
Sesampainya di kantor aku melihat Layladi ruanganku sedang duduk disofa , entah apa yang ada dipikirannya yang aku tau dia seperti kelelahan. Aku hampiri dia
"Assalamualaikum." Sapaku yang tidak membuatnya berkutik sedikitpun
"Waalaikumsalam." Jawabnya dengan suara yang lemas, aku hampiri dia dan memeriksa tubuhnya
"Kenapa kamu lesu gini?" Tanyaku yang terheran heran dengan sikap nya yang tidak riang seperti biasanya
"Mungkin aku kelelahan saja, nanti juga sembuh kalo tiduran bentar disini." Jawabnya yang membuatku semakin khawatir padanya
"Yaudah kamu istirahat saja! Aku akan menelpon Fauzi." Ucapku yang langsung berdiri mengambil ponsel yang ada ditas ku
"Assalamualaikum Fauzi, Layla sepertinya lesu. Jemput dia di kantorku dan bawa dia kerumah sakit saja aku takut dia kenapa napa!" Kataku yang terus berbicara tanpa memberikan peluang untuk dia menjawab salamku terlebih dahulu
"Astaghfirullah iya iya." Jawab Fauzi yang terdengar khawatir pada sang istri tercinta dan menutup telponnya lebih awal dariku.
Selang beberapa menit setelah aku menelpon Fauzi ketukan pintupun terdengar jelas di telingaku
"Masuk!" Perintahku
"Bu Naura. Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan." Ucap Rayn yang langsung masuk kedalam ruanganku dan duduk disebrang meja kerjaku
"Katakanlah!"
"Untuk acara yang saya ajukan, semuanya sudah setuju tapi menurut para investor mereka akan lebih segan bila Bu Naura yang membuka acara tersebut." Ucap direktur Rayn untuk meyakinkanku agar bisa hadir diacara malam ini
"Emh... Aku sudah memikirkannya, mungkin memang lebih baik jika aku datang." Jawabku dengan lembut, jawaban yang aku berikan membuat respon yang menggembirakan bagi Mereka
***
Semua pekerja di perusahaan ayahku diliburkan atas izinku karena malam ini ada acara. Pukul 06:30 pm aku sudah bersiap dengan gaun indah dan hijab yang terpasang rapih dikepalaku.
Rayn menjemputku tepat pukul 06:40 pm untuk pergi ke tempat yang dituju, acara demi acara aku lalui bersama yang lainnya.
"Rayn apakah masih lama?" Bisikku pada Rayn yang tepat di sampingku, Rayn hanya menjawab "sebentar lagi Bu." Ucapan itu yang sering kali dia ucapkan selama berjam-jam yang lalu
Pukul 09:15 pm sudah benar benar telat, membuatku resah karena belum menjalankan ibadahku. Tentunya bagiku sedikit resah karena aku tidak bisa meninggalkan kewajiban ku demi duniawi yang hanya sementara ini
Aku memutuskan untuk beranjak dari tempatku dan pergi ke salah satu ruangan yang bisa aku pakai, namun saat aku akan beranjak Rayn menggantikan ku
"Rayn? Aku harus pergi." Kataku yang duduk kembali disampingnya, Rayn hanya menjawab. "Udah mulai ko."
Acara dimulai setelah itu ada pesta yang menurutku tidak menari, yaitu minum. Sudah tersedia dan tertera rapih bersama makanan yang lainnya aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dan berlalu untuk menjalankan ibadah Isya
Setelah aku menjalankan ibadahku aku langsung menuju toilet kembali untuk berias. Aku berjalan menuju wastafel, aku berpikir tidak ada orang disini dan aku membuka kerudungku.
