Knock The Heart With Prayer

Knock The Heart With Prayer
kecurigaan Anya



Pagi hari Anya membuka matanya, karena mendengar suara indah melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an tapi ada kesedihan dalam suaranya dan beberapa isakan tangis. Saat Anya melihat sumber suara, dia melihat Naura sedang mengaji dengan idung mancungnya yang memerah dan mata yang mengeluarkan air mata


Melihat hal itu Anya tidak akan bisa meredakan tangis Naura karena dia sedang mengobati hatinya dengan membaca Al-Qur'an yang dia jadikan sebagai petunjuk dan pengobat hatinya


Anya hanya menunggu Naura usai, "Ya Allah Engkau Maha Mengetahui kemampuan hamba-Nya. Aku tau, Engkau menguji hambaMu sesuai kemampuannya.


Dan aku yakin Engkau selalu bersama hambaMu yang membutuhkan pertolonganMu. Ya Allah berikanlah aku kekuatan dan petunjuk untuk melalui semua ini. Amin..." Ucap Naura yang merendamkan wajahnya dikedua telapak tangannya sambil mengisak tangisnya


Seusainya Naura menyadari bahwa Anya memperhatikannya. "Emh.. kapan kamu bangun?" Tanya Naura dengan lembut sambil melihat sahabat yang beranjak dari tempat tidurnya dan duduk. "Baru saja ko!" Jawab Anya dengan senyuman dipagi hari.


"Apa aku membangunkanmu? Inikan baru pukul 05:45 am!" Tanya Naura. "Enggak ko! Aku senang melihatmu membaik setelah kamu mencurahkan isi hatimu pada tuhanmu. Apa kamu merasa lebih baik?"


"Iya, sebaiknya kamu tidur lagi. Nanti aku bangunkan kamu pukul 07:30 am!" Ujar Naura dengan senyuman yang mulai kembali setelah beberapa hari terakhir ini. "Tidak apa! Aku akan mandi." Jawab Anya yang beranjak dari duduknya, menghampiri kamar mandi


Naura hanya tersenyum, lalu dia membereskan sajadah dan meletakkan Al-Qur'an ditempatnya. Setelah itu Naura pergi menuruni tangga untuk membersihkan rumah.


Seusai Anya mandi dan bersiap, dia bermaksud untuk memberikan hadiah yang lupa dia berikan pada Naura. "Eh... Kemana dia? Emh.. mungkin dibawah!" Lalu Anya menghampiri Naura yang sedang membersihkan debu di beberapa tempat


"Naura?" Ujar Anya yang menuruni tangga. "Bukankah lebih segar mandi di jam seperti ini?" Tanya Naura. "Iya sih! Oh iya, kenapa kamu gak menyewa seorang pelayan? Kenapa harus kamu yang bekerja sendiri?" Tanya Anya


"Aku tidak ingin menghambur hamburkan uang untuk hal sepele. Lebih manfaat jika dikasih ke anak panti!" Jawab Naura dengan santai dan tidak melihat Anya untuk sekejap pun. "Hem... Uangmu banyak! Kenapa harus sayang? Lagian kan kamu juga bisa menggaji orang meskipun kamu memberikan uangmu pada anak panti!" Celetuk Anya


"Anya!" Ucap Naura yang berhenti beberapa lalu menghadap Anya, Anya hanya memandang Naura dan mengerutkan keningnya.


"Uang dari perusahaan dan rumah sakit Memang besar. Tapi 60% aku salurkan ke rekening Bunda untuk kebutuhan. Dan aku memberikan 20% untuk donasi atau anak panti setiap tahun. Dan lagian soal membersihkan rumah, itu hal mudah Anya!" Sambung Naura


"Tapi uangmu masih banyak! Lagian buat anak pantikan cuma tiap tahun gak bulan jadi kamu masih punya simpanan banyak! Kamu sedang sakit! Berikan kemoceng nya biar aku bantu! Kamu masak saja sanah nanti aku kelaparan!" Celetuk Anya. Meskipun Anya tidak bermaksud menyinggung Naura tapi dia hanya tidak ingin melihat Naura kecapean dalam keadaan seperti ini


Naura hanya menggelengkan kepalanya dan berlalu menuju dapur untuk memasak makanan kesukaan Anya.


Beberapa menit berlalu Naura sudah menyiapkan makanan untuk sarapan pagi. "Anya, makanan sudah siap cepat kemari!" Teriak Naura. "Aku datang!" Sahut Anya yang menghampiri Naura


"Ambil ini!" Ujar Anya dengan menyodorkan sebuah bingkisan. "Apa ini?" Tanya Naura sambil mengambil bingkisan itu ditangan Anya. "Bukankah!" Ujar Anya yang langsung duduk dan memakan masakan Naura


"Nanti aku buka, Aku harus pergi ke kantor hari ini." Ucap Naura yang berlalu menuju kamarnya.


