
"Apa kamu puas, sudah mengambil kebahagiaan seseorang demi ego mu?" Bentak Anya pada seorang wanita yang tepat didepan wajahnya
"Anya, kamu tau posisiku kan? Kamu harusnya mengerti!" Lirih Yuli yang mengeluarkan air mata secara perlahan
"Jangan mengeluarkan air mata buaya itu Yuli! Kamu tidak tau arti cinta yang tulus. Kamu pada Ali itu bukan cinta, tapi hasrat. Kamu egois, demi kepentingan pribadimu, kamu rela mengorbankan kebahagiaan orang lain!" Tegas anya
"Kau tau ini bukan air mata buaya Anya, aku hanya ingin merebut kembali apa yang seharusnya aku miliki dulu." Lirih Yuli yang mengusap air matanya
"Itu kesalahanmu, kau yang mencampakkan Ali dan Ali pergi dari kehidupanmu karena ulahmu sendiri. Yuli! Yang berlalu biarlah berlalu, Ali bukan milikmu! Ali mencintai Naura itulah kenyataannya! Kamu harus merelakannya!" Ucap Anya dengan yakin
"Aku salah Anya! Aku salah, dan aku ingin memperbaikinya." Ucap Yuli yang berusaha tegar
"Kalau begitu katakan semuanya pada Naura, yang sejujurnya. Dan minta maaflah!" Tegas Anya yang berlalu pergi meninggalkan Yuli
***
Yuli
Aku tidak tau hal ini akan terjadi, mungkinkah aku terlalu berlebihan. Aku begitu kejam pada Naura
Sebaiknya aku pergi menjenguknya untuk meminta maaf dan mengatakan yang sejujurnya.
Aku pergi kerumah sakit dimana Naura sedang dirawat inap, sesampainya aku disana aku melihat Ali yang sedang duduk disebelah Naura yang berbaring tanpa membuka mata
"Naura, maafkan aku! Seandainya aku jujur pada diriku sejak dulu mungkin kamu tidak akan se menderita ini." Lirih Ali yang memegang tangan Naura
Seandainya aku ada diposisi mu Naura.
"Maafkan aku Naura! Aku menyayangimu, sungguh. Naura cepat sembuh aku berjanji, sebisa mungkin aku tidak akan membuatmu menderita lagi!" Lirih Ali yang perlahan menetes air matanya
Ali benar benar mencintai Naura, tidakkah kamu mencintaiku lagi? Anya benar, Aku harus merelakanmu dengan Naura!
***
Naura
Akhirnya aku keluar dari rumah sakit, setelah satu hari, aku dirawat dirumah sakit
"Sayang, kamu jangan banyak pikiran yah! Jaga kesehatan kamu!" Ucap Ibu yang membelai rambutku dengan lembut, dan berlalu pergi meninggalkanku di kamar yang sedang berbaring
"Ya Allah, kenapa aku begitu lemah?" Lirihku
***
Keesokan harinya aku melakukan kegiatan hari Jum'at ku, bersama ibu dan Fatimah kecil.
Setiap malam aku tidak lupa untuk berdo'a dan bersyukur atas kekuatan yang telah Allah berikan kepadaku
"Ibu dan Fatimah pulang duluan yah! Naura ada urusan, tapi Naura yang anter ko cuma sampai gerbang aja ya!" Pintaku pada ibu yang duduk di sampingku
"Gak apa-apa, tapi kamu jangan pulang terlalu malam yah!" Jawab ibu dengan kelembutannya
Sesampainya kami, ibu dan Fatimah langsung turun dan menuju rumah, tapi tidak lupa memberi salam dulu. Ku segera bergegas ke apartemen Anya
"Assalamualaikum." Salamku pada seseorang disebrang pintu
"Waalaikumsalam." Jawab seseorang dengan serentak, lalu perlahan pintu terbuka
"Masuklah!" Ucap Anya dengan mempersilahkan aku duduk, dan langsung menutup pintunya.
