
Seorang wanita meratap kelangit yang berhiaskan bintang dan bulan dihiasi warna warni lampu yang menyala di bawahnya.
Mendongakkan kepalanya berhirup udara angin malam melirihkan kata kata yang terdapat di dalam hatinya
"Kenyataan yang tidak aku ketahui! Sungguh, inikah alasan mengapa aku tak mengingat apapun tentang masa kecilku?" Lirih wanita itu yang perlahan meneteskan air mata membasahi jilbab cantiknya
"Naura?" Ucap Jenifer dari belakang yang berdiri diambang pintu, seketika Naura menghapus air matanya dan menghampiri Jenifer
"Ada apa bunda?" Tanya Naura pada Jenifer, bunda tersayangnya
"Tante Sagita dan om Doni sudah tiba! Ganti pakaianmu dan bersiaplah!" Pinta Jenifer yang langsung berlalu pergi
"Bunda!" Seketika Jenifer berhenti melangkah setelah putri semata wayangnya memanggilnya dengan nada keraguan
Jenifer menatap Naura yang tidak bergeming, Jenifer mulai melangkahkan kakinya menuju putri tersayangnya. Lalu memegang pipi Naura yang berbalut jilbab
"Sampai kapan? Sampai kapan Naura seperti ini bunda? Naura tidak tahan jika harus terus berbohong didepan orang tua Reval. Naura ingin mereka menerima Naura apa adanya! Dan bunda, sungguh dari awal Naura tidak ingin menikah ataupun bertunangan dengan Reval!" Lirih Naura yang menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan air mata yang menetes
"Tapi kenapa?" Tanya Jenifer yang memegang dagu Naura dan mendongak kannya
"Bunda, aku mencintai seseorang! Dia seagama denganku!" Jawab Naura, seketika mata Jenifer terbelalak menunjukkan betapa terkejutnya dirinya mendengar kejujuran yang terlontar dari bibir tipis putrinya
***
Setelah beberapa menit Jenifer dan yang lainnya menunggu kedatangan Naura, akhirnya Naura menuruni tangga memakai pakaian yang tidak diharapkan oleh Doni, Sagita, dan tentunya William
Mereka bertiga terperangah melihat Naura dengan kepercayaan diri melangkah menghampiri mereka, Jenifer hanya tersenyum melihat Naura yang mengikuti kata hatinya
Naura, Bunda bangga memiliki putri sepertimu. kesalahan bunda dimasalalu tidak akan terjadi pada dirimu... Benak Jenifer
"Jenifer, lihat anakmu!" Geram William dengan menatap tajam istrinya itu, namun Jenifer tidak berkutik meskipun suaminya akan benar-benar marah nantinya
Melihat ekspresi Jenifer yang tidak berkutik dari kebanggaannya terhadap putrinya, William bertindak tegas terhadap Naura.
"Mr. William! Tidak apa, kejujuran dan kepolosan Naura adalah pelengkap dari dirinya. Kamu tidak perlu bertindak lagi bila Reval menerimanya apa adanya mengapa kita harus mencegah mereka?" Cegah Doni dengan senyuman
"Baiklah!" Jawab William yang terpaksa untuk tidak bertindak
"Tante, Om. Sebelumnya Naura minta maaf atas semua kesalahan Naura dan keluarga Naura terhadap Om dan Tante!" Ucap Naura yang didampingi Jenifer disisinya
"Kenapa kamu minta maaf sayang?" Tanya Sagita pada Naura yang tepat didepannya
"Sebelumnya maaf atas kelancangan Naura, sejujurnya Naura tidak mencintai Reval!" Ucapan Naura sontak saja membuat mereka bertiga terperangah dengan apa yang diucapkan Naura
"Naura mencintai seseorang sejak dulu. Jauh sebelum Naura dan Reval bertunangan!" Sambung Naura dengan menundukkan kepalanya
"Naura!" Tegas William dengan langsung akan membawanya namun Jenifer menghalanginya
"Will!" Cegah Doni yang langsung memegang tangan William
"Putrimu tidak salah! Kita yang salah karena menjodohkan mereka hanya karena keinginan kita dan masalalu!" Sambungnya, seketika William melepaskan tangannya dari Naura
"Putrimu lugu dan polos, tidak mengerti dunia yang keras! Sedangkan Reval, dia slalu mengambil hal yang membahayakan dirinya dan orang disekitarnya. Dia juga ceroboh dan suka bergabung dengan Mavia! Jadi mungkin memang bukan jalan mereka untuk bersatu." Sambung Doni yang memegang pundak William
"Pah, meskipun aku Mavia tapi tidak akan aku biarkan wanita yang aku cintai terluka!" Ucap Reval yang tiba-tiba datang dengan seorang wanita yang dirangkulnya
"Reval? Siapa dia?" Tanya Sagita yang terkejut dengan kedatangan Reval bersama seorang wanita. Reval hanya tersenyum dan menghampiri mereka
"Ini, calon istriku Ma!" Jawab Reval dengan cepat
"Apa yang terjadi?" Tanya Sagita dengan kebingungan
"Jadi intinya aku dan Naura mencintai seseorang yang berbeda! Aku mencintai Yuli, sedangkan Naura Mencintai seseorang yang telah menunggunya!" Jawab Reval dengan senyuman yang sesekali melihat Naura
"Tante, Reval benar!" Timbal Naura
"Jadi selama ini yang egois kita? Pah, mama memang menginginkan Naura tapi tidak untuk memaksanya mengapa kita melakukan kesalahan ini?" Lirih Sagita pada suami tercinta
***
Singkat cerita, Yuli dan Reval menikah untuk menghalalkan Yuli dengan meriah. Reval mengikuti jejak Yuli menjadikannya sebagai seorang mu'alaf
Kelak Naura ingin seperti mereka, meskipun harus menanti dan terus menanti.
