
"Assalamualaikum, ibu ini ada apa?" Tanyaku pada ibu yang terlihat khawatir
"Waalaikumsalam, Naura ayah kamu akan datang dan bawa kamu ke London." Ucap ibu dengan nada khawatir
"Apa? Ayah? Datang ke Indonesia untuk menjemputku?" Aku langsung menuju kamarku dan mengunci pintu
"Naura! Buka pintunya, ini tidak akan membantu justru akan menambah masalah lagi!" Tegas ibu yang sesekali mengetuk pintunya
Aku mulai tidak tenang lagi, pikiranku kacau, ketakutan menyelimutiku. Tapi karena ibuku terus mengoceh untuk tenang aku mencoba tenang dan membukakan pintu untuknya
"Sayang kamu gak apa apa kan?" Ucapnya yang langsung memelukku
"Aku tidak apa apa bu. Yang aku takutkan ayah marah apa yang harus aku lakukan?" Tanyaku pada ibu
"Percalah semarah marahnya ayahmu, dia tidak akan membuatmu menderita sayang! Pergilah ke London buat ayahmu tidak menyesal, karena anaknya menjadi wanita shalihah." Kata ibu dengan membelai lembut pipiku yang terbalut jilbab
***
"Shifa!" Teriak seseorang dari luar
"Ayah! Tenang lah! Aku mohon!" Pinta seseorang dari luar, Mereka membuat keributan dari luar
Aku sudah merasa bahwa ayah sudah kemari, tidak bisa kupungkiri tanganku bergetar dan kakiku lemas tak berdaya untuk berdiri
Aku mendengar suara ribut lebih hebat dilantai bawah, aku mengunci pintu kamar ku dan segera kutenang kan diriku
Keributan mulai naik keatas, tujuan ayah adalah aku. Jadi aku berusaha tenang dan membereskan barang-barang ku untuk bersiap pergi bersama ayah dan bunda
Setelah aku membereskan semuanya aku ambil koperku dan beberapa barang lainnya, perlahan aku membuka pintu kamar. Keheningan tercipta saat mereka memandangku
Seketika ayah langsung membawa barang-barang ku pergi dari rumah menuju bandara, tidak ada salam perpisahan yang terjadi antara aku dan keluarga keduaku.
***
"Bersikaplah seperti kau tidak pernah ke Indonesia!" Tegas ayah dengan memegang tangan ku menuju kamarku
"Ayah! Jangan sakiti Naura!" Bentak bunda yang langsung memelukku dan melepaskan tangan ayah dariku
"Didik anakmu untuk tidak berprilaku semaunya dan membuat keputusan besar sendiri. Kau anggap aku siapa hah? Dasar anak tidak tau diri!" Bentak ayah yang akan mendapatkan pukulan padaku, namun dengan sigap bunda menahannya
"Ayo sayang! Jangan dengarkan ayahmu dan masuklah ke kamarmu!" Ucap bunda dengan lembut
Aku langsung menuju kamarku dengan membawa koperku. kurebahkan tubuhku dengan menenggelamkan wajahku
***
"Dia akan kuliah disini!" Tegas ayah, suara ayah membangunkan ku dari tidurku
"Aku mengerti jika kau kesal dan marah. Tapi aku mohon! Demi aku, bersikaplah tenang terhadap Naura!" Ucap bunda dengan lembut
***
"Apa Naura sudah makan?" Tanya Jenifer pada seorang pelayan
"Belum nyonya, nona Naura dari tadi pagi tidak makan maupun minum." Jawab seorang pelayan
"Baiklah, buatkan makanan baru dan ikut aku!" Ucap Jenifer yang langsung menuju kamar Naura
Tok..tok..tok.. suara ketukan pintu yang dibunyikan Jenifer. Namun tidak ada Jawaban dari Naura hingga terpaksa dia membuka pintu Naura dengan menggunakan kunci cadangan
Setelah pintunya terbuka betapa terkejutnya Jenifer melihat seluruh kamar menjadi berantakan, karena khawatir Jenifer langsung memeluk Naura yang saat itu sedang tidur pulas
Perlahan Naura membuka mata yang indah dan lentiknya,
"Sayang! Makan yah, kamu gak boleh kayak gini!" Lirih Jenifer yang menyuapi Naura
"Bi, bersihkan kamar Naura yah!" Perintahnya pada seorang wanita yang berdiri diambang pintu
"Besok kmu masuk kuliah!" Ucap Jenifer pada naura
"Nana tau, tadi pagi ayah mengatakan itu dengan keras." Jawab Naura dengan ketus
"Kamu gak boleh gitu! Ayah begitu karena sayang sama kamu!" Ucap Jenifer dengan memegang pipiku
"Bun, ayah udah ingkar janji padaku! Bukankah aku pernah meminta syarat pada ayah! Tapi ayah mengingkari syarat ketiga!" Jawab Naura dengan nada kesal
"Lupakan hal itu Naura! Jalani hidupmu dengan Normal, seperti biasanya!" Tegas Jenifer pada Naura, dan langsung berlalu pergi
Ibu aku rindu Indonesia, Ya Allah berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi semua ini. Amin!
