Knock The Heart With Prayer

Knock The Heart With Prayer
Pertunanganku!



"Hay Cewek galak!" Bisik Reval padaku saat aku sedang di make up


"Jangan ganggu aku!" Celetukku padanya


"Huh dasar cewek galak!" Ejeknya yang langsung berlalu pergi


Awas kau Reval setelah ini aku akan terus menyusahkanmu


***


"Naura? Kamu cantik sekali sayang!" Ucap Tante Sagita dengan memegang pipiku


"Makasih Tante!" Jawabku, lalu melangkah bersama bunda dan Tante sagita


Perlahan kami menuju tempat yang dituju, terdapat ayahku dan om Doni disisi kiri dan kanan.


Setelah aku berhadapan dengan Reval, bunda dan Tante sagita menghampiri suami mereka masing-masing dengan menyungging senyum bahagia



Singkat cerita dari perkataan ayah dan om, kamipun bertukar cincin. Sorakan bahagia dari para tamu undangan mewarnai.


"Cium... Cium..." Suara sorakan membuatku merasa risih


Astaghfirullah, Cium? kita bahkan belum menikah. tidak mau...


"Dengar Reval, aku tidak mau seperti itu." Bisikku pada Reval yang tepat didepanku


"Lagipula siapa yang mau mencium cewek pemarah kayak lu!" Balasnya dengan nada ejekan


Dasar cowok rese, pertunangan ini sungguh menyebalkan....


"Revall? Ayo cium Naura!" Pinta Tante sagita, seketika mataku terbelalak. Aku hanya menggelengkan kepalaku untuk mengisyaratkan Reval agar tidak menciumku


"Diam, dan jangan bergerak!" Ucapnya dengan perlahan mendekati wajahku


"Apa! Enggak mau!" Aku berusaha untuk tidak terlalu menonjol


"Aku tidak akan menciummu dasar cewek rese!" Bisiknya, seketika aku terdiam


Dia memegang pipiku, kami tidak berciuman. Hanya bertatap muka dan menghalanginya dengan bunga yang kubawa, jadi seakan kami berciuman


Ku Hela nafas panjang dari hal buruk tadi.


Astaghfirullah, tidak bisa disembunyikan betapa malunya aku..memalukan!!...


"Hey cewek galak. Pertunangan selesai kau boleh terbang dari hadapanku!" Ejek nya yang menegakkan ibu jarinya menuju para tamu undangan sekaligus rumahku


"Awas kau yah!" Ketusku yang berlalu menuju rumahku dan merebahkan tubuhku diatas sopa


Tidak lama aku mendengar suara pembicaraan tentang tanggal pernikahan dan pertunanganku tadi, semakin lama semakin mendekat


Aku menduga itu adalah orang tuaku dan orang tua Reval, dan itu tidak bisa dipungkiri bahwa mereka begitu senang dengan pertunangan kami


"Dan sebentar lagi kita akan menjadi sebuah keluarga!" Ucap Ayah dengan diiringi tawa kecil bersama om Doni, bunda, dan Tante sagita


"Aku sudah membayangkan untuk cepat menggendong cucu pertamaku." Ucap Tante sagita


Apa? Cucu? Tidak mau! apa lagi dari pria seperti Reval, sungguh menyebalkan!


"Eh Naura? Ko tiduran disini?" Sambung Tante sagita yang melihatku rebahan


"Eh, maaf Tante, om. Nana capek!" Ucapku dengan muka polos


"Ayah, Naura mau mandi dulu ya! Capek." Sambungku yang langsung pergi ke kamarku


***


"Segernya!" Ucapku saat keluar dari kamar mandi


"Uhhh.. aku tidak menyangka kalau si cewek galak punya tubuh mungil?" Celetuk Reval yang duduk diatas kasurku


"Reval, sini kau!" Ku lempar bantal yang sudah tertata rapi, pada Reval yang terus menghindar dari lemparanku


"Dasar kau Reval payah!" Teriakku padanya


"Eh... Dasar cewek galak! Ble..." Ejeknya yang langsung keluar dari kamarku


"Awas kau yah!" Geram ku


Untungnya, aku memakai handuk kimono. Kalau aku pakai handuk biruku, apa yang akan dia pikirkan tentangku...