***


Seminggu kemudian, Anya bekerja di perusahaan Reed Nauxio yaitu perusahaan yang dipegang oleh tuan Hans.


Pukul 02:30 pm, Anya berjalan dilorong kantor menyusuri beberapa pintu yang tertutup. Sampai pada pintu yang sedikit terbuka Anya mendengar seseorang sedang berbicara. "Malam ini aku tidak akan datang! Tapi besok nya aku akan langsung menekannya!" Tegas seorang pria


Mendengar hal itu Anya menajamkan telinganya. "Kenapa begitu? Aku ingin cepat cepat sampai dengan tujuan kita!" Tegas seorang pria, kali ini Anya mengenal suara itu. Tapi siapa?


"Aku tau! Tapi tidak mudah, sekarang dia bersama seorang wanita yang mungkin jadi pelindungnya entah apalah! Wanita sialan itu slalu mengacaukan semuanya." Tegasnya. Apa itu tentang Naura? Benak Anya


Anya mempercepat langkah kakinya. "Bagaimanapun Ali harus tau! Meskipun aku tidak tau pria itu. Tapi mungkin Naura tau, aku akan membuka mulutnya kali ini." Bisik Anya dengan tegas


***


Anya menunggu seseorang di sebuah cafe yang tidak jauh dari rumah Naura, sesekali dia melihat jam atau ponselnya. "Lama banget sih tu orang!" ucap Anya dengan ketus


Tiba-tiba datang seorang pria dengan berpakaian rapih yang langsung duduk didepan Anya dengan tergesa gesa. "Assalamualaikum. Maaf aku terlambat pasiennya banyak hari ini!" Ucap Ali


"Waalaikumsalam." Jawab Anya dengan ketus. "Jadi gimana?" Tanya Ali tanpa memperdulikan ekspresi wajah Anya


"Aku mau kamu harus slalu berada disamping Naura! Apapun yang terjadi." Ujar Anya. "Kenapa mendadak begitu? Masa iya aku harus slalu disisinya?" Celetuk Ali. "Tidak untuk sekarang! Tapi besok, aku punya rencana!" Ujar Anya


***


Seperti apa yang Anya pikirkan. pria itu tidak datang hari ini, dan Naura lebih nyenyak malam itu.


Pagi tiba, seperti biasanya Naura slalu melakukan pekerjaan rumah sebelum berangkat kerja. Anya slalu pergi ke kantornya lebih cepat dari Naura


Tok tok tok... Suara ketukan pintu dari luar. Apa yang dipikirkan oleh orang itu? Padahal ada bel rumah disana! Celetuk benak Naura


"Iya sebentar!" Teriak Naura, lalu Naura menghampiri pintu dan membukanya. "Selamat pagi, Nona Naura!" Ucap Hans yang membawa bunga dan mengulurkannya pada Naura. "Manis sekali!" Jawab Naura dengan senyum manisnya dan menerima bunga yang Hans berikan


"Malam ini aku akan mengajakmu dinner. Pakailah ini!" Ucap Hans sambil memberikan bingkisan. "Baiklah, aku akan datang." Jawab Naura sambil mengambil bingkisan itu


"Aku yang akan datang menjemputmu! Bersiaplah!" Ucap Hans. Naura hanya membalas dengan senyuman.


***


Malam hari tiba, Anya sedang duduk didepan layar televisi. Naura berjalan dari atas tangga menuju kebawah dengan berpakaian rapih dan jilbab cantiknya, "Anya aku ada janji. Aku pergi dulu yah! Assalamualaikum." Ucap Naura yang langsung pergi


"Naura, mau pergi kemana?" Bisik Anya.


Saat Naura melangkahkan kakinya, tiba tiba mobil hitam datang yang bertandakan Hans sudah datang untuk menjemputnya.


Hans keluar dari mobilnya dan memandang Naura untuk sesaat. "Hans, Bisakah kita berangkat sekarang?" Tanya Naura yang membuyarkan lamunan Hans. "Emh.. Maaf, baiklah ayo kita pergi!" Jawab Hans


Mereka pun bergegas menuju sebuah Lestoran, Anya memandangi kepergian Naura bersama Hans. "Diluar dugaan!" Bisik Anya


***


Sesampainya Naura dan Hans disebuah Lestoran. Mereka langsung memilih meja.


Anya mengikuti gerak gerik mereka tanpa mereka sadari. "Apakah dia?" Bisik Anya di sebrang meja