***
Naura
Kuanggap semua membaik, aku tidak lupa untuk shalat shubuh dan berdo'a untuk ketabahan
Ya Allah jika ini yang terbaik maka tabahkan lah hatiku, kuatkan lah imanku, dan lindungilah aku dari marabahaya. Amin...
Seusai shalat shubuh, kebiasaanku di Indonesia ngikut ke London.
Matahari mulai menampakkan cahayanya, aku bergegas untuk mandi dan bersiap untuk pergi ke kampus baruku.
***
Ku parkir kan mobil merah ku yang dibelikan ayah sebelum aku berangkat ke Indonesia, bisa disebut masih baru karena belum ada yang memakainya selain aku sekarang.
Bisa ku ketahui tatapan ini, tatapan bingung sekali tak percaya, aku yang slalu memakai rok atau celana diatas lutut sekarang tertutup rapi dengan style muslimku
"Naura?" Tanya seorang temanku yang dulu menjadi teman main malamku
"Hay Jessy" sapaku padanya
"Oh, come on! Really?" Ucapnya yang seakan tak percaya aku berubah
"Of course! Why not?" Jawabku dengan merangkulnya
"Baiklah, its okey! Kita jalan jalan malam ini! Aku jemput kamu. By!" Ucapnya yang langsung berlalu pergi
Kulanjutkan perjalananku menuju kelasku.
***
Aku senang disini aku bertemu dengan teman-temanku tapi aku juga merindukan Indonesia, pada ibu, papa, Fatimah, Anya, dan Ali
Apa kabarmu Al? seandainya handphone ku tidak diganti oleh ayah, mungkin aku sudah menelponmu.
"Naura!" Sapa seseorang yang tiba-tiba datang ke kelasku setelah kelas usai
"Hay! Aku Yohan." Sapa nya sambil mengulurkan tangannya
"Naura!" Jawabku singkat sambil menyambut tangannya, dan segera berlalu
Yohan mengikuti dan melemparkan banyak pertanyaan padaku tapi tak satupun yang kujawab. Seketika aku merasa kesal, amarahku tidak terkendali.
Perasaan yang sama muncul kembali, aku tidak bisa mengontrolnya jadi aku memutuskan untuk mencuci muka dan menenangkan diri
"Kamu butuh ini!" Ucap seseorang yang disebelahku dengan mengulurkan obat ditangannya
"Obat penenang! Cobalah, kamu akan merasa tenang." Jawabnya, kutelan obat yang dia berikan
"Periksalah ke dokter!" Ucapnya yang langsung berlalu
Apa yang terjadi? setelah menelan obat itu aku sedikit lebih tenang. sepertinya aku harus pergi ke dokter sekarang!
***
"Ternyata seperti itu!" Lirihku dengan beranjak dari rumah sakit
Mengapa ibu merahasiakannya dariku?
***
"Nah itu Naura! Sini Na!" Pinta William yang sedang duduk bersama orang lain yang tidak Naura kenal
"Ada apa ayah?" Tanya Naura yang heran dengan kedatangan tamu
"Ini teman ayah! Namanyah Om Doni dan Tante sagita."
"Naura!" Salamnya pada mereka dengan senyuman
"Naura cantik dan sopan, tapi..." Ucapan Tante sagita terhenti
"Masalah itu, hanya butuh waktu saja." Jawab William dengan cepat
"Emh.. ayah maaf ini ada apa ya?" Tanya Naura pada William yang berada tepat di sisiku
"Ayahmu dan om Doni membuat sebuah rencana untuk menjodohkanmu dengan anak om!" Jawab Jenifer yang datang bersama seorang pelayan untuk menyajikan makanan
"Ayah!" Geram Naura pada William
"Diam!" Tegas William, Naura hanya tertunduk
"Maksud Naura, Naura mau berdandan dulu yah! Masa mau ketemu calon suami Naura kyak gini. Naura ke atas yah ayah." Ucap Naura yang langsung pergi ke kamarnya
"Nah itu dia Yohan Revaldo!" Ucap Om Doni saat melihat anak pertamanya datang
"Ma'af semua! Reval telat soalnya ada urusan penting tadi." Ucap Revaldo
"Tidak apa." Jawab William, Reval langsung duduk disebelah Tante sagita
***
Disisi lain Naura sedang mengendalikan diri untuk bisa mengontrol dirinya, sesaat dia mengingat obat penenang.