***


"Selamat pagi nona pemarah!" Ejek Reval yang sedang duduk di ruang tamu


"Ngapain lu kesini dasar rese!" Celetukku


"Kalo gak disuruh papah gue juga gak bakalan mau jemput Lo ke kampus!" Ucapnya yang berlalu menuju mobilnya


"Dah bunda, Naura pergi dulu ya ke kampus!" Ucapku yang berlalu mengikuti Reval yang rese


***


"Naura, jujur sama gue! Lu pernah bilang kalau lu gak suka sama gue, nah trus lu sukanya sama siapa?" Pertanyaan Reval membuatku teringat Ali


"Aku... Namanyah Muhammad Ali Rahman, dia pria pertama yang mengambil hatiku." Jawabku dengan meratapi langit yang biru


"Hemm gue penasaran sama cowok yang lu suka? Pasti gantengan gue, baikan gue." Ucapnya yang sedikit meninggi


"Astaghfirullah, lu mending beli kaca noh ngaca lu, Gue gak mandang dari fisik atau material." Celetukku padanya


"Turun!" Ucapnya dengan wajah serius


Astaghfirullah, apa dia marah?


"Turun, kita sudah sampai." Ucapnya yang diikuti gelak tawa


"Tau." Ketusku yang langsung berlalu menuju kelasku


"Hey cewek pemarah!" Teriak Reval yang mengejarku dari belakang


"Jangan panggil gue seperti itu!" Tegasku yang mulai geram padanya


"Oke oke, Naura maaf tadi gue cuma bercanda. Gue mau tau reaksimu ternyata lucu!" Ucapnya dengan tertawa


"Silahkan pergi! Dasar pengganggu!" Tegasku padanya saat aku sampai diambang pintu kelasku


***


Setelah kelas usai, aku menuju mobilnya. Namun saat aku sampai, aku melihat Layla sedang berlari


Aku mengejarnya sampai akhirnya dia berhenti disebuah apartment.


"Maafkan aku Layla, sungguh aku dan dia hanya teman!" Ucap seseorang didalam pintu yang tertutup


"Aku mengerti. Tapi kenapa kamu pergi saat itu?" Jawab Layla yang sedang berhadapan dengan seseorang tersebut


"Layla, aku mencintaimu. Harus berapa kali aku membujukmu untuk percaya padaku." Tegas seseorang itu, kali ini aku menyimpulkan bahwa seseorang itu adalah seorang pria, tapi siapa?


"Jelaskan padaku! Dan buktikan jika kamu mencintaiku!" Bentak Layla


"Baiklah!" Tegas seseorang itu, seketika terdengar suara barang barang yang sengaja dijatuhkan berserta suara teriakan histeris membuatku ketakutan


"Layla?" Teriakku sambil memukul mukul pintu, aku merasa mulai kehilangan kontrol atas diriku


"Naura?" Panggil Reval yang memelukku dari belakang, aku bisa merasakan diriku yang perlahan mulai kehilangan kesadaran


***


Keadaan yang sama, terdengar suara samar dan beberapa sentuhan yang mulai kurasakan.


"Naura! Alhamdulillah ya Allah, Naura akhirnya kamu sadar. Sunggu aku benar-benar khawatir tentangmu." Lirih Layla yang memegang tanganku


"Layla, kamu gak apa apa kan?" Tanyaku sambil memegang pipi Layla yang terbalut jilbab


"Dasar cewek rese, orang gak apa apa dikhawatirkan. Sedangkan dirinya benar benar mengkhawatirkan!" Celetuk Reval yang berdiri di dekat jendela


"Diam, aku tidak bertanya padamu!" Ketusku


"Naura, dia benar. Aku tidak apa apa! Justru kamu yang kenapa napa." Timbal Fauzi yang tiba tiba datang dari ambang pintu


"Fauzi?" Ucapku terkejut dengan apa yang aku lihat


"Naura, aku paham kamu khawatir terhadapku. Tapi ini semua salah paham sayang." Ujar Layla dengan lembut membelai rambutku


"Sebenarnya, malam itu kami memang melakukan hal yang salah. Kami khilaf dan saat esok nya Fauzi menghilang." Sambung Layla


"Aku menghilang karena papahku jatuh sakit karena aku kabur dari rumah." Timbal Fauzi yang mendekati Layla


"Kamu tau, aku juga kan kabur dari rumah. Kami sama sama kabur dari rumah dengan alasan yang sama, yaitu menghindari perjodohan dari kedua orang tua kami." Sambung Layla dengan memegang tangan Fauzi


