Knock The Heart With Prayer

Knock The Heart With Prayer
Rindu Jilbab!



Satu Minggu berlalu, Naura masih terngiang dipikiran setiap kali aku berdoa dan menyelipkan namanya.


Satu hari pun tidak luput dari doaku untuk Naura, berharap bisa bertemu kembali dengannya, berjalan bersama seperti biasanya.


"Abang!" Teriak Zahra yang membuyarkan lamunanku


"Astaghfirullah, Zahra!" Tegasku yang terkejut melihat Zahra sudah ada dibelakangku


"Abang, calon istri yang Abang cintai dan idamkan. Dia ada disini!" Ucap Zahra dengan nada menggoda sekaligus menyungging senyum


"Naura?" Ucapku yang berlalu menuruni tangga


"Naura? Bukankah namanyah Yuli?" Heran Zahra yang masih ada di kamarku


"Yuli?" Ucapku saat melihat Yuli yang duduk disebelah umi, bukan Naura?


Ada apa ini? Kenapa Yuli yang duduk bersama umi, dimana Naura? Ada yang tidak benar disini!


"Ali, ayo duduk!" Perintah umi yang melihat aku mematung dekat tangga. mendengar perintah umi, aku segera duduk disebrangnya


"Ada apa ini umi?" Tanyaku pada umi yang terus memuji Yuli didepanku


"Bukankah Yuli adalah orang yang Ali sayangi? Umi mau kalian langsung menikah agar tidak ada fitnah diluar!" Jelas umi yang membuatku terkejut


Tunggu dulu! Aku menikah dengan Yuli? Tidak,


"Umi, tapi... Bukan... Itu... Na!" Ucapku gelagapan seakan aku dibungkam


"Insyaallah umi, jika jodoh kita akan menikah secepatnya." Jawab Yuli dengan cepat


"Syukurlah!" Ucap umi, aku hanya bisa menutup wajahku dengan telapak tanganku dan menundukkan kepalaku


"Baiklah umi, Yuli mau pulang! Udah malam. Assalamualaikum!" Ucap Yuli yang mencium tangan umi dan berlalu pergi


"Waalaikumsalam. Ali, wanita pilihanmu benar benar shaleh, umi suka dan umi ingin kalian cepat segara menikah!" Ucap umi yang memegang bahuku dan berlalu pergi meninggalkan ku tanpa ingin mendengarkan apa yang ingin kuucapkan


Astaghfirullah Umi, bukan Yuli yang aku cintai, tapi Naura. Memang aku pernah mencintainya tapi itu bukan cinta, hanya mengaguminya dan aku mengartikan hal itu menjadi cinta.


***


"Yuli!" Teriak seseorang dibelakang Yuli


"Siapa?" Tanyanya dengan lembut pada seorang pria yang tak terlihat jelas


"Siapa disana?" Sambung Yuli yang kembali bertanya pada pria dibalik kegelapan dilorong toko yang sepi


"Aku kembali Yuli!" Ucapnya, sontak saja Yuli berlari pergi menuju rumahnya yang lumayan jauh


"Yuli, aku datang kenapa kamu pergi?" Bisik pria itu dengan menyungging senyum masamnya


***


"Dia? Kembali?" Ucap Yuli dengan ketakutan dan bibir yang bergetar


Aku harus meminta bantuan! Tapi siapa? Siapa? Ali, iya benar Ali.


Segera Yuli mencari telponya dan menelpon Ali, beberapa kali dia menelpon tak ada jawaban dari Ali maupun pesan yang dikirim Yuli pada Ali


Tok.. tok..tok.. suara pintu diketuk dengan keras, membuat Yuli yang duduk dipintu kamarnya semakin ketakutan


Ali aku mohon angkat! Bantu aku.


Pesan:


Yuli:


Ali aku mohon datanglah ke rumahku! Sekarang aku butuh bantuanmu! Ali, aku mohon datanglah jika tidak kamu akan mendengar kematian ku esok pagi.


***


Ali keluar dari kamar mandinya, mendengar telponya terus berbunyi dia langsung mengambilnya


Apa? Apa jangan-jangan Yuli bunuh diri? Astaghfirullah, aku harus segera kesana!


Dengan cepatnya mobil Ali melesat menuju rumah Yuli yang lumayan jauh dari rumah Ali.


***


"Lepaskan aku dasar psikopat! Cuih." Bentak Yuli yang meludahi seorang pria yang memaksanya untuk tidur


"Kamu lupa? Betapa nikmatnya kita dulu bersama diranjang ini!" Bisik pria itu pada telinga Yuli


Tidak lama sebuah pukulan keras mendarat di kepala sang pria itu


"Ali?" Ucap Yuli yang langsung memeluknya


"Denis? Kau?" Ucap Ali yang terkejut dengan apa yang dia lihat.


Denis adalah temannya yang telah merebut Yuli dari Ali, Iyah! Itu Denis, orang yang agresif, keras, dan overprotektif pada Yuli


"Ali, mengapa kau disini? Apakah kau ingin menjadi pahlawan untuk seseorang yang telah menyakitimu?" Ucap Denis dengan menyungging senyum masamnya


"Bukan pahlawan, aku hanya tidak suka seorang pria memaksakan dirinya pada seorang wanita. Apalagi Yuli bukanlah istrimu!" Tegas Ali dengan menyembunyikan Yuli dibelakangnya


"Sungguh ironis. Ali, bukankah cintamu adalah Naura?" Ucapan Denis membuat mata Ali membelalak seakan bertanya-tanya dia mengetahui hal itu dari mana?


"Dia tidak akan menghabisi ku, karena dia belum mengetahui rencana mu yang sebenarnya dariku!" Bentak Denis


"Dia gila Ali, aku mohon bawa aku pergi!" Lirih Yuli, tanpa basa-basi Ali membawa Yuli kerumahnya


"Kamu akan menyesal Ali! Karena telah memelihara singa lapar dalam rumahmu!" Bisik Denis dengan menyungging senyum sinis


***


"Apa yang terjadi diantara kalian?" Tanya Ali pada Yuli yang duduk disebelahnya


"Dia pergi mencampak Kanku dan dia datang lagi untuk menyakitiku, aku mohon Ali, lindungi aku. Dan satu satunya cara yaitu menikahlah denganku Al!" Ucapan Yuli membuat Ali terkejut dengan apa yang dia ucapkan


Yuli mengetahui pasti bahwa aku mencintai Naura tapi dia? Tidak.


***


"Untuk sementara waktu, Yuli tinggal di kamar tamu yah!" Ucap Maryam dengan lembut, setelah Ali ceritakan tentang perlakuan Denis pada Maryam


"Yuli benar, kamu harus cepat menikahinya. Supaya pria itu tidak mengganggunya lagi!" Bujuk Maryam pada Ali yang sedang duduk di balkon


Entah bagaimana aku harus menceritakan tentang kesalahpahaman ini, Naura aku mohon pulanglah, Anya aku membutuhkan saranmu untuk hal ini. Lirih benak Ali yang ditinggalkan sendirian di kamarnya


***


"Apah?" Ucap Anya dengan nada terkejut


"Aku tidak tau harus bagaimana untuk menyelesaikan masalah ini tanpa harus melukai Yuli!" Lirih Ali yang sedang duduk disebrang Anya, dengan menutupi wajahku dengan kedua telapak tangannya


"Untuk hal ini, aku punya ide tapi ini hanya untuk menghambat bukan menghentikan. Setelah aku menemukan rencana selanjutnya kita akan bergegas segera!" Tegas Anya dengan yakin


"Katakan! Rencana apa itu?" Tanya Ali pada Anya sambil membuka kedua telapak tangannya


***


"Assalamualaikum." Salam Ali pada orang yang ada dirumah


"Waalaikumsalam." Jawab Yuli yang sedang menyiapkan makanan


"Kamu kemana aja sih, mas?" Ucap Yuli yang menghampirinya


Mas? Ada apa ini? Sungguh ini Yuli kah?. Benak Ali


"Kenapa bengong aja? Yuk makan!" Ajak Yuli yang memegang tangannya dan menghampiri meja makan


"Ali, umi ingin awal bulan depan kalian menikah!" Ucap Maryam dengan yakin, seketika Ali tersedak dengan apa yang Maryam katakan


"Apa? Menikah? Tidak umi." Jawabku cepat, seketika mengundang sunyi dimeja makan


"Maksud Ali, Ali ingin bertunangan saja dulu! Jika sudah lulus kuliah dan Ali punya pekerjaan kami akan menikah." Jawab Ali dengan cepat


"Ali benar umi! Mereka mau makan apa jika Ali belum mendapatkan pekerjaan yang tetap. Apalagi cita cita Ali menjadi dokter sudah didepan mata!" Timbal Abi yang duduk disebelah Maryam


"Benar juga! Yasudah kalian mau kapan bertunangan?" Tanya Maryam


"Insyaallah Minggu depan!" Jawab Yuli dengan cepat dan lembut


"Baiklah!." Jawab Maryam


Astaghfirullah, Minggu depan?. Benak ali


***


Naura


"Dua hari lagi kita bertunangan Na, tapi kenapa sikapmu seperti itu?" Tanya Reval yang sedang duduk di balkon bersamaku


"Kamu tau pasti! Bahwa aku tidak mencintaimu." Jawabku dengan memalingkan pandanganku


"Tapi aku mencintaimu! Dan aku akan membuatmu jatuh cinta padaku!" Tegas Reval


"When Allah wants two hearts to meet, He will move both of them, not just one!" Tegasku


"Allah? Kamu Islam?" Tanya Reval, terkejut dengan apa yang dia dengar


"Iya!" Jawab Naura dengan lembut


"Oh iya aku tidak sadar, waktu pertama masuk kampus kamu pakai jilbab, Lalu kenapa kamu tidak memakai jilbabmu?" Ucapan Reval membuat hatiku sakit


Ya Allah Reval benar, tapi.. disisi lain ayahku?


"Itu bukan urusanmu!" Jawabku dengan ketus


"Baiklah, sampai ketemu di pesta pertunangan kita!" Seru Reval dengan memegang daguku, seketika aku menepisnya


"Galak!" Celetuknya, aku acuhkan dia yang mengoceh tentangku sambil berlalu pergi meninggalkan kamarku



Ibu aku rindu.


***