"Hey Cewek pemarah, kapan kamu akan bersama dengan Ali?" Ucap Reval sambil merangkul istrinya itu
"Reval!" Ucap Yuli dengan menatap tajam agar Reval menjaga tutur katanya
"Baiklah sayangkuh, Nona Naura kapan aku bisa menerima undangan pernikahan darimu?" Ucap Reval yang mengundang gelak tawa terpecahkan diantara mereka
"Kau ini, aku hanya membutuhkan sedikit waktu untuk hal itu." Jawab Naura dengan menyembunyikan wajah cantiknya dibalik Jilbab yang indah
"Really? Sampai kapan, ini sudah satu tahun lamanya! Sampai kapan kamu akan menunggu?" Tanya Yuli dengan keluhannya
"Entahlah, mungkin sampai Allah SWT memberikan jalannya."
"Selama itu kau akan terus menunggu? Oh come on. Datanglah ke Indonesia!" Ucap Reval meyakinkan sahabat nya itu
"Sudahlah, kalian nikmati acara ini! Aku ada janji dengan Layla. Maaf aku harus pergi insyaallah nanti malam aku akan bertamu dengan Layla, Assalamualaikum." Ucap Naura yang berlalu meninggalkan mereka berdua
"Waalaikumsalam." Jawab mereka dengan serentak
"Reval, apa kau sudah melakukan apa yang aku inginkan?" Lirih Yuli pada Reval sang suami
"Tentu saja sudah!" Jawabnya dengan cepat
***
Naura berjalan menghampiri Layla disebrang jalan, Yuli yang menyungging senyum di bibirnya merasa bahagia melihat sahabatnya.
"Assalamualaikum!" Salam Naura pada Layla yang sedang bersama Fauzi
"Waalaikumsalam!" Jawab mereka dengan serentak
"Naura apa kabar?" Tanya Fauzi yang merangkul Layla, Naura hanya menyungging senyum dibibir nya melihat semua sahabatnya telah menghalalkan pasangan mereka masing-masing
"Aku baik, malah lebih baik saat melihat sahabatku bahagia!" Ucap Naura dengan senyuman
"Oh ayolah Naura, kapan aku menerima undangan darimu!" Ucap Layla yang melepaskan rangkulan Fauzi lalu merangkul Naura. Fauzi memancarkan pandangan yang aneh! Mungkinkah dia cemburu?
"Ayolah Layla jangan seperti itu!" Rengek Naura pada sahabatnya itu, seketika membuat tawa terpecahkan
"Baiklah, kalau begitu Naura tolong jaga istriku aku akan pergi ke kantor dulu!" Ucap Fauzi yang melihat jam tangannya, Naura menganggukkan kepalanya
"Assalamualaikum!" Salam Fauzi yang langsung berlalu meninggalkan mereka
"Waalaikumsalam." Jawab mereka dengan serentak, Layla memandang Fauzi sampai bayangannya tak terlihat lagi
Seperti itulah saat aku pertama kali melihat Ali, lalu memandangnya saat dia beranjak menjauh... Benak Naura, yang membuatnya terdiam dan melamun
"Naura?" Ujar Layla yang mengejutkan Naura dari lamunannya
"Ah.. maafkan aku Layla, ayok kita pergi!" Ucap Naura yang langsung berjalan bersama Layla menuju salah satu rumah sakit dan Mesjid besar yang Naura dan Layla dirikan
***
kutipan
Janganlah kamu melupakan atas apa yang menjadi penyesalan dalam hidupmu karena sungguh itu akan menyakitimu lebih dalam, tapi Ikhlas lah atas penyesalan mu dan perbaiki lah dimasa yang akan datang karena sunggu itu akan menjadi hikmah dan keberkahan baginya.