"Dan saat itu juga aku kembali ke rumah, begitupun Fauzi. Kamipun terkejut dengan apa yang terjadi." Ujar Fauzi dengan mencium tangan Layla


"Kau tau, ternyata aku dijodohkan dengan Fauzi dan begitupun sebaliknya." Ucapan Layla membuatku merasa tenang dan senang


"Apakah itu benar?" Ucapku dengan tersenyum lebar seakan ini anugerah yang telah Allah berikan padaku


"Iya, dan maaf saat kamu ke apartemenku malam tadi. Sebenarnya kami sedang salah paham sedikit." Jawab Layla dengan senyuman


"Dan itu hal yang wajar dalam hubungan, tapi kamu? Kamu malah drop sampai dokter bilang kamu harus meminum obat ini secara teratur! Aku akan memberi tahu om dan Tante." Ujar Reval yang akan menelpon ayahku


"Reval, jangan aku mohon!"


"Tapi kenapa, Naura?"


"Aku tidak ingin mereka khawatir, aku mohon jangan ada diantara kalian yang memberi tahu ayah dan bunda ku!"


"Aku mengerti, tapi kamu berjanji padaku untuk menjaga dirimu!"


"Aku berjanji, Reval."


***


"Minum obatmu dengan teratur!" Ujar Reval dengan memegang tanganku dan meletakkan dua botol obat untukku


"Ini untukmu jika kamu kehilangan kontrol saat malam hari, kamu bisa tidur dengan tenang. Dan ini jika kamu merasa kalau hal itu datang lagi maka ini akan membuatmu tenang!" Sambungnya dengan memberikan petunjuk resep obat


"Reval makasih, aku tidak menyangka kamu punya sisi baik seperti ini!" Timbalku dengan diiringi senyuman


"Apa? Dasar ya mulutmu itu tidak kenal waktu dan suasana!" Celetuknya yang mengundang tawa kami berdua


"Kamu bisa menganggapku sebagai fatner nyebelin, atau fatner apapun. Tapi yang pasti aku bisa mendengarkan curhatanmu dan melakukan yang terbaik untukmu jika itu yang kamu butuhkan sekarang untuk penyembuhan mu!" Ucapannya membuatku merasa tenang


"Baiklah cepat masuk!" Ucapnya dengan merangkul ku masuk kedalam rumahku


***


Muhammad Ali Rahman


Ya Allah, jika ini yang terbaik berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi semua ini dan berikanlah aku kekuatan agar bisa melupakan rasa cinta yang tumbuh pada salah satu insan ciptaan-Mu.


"Amin." Ku usap wajahku dengan kedua telapak tanganku


"Abang? Ka Anya datang!" Ucap Zahra, aku segera menuju ruang tengah dan mengajak Anya keluar


"Anya?" Ucapku sambil memegang tangannya dan keluar


"Hari esok adalah hari pertunanganku dengan Yuli, tapi hatiku tidak bisa dipungkiri!" Lirih Ali


"Ali, satu satunya cara yaitu berkata jujur!" Ucap Anya dengan yakin


"Jujur?"


"Aku akan membawa Yuli keluar dan kamu bisa berkata jujur pada keluargamu!" Ujar Anya membuatku keheranan


"Mengapa harus membawa Yuli keluar? Bukankah bagus jika bersama Yuli?" Tanyaku pada Anya yang berdiri membelakangiku


"Karena semua ini terjadi karenanya, aku takut jika kita mengambil langkah ini dia akan membuat rencana baru yang menggila! Kau pikir apa yang terjadi sehingga semua ini bisa terjadi?" Ucap Anya yang perlahan berjalan ke halaman belakang rumahku


"Karena Zahra melihat aku dan Yuli bersama saat di Lestoran waktu itu, dan aku juga pernah kepergok olehnya bahwa aku sedang merindukan seseorang!" Jawabku sambil mengikuti Anya yang duduk di halaman


"Itu terlalu kebetulan, karena sebenarnya dia melepaskan satu panah tapi membidik dua burung." Tegas Anya


"Jadi.."


"Iya, seperti itu!"


"Yuli, aku tidak percaya dengan apa yang ku alami karenamu! Sungguh aku tidak bisa menduga!" Lirihku dengan penyesalan


***