Knock The Heart With Prayer

Knock The Heart With Prayer
ketakutan



Naura menuruni tangga menuju dapur untuk mengambil beberapa cemilan. Lalu dia berjalan menuju meja makan dan menduduki kursi sambil memandang tembok putih dengan tatapan kosong


"Hans aku mohon jangan beritahu semuanya tentang apa yang terjadi!" Ucap Naura dengan memegang erat tangannya yng hendak pergi dari ruangannya


"Kalau begitu menikahlah denganku!"


Kejadian itu terus terbayang Dimata Naura seakan ini sedang terjadi padanya. Seketika raut wajah Naura berubah menjadi sedih dengan air mata yang menetes tanpa dia sadari


Teriakan histeris terlontar dari bibir tipis Naura hingga dia menjambak rambutnya sambil menundukkan kepalanya, air mata tak terbendung lagi. ketakutan dan kesedihan menyelimutinya


Dunia Naura seakan bergoncang hebat dia mencoba meraih telpon rumah didekat ruang tamu sampai dia tak memperhatikan ada tangga kecil yang harus dia lewati karena kelalaian berjalannya yang tidak seimbang Naura terjatuh.


Sehingga sebelum Naura menggapai telpon rumah, dia jatuh tersungkur sampai keningnya terpentok kursi sofa


***


Satu jam berlalu setelah Ali melakukan ibadah shalat shubuh nya seperti biasa. Matahari menembus balkon apartement Ali yang sudah dia beli baru baru ini. Ali melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri


Seusai itu Ali berangkat menuju rumah Naura yang lumayan dekat dari apartemennya. Sesampainya Ali di rumah Naura dia terus menekan tombol bel, "Assalamualaikum?"


Beberapa kali dia melakukannya tapi tidak ada jawaban dari dalam, kekhawatiran mulai terlihat dari wajah Ali. Dia menghampiri jendela yang tertutup tirai meskipun dia tidak melihat dengan jelas tapi Ali yakin bahwa sesuatu terjadi pada Naura


Beberapa menit berlalu Ali sudah menelpon Layla, Yuli ataupun Reval. Tapi dia mengambil resiko, jika dia menunggu mereka bisa saja Naura akan memburuk


Tanpa menunggu lama Ali mencari cara untuk masuk, kali ini dia memutuskan untuk memecahkan jendela ruang tamu yang tertutup tirai


"Prang!!.." suara kaca yang dipecahkan oleh Ali, serpihan kaca berserakan di bawah meskipun Ali mengetahui masih banyak serpihan kaca yang terpasang disisi jendela. Tapi dia tetap masuk tanpa memperdulikan rasa sakit yang serpihan kaca itu berikan padanya


Melihat keadaan Naura yang tergeletak dilantai dengan darah dikeningnya membuat Ali meringis melihat Naura. Dengan tangan bergetar dia membopong tubuh mungil Naura ke kamarnya


Ali dengan sigap memberikan pertolongan pertama kepada Naura dengan peralatan yang seadanya, lalu Ali menelpon seorang perawat untuk membawakan beberapa alat medis untuk Naura.


***


Matahari mulai menunjukkan warna orange kemerahan, Naura yang sedari tadi menutup mata perlahan membuka matanya yang indah itu. "Apa kamu baik baik saja, Na?" Tanya Reval


"Iya, aku baik baik saja! Kalian kenapa bisa disini?" Tanya balik Naura yang keheranan melihat semua sahabatnya ada di kamarnya yang lebih membingungkan baginya, mereka memandang Naura dengan tatapan cemas.


"Kami khawatir sama kamu! Ali bilang dia menemukan kamu tergeletak dilantai dengan darah dikeningmu." Jawab Layla yang sedang duduk disampingnya


Dengan rasa ingin tahu Naura memandang semua penjuru kamarnya untuk sedang mencari sosok Ali yang sudah membantunya. "Kenapa? Kamu mencari Ali?" Tanya Reval dengan sedikit menyunggingkan bibirnya


"Tidak!" Jawab Naura dengan cepat seakan dia seperti orang yang baru saja kepergok melakukan sesuatu. "Aku bisa melihat matamu!" Ejek Reval


"Reval, berhenti menggodanya! Emh.. Naura jika kamu gak keberatan kami pulang dulu ya. Besok insyaallah kami menjengukmu lagi." Kata Yuli dengan lembut dan senyuman khasnya.


