Knock The Heart With Prayer

Knock The Heart With Prayer
kedatangan Anya



Naura diam tak bergeming hanya isakan tangis yang mereka dengar dari Naura, "Naura bersama kita, tapi pikirannya tidak disini." Celetuk Layla yang mengelus rambut Naura dengan lembut


"Dia bahkan tidak merasakan sakitnya." Sambung Layla yang meringgis melihat serpihan vas bunga yang sudah Ali ambil dari kaki Naura.


Beberapa menit berlalu, Ali selesai mengobati kaki Naura. "Dia! Pria itu? Brengsek!....." Teriak Naura seakan kehilangan kendali atas dirinya maupun tutur katanya


Layla dan Ali terkejut dengan teriakan Naura, Layla mencoba memeluk tubuh Naura yang mulai memberontak. "Istighfar Naura, Astaghfirullah!" Ucap Ali dengan mengulang ngulang ucapannya


Layla memeluk Naura lebih erat dan mencoba untuk menenangkannya. "Astaghfirullah. Naura istighfar!" Tegas Ali yang memegang pipi Naura meskipun sedikit memaksa karena Naura terus memberontak.


Perlahan Naura melemah sampai akhirnya dia pingsan. "Layla, biarkan dia istirahat!" Ucap Ali, Layla mengikuti perintah Ali dan mulai merebahkan tubuhnya yang sudah lemah


"Ceritakan semuanya!" Pinta Ali setelah Layla menyelimuti tubuh Naura. Layla mengerti ke khawatiran Ali dan dia mengatakan semuanya kejadian yang hanya dia ketahui walaupun tidak mengetahui kejadian aslinya


***


Keesokan harinya, tepat pukul 08:30 am. Naura mulai membuka matanya dan menyadari apa yang terjadi tadi malam adalah ancaman dari pria itu untuknya.


"Apa yang dia inginkan dariku? Apa salahku? Ya Allah mengapa engkau memberikan cobaan seperti ini? Hikss.." lirih Naura yang mulai menaikkan lututnya dan menempelkannya di dadanya.


"Naura? Kamu sudah sadar?" Tanya Layla yang menghampirinya sambil membawakan bubur dan minuman untuk Naura


Naura tidak bergeming dari tempatnya, "apa kamu baik baik saja?" Tanya Layla, Naura hanya menganggukkan kepalanya.


***


Messenger


Ali


Ali, besok aku akan pergi ke London. Bisakah kamu memberikan alamat Naura? Aku ingin memberikannya surprise!


Oke! Baguslah kamu mau datang kesini.


Bukan mau datang doang! Aku kerja disana juga. Jadi Asisten CEO disalah satu perusahaan ternama di London.


Baguslah! Naura mungkin akan membaik jika kau berada disampingnya.


Apa maksudmu? Apa yang terjadi?


Nanti aku ceritakan!


Emh...Oke!


Anya pun bergegas membereskan barang-barang nya. Setelah Anya lulus dari UI dia bekerja di salah satu perusahaan pamannya di Bangkok, lalu dia berlibur ke New York sekalian menjenguk neneknya yang sudah lama tidak berjumpa.


Lalu Anya mendapatkan kabar baik dari pamannya bahwa dia bisa mengambil pekerjaan di salah satu perusahaan ternama di London sebagai Asisten CEO. Tentunya itu menggembirakan baginya dan dia langsung setuju untuk bekerja disana


Dan akhirnya pagi tiba. Anya menuju Bandara Nasional dan perjalanan yang lumayan menguras energi sampai akhirnya dia tertidur untuk sejenak.


***


Sesampainya Anya di sebuah rumah yang lumayan besar. Arsitek mana yang buat rumah Naura? Ini si Amazing. Benak Anya saat melihat rumah Naura yang dia bangun dari jerih payahnya


Tanpa basa-basi Anya langsung masuk kedalam rumah. Menyusuri ruang tamu dan terus melangkah menuju sebuah kamar yang dia yakini bahwa Naura ada disitu.


Anya bermaksud untuk memberikan kejutan tapi malah dia yang dikejutkan oleh keadaan Naura yang sedang berbaring dikasurnya


"OMG.. Naura?" Kata Anya dengan menutupi mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya. "Anya?" Kata Layla yang sedang menyuapi Naura dengan bubur


Naura hanya bisa memandangi Anya yang berdiri diambang pintu dengan keadaan yang masih terkesima. Bukan tak ingin menyapa tapi karena tak kuat untuk berkata atau bergerak lagi. "Ya Tuhan Naura.. kenapa bisa seperti ini?" Kata Anya dengan cepat dia menghampiri Naura dan Layla


Dengan menarik napas panjang. "Aku tidak tahu pasti tentang kejadiannya. Dan Naura juga tidak ingin bicara tentang kejadian malam itu." Jawab Layla


Mendengar jawaban Layla Anya yakin,


Naura bukan tidak ingin bercerita tapi Naura tertekan karena suatu hal. Tapi apa? Kenapa Naura? Benak Anya


***


Anya duduk dibalkon sambil memandangi langit yang mulai menunjukkan malam. "Ting.." suara pesan dari ponselnya tak menggubris Anya yang terus melamun


Melihat sikap Anya, Naura menghampirinya dengan harapan Anya tidak kenapa-napa. "Anya? Kenapa?" Tanya Naura yang tiba-tiba duduk disebelah Anya


Pertanyaan dari Naura menggubris Anya. "Emh.. tidak!" Jawab Anya dengan memandang wajah sahabatnya yang pucat dengan rambut yang tergerai indah meskipun sedikit kusut. "Lalu kenapa kamu gak lihat beberapa pesan yang sedari tadi berbunyi? Mungkin penting."