Disana lah Naura mulai kecanduan dengan obat penenang, tidak ada yang tau tentang kondisi Naura yang semakin memburuk. Demi ketenangan semuanya, Naura bisa melakukan hal apapun agar orang disekitarnya tidak mengkhawatirkannya
***
"Bun, jemput Naura!" Perintah William pada sang istri Jenifer
"Baiklah!" Jawanya dan berlalu menuju kamar Naura
"Sayang Naura! Kamu cantik banget." Ucap Jenifer saat melihat Naura, merekapun segera turun kebawah
Untuk pertama kalinya aku memakai dress dan membuka kerudungku, Ya Allah sebenarnya aku malu. tapi kedua orangtuaku menginginkan hal ini, untuk membalas kebaikan mereka selama aku kecil, apa boleh buat. semoga pria itu baik untukku! Amin. Benak Naura yang terus berdoa sambil berjalan kebawah
"Naura?" Ucap Reval saat melihat Naura adalah calon tunangannya
"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Doni pada anaknya itu
"Iya pah, dia itu anak baru dikampus." Jawab Reval seakan tak percaya bila calon tunangannya adalah wanita yang dia sukai dikampus
"Nana! Apa kamu kenal dengan Reval?" Tanya William pada anaknya yang duduk di sebelahnya
"Naura tau, tapi setahu Naura namanyah Yohan, ayah!" Jawab Naura dengan polosnya membuat tawa terpecahkan
"Sayang, namanyah emang Yohan tapi nama aslinya Yohan Revaldo. Dia sering dipanggil Reval." Jawab Sagita dengan lembut
***
"Jadi kita akan menentukan pertunangannya nanti setelah Reval Lulus kuliah." Ucap Doni
"Baiklah sayang, kami permisi dulu." Ucap Sagita pada Naura dengan membelai rambut Naura yang terurai panjang
"Iya Tante sampai jumpa!" Salam Naura. William dan Jenifer mengikuti mereka sampai depan pintu rumah. Sedangkan Naura langsung berlari ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya
***
Muhammad Ali Rahman
Sejak saat itu, aku tidak bertemu Naura lagi. Entah bagaimana keadaannya dan kondisinya
Sudah beberapa kali aku menelponnya, mengirim pesan padanya. Tapi tetap tidak ada jawaban darinya malam saat aku telpon nomernya tidak terdaftar lagi.
"Anya! Katakan padaku! Apa yang terjadi padanya?" Tanyaku pada Anya yang tepat berada didepanku
"Dengar! Kamu harus bersabar, nanti sore kita kerumah ibunya Naura!" Jawab Anya yang sedang makan
***
"Assalamualaikum?" Salamku
"Waalaikumsalam." Jawab seorang anak kecil imut dan lucu yang masih belum pasih dalam bicaranya
"Hay Fatimah! Ada ibunya gak?" Tanya Anya yang tepat disebelahku
"Kaka Anya! Ibu lagi dikamar ka Naura! Kalian masuk ajah!" Jawabnya dengan lucu yang masih belum lancar
Aku dan Anya langsung masuk kedalam bersama Fatimah yang berada di pangkuanku
"Tante!" Ucap Anya yang melihat Tante shifa sedang membereskan baju baju Naura
"Anya? Ali?" Ucapnya dengan sedikit terkejut
"Assalamualaikum Tante!" Ucapku dan tidak lupa mencium tangannya
"Waalaikumsalam."
"Tante, dimana Naura?" Tanya Anya, pertanyaan Anya membuat Tante Shifa sedikit bersedih
"Naura pergi ke London!" Jawab Tante shifa, betapa terkejutnya aku mendengar hal itu
"Kenapa dia tidak memberikan sedikit perpisahan atau ijin kepada kami?" Ucap Anya yang kesal dicampur sedih
"Kemarin waktu Ali menjemput Naura. Bundanya Naura menelpon bahwa Ayah Naura mengetahui tentang Naura yang masuk Islam tanpa mereka ketahui, dan ayahnya marah saat itu. Seketika Tante menelponnya dan......." Cerita panjang Tante Shifa membuatku dan Anya bersedih
Author:
Buat Readers Author gak bakalan bosen buat ngingetin untuk dukung slalu author ya! jangan lupa Like, Rate, dan Votenya!