Knock The Heart With Prayer

Knock The Heart With Prayer
Perjanjian



Pagi hari kubuka mataku perlahan seakan ingin sekali memutar waktu dan berharap ini hanya mimpi belaka. Sesaat aku berpikir ingin membunuh pria itu atau bunuh diri untuk menghilangkan tragedi malam itu.


Kuputar pandanganku melihat jendela ruang inapku, kupandangi taman yang luas diluar jendela. Aku berpikir untuk berjalan-jalan ketaman hanya ingin menenangkan pikiranku yang mulai kacau.


Kumulai menginjakkan kaki diatas lantai tak beralas dibantu perawatan yang sedang mengecek kondisiku.


Aku berkeliling melihat taman menggunakan kursi roda karena aku masih belum bisa menyeimbangkan diriku. Kata dokter kepalaku terbentur dengan keras di ujung sudut tembok hingga pendarahan yang lumayan banyak, untunglah rumah sakit memiliki stok kantung darah untuk ku hingga akhirnya aku masih bisa hidup sampai sekarang.


"Nona Naura?" Sapa Hans yang berdiri dibelakangku sejak dari tadi


"Tuan Hans?" Jawabku, Hans langsung melangkahkan kakinya dan berjongkok didepanku sambil mendongakkan Kepala.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Hans yang perlahan memegang tanganku dengan lembut, aku menggelengkan kepala yang bertandakan sebagai jawaban tidak


"Jangan terlalu banyak pikiran, semuanya akan baik baik saja." Sambung Hans yang beranjak dari jongkoknya


Aku mendongakkan kepala dengan menatap halus mata coklat Hans yang indah dipandang dengan perlahan Hans mengecup lembut keningku yang terbalut perban dikepalaku, aku menutup mataku dan merasakan kehangatan yang Hans berikan padaku


***


Malam ini aku bersiap untuk pulang karena menurut dokter aku bisa pulang hari ini. Ibu, papah, bunda dan sahabat sahabatku datang untuk membantuku membereskan beberapa barangku.


Hans membantuku beranjak dari tempat tidurku menuju mobil yang sudah disiapkan untuk kepulangan ku


"Apa kau senang?" Tanya Hans yang sedang membopongku dengan senyuman yang manis dibibirnya


Aku menganggukkan kepalaku dengan senyuman, perlahan aku didudukkan ke kursi roda dan didorong perlahan olehnya


"Hans, Makasih untuk semuanya." Lirihku yang membuat Hans tersenyum lebar


***


Pagi hari tiba semuanya membaik seakan mimpi buruk ku telah berlalu, aku membuka mataku secara perlahan dan mulai memandang sekelilingku.


"Ahh.. kepalaku sakit sekali!" Lirihku saat akan beranjak dari tempat tidurku, ku paksakan diriku untuk menyeimbangkan semuanya


"Naura!" Teriak Ibu yang langsung membantu tubuhku yang tidak seimbang, Ibu merebahkan tubuhku diatas kasur dengan khawatir dia mengecup ubun ubun kepalaku


"Papa akan pulang sore ini karena ada panggilan dari direksi untuknya." Ucap ibu yang mengelus rambutku dengan lembut


"Ibu harusnya ikut pulang, jika papah sendiri dirumah dia pasti tidak akan bisa menjaga dirinya dengan baik." Pintaku pada ibu yang menatapku dengan tatapan yang penuh arti


"Tidak, ibu tidak bisa meninggalkan putri itu yang sedang sakit!"


"Tante tidak usah khawatir, ada aku, Yuli dan Reval yang akan merawat Naura." Timbal Layla yang berada diambang pintu bersama Yuli dan Reval


"Assalamualaikum!" Sambung Layla dan sapa Yuli dan Reval dengan serentak, mereka perlahan menghampiriku dengan senyuman


"Waalaikumsalam!" Jawab aku dan ibu secara beruntun, "ibu mereka benar! Lagian aku bukan anak kecil lagi bu." Rengekku pada ibu yang masih pada posisi duduk sambil mengelus rambutku yang tergerai


"Tapi, ibu khawatir. Kaka sedang sibuk dan yang lainnya juga pasti sedang sibuk mereka tidak bisa merawatmu setiap hari kan?" Tegas ibu


"Tante gausah khawatir, ada dokter yang menangani Naura. Dia akan mendampingi Naura setiap hari." Jawab Yuli dengan yakin akan ucapannya


"Tante percayakan Naura pada kami, semuanya akan baik-baik saja!" Timbal Reval yang berdiri disebelah kanan Yuli istri tercintanya


"Huh... Tapi biarkan ibu menelponmu setiap hari, Oke!" Kata Ibu sambil menghela nafas panjang yang seperti berat baginya untuk meninggalkanku


Aku anggukan kepala agar ibu bisa lebih tenang meninggalkanku. Lalu ibu beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan aku bersama teman temanku yang kuanggap lebih dari sahabat ini


"He.. kalian bilang ada dokter, siapa?" Tanya ku dengan sedikit menjulurkan bibiku


"Kau akan tau setelah Tante pergi dia akan datang kesini!" Tegas Layla dengan percaya diri


"Oke!"