Sesaat aku memandang Yuli yang duduk tepat disebelahku dengan menyungging senyum manisnya. Aku terheran, mengapa Anya mempertemukan aku dengan Yuli setelah dia tau ada kejadian seperti itu
"Naura, aku minta maaf sebelumnya!" Lirih Yuli yang memegang tanganku
"Emh.. kenapa harus meminta maaf?" Jawabku dengan lembut
"Kau tau, kejadian di Lestoran itu adalah rekayasa dari Yuli." Perkataan Anya membuat Yuli menundukkan kepalanya sambil melepaskan tanganku secara perlahan
"Hari itu, waktu aku, kamu bersama Ali di cafe dekat apartemen Layla, Yuli melihatnya." Sambung Anya sambil duduk dengan membawa beberapa cemilan dan minuman
"Lalu kenapa?" Tanyaku pada Anya yang duduk tepat didepanku
"Aku tau kalian saling mencintai, tapi aku juga mencintai Ali." Perlahan Yuli mengangkat kepalanya
"Tapi kenapa? Dan lagipula aku bersama Ali? Itu tidak mungkin, meskipun aku mencintainya setulus apapun tapi itu tidak akan merubah pertemanan kami menjadi sebuah hubungan kasih!" Ucapku dengan lembut
"Itu pendapatmu, karena yang aku tau Ali mencintaimu. Hanya saja dia bimbang dengan perasaannya! Dan itulah yang Yuli lihat dari Ali, yang perlahan mencintai tanpa disadari. Yuli yang egois ingin merebut Ali kembali!" Ucap Anya dengan panjang lebar, aku hanya menyimak apa yang dikatakan Anya itu sedikit rumit
"Kenapa Yuli ingin merebut Ali dariku? Aku dan Ali hanya berteman, dan bukankah Ali mengakui cintanya pada Yuli waktu dilestoran itu?" Tanyaku dengan penuh kesabaran untuk mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi
"itu tidak benar! Ali hanya mencintaimu aku melihat semuanya" ucap Yuli dengan lembut
"Naura, Aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin! Aku ikhlas, kalian bersama, semoga kalian bahagia amin." Ucap Yuli dengan menyungging senyum manisnya
"Insyaallah amin." Jawabku sambil memeluknya
"Kalau begitu aku pergi dulu, assalamualaikum!" Salamnya
"Waalaikumsalam!" Jawab kami serentak, Yuli pergi berlalu meninggalkan aku dan Anya
"Aku, Yuli dan Ali adalah teman sekolah SMP, dulu Ali mencintai dan mengagumi Yuli. Tapi sekarang Ali tulus mencintaimu, Tuhanmu menjawab doamu!" Ucap Anya dengan memegang pipiku yang berbalut jilbab
"Alhamdulillah, katakan padaku! Yuli mencintai Ali kan, dan begitupun sebaliknya apakah ada sesuatu yang membuat hubungan mereka berakhir?" Tanyaku pada Anya sambil memegang tangannya yang berada tepat di pipiku
"Tidak, Ali dan Yuli tidak mempunyai hubungan lebih dari teman. Meskipun Ali mencintai Yuli, tapi saat itu Yuli mencintai pria lain. Ali merasa dia seperti dijadikan pelampiasan, jadi.."
"Jadi dia menjauh dan meninggalkan Yuli." Jawabku cepat, Anya membalas dengan anggukan
"Iya, setelah Yuli sadar bahwa Ali menjauhinya dia menyalahkan ku atas sikap Ali padanya." Sambung Anya sambil menghampiri balkon
"Benar, lalu kami memutuskan untuk berpisah, kami memilih SMA yang berbeda. Dan kami bersama tapi tidak seperti dulu." Sambung Anya yang sesekali meminum Just nya
"Lalu Yuli tersadar karena telah menyia-nyiakan Ali yang begitu tulus mencintainya. Lalu dia bertekad untuk mengambil hatinya kembali." Ucapku cepat sambil menebak apa yang terjadi
"Mungkin saja, lalu dia tersadar bahwa telah menyakiti seseorang yang salah. Dia melihat Ali sedang menangis tepat disampingmu yang berbaring lemah." Sambung Anya
***
Naura
"Assalamualaikum." Sapa seseorang diluar rumah yang sesekali menekan bel rumah
"Waalaikumsalam." Jawabku yang langsung menuju pintu dan membukanya
"Ali?" Tanyaku yang kaget melihat kedatangan Ali
"Siapa itu, Nana?" Tanya ibu yang sedang membereskan meja makan
"Temen, bu!"