Terdengar samar samar seseorang mendekatiku, aku tidak terkecoh dengan pendengaran ku karena itu mungkin hanya angin belaka
Setelah beberapa meni keheningan tercipta tanpa diketahui darimana datangnya seseorang tiba-tiba memelukku dari belakang sontak itu membuatku terkejut dan ketakutan
Aku berusaha melepaskan diri darinya, dengan bau mulut yang menyengat aku menyimpulkan dia sudah mabuk berat. Dia memaksakan dirinya pada diriku aku hanya bisa berusaha lepas dan berdoa semoga ada seseorang yang membantuku untuk melepaskan diri darinya
Brak... Suara pintu yang dibuka paksa oleh seseorang yang membuatku semakin memberontak dari pria yang sedang berusaha untuk melecehkanku
Lalu seseorang membuka pintu toilet entah siapa dia yang ingin kuucapkan hanya terima kasih padanya. Tanpa bisa berkata lagi kesadaranku mulai memudar dan aku tidak tau apa yang selanjutnya terjadi
***
suara samar samar dari luar membuatku berusaha membuka mataku untuk melihat keadaan. perlahan mataku yang sudah menutup selama berjam-jam akhirnya bisa melihat dengan jelas
"sayang, Naura kamu baik baik aja kan?" tanya ibu dan bunda secara bergantian dengan raut wajah yang sangat khawatir padaku, aku hanya membalas dengan senyuman dan anggukan kecil dari kepalaku meskipun sakit aku menahannya karena sepertinya bibirku tak bisa berkata lagi
"Tuan Hans yang membawamu kemari sayang." kata ibu yang mengerti dengan kebingunganku, aku melihat sang investor perusahaanku dengan senyuman
"jangan digerakkan!" pinta tuan Hans saat aku akan beranjak dari tempatku, dengan sigap dia membaringkan aku kembali
"boleh aku bicara sebentar dengan tuan Hans secara empat mata saja?" pintaku pada semua orang yang ada diruangan ku, terlihat direktur Rayn meninggalkan ruanganku diikuti oleh ibu dan bundaku lalu Yuli dan Reval.
kini hanya aku dan tuan Hans yang berada diruangan tersebut. aku memberanikan diri untuk membuka topik yang ingin aku bicarakan dengannya
"terima kasih atas bantuan tuan Hans yang menyelamatkanku dari pria busuk itu." ucapku dengan lirih. Hans hanya membalas dengan senyuman
"aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada tuan Hans, dan karena itu begitu besar tolong pinta lah sesuatu dariku! harta? atau apapun!"
"bukan maksudku untuk merendahkanmu hanya saja aku ingin membalas kebaikanmu apapun itu." sambungku
"Aku ikhlas ko membantu nona Naura tanpa minta balasan." jawabnya dengan senyuman dan sepertinya tulus
"terima kasih, tuan apa boleh aku bertanya?"
"tentu saja, apapun."
"apa keluargaku tau apa yang sebenarnya terjadi?"
"tidak, aku tidak menceritakan apapun tentang kejadian malam itu. karena aku tau bagi wanita seperti mu kejadian itu merupakan kejadian yang sangat buruk bagi yang mengalaminya." jawab Hans dengan bijaksana
***
Usai dengan percakapan panjang antara aku dan Hans, mereka yang sudah menungguku diluar ruangan masuk kedalam dan menemaniku. banyak pertanyaan dari mereka namun tak satupun yang aku jawab
Malam pun tiba tepat pukul 10:30 pm aku menangis tanpa henti sejak beberapa menit setelah aku terlelap, karena dalam mimpiku wajah pria itu terus terbayang seakan dia slalu menghantuiku
Aku meringis ketakutan, marah, dan sedih atas kejadian itu meskipun itu adalah sebuah kejadian yang tidak disengaja tapi tetap saja itu adalah kejadian yang tidak diharapkan bagi setiap wanita muslim didunia
"Belum tidur?" Tanya Hans yang tiba-tiba datang membawakan makanan dan buah-buahan. dengan sigap aku menghilangkan jejak air mataku yang tadinya membasahi pipiku
"emh.. belum." jawabku dengan gelagapan dan tidak karuan
"aku mengerti prasaanmu, jika kamu ingin mencurahkan isi hatimu. katakanlah padaku!" Pinta Hans yang meletakkan banyak buah-buahan dan makanan di meja dekat ranjang ku
"Terima kasih!" ucapku
***
Hay Readers jangan lupa tap like dan rate-nya 5 ya! oh iya jangan lupa tambah ke favorit agar kalian tau kapan up nya😊🖤