***


Aku sudah tidak kuat, aku ingin pergi ke kamar mandi akhirnya aku memutuskan untuk memaksakan diri menuju pintu kamar mandi di sebelah selatan kamarku.


Beberapa menit berlalu aku sepertinya sudah bisa menyeimbangkan diriku, aku mungkin besok bisa berkerja lagi setelah beberapa hari dikarantina dirumah sakit hanya karena kepalaku terbentur ujung sudut tembok sialan itu


"Astaghfirullah... Aku harusnya tidak berpikir seperti itu! Ini semua demi kebaikan ku juga kan! Dasar bodoh!" Aku terus mengoceh sambil berjalan menuju tangga


"Assalamualaikum!" Salam seseorang disebrang pintu sambil menekan tombol bel rumah.


Aku menghampirinya untuk membukakan pintu, "Ali?" Betapa terkejutnya aku melihat Ali yang berpakaian layaknya seorang dokter lengkap dengan koper hitam yang terdapat beberapa jenis peralatan kedokteran


Melihat ekspresi wajahku yang terkejut Ali mengulangi perkataannya, "Assalamualaikum?"


Dengan gelagapan aku menjawab salamnya, "Waalaikumsalam."


"Apa aku boleh masuk?" Tanya Ali yang membuat lamunanku buyar seketika


"Tentu saja. Silahkan!"


Dengan senyuman Ali melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dan duduk disofa. Aku langsung menuju dapur dan mengambil cemilan dan yang lainnya



Kuhampiri Ali yang sedang duduk, dengan membawakan minum dan cemilan. "silahkan dinikmati!"


"Makasih!"


Keheningan tercipta diantara kami sampai akhirnya dia membuka percakapan diantara kami. "Apa keadaanmu membaik? Apa ada keluhan?" Tanya Ali


Aku menggelengkan kepala, "Naura, apa kamu benar-benar membenciku?" Pertanyaan macam apa yang Ali lontarkan? Mataku membelalak tanpa aku sadari


aku tidak akan bisa membenci seseorang yang pernah aku rindui setiap malam, aku cintai disetiap doa, dan aku sayangi disetiap balutan jilbab yang terbalut indah dikepala seorang muslimah. Lirih benakku


Aku menggelengkan kepalaku sambil menundukkan kepalaku, entah apa yang aku rasakan saat ini, Ingatlah janjimu bersama Hans, Naura!


Benakku trus menekan hatiku untuk tidak memperlihatkan prasaan yang masih tersimpan. "Apakah masih ada kesempatan untukku memperbaiki kesalahanku beberapa tahun yang lalu?" Tanya Ali


Ada, hanya saja kesempatan itu telah hilang bersama angin lalu. Aku merasa malu untuk dicintai oleh lelaki sempurna sepertimu Al, aku merasa rendah didepanmu! Jawab benakku


Saat aku akan menjawabnya Hans datang tanpa diketahui tanda tandanya, dia memecahkan kecanggungan antara kami


"Naura, apa kamu membaik?" Tanya Hans yang menghampiriku dan duduk disebelahku


Melihat hal itu Ali tersenyum tapi bukan senyum kebahagiaan yang aku lihat, tapi senyuman penutup luka dalam hati. Itu terlihat lebih jelas saat Hans merangkul ku


Ali terdiam aku bisa merasakan apa yang dia rasakan. "Emh.. Baiklah Naura saya pergi dulu kalau ada apa apa telpon saja saya! Assalamualaikum." Ucap Ali yang langsung berlalu pergi


"Waalaikumsalam." Lirihku, kupandangi bayangan Ali yang mulai tak terlihat dari sudut mataku


Melihat apa yang aku lihat Hans terheran heran dengan sikapku, "Apa kamu kenal dia?" Tanyanya yang membuyarkan kepokusanku


"Emh.. dia teman kuliahku, sekarang dia akan merawatku!" Jawabku, merasakan hal aneh dariku Hans melepaskan rangkulannya dariku


Dia membalikkan kepalaku hingga kami bertatap muka. "Aku tidak bisa memaksamu untuk mencintaiku. Begitupun dengan hati dan pikiranmu! Aku bisa melihat dengan jelas kamu mencintainya!" Kata hans, kupandangi kedua bola mata yang indah ini


"Janji adalah hutang! Apapun yang terjadi aku akan menepati janjiku!" Tegasku yang langsung beranjak dari tempat dudukku dan berjalan perlahan menuju kamarku


Hans hanya memandangiku dengan tatapan penuh arti, "Aku tidak akan memaksamu untuk menepati janji yang telah kita buat. Aku akan sangat bersalah bila kita menepati janji itu karena itu bisa membuat hidup kita hancur. Ya Tuhan buat Naura mengerti!" Lirih Hans


***