungan terjadi antara aku dan Ali, mereka terus tertawa dengan topik yang menyenangkan bagi mereka. Sedangkan aku hanya diam dengan sesekali melihat telponku yang menerima banyak chat dari beberapa rekan bisnisku


Ali mencuri pandang dariku, aku tau itu tapi aku pura pura tidak mengetahuinya dan makan beberapa cemilan yang tersedia didepanku. Aku mencoba mengalihkan pandanganku dan menyiratkan perasaanku yang tercampur aduk.


Tidak lama aku mendengar telponku berbunyi tentunya itu membuatku gembira dan menjadikannya sebagai alasan untuk keluar dari kecanggungan ini.


"Maafkan aku, aku harus mengangkat telponnya!" Ucapku dengan lembut mereka membalasnya dengan senyuman dan anggukan lembut, tanpa basa-basi aku sedikit menjauh dari mereka dan mencoba untuk mengontrol emosiku


"Assalamualaikum, ada apa bu?" Salamku pada Ibu Shifa setelah menerima telponya


"Waalaikumsalam. Naura! Ibu, papah dan Fatimah ada di London! Bisa kamu jemput ibu?" Ucapan ibu disebrang telpon dengan lembut yang membuatku gembira tak tergambarkan


"Tentu saja Bu! Naura akan langsung kesana sekarang juga!" Jawabku yang masih berdiri didepan pintu toilet wanita


"Baiklah, cepat ya sayang! Fatimah sudah mengantuk!" Pinta Ibu dengan suara lembutnya


"Baiklah Bu, assalamualaikum!" Salamku yang langsung menutup telponnya


"Waalaikumsalam!" Jawab ibu yang langsung menutup telponnya, aku segera membalikkan badanku menuju mereka yang masih asyik mengobrol


"Gays, maafin aku ya! Aku harus pergi sekarang." Ucapku dengan tenang yang dibalas dengan wajah yang seperti tak ingin aku pergi dari sini


"Tapi..." Cegah Yuli ku potong dengan alasan yang tepat dan lembut. Aku tau mereka pasti merencanakan semuanya tapi untuk ini aku tidak siap apalagi setelah semua yang terjadi.


"Aku harus jemput ibu di bandara! Nanti kita ketemu lagi ya! Assalamualaikum." Ucapku yang langsung meninggalkan mereka, seketika aku ingat Layla yang masih di dalam bersama mereka. Seketika aku membalikkan badanku untuk sejenak melihat pandangan yang tidak rela kalau rencananya gagal


"Kenapa?" Tanya Reval dengan nada dingin, aku tau mereka sedikit kesal dengan yang sering kali menolak setiap bantuan mereka sekalipun itu bantuan kecil


"Emh.. Layla! Mau aku antar atau..."


"Gak apa apa! Aku tunggu kamu dirumah sakit ya!" Ujar Layla dengan lembut sambil memasang wajah senyum manisnya


"Baiklah dah!" Aku langsung menuju mobil dan melaju ke bandara Internasional, tanpa memperdulikan mereka yang sedang berbicara serius.


Sesampainya aku di bandara, aku langsung mencari mereka. Dengan memutar tubuhku dan mataku yang jeli melihat mereka. Akhirnya aku menemukan mereka yang tengah duduk dikursi


Jangan lupa dukung Author ya! caranya, tekan Like dibawah! lalu rate 5 dan Votenya!!