"Oh baiklah, ajak masuk dong!" Ucap ibu yang mulai menghampiri kami
"Emh.. ibu aku keluar dulu ya, Assalamualaikum." Ucapku dengan mencium tangannya dan berlalu
"Assalamualaikum, Tante." Salam Ali yang mencium tangan pada ibu, lalu mengikutiku yang menjauh dari rumah
"Kamu ada kelas gak?" Tanya Ali yang sedang menyetir mobilnya
"Gak, kelasku dimulai siang nanti." Jawabku dengan lembut
"Baguslah!" Perkataan Ali membuatku terheran
"Bagus? Apanyah?" Ketus ku
Ali hanya membalas dengan senyuman, diperjalanan kami hanya diam. Ingin bertanya pun aku tak berani, sampai akhirnya kami tiba di salah satu toko buku
"Ayok!" Ajaknya, aku hanya membalasnya dengan mengerutkan keningku
Aku mengikuti ali yang membawaku ke toko buku, aku melihat-lihat buku yang menarik
Saat aku akan mengambil sebuah buku novel 'Baverly Bartoon' yang berjudul 'The Last To Die'. Namun Ali mengambil buku itu lalu mengulurkan buku novel tentang Islami
"Kali ini aku tidak akan memberikannya padamu!" Perkataannya membuat mataku terbelalak
Mungkinkah Ali masih ingat dengan kejadian waktu kita pertama kali bertemu? Tentu saja! Bukankah kita teman. Teman? Memang benar-benar teman ya? Aku mulai menundukkan kepalaku
"Hey, ada apa?" Tanya nya dengan memegang tanganku
"Eh,, tidak apa-apa ko!" Ucapku terbata-bata sekaligus terkejut karena Ali memegang tanganku, seketika aku melepaskan tangannya
Aku gak boleh terbawa perasaan lagi! Bersikaplah tenang Naura!
"Ah.. maaf, ambil ini!" Ucapnya dengan kembali mengulurkan buku novel
"Makasih." Ucapku yang langsung berlalu menuju ke kasir
"Abis ini mau kemana?" Tanya Ali yang memegang beberapa buku yang dia pilih
"Tidak tau, mungkin pulang!" Jawabku dengan nada datar
"Emh.. kita makan siang dulu ya sebelum pulang!" Pintanya
"Baiklah." Jawabku dengan lembut
***
"Makasih ya! Udah mentraktir aku makan siang." Ucapku dengan lembut
"Sama-sama, emh.. Naura aku mau bicara soal Aku dan Yuli."
"Aku tau ko Al." Jawabku yang membuat Ali terkejut
"Kamu tau darimana?" Tanya nya
"Anya, dia menjelaskan semuanya."
"Baguslah, Naura haruskah aku berkata jujur padamu?"
"Katakanlah!" Pintaku, tapi saat Ali akan mengatakan sesuatu, dering telponku berbunyi
"Maaf, aku angkat telpon dulu ya!" Pintaku dan langsung menjauh darinya
"Assalamualaikum da apa bu?" Tanyaku pada ibu disebrang telpon
"Waalaikumsalam, Naura cepat pulang! Sekarang!" Tegas ibu yang langsung mematikan telponnya
Aku khawatir sampai lupa dengan Ali, aku segera masuk taksi dan berlalu pergi tanpa pamit
Author:
Untuk readers maaf atas ketelatan Up episode nya. jangan lupa dukung author ya
Like, Rate, And Vote nya makasih