Aku menganggukkan kepalaku, lalu mereka memberi salam dan berlalu pergi meninggalkan aku dan Layla didalam kamar. "Kamu boleh pulang, Layla! Fauzi pasti menunggumu."


Dengan lembut dia mengelus rambutku, "Aku sudah bilang sama Fauzi, kalau malam ini aku akan menginap di rumahmu." Jawab Layla dengan senyuman


"Makasih, Layla." Ucap Naura


***


Malam pun hampir tiba Naura memandangi langit. "Naura, masuklah angin malam tidak baik untukmu!" Perintah Layla yang sedang berdiri diambang pintu dengan selimut yang menutupi semua tubuhnya


Dengan menyungging senyum Naura berniat menggodanya. "Kamu gak lihat aku pakai selimut? Bukankah kamu yang Kedinginan? Emh.. aku tau! Kamu terbiasa dipeluk sang pujaan hati, jadi saat kamu sendiri kamu sangat kedinginan kan?"


"Diamlah! Enak saja pikiranmu kotor! Mandi geh sehari ini kau belum mandi. Bau tau!" Ketus Layla yang langsung berjalan menuju kasur dan merebahkan tubuhnya


Naura membuntuti Layla tapi Naura berbelok menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Layla memandang Naura sampai pintu kamar mandi tertutup


Beberapa menit Layla menunggu Naura akhirnya keluar dari pintu itu, "kenapa menatapku seperti itu? Kayak gak pernah lihat orang cantik abis mandi aja!" Celetuk Naura yang bermaksud untuk menggodanya


"Heleh.. aku menunggumu karena aku ingin kamu menceritakan semuanya padaku! Aku tau ada sesuatu yang terjadi." Kata Layla dengan mimik wajah yang serius pada Naura


Naura yang tadinya bermuka manis kini terlihat seperti seseorang yang baru saja ditinggalkan oleh orang yang disayangi. "Aku... Aku hanya pusing, sebaiknya kamu tidur! aku harus mengerjakan beberapa tugas yang aku kerjakan."


Layla hanya terdiam dan berusaha untuk tidak terlalu menekan Naura agar bercerita. Layla yakin, sesuatu telah terjadi namun, tidak ada yang mengetahuinya atau Naura yang menyembunyikannya


Hanya pria itu, Hans dan Rayn yang tahu tapi mereka sudah menjanjikan agar tidak ada orang yang tahu lain selain mereka. Dan Naura yakin dengan mereka asalkan Naura menikah dengan Hans


***


Pukul 00:30 am, Naura terbangun dari tidurnya. Dengan keringat yang bercucuran dan napas yang tidak beraturan, Naura mencoba menenangkan dirinya dan meyakinkan bahwa itu hanyalah mimpi buruk! Dan itu sudah berlalu


Naura mencoba untuk menutup matanya kembali, namun pria itu? Selalu ada dipikirannya seakan dia ada didepan Naura. Menyadari bahwa dia mulai ketakutan, sedih, dan marah. Naura mulai meneteskan air matanya sambil memeluk lututnya


Sesekali Naura menatap balkon ataupun pintu kamar, dan pintu kamar mandi. Mungkin saja dia akan datang lagi? Mencoba untuk melecehkannya lagi, setelah dia gagal mungkin dia akan balas dendam? Banyak pertanyaan yang ada di benak Naura


Naura hanya terdiam dengan pikiran yang kacau, dan tubuhnya yang bergetar hebat. "Prang!!..." Suara vas bunga dari luar kamar Naura terjatuh, membuat Naura penasaran dengan sumber suara


Mana mungkin vas bunga jatuh karena angin? Vas bungaku lumayan berat! Mungkinkah itu tikus? Atau sejenisnya? Tidak mungkin.. selama aku tinggal disini tidak pernah terjadi kejadian seperti ini Benak Naura sambil melangkah menuju keluar kamar


Takut! Tapi rasa takut Naura kalah dengan rasa penasarannya jadi dia keluar untuk menghilangkan rasa penasarannya. Perlahan dia mulai memutar kenop pintu


"Hallo? Ada orang?" Tanya Naura dengan sedikit berbisik Karena dia tidak ingin menganggu Layla yang sedang tidur.