"Itu pasti dari paman." Jawab Anya dengan nada dingin, "katakan padaku jika ada masalah!" Pinta Naura pada sahabat yang sedang duduk disebelahnya


Anya memandang wajah Naura lagi. "Masalahku adalah kamu gak menganggapku sebagai sahabat mu!" Kata Anya dengan sikap dinginnya. "Anya, kamu itu sahabatku! kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?" Ucap Naura yang langsung memegang tangan Anya


Tangan Naura yang halus membalut tangan Anya, "kalau begitu katakan padaku apa yang terjadi padamu!" Tegas Anya. Karena Anya yakin Naura tidak akan berkata apapun jika Anya diam saja jika Naura tidak ingin cerita seperti yang lainnya


"Anya, aku mohon jangan memaksaku!" Pinta Naura dengan lembut. "Kalau begitu aku akan pergi!" Ucap Anya yang akan beranjak dari tempat duduknya


Sontak Naura menghentikan sahabatnya yang akan beranjak, Naura memeluk erat Anya dengan isakan tangis yang tidak bisa Naura bendung lagi. "Jangan pergi! Aku takut." Lirih Naura


Seketika itu membuat hati Anya yang kukuh ingin mengetahui kejadiannya pun melemah, melihat keadaan Naura kini membuatnya semakin gigih untuk mengetahui masalah yang Naura hadapi. Dan itu membuat Anya yakin bahwa ini mungkin lebih besar dari perkiraan Anya


"Maafkan aku Naura, baiklah! Sekarang kita tidur saja." Ujar Anya dengan lembut merangkul sahabatnya menuju kasur. Naura yang mengikuti perintah Anya tanpa berkata apa-apa


Tepat pukul 01:30 am, suara pintu terbuka. Membuat Anya terbangun dari pejaman matanya. Aku tau sesuatu akan terjadi lagi malam ini. Makanya aku tidak tidur! Ucap benak Anya


Melihat Naura sudah tidak lagi bersamanya Anya langsung mengikuti seseorang yang kini akan pergi dari kamar. Aku yakin itu Naura! Ucap benak Anya. Anya terus mengikuti seseorang yang menjauh darinya


Aku masih belum mengerti! Ya Tuhan bantu aku untuk menolong sahabatku. Ujar benak Anya. "Sial! Aku kehilangan Naura." Bisik Anya yang mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Naura


Beberapa menit berlalu Anya masih dalam keadaan mencari Naura, tiba tiba suara jeritan terdengar dari lantai bawah. Membuat Anya sigap mencari sumber suara. Keadaan yang redup mungkin membuat Anya sedikit susah untuk berlari tapi saat dia sampai dilantai bawah


Anya melihat seseorang keluar dari ruang tengah menuju pintu. Anya dengan sigap mengambil vas bunga yang tidak jauh dari jangkauannya.


Jika itu Naura pasti rambutnya tergerai, tapi dia memakai baju hitam dan memakai topi. Ucap benak Anya. Dengan ketangkasan yang Anya miliki, dia melempar vas bunga tepat dipunggung seseorang itu


"Argh... Sial!" Teriak seseorang itu, sesaat sebelum Anya menangkapnya, dia lari dan menutup pintunya. "Brengsek! Dia laki-laki?" Ucap Anya


"Hiks... Hiks... Hiks..." Suara isakan tangis di pojok ruang tamu. Anya langsung menghampirinya, "Naura?" Ucap Anya yang langsung memeluk Naura yang bergetar sambil memeluk lututnya


Anya merangkul Naura dan menyuruh Naura untuk duduk. Dan Naura pun mengikuti semua perintah Anya, "aku akan mengambil air putih." Ucap Anya, tapi Naura menghentikannya dengan memegang tangannya. "Dia sudah pergi!" Ujar Anya yang mengetahui ketakutan yang Naura miliki


"Minumlah." Perintah Anya dengan menyodorkan segelas air putih pada Naura yang memeluk lututnya diatas sofa. "Siapa pria itu?" Tanya Anya yang terus memandangi Naura.


Seusai minum Naura menjawab pertanyaan Anya yang terus beruntun. "Aku tidak tau siapa dia. Tapi Hans tau!" Jawab Naura sambil mengisak tangisnya. "Hans? Siapa dia?" Tanya Anya, "Pemilik salah satu perusahaan ternama di London." Jawab Naura


"Katakan kenapa ini bisa terjadi? Tidak mungkin pria itu menghantuimu tanpa sebab. Dan bagaimana mana bisa dia masuk dan keluar rumah ini? Bukankah sudah dikunci?" Tanya Anya yang terus menerus.


"Aku tidak tau! Dia hanya terus berkata 'Kamu milikku! aku akan memilikimu seutuhnya sebelum orang lain memilikimu' dan itu membuatku gila Anya!" Teriak Naura yang diakhiri dengan tangisan


Dia orang dalam! Kalau tidak, mana mungkin dia memiliki kunci rumah ini? Dan lagi dia bisa keluar masuk kedalam rumah. Aku akan mengetahuinya secepatnya! Benak Anya sambil memeluk Naura yang bergetar


Jangan lupa! Tekan tombol Like😊🖤