Knock The Heart With Prayer

Knock The Heart With Prayer
Layla, Semoga kau kuat.



Sesampainya aku disana aku melihat Layla sedang menunduk didepan Fauzi


"Assalamualaikum!" Sapaku pada mereka


"Waalaikum salam!" Jawab Fauzi yang baru menyadari bahwa aku sudah datang


"Waalaikumsalam!" Lirih Layla, aku menghampiri mereka dan duduk disebelah Layla


"Jangan menatapku seperti itu!" Ucap Fauzi yang sadar aku menatapnya dengan aneh


"Kalau begitu katakan padaku? Apa yang terjadi?" Perkataanku membuat Layla menyadari bahwa aku sedikit menekan Fauzi


"Nana! Itu... Ayo kita pergi!" Ucap Layla yang beranjak dari tempat duduknya dan berlalu


"Fauzi! Aku tidak tau apa yang terjadi tapi aku harap kamu tidak melakukan hal yang tidak harus kau lakukan! Assalamualaikum." Ucapku dengan nada dingin lalu meninggalkan ruangan tersebut


Sesampainya kami di apartemen Layla, dia sedari tadi hanya melamun dan tidak bergeming saat aku mengoceh dan melemparkan pertanyaan padanya


"Lala! Apa kau menyuruhku datang hanya untuk melihatmu seperti ini? Apa ini! Lala! Tatap mataku dan katakan sejujurnya!" Aku yang geram pada Layla yang tidak mengatakan sepatah katapun harus bersabar untuk menghadapinya


Berjam jam aku hanya memandangi Layla yang menenggelamkan wajahnya ke dalam bantalnya


Aku yang geram melihat Layla yang kekanak-kanakan memaksa mengambil bantal yang dia Selami sedari tadi


"Na!" Bentaknya dengan terkejut serentak saja dia mendongak menatap wajahku dengan seksama


"Apa? Istighfar la!" Layla yang pucat langsung memelukku dengan erat


"Katakan padaku la! Aku tidak akan tahu masalahnya kalau kamu gak bicara."


"Na! Aku.. aku melakukannya." Ucapnya dengan nada terbata bata sambil meneteskan air mata


"Melakukannya? Melakukan apa?"


"Aku... Saat malam Fauzi datang ke apartemenku dia mengungkapkan perasaan nya dan...." Perkataannya yang tersedu sedu mengiringi perkataannya


"Astaghfirullah Layla!" Bentak ku padanya sambil melepaskan pelukannya, bentakan yang membuatnya semakin terluka


Sabar Na. Bukan saatnya untuk marah, Layla butuh kamu! Astaghfirullah Sungguh La, kenapa kamu bisa melakukan hal seperti itu?


"Maafkan aku. Aku akan membantumu la tenang lah!" Lirihku pada Layla yang menangis tersedu-sedu dengan memeluknya kembali


Dalam dekapanku Layla merasa membaik tapi sejujurnya aku ingin mengajaknya shalat malam agar hatinya diberikan ketabahan untuk menyelesaikan masalah ini


Saat aku dan Layla benar-benar terlelap dalam tidur, dering telponku berbunyi dengan mengejutkanku. Kulihat layar telponku ternyata yang menelpon Anya


"Assalamualaikum Anya? Ada apa?" Sapaku pada Anya yang berada di sebrang telpon


"Waalaikumsalam Na. Kamu ke mana saja? Bukannya kita udah janji ke cafe?" Perkataan Anya membuatku tersadar aku berada di apartemen Layla selama hampir tujuh jam.


"Maafkan aku Anya! Aku sedang mendapat kabar buruk jadi aku tidak bisa datang." Keluhku, Layla yang tertidur selama berjam-jam dia menangis. Aku merasa tidak bisa meninggalkannya dalam keadaan seperti ini


"Kabar buruk apa? katakan padaku?" Ucap Anya dengan nada menekan


"Ini bukan masalahku hanya saja ini menyangkut Layla jadi aku tidak bisa meninggalkannya."


"Baiklah kalau begitu aku akan ke sana." Ucapnya dengan yakin


"Tapi... Kita ketemu di cafe dekat apartemen layla saja! Aku tidak ingin mengganggu Layla yang baru saja tidur sehabis menangis berjam-jam." Jawabku meyakinkan Anya


"Baiklah! Tunggu aku disana!" Ucap Anya yang langsung menutup telponnya


"Assalamualaikum Anya! Dasar anak ini." Ucapku dengan sedikit tersenyum


Aku bersiap untuk menemui Anya yang memaksa bertemu, aneh sebenernya itu pendapat ku mengenai sikap Anya saat ini. Tidak seperti biasanya. Diakan bisa bertemu denganku kapan saja dan di mana saja.


Karena Anya memaksa akupun pergi ke salah satu cafe terdekat di apartemen Layla, setelah aku menunggu beberapa menit Anya datang dengan seorang pria


Astaghfirullah Ali?


"Hay?" Sapa Anya padaku yang sedang duduk di meja nomer 10


"Assalamualaikum." Salam Ali yang mengikuti Anya dari belakang


"Na? Kau marah padaku?" Pertanyaan Ali yang membuat aku tidak bisa berkata, sedangkan aku hanya membalasnya dengan mengangkat bahuku sambil menggelengkan kepalaku


"Na! Ali mau jelasin semuanya padamu. Tolong dengarkan dia!" Ucap Anya sambil memegang tanganku yang mulai mendingin


"A..ada apa ini? Aku tidak mengerti? Secara aku kan tidak marah ataupun ada kesalahpahaman diantara kita kan?" Jawabku dengan gerogi sambil melepaskan tangan anya


"Tapi ada banyak hal yang harus kamu tau na?" Jawab Ali dengan mengulurkan tangannya padaku, seketika aku terkejut dan berdiri


"Maaf! Itu tidak perlu. Kita semua teman dan semuanya baik baik saja! Assalamualaikum." Seru ku yang langsung berlalu meninggalkan mereka berdua


Dia memegang tanganku? Astaghfirullah ya Allah perasaan apa ini?, Benakku yang terus mengoceh tanpa berkata


Sesampainya aku di apartemen Layla aku sedikit menyesal dengan sikapku tadi yang menurutku itu berlebihan untuk seseorang yang jatuh cinta.


Apa sikapku terlalu berlebihan? Astaghfirullah Naura, apa yang kamu pikirkan? Pokus pada Layla oke!


***


Aku dan Layla pergi ke toko buku Fauzi untuk meminta pertanggungjawaban Fauzi, namun setelah kami sampai hanya ada seorang wanita.


"Maaf! tuan Fauzi pergi keluar negeri." Meskipun itu yang wanita itu katakan tapi itu tetap tidak membantu karena dia juga tidak bisa mengatakan Fauzi pergi ke negara mana


Satu kali pencarian dia langsung kabur, pria macam apa dia itu, aku pikir Fauzi pria baik. Ada penyesalan dalam hal ini. Seandainya! Seandainya saja aku tidak mempertemukan Layla dengan Fauzi mungkin mereka tidak akan melakukan hal seperti itu. Sungguh aku menyesalinya


"Naura! Kau tidak harus menyalahkan dirimu untuk masalah yang kudapat!" Ucap Layla yang mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini


"Layla! Maafkan aku." Dengan lirih aku langsung memeluk sahabatku ini


"Sudahlah, tidak apa. Aku akan pergi ke London!" Ucap Layla dengan tenang lalu melepaskan pelukanku


"Bagaimana kalau kau..."


"Sttt... Aku akan pergi besok pagi jadi ucapkan selamat tinggal sekarang padaku!" Ucapnya dengan tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk pipiku yang berbalut jilbab


"Aku akan menyusul mu la!" Ucapku yang langsung memeluknya dengan erat


"Assalamualaikum Nana!" Salamnya yang berlalu pergi ke apartemennya


"Waalaikumsalam Lala!" Segera ku lajukan mobilku meninggalkan parkiran apartemennya


Apakah dia akan kuat, tanpa seseorang yang menguatkannya?, Ya Allah kuatkan hati Layla, agar dia tidak melakukan hal yang tidak harus dia lakukan.



Sesampainya aku di kampus. Aku disapa Ali yang tiba-tiba datang menghampiriku


"Assalamualaikum." Salamnya


"Waalaikumsalam." Jawabku dengan lembut


Jangan kebawa perasaan na! Bersikaplah biasa saja!


"Sore ini bisa bertemu?" Perkataannya membuatku semakin tersipu, meskipun pipiku ditutupi oleh cadar tapi aku bisa merasakan hangatnya pipiku


"Boleh! Kalau begitu aku pergi dulu ya. Assalamualaikum!" Betapa bodohnya aku menerima tawarannya


"Baiklah, waalaikumsalam!" Aku langsung pergi menuju kelasku


***


Tempat yang sama, Jam yang sama. Saat aku yang dulu terjatuh ditempat ini karena dia, dan sekarang apakah dia akan melakukan hal yang sama?


"Assalamualaikum!" Salam Ali yang tiba-tiba membangunkan ku dari lamunan


"Waalaikumsalam."


"Kita mau kemana?" Sambung ku sambil mengikuti ali berjalan menuju mobilnya


"Diam dan ikut denganku!" Jawabnya dengan dingin


Sesampainya kami disebuah tempat panti asuhan KASIH IBU, aku sejenak terdiam di depan gerbang panti asuhan kasih ibu