Gelap! Semuanya gelap Naura sengaja untuk meredupkan lampu karena hal itu sudah kebiasaan Naura tapi kali ini suasananya berbeda. Dengan lampu yang redup Naura hanya bisa melihat bayangan hitam yang sedang berdiri tidak jauh darinya


Perasaan tidak ada benda yang aku simpan disana? Tapi kenapa ada bayangannya? Benak Naura yang bertanya-tanya tentang bayangan itu. "Apa? Siapa?" Tanya Naura dengan tegas kali ini


"Aku! Aku inginkan dirimu menjadi milikku! Seutuhnya." Kata pria itu, sontak itu membuat Naura teriak histeris dan berlari dengan kencang


Berlari tanpa mengetahui arah dan Naura berlari dengan kesadaran rendah sehingga dia tidak sadar bahwa kakinya menginjak serpihan vas bunga dan membuat darahnya mengalir mengikuti langkah kakinya


***


Mendengar suara jeritan yang keras membuat Layla terbangun dari tidurnya dan melihat Naura sudah tidak ada lagi disisinya. Hal itu membuat Layla panik dan langsung menelpon Ali


Dengan rasa khawatir Layla mencari Naura dikeredupan cahaya, membuatnya tidak menyadari bahwa Naura meninggalkan jejaknya dengan darah dilantai. Layla mencari Naura kearah yang berlawanan dengan arah Naura


"Mungkin sebaiknya aku menghidupkan lampunya dulu agar aku mudah mencari Naura dibawah terangnya lampu." Bisik Layla dengan mempercepat langkahnya


Sesampainya Layla diujung tangga. Dia mendengar ketukan pintu dan beberapa bel rumah yang seseorang tekan. Dengan yakin Layla melangkahkan kakinya menuju pintu dan membukanya


"Ali? Syukurlah kamu datang." Kata Layla dengan bernapas lega. "Dimana Naura Layla? Bagaimana bisa dia tidak bersamamu dan menghilang?" Tanya Ali dengan khawatir


"Sebaiknya kita nyalakan semua lampunya dan mencari Naura setelah itu aku akan menceritakannya!" Ucap Layla, tanpa menyaut perintah Layla Ali langsung melakukannya.


***


Ibu, papa, Bunda, ayah! Maafkan aku. Ya Allah lindungilah hambamu ini. Ucap benak Naura yang sedang berada ditempat gelap, sempit, dan sesak. Keadaannya sangat menyakitkan. dengan tubuh yang bergetar, keringat bercucuran dan tangan yang memeluk lututnya.


"Hiks... Hiks... Hiks..." Suara Naura merintih kesakitan dan ketakutan hingga tidak bisa menyembunyikan suaranya lagi


"Naura!" Teriak Ali dan Layla secara bersahutan, Naura tidak bergeming dari tempatnya. Dia hanya menangis tanpa henti


***


"Katakan padaku Layla! Dimana Naura?" Tanya Ali dengan tegas hingga membuat suasana semakin kacau. "Aku tidak tau! Kita lihat ke atas lagi. Siapa tau Naura kembali ke kamar setelah lampunya nyala." Jawab Layla


Dengan berlari diatas tangga membuat mereka sedikit kewalahan. Saat mereka akan masuk kamar Layla melihat jejak darah yang entah milik siapa.


"Ali! Darah?" Ucap Layla, tanpa berkata Ali mengikuti jejaknya sambil berlari. Jejaknya berhenti disuatu lemari baju tepat dikamar tamu yang jarang dipakai.


Dengan cepat Ali membuka lemarinya. "Naura! Astaghfirullah." Ucap Ali yang langsung mengeluarkan Naura yang setengah sadar dan tidak sadar


"Naura! Astaghfirullah." Teriak Layla dengan meringgis melihat sahabat dengan keadaan yang sangat jauh dari kata baik. Ali langsung membopong tubuh Naura dengan langkah cepat Layla membuntuti mereka ke kamar Naura


"Layla cari kotak P3K!" Perintah Ali dengan tegas. Dengan cepat Layla mencarinya meskipun Layla tidak tau dimana tempatnya dia mencari dengan kemungkinan Naura menyimpan kotak di bawah lemari bajunya


"Ini!" Ucap Layla dengan tergesa gesa dan mengulurkan kotak P3K nya. "Tolong ambilkan air!" Pinta Ali dengan suara yang melemah.


Mengapa harus seperti ini Naura? Harusnya kamu mengatakan sesuatu pada kami! Aku tau kamu sangat terluka. Ucap benak Ali sambil mengambil beberapa serpihan yang masih menancap